Karena panggilan sahabatnya, yang telah bekerja di ibukota, Esther Valencia pun datang ke ibukota, untuk bekerja di perusahaan sahabatnya.
Siapa sangka, ia dijual sahabat yang ia percayai selama ini, kepada lelaki hidung belang di sebuah club malam.
Tubuh panas Esther menabrak tubuh seorang pria, saat ia melarikan diri dari kejaran pria hidung belang, yang bertepatan pria tersebut akan masuk ke dalam sebuah kamar.
Esther pun akhirnya menghabiskan cinta satu malam dengan pria asing, karena pengaruh obat yang diberikan sahabatnya ke dalam minumannya.
Bagaimana sikap Esther setelah ia sadar dari pengaruh obat, kalau ia telah tidur dengan seorang pria yang tidak ia kenal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27.
Suara Vera tiada henti menjerit kesakitan, dan meneriakkan nama Esther dengan penuh rasa benci.
Jack merangkul bahu Esther, untuk membuat Esther tidak terpengaruh dengan teriakan Vera.
"Jangan perdulikan teriakannya, aku sudah tahu, kalau dia yang menyewa perawat waktu itu, untuk menghilangkan bayi-bayi kita, agar keluarga suaminya dapat mengambil alih grup Sebastian!"
Esther memutar wajahnya memandang Jack, "Kalau memang sudah tahu, kenapa tidak mengambil tindakan untuk memberi mereka hukuman?!"
"Waktunya belum tepat, mereka masih diperhatikan keluarga besar Sebastian lainnya, dan akan mempersulit mereka untuk mendapatkan hukuman!" jawab Jack mengelus bahu Esther lembut.
"Oh!"
Esther yang baru menjadi bagian keluarga Sebastian, hanya bisa mendengarkan apa yang dikatakan Jack.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka, dan keluarga Williams menghambur ingin mengetahui, apa penyebab Vera begitu kesakitan.
"Dok! bagaimana istriku? apa yang terjad?!" tanyanya dengan cemas.
"Apakah istri Tuan tidak mengatur pola makannya? dia mengalami kelebihan kafein! terpaksa harus melahirkan prematur!"
"Hah?! kelebihan kafein? bagaimana mungkin?" mereka terkejut mendengar diagnosa Dokter.
"Iya, minum kopi terlalu sering, soda, alkohol, dan mungkin istri Tuan sering memakan makanan setengah matang!" jawab Dokter menjelaskan.
Wajah mereka hanya termangu mendengar penjelasan Dokter, tentang kemungkinan Vera tidak menjaga dengan baik janin dalam kandungannya.
"Aku sering melihat kak Vera minum kopi, dan minuman bersoda!"
"Dasar! bisa-bisanya dia menganggap remeh kehamilannya!!" Rachel begitu kesal mengetahui Vera, tidak menjaga dengan baik keturunan keluarganya.
"Karena bayi dalam kandungannya bermasalah, bayi terpaksa harus dikeluarkan! kalau tidak, ia akan terus kesakitan!" kata Dokter lagi menjelaskan.
"Ya, sudah! tolong, Dok!" jawab Williams.
"Williams! kenapa jawabanmu seperti itu! aku hampir mati disini menahan sakit mengandung anakmu!!!" jerit Vera diantara rasa sakitnya.
Jawaban Williams terdengar begitu acuh tak acuh, membuat Vera begitu geram.
"Sudah tahu lagi hamil, kamu asal sembarang makan! tidak menjaga dengan baik kehamilan mu! itu kan salahmu sendiri!!" jawab Williams dengan nada kesal.
"Williams!!!" Vera semakin marah dengan jawaban suaminya.
Ia berharap Williams mengucapkan kata-kata menghibur, dan merasa sangat cemas dengan keadaannya.
Dokter kembali menutup pintu ruang bersalin, setelah mendapat persetujuan dari pihak keluarga Ibu hamil.
Esther merasa lega mendengar, kalau Vera sakit perut bukan karena perbuatannya.
"Ayo, kita pulang! kita tidak perlu lagi berada disini!" Jack menggenggam tangan Esther, dan menariknya untuk pergi dari sana.
"Dari mana saja, kenapa begitu lama baru pulang?" mereka disambut Charlotte saat tiba di kediaman Sebastian.
"Ada sedikit masalah yang harus diselesaikan!" jawab Jack.
"Menantuku, bagaimana hari pertama masuk kampus, apakah kamu sudah dapat beradaptasi?" tanya Charlotte penasaran.
"Sangat tidak menyenangkan! di hari pertama masuk kampus sudah dibully!" jawab Jack.
"Hah?! kenapa bisa begitu? siapa yang melakukannya! kenapa kamu tidak balas mereka? sudah keterlaluan!!" Charlotte seketika naik darah tinggi mendengar jawaban Jack.
"Sudah! lain kali aku akan balas yang lebih kejam, kalau berani mengganggu istriku!" jawab Jack.
"Ya, kamu harus jaga dengan baik siapa pun yang mengganggu istrimu!" Charlotte merasa puas mendengar jawaban Jack.
"Bagaimana dengan si kembar, Ma?" tanya Esther, yang sudah rindu dengan keempat bayinya.
Prok! prok! prok!!
Charlotte menepuk tangannya, "Butler! bawa kemari cucu-cucuku!!"
Esther melihat empat Pengasuh datang, dengan mendorong box bayi dorong.
Ia melihat keempat bayinya tampak tertidur dengan nyaman dalam box, dengan mengemut dot hisapnya masing-masing.
Esther tersenyum bahagia, rasanya hidupnya sangat berarti melihat keempat bayinya tersebut.
Jemarinya dengan lembut mengelus pipi tembem bayi-bayinya satu persatu.
Melihat mereka sehat dan gemuk, Esther merasa tidak percaya mengingat mereka lahir prematur.
Jack yang ikut melihat keempat bayinya, merasa bangga dapat memiliki empat ahli waris sekaligus.
Jack merangkul bahu Esther, "Bagaimana? sudah hilang rasa rindunya?"
Melihat keempat bayinya dijaga aman dengan empat pengasuh, Esther tentu saja merasa senang.
"Akh!!"
Esther menjerit terkejut, tiba-tiba tubuhnya diangkat Jack dalam gendongnya.
Charlotte senyum-senyum melihat Jack, yang tanpa sungkan di depan mereka menggendong Esther.
"Turunkan aku!!" Esther reflek mengalungkan tangannya merangkul leher Jack.
"Nyonya muda, pegangan yang baik, jangan bergerak! nanti kita bisa jatuh!" Jack menahan senyumnya tidak mendengarkan Esther.
Ia melangkah menaiki anak tangga, dan Esther yang takut mereka terjatuh, meletakkan kepalanya pada bahu Jack.
Jack meletakkan Esther ke atas sofa, setelah mereka masuk ke dalam kamar.
Esther dengan cepat menggeser duduknya menjauh dari Jack, tapi gerakan Jack lebih cepat dari Esther.
Jack menahan Esther dalam kungkungan, "Jangan pergi!"
Jack kemudian memutar tubuh Esther, dan menaikkan kaki Esther ke atas pangkuannya.
Lalu ia membuka sepatu Esther satu persatu, dan meletakkan sepatu itu ke atas lantai dengan rapi.
"Ayo! kita membersihkan badan! malam ini Mama mengadakan pesta, teman-teman Mama ingin mengenal kamu dan si kembar kita!"
"Eh, jangan! biarkan aku jalan sendiri!" Esther menahan tubuhnya, saat Jack kembali akan menggendongnya.
"Nyonya muda, kamu hari ini mengalami hal yang tidak menyenangkan, biarkan aku mengurusmu, ya?"
Esther tidak dapat membantah Jack lagi, kalau Jack sudah menekankan nada suara yang tegas dalam kalimatnya.
Ia pun membiarkan Jack mengangkat tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi.
Dengan lembut Jack meletakkan tubuh Esther duduk di tepi meja wastafel, lalu membuka pakaian Esther.
"Biarkan aku saja yang buka, awas! aku mau turun!" Esther mendorong dada Jack, agar menjauh darinya.
Jack yang tidak menyangka akan di dorong Esther, seketika tubuhnya pun terhuyung jatuh ke belakang.
Dan keseimbangan tubuh Esther yang duduk di tepi wastafel, sontak ikut terhuyung dan jatuh ke bawah lantai.
Bruk!!
Esther pun menimpa tubuh Jack.
"Akh!!"
Jack mengadu kesakitan, kepalanya yang tadi ia tahan, agar tidak mengenai lantai kamar mandi, akhirnya membentur lantai juga.
Esther seketika panik dengan apa yang telah ia lakukan.
Ia tidak menyangka, ia ternyata begitu kuat mendorong dada Jack, sehingga tubuh jangkung Jack jatuh ke lantai.
"Ma.. maaf, a.. aku tidak sengaja!"
Esther bangun dari atas tubuh Jack, lalu membantu Jack untuk duduk, dan kemudian memeriksa belakang kepala Jack yang terbentur.
"Ishhh!!" Jack mendesis sakit, saat jemari Esther menyentuh belakang kepalanya.
"Maaf!"
Esther merasa sangat bersalah sekali, dan memarahi dirinya dalam hati, karena masih saja bersikap canggung pada Jack.
Sepertinya ia harus merubah sikapnya, jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi.
Jack yang selalu menjaganya dengan baik, tapi ia justru membuat Jack seperti ancaman pada dirinya.
"Aku akan rendam handuk sebentar dalam air panas, untuk mengompresnya agar tidak membengkak!"
Esther yang merasa cemas, dengan cepat bergegas mengambil handuk wajah dari dalam lemari handuk.
Jack yang perlahan tidak merasakan sakit lagi, diam saja membiarkan Esther untuk mengompres kepalanya.
Bersambung.........
cari penyakit aja kamu.....😡