Di balik tatapan dingin seorang Komandan Elite, tersimpan rasa rindu yang terpendam bertahun-tahun.
Saga Pratama Dirgantara menyimpan cinta rahasia untuk sang primadona sekolah, Renata Admajha, adik kelasnya saat SMA. Sosok Saga yang dingin, pendiam, dan tertutup membuatnya hanya berani mengagumi gadis itu dari jauh tanpa berani mengutarakan isi hati.
Hingga saat keberaniannya mulai muncul untuk menyatakan cinta, kabar mengejutkan justru datang menyambar. Sang pujaan hati ternyata telah dipinang oleh saingannya sendiri.
Mendengar hal itu, Sang Komandan patah hati sebelum sempat memiliki. Namun, sebagai lelaki terhormat, tak ada yang bisa ia lakukan selain mundur dengan teratur, mengubur perasaannya dalam-dalam, walau harus menelan pil pahit sendirian.
Namun, takdir cinta sang komandan punya rencana lain yang tak terduga.
Mampukah Saga menemukan Cintanya?
Mau tahu kisah selengkapnya yuk! langsung baca aja ya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 My elite lover
Mobil Rena melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi namun tetap terkontrol dengan hati-hati, lampu seinnya menyala bergantian saat menyeberangi jalan raya menuju rumah sakit pusat kota yang megah. Di belakangnya, mobil Saga mengikuti dengan jarak aman yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat, matanya tak pernah lepas dari mobil kekasih hatinya, tangan di setir terasa mantap. Senyum hangat tak pernah pudar dari wajahnya, penuh rasa bangga melihat wanita yang telah lama ia cintai menjalankan tugasnya dengan dedikasi yang luar biasa.
Sesampainya di area parkir rumah sakit yang ramai namun teratur, Rena langsung menekan pedal rem dengan tepat, memarkirkan mobilnya dengan cepat. Tanpa menutup mesin lama-lama, ia langsung membuka pintu dan turun dengan langkah gesit, berlari kecil menuju pintu masuk UGD, rambutnya sedikit berantakan oleh angin namun ia tak peduli, pikirannya sudah fokus pada pasien yang menantinya. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi ada sosok tampan yang selalu mengawasi setiap langkahnya.
Saga yang melihat sang wanita sampai dengan aman dan memasuki rumah sakit dengan selamat, akhirnya menghela napas lega lalu memutar setir mobilnya untuk memarkirkannya tidak jauh dari mobil Rena. Saat membuka pintu keluar, ia melihat bayangan Rena yang sudah masuk ke dalam gedung, lalu tersenyum sambil mengangguk sendiri.
"Kau benar-benar wanita tangguh, Ren!" gumam Saga dengan suara yang penuh kagum, matanya masih terpaku pada arah pintu masuk rumah sakit.
__________________________________________
Di dalam ruang operasi yang dingin, steril, dan penuh dengan alat-alat medis yang mengkilap, suasana berubah total seperti malam dan siang. Rena yang biasanya terlihat lembut, manis, dan selalu tersenyum, kini berubah menjadi sosok yang sangat tegas, fokus, dan profesional tanpa ada sedikitpun kesalahan yang bisa terjadi.
"Gunting bedah! CEPAT!" seru Rena dengan suara yang tenang namun penuh wibawa yang membuat semua orang di dalam ruangan langsung merespon.
"Siap, Dok!" jawab perawat instrument dengan cepat, segera menyerahkan alat yang diminta dengan tangan yang stabil.
"Tekanan darah pasien mulai turun, Dok! Sudah 80/50 mmHg!" lapor dokter jaga di sisi kanannya, wajahnya sedikit khawatir.
"Siapkan infus cairan kristaloid dan darah tipe O! Jangan biarkan pasien drop! Kita hanya punya waktu terbatas untuk menyelesaikan ini!" perintah Rena dengan nada yang tegas namun tetap tenang. Tangannya yang lentik namun kuat bergerak sangat cekatan dan presisi di atas meja operasi, setiap gerakan dikendalikan dengan sempurna dan dipandu oleh cahaya lampu operasi yang menyilaukan namun jelas menerangi area kerja.
Selama berjam-jam lamanya operasi, ia tak kenal lelah sama sekali. Keringat mulai membasahi dahinya dan merembes ke bawah lehernya, namun ia tak sedikitpun terganggu. Hanya fokus pada satu hal: menyelamatkan nyawa pasiennya.
"Darah sudah terkontrol sempurna. Luka sudah dibersihkan dan semua jaringan rusak sudah diperbaiki. Mari kita tutup dengan jahitan yang rapi!" ucap Rena akhirnya dengan napas lega yang menunjukkan rasa lega yang luar biasa.
"Operasi selesai! Pasien stabil, Dok! Tekanan darah sudah kembali normal!" seru salah satu perawat dengan suara penuh kegembiraan, membuat suasana di ruangan menjadi rileks.
Para staf medis saling berpandangan dan tersenyum puas, semua usaha mereka tidak sia-sia.
"Luar biasa sekali, Dokter Rena. Tanpa Anda yang punya keahlian khusus dalam bedah trauma anak, mungkin situasinya sudah sangat berbeda." puji dokter senior yang telah lama bekerja di rumah sakit itu, memberikan pujian yang tulus.
Rena melepas masker wajahnya dengan hati-hati, kemudian melepas sarung tangan kedap udara. Wajahnya terlihat lelah namun bersinar dengan kebanggaan. "Terima kasih, Dokter. Itu semua berkat kerja sama tim yang solid. Tolong pantau kondisi pasien terus di ICU ya, dan segera hubungi saya kalau ada sesuatu yang tidak hal!" tegas Rena dengan nada yang tetap profesional, lalu langsung keluar dari ruangan operasi tanpa istirahat terlebih dulu.
_______________________________________
Rena berjalan santai menyusuri lorong rumah sakit dengan senyum lega yang terpampang di wajahnya. Ia sudah tak sabar ingin mengabari Saga bahwa operasi berhasil dan menghabiskan waktu bersamanya untuk mengisi energi yang sudah terkuras banyak. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di tengah lorong yang cukup ramai dengan pengunjung dan pasien yang berlalu lalang. Matanya terbelalak, mulutnya sedikit terbuka melihat sosok tinggi tegap yang duduk santai di sofa. Itu Saga!
"K-Kak Saga?!" seru Rena tak percaya, suaranya sedikit meninggi karena kaget. "K-Kamu ... kamu kok bisa di sini?! Apa Kakak sedang menunggu seseorang?!"
Saga yang tadi sibuk melihat ponsel, langsung mendongak saat sebuah suara yang ia rindukan menyapa gendang telinganya. Ia tersenyum lebar dan segera berdiri lalu melangkah mendekat ke arah Rena yang masih berdiri mematung di tempat.
Tanpa peduli dengan pandangan orang-orang di sekitar yang mulai memperhatikan mereka berdua, Saga langsung berjalan cepat dan merangkul bahu Rena dengan tangan yang lembut namun penuh kehangatan.
"Udah selesai sayang! Dan apa operasinya berhasil?" tanya Saga lembut, tangannya mengusap lembut rambut Rena.
Rena yang mendapatkan perlakuan manis itu langsung meleleh seperti es yang terkena sinar matahari. Rasa lelah yang selama ini ia rasakan seketika hilang, digantikan dengan rasa bahagia yang luar biasa yang membuat tubuhnya merasa lebih ringan. Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dan ada sensasi aneh seperti ribuan kupu-kupu sedang terbang liar di dalam perutnya.
"Alhamdulillah ... operasinya berhasil Kak!" jawab Rena sambil berusaha setenang mungkin di hadapan Saga.
"Tentu saja berhasil, karena dokternya kamu." Saga tersenyum bangga, lalu menuntunnya duduk di sofa. "Duduk dulu, istirahat. Aku sudah pesankan makanan hangat dan sup buat kamu. Makan ya?"
Rena menatap Saga dengan mata berbinar. "Ternyata cowok dingin seperti kak Saga bisa perhatian juga ya! Sangat manis!" batin Rena dengan pipi yang semakin merona.
"Terima kasih Kak!" jawab Rena malu-malu.
Ia mulai menyantap makanan yang disediakan sang komandan dengan lahap, sementara Saga terus menatapnya dengan penuh kasih sayang.
__________________________________
Di sudut parkir yang gelap dan sepi, sebuah mobil terparkir diam. Di dalamnya, terlihat sosok wanita muda dengan wajah yang dipenuhi amarah dan kebencian. Matanya menatap tajam ke arah jendela lobi tempat Saga dan Rena sedang duduk berdua.
"Lihat mereka ... begitu bahagia ... tertawa ... seolah dunia ini milik mereka berdua..." bisiknya pelan, namun suaranya terdengar seram dan menusuk.
Di sampingnya, duduk beberapa orang berwajah sangar yang tampak siap menerima perintah.
"Kalian mengerti tugas kalian kan?" tanyanya dengan nada dingin yang mengerikan.
"Mengerti sepenuhnya, Nona," jawab salah satu pria bertato di lengannya.
"Bagus!" lanjutnya penuh dendam.
Wanita itu menyeringai jahat, lalu memberikan sebuah amplop tebal berisi uang kepada orang itu.
"Uang di dalamnya sudah lunas. Lakukan semuanya dengan bersih. Jangan ceroboh."
"Siap."
"Dan ingat ..." Wanita itu mengeratkan suaranya, "Pastikan rencananya berjalan sempurna saat waktu yang tepat. Aku ingin melihat wajah putus asa wanita itu dengan mata kepalaku sendiri."
__________________________________
Kembali ke sisi Rena dan Saga.
Tiba-tiba, ponsel Saga bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Wajah Saga yang tadi lembut dan penuh kasih sayang, seketika berubah menjadi serius dan tajam. Ia menggeser layar ponselnya, membaca isi pesan itu dengan tenang.
"Ada pergerakan mencurigakan, komandan!"
Saga menyeringai tipis, bukan karena takut, tapi karena merasa tertantang.
"Sudah kuduga ... tikus ini memang tidak bisa belajar dari kesalahan. Masih saja berani main kotor," gumamnya pelan.
"Ada apa Kak?" tanya Rena bingung melihat perubahan ekspresi wajah kekasihnya. "Kenapa tiba-tiba wajahnya jadi serius gitu? Apa ada masalah?"
Saga menoleh cepat, lalu tersenyum menenangkan, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia mengusap kepala Rena lembut.
"Enggak apa-apa sayang. Cuma ... sepertinya ada tamu tak diundang! Yang ingin bermain-main!" jawab Saga pelan namun tegas.
"Hah? Siapa Kak? Apa bahaya?" tanya Rena mulai cemas.
"Tenang aja." Saga menggenggam tangan Rena erat. "Kamu lanjut aja makan dan jangan kemana-mana!"
"Tapi Kak ..."
"Percaya sama Aku!" potong Saga lembut namun penuh keyakinan. "Kamu dokter yang hebat yang tugasnya menyelamatkan nyawa. Dan tugasku adalah melindungi kamu dan negeri ini dari orang-orang yang tak bertanggung jawab."
Saga berdiri perlahan, aura dingin dan mematikan kembali menyelimuti tubuh tegapnya. Tatapannya kini berubah tajam seperti elang.
"Tunggu di sini sebentar ya ... aku akan segera kembali!" ucap Saga dengan lembut sambil mengelus puncak kepala Rena, kemudian langsung berjalan dengan langkah yang mantap dan gagah keluar dari lobi rumah sakit.
Bersambung ...