NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:419
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN GU YANRAN

Pagi hari perlahan tiba.

Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan dan perbukitan di sekitar markas bandit yang telah dikuasai pasukan Gu Yanran semalam.

Sinar matahari belum sepenuhnya menembus awan. Udara pagi terasa dingin, namun suasana di markas jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya yang dipenuhi suara pertempuran dan jeritan kematian.

Di tengah lapangan markas, Gu Yanran berdiri dengan kedua tangan di belakang punggung.

Baju zirahnya masih dikenakan. Meski semalaman memimpin pertempuran, wajahnya tetap tenang dan tegas.

Tak lama kemudian, seluruh pasukan berkumpul di hadapannya.

Mereka berdiri dalam barisan yang rapi dan gagah.

Tidak ada seorang pun yang terlihat lelah meskipun baru saja menjalani pertempuran besar.

Tatapan Gu Yanran menyapu seluruh pasukannya.

"Apakah ada yang terluka?" tanyanya.

"Tidak ada, Panglima!"

Seluruh prajurit menjawab serempak.

Suara mereka bergema di seluruh markas.

Mendengar jawaban itu, senyum tipis muncul di wajah Gu Yanran.

"Bagus."

"Kalian semua telah bekerja dengan sangat baik."

Kalimat sederhana itu langsung membuat dada para prajurit membusung bangga.

Mendapatkan pujian dari Panglima Gu jauh lebih membahagiakan daripada hadiah apa pun.

Bagi mereka, Gu Yanran bukan hanya seorang panglima.

Ia adalah sosok yang mereka hormati dan kagumi dari lubuk hati.

Gu Yanran kembali berbicara.

"Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

"Beberapa orang gali lubang besar untuk menguburkan seluruh mayat."

"Sebagian lagi kumpulkan seluruh perlengkapan, senjata, dan persediaan yang ditinggalkan musuh."

"Semua barang rampasan harus dicatat dengan rinci."

"Siap, Panglima!"

Perintah segera dijalankan.

Para prajurit bergerak ke berbagai arah tanpa membuang waktu.

Sebagian mengambil sekop dan mulai menggali tanah.

Sebagian lagi mengumpulkan senjata, baju zirah, kuda, makanan, serta berbagai barang berharga yang tersimpan di dalam tenda-tenda bandit.

Kerja sama mereka sangat baik.

Tidak ada yang bermalas-malasan.

Semua memahami tugas masing-masing.

Waktu berlalu dengan cepat.

Menjelang siang, sebuah lubang raksasa telah selesai digali.

Mayat-mayat para bandit kemudian dipindahkan satu per satu.

Meskipun mereka adalah musuh, Gu Yanran tetap memerintahkan agar proses penguburan dilakukan dengan layak.

Bagaimanapun juga, mereka adalah manusia yang telah kehilangan nyawa di medan perang.

Beberapa jam kemudian seluruh pekerjaan selesai.

Para prajurit kembali berkumpul di hadapan Gu Yanran.

Seorang perwira maju dan memberi hormat.

"Lapor, Panglima."

"Seluruh proses penguburan telah selesai."

Gu Yanran mengangguk pelan.

"Berapa jumlahnya?"

Perwira itu membuka catatan di tangannya.

"Total mayat yang berhasil dihitung berjumlah tujuh ribu sembilan ratus enam puluh dua orang."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Gu Yanran sedikit berubah.

"Tujuh ribu sembilan ratus enam puluh dua?"

"Benar, Panglima."

Gu Yanran terdiam.

Jumlah itu jauh melebihi perkiraannya.

Sebelumnya, ketika menginterogasi para bandit yang ditangkap saat penjarahan di wilayah kekaisaran, ia memperoleh informasi bahwa jumlah keseluruhan kelompok bandit hanya sekitar lima ribu orang.

Karena itulah ia tidak lagi menanyakan jumlah pasukan saat menginterogasi mata-mata yang ditangkap di perbatasan.

Ia mengira informasi tersebut sudah cukup akurat.

Namun kenyataannya berbeda.

Hampir delapan ribu orang ditemukan di markas dan seluruh wilayah persembunyian mereka.

Ini bukan selisih kecil.

Ini adalah perbedaan yang sangat besar.

Tatapan Gu Yanran menjadi lebih dalam.

Ada sesuatu yang terasa janggal.

Jika para bandit sengaja memberikan informasi palsu, apa keuntungan yang mereka dapatkan?

Mereka tahu bahwa pada akhirnya mereka tetap akan dieksekusi.

Tidak ada alasan bagi mereka untuk berbohong mengenai jumlah pasukan.

"Apakah ada kelompok lain di belakang mereka?"

gumam Gu Yanran dalam hati.

Semakin dipikirkan, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Namun saat ini ia belum memiliki cukup informasi untuk menarik kesimpulan.

Gu Yanran menghela napas pelan.

"Catat semuanya dengan baik."

"Jangan sampai ada data yang hilang."

"Siap, Panglima."

Kemudian ia menatap para prajurit lainnya.

"Bagaimana dengan barang rampasan?"

Seorang perwira lain segera maju.

"Semua telah berhasil dikumpulkan."

"Baik."

"Bawa semuanya kembali ke markas pertahanan."

"Setelah itu kita akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut."

"Siap, Panglima!"

Perintah segera dilaksanakan.

Para prajurit mulai mempersiapkan perjalanan pulang.

Meskipun pertempuran telah berakhir, Gu Yanran masih memikirkan kejanggalan yang ia temukan.

Perasaannya mengatakan bahwa masalah ini belum benar-benar selesai.

---

Sementara itu, jauh di ibu kota kekaisaran.

Pangeran Ketiga, Mo Chen, masih disibukkan oleh berbagai urusan istana.

Sejak Gu Yanran berangkat ke perbatasan, pekerjaannya justru semakin bertambah.

Kaisar terus memberikan tugas demi tugas kepadanya.

Yang membuat Mo Chen semakin tidak nyaman adalah kenyataan bahwa hampir setiap hari ia dipertemukan dengan Pangeran Pertama dan Murong Meiying.

Seolah-olah seseorang sengaja mengatur semua pertemuan tersebut.

Di sebuah aula kerja yang luas, Mo Chen sedang memeriksa setumpuk dokumen.

Wajahnya tetap tenang seperti biasanya.

Namun pikirannya sama sekali tidak fokus.

Bayangan Gu Yanran terus muncul di benaknya.

Sudah berhari-hari ia tidak menerima kabar apa pun dari perbatasan.

Hal itu membuat hatinya semakin gelisah.

Di saat itulah suara lembut terdengar.

"Pangeran Mo."

Murong Meiying berjalan mendekat sambil membawa secangkir teh hangat.

Senyumnya terlihat manis.

"Mungkin Anda lelah."

"Minumlah sedikit teh."

Namun Mo Chen bahkan tidak mengangkat kepala.

"Aku tidak haus."

Jawaban dingin itu membuat senyum Murong Meiying sedikit kaku.

Tetapi ia tidak menyerah.

Ia kembali mendekat.

"Pangeran Mo, Anda bekerja terlalu keras."

"Sesekali beristirahat juga tidak apa-apa."

Mo Chen tetap mengabaikannya.

Sikapnya membuat Murong Meiying mulai merasa kesal.

Selama ini hampir semua pria di ibu kota berusaha mendapatkan perhatiannya.

Namun Mo Chen justru memperlakukannya seolah-olah ia tidak ada.

Meski begitu, Murong Meiying masih yakin bahwa suatu hari nanti ia bisa menaklukkan hati sang pangeran.

Ia kembali melangkah lebih dekat.

Tangannya perlahan terangkat menuju wajah Mo Chen.

Namun sebelum jemarinya menyentuh pipi pria itu, suara dingin terdengar.

"Jangan sentuh aku."

Murong Meiying terdiam.

Mo Chen akhirnya mengangkat kepala.

Tatapan matanya dingin seperti es.

"Jika kau menyentuhku lagi, tanganmu akan hilang."

Suasana ruangan langsung membeku.

Pangeran pertama memperhatikan mereka dari jauh.

Murong Meiying merasakan hawa dingin menjalar di seluruh tubuhnya.

Ia sering mendengar rumor bahwa Pangeran Ketiga sangat dingin terhadap wanita.

Namun ia tidak pernah menyangka sampai sejauh ini.

Apalagi mereka pernah dekat dan Mereka teman masa kecil

Meski merasa takut, ia tetap memaksa tersenyum.

"Pangeran Mo suka bercanda."

"Aku tidak sedang bercanda."

Jawaban singkat itu membuat senyumnya semakin kaku.

Namun karena menganggap Mo Chen hanya sedang mengujinya, Murong Meiying kembali memberanikan diri.

Tangannya sekali lagi bergerak menuju wajah pria itu.

Dan tepat pada saat itu—

CLANG!

Kilatan dingin muncul.

Sebuah belati telah berada di tangan Mo Chen.

Ujungnya mengarah lurus ke pergelangan tangan Murong Meiying.

Untungnya seseorang bergerak lebih cepat.

Pangeran Pertama segera menangkis belati tersebut.

TANG!

Suara benturan logam bergema.

Belati berhenti kurang dari satu senti dari tangan Murong Meiying.

Wajah wanita itu langsung pucat.

Kakinya melemas hingga terduduk di lantai.

Pangeran Pertama menatap Mo Chen dengan serius.

"Adik Ketiga."

"Kau sudah keterlaluan."

Mo Chen menatapnya tanpa emosi.

"Aku sudah memperingatkannya."

"Jika seseorang mengabaikan peringatanku, itu bukan salahku."

Pangeran Pertama terdiam.

Ia mulai menyadari sesuatu.

Mo Chen benar-benar tidak tertarik lagi kepada Murong Meiying.

Bahkan sedikit pun tidak.

Perubahan ini jauh berbeda dibandingkan sebelumnya.

Tatapan Pangeran Pertama menjadi lebih dalam.

Jika Murong Meiying bukan lagi kelemahan Mo Chen...

Lalu apa yang menjadi kelemahannya sekarang?

Sementara itu, Murong Meiying masih duduk lemas.

Ia tidak mengerti.

Mengapa Mo Chen berubah begitu drastis?

Mengapa pria itu memperlakukannya seperti orang asing?

Mo Chen kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya.

"Jika kalian tidak memiliki urusan lain, silakan pergi."

"Aku masih banyak pekerjaan."

Nada suaranya begitu dingin hingga tidak memberi ruang untuk membantah.

Pangeran Pertama akhirnya membantu Murong Meiying berdiri.

Kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, suasana kembali sunyi.

Mo Chen meletakkan kuas di tangannya.

Tatapannya perlahan beralih ke luar jendela.

Langit siang terlihat cerah.

Namun hatinya tetap tidak tenang.

"Kenapa belum ada kabar?"

gumamnya pelan.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kecemasan yang begitu besar terhadap seseorang.

Ia mengkhawatirkan keselamatan Gu Yanran.

Ia memikirkan wanita itu siang dan malam.

Ia selalu bertanya-tanya apakah Gu Yanran baik-baik saja.

Apakah ia terluka.

Apakah ia sudah makan.

Apakah ia sedang menghadapi bahaya.

Semua pertanyaan itu terus memenuhi pikirannya.

Mo Chen tersenyum pahit.

Kini ia akhirnya memahami perasaannya sendiri.

Ia tidak lagi bisa menyangkalnya.

Ia benar-benar telah jatuh cinta kepada Gu Yanran.

Dan semakin lama wanita itu berada jauh darinya...

Semakin dalam perasaan itu tumbuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!