NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung dalam diam

Matahari mulai condong ke barat, memancarkan semburat jingga yang memantul pada kaca-kaca besar butik "Salsabila Design". Di dalam ruangan yang beraroma harum kayu cendana dan kain baru itu, Aira tampak sangat sibuk. Meja kerjanya dipenuhi tumpukan kain linnen dan sutra, serta puluhan sketsa yang harus segera ia finalisasi untuk pameran busana muslimah bulan depan.

Sudah tiga jam Aira tidak beranjak dari kursinya. Lehernya mulai terasa kaku, dan matanya perih karena terus-menerus menatap detail bordir yang rumit. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba mengusir rasa kantuk yang mulai menyerang.

Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh mendarat di bahunya. Aira tersentak pelan, namun seketika ia merasa rileks saat mencium aroma maskulin yang sangat ia hafal.

"Cukup untuk hari ini, Salsabila," suara rendah Ghibran terdengar di dekat telinganya.

"Sedikit lagi, Kak. Aku harus menyelesaikan pola untuk bagian kerah ini," sahut Aira tanpa menoleh, tangannya masih memegang pensil kapur.

Tanpa banyak bicara, Ghibran mengambil pensil itu dari tangan Aira dan meletakkannya di meja. Ia memutar kursi kerja Aira agar mereka saling berhadapan. Ghibran berlutut di depan istrinya, menatap wajah lelah Aira dengan tatapan yang sangat protektif, hampir menyerupai teguran namun penuh dengan kasih sayang.

"Bekerja keras itu perlu, tapi mengabaikan kesehatanmu adalah kesalahan," ujar Ghibran. Ia meraih tangan Aira, memijat lembut jemari istrinya yang tampak tegang. "Aku tidak membangun kembali butik ini agar kamu jatuh sakit di dalamnya. Jika kamu tidak berhenti sekarang, aku akan memerintahkan Azka untuk mengunci tempat ini dan membawa kuncinya ke hutan jati."

Aira tertawa kecil, rasa lelahnya sedikit menguap melihat wajah serius suaminya. "Kakak terlalu berlebihan. Aku hanya sedikit pegal."

"Pegal adalah sinyal tubuhmu sedang memprotes," balas Ghibran. Ia kemudian berdiri dan menarik Aira ke dalam pelukannya. Ia membiarkan Aira menyandarkan wajahnya di dadanya yang bidang. "Ayo pulang. Aku sudah meminta mbak di dapur membuatkan sup ayam jahe kesukaanmu."

Aira akhirnya menyerah. Ia memberesi mejanya dengan patuh di bawah pengawasan ketat sang "Singa Salsabila". Saat mereka berjalan keluar butik, Ghibran secara alami mengambil alih tas kerja Aira yang cukup berat, membawanya seolah itu adalah tas jinjing ringan.

Strategi "Donat" Azka

Sementara itu, di paviliun belakang pesantren, suasana terasa lebih riuh namun menyenangkan. Zivanna sedang duduk di teras, mencoba membujuk bayi Rayyan untuk memakan bubur bayinya. Di sampingnya, Azka duduk bersila di lantai teras—posisi yang sangat tidak formal untuk seorang kepala operasional yayasan.

"Kau tahu, Zivanna," ujar Azka sambil memainkan sebuah mainan kerincing di depan Rayyan. "Donat yang kubawa tadi pagi itu dibeli dengan perjuangan. Aku harus mengantre di belakang ibu-ibu yang sedang bergosip tentang harga cabai."

Zivanna tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini jauh lebih sering muncul sejak Azka rutin datang berkunjung. "Terima kasih, Mas Azka. Tapi Mas tidak perlu repot-repot setiap hari. Pekerjaan Mas di kantor pasti banyak."

"Pekerjaan selalu ada, tapi melihat Rayyan tersenyum—dan melihatmu tidak lagi murung—adalah prioritas operasional yang baru," sahut Azka dengan cengiran khasnya. Ia menatap Zivanna dengan binar mata yang berbeda, tidak ada lagi sorot main-main yang biasanya ia tujukan pada Ghibran.

Zivanna menunduk, pipinya sedikit merona. "Mas Azka pandai sekali bicara."

"Aku hanya jujur. Sejak kejadian Mahendra Kencana itu, aku bersumpah tidak akan membiarkan ada orang yang membuatmu atau bayi ini merasa tidak aman lagi. Anggap saja aku ini... satpam pribadimu yang paling tampan."

Tawa pelan Zivanna pecah. "Satpam yang hobi membawa donat?"

"Itu namanya strategi pertahanan berbasis glukosa," canda Azka.

Momen itu terganggu saat Ghibran dan Aira berjalan melintasi jalan setapak menuju ndalem. Azka segera berdiri dan melambai heboh.

"Ghib! Lihat ini! Aku sedang melakukan audit sosiologis pada staf butikmu!" teriak Azka.

Ghibran hanya menggelengkan kepala tanpa berhenti berjalan. "Teruskan auditmu, Azka! Tapi kalau laporan bulananmu telat satu jam saja besok, aku akan memintamu melakukan audit pada seluruh saluran air di pesantren!"

"Bos pelit!" balas Azka sambil tertawa, lalu kembali duduk di dekat Zivanna.

Malam di Balik Tirai

Malam harinya, setelah menikmati sup jahe yang dijanjikan, Ghibran dan Aira berada di balkon kamar mereka. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma bunga melati yang baru saja disiram.

Aira sedang mengoleskan krim tangan saat Ghibran datang membawa sebuah selimut besar. Ia menyelimuti punggung Aira, lalu memeluknya dari belakang, menyatukan kedua tangan mereka di depan perut Aira.

"Apa Kakak benar-benar akan memarahi Mas Azka kalau laporannya telat?" tanya Aira pelan, menikmati kehangatan tubuh suaminya.

"Hanya gertakan," gumam Ghibran, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Aira, menghirup aroma sabun mawar yang menenangkan. "Aku senang melihatnya ada di sana untuk Zivanna. Azka itu pria yang setia, meski mulutnya terkadang seperti rem yang blong. Dia butuh seseorang untuk dijaga agar energinya tidak hanya habis untuk menjahiliku."

Aira memutar tubuhnya dalam pelukan Ghibran, menatap mata suaminya yang kini memancarkan ketulusan yang murni. "Kakak sangat peduli pada mereka, ya? Meski Kakak selalu bersikap galak."

"Aku hanya ingin semua orang yang aku sayangi merasa utuh, Aira," sahut Ghibran. Ia menangkup wajah Aira dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap pipi istrinya dengan sangat lembut. "Dulu aku merasa sendirian dalam menjaga nama Al-Husayn. Tapi sekarang... aku punya kamu. Dan aku merasa dunia ini tidak lagi begitu berat untuk dipanggul."

Ghibran menunduk, mencium kening Aira dengan sangat lama, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya ke sana. Ia lalu membawa Aira masuk ke dalam kamar, menutup pintu balkon dan menarik tirai rapat-rapat.

Malam itu, di dalam kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram, Ghibran tidak lagi menjadi "Singa" yang menakutkan atau "Bos" yang kaku. Ia adalah seorang pria yang sedang memuja istrinya dengan setiap sentuhan dan bisikan. Rasa lelah Aira sepenuhnya hilang, digantikan oleh gelombang kasih sayang yang membuatnya merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!