NovelToon NovelToon
ReyLin

ReyLin

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Luh Sumartini

REMINDER !! ADA Beberapa Adegan D3w4s4



Rendy dan Linda

Dua manusia yang bersatu atas dasar perjodohan. Tidak ada yang tahu cerita itu, bahkan sampai mereka tidak jadi menikah pun ceritanya di tutup rapat.

tapi kilat putih dimalam itu membawa cerita yang berbeda -----


#mohon maaf masih pemula 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Sumartini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Mengejutkan

"Itulah kenapa sebaiknya kita segera menikah saja. Aku tidak suka dengan mata pria hidung belang yang suka menatap tunanganku seperti ingin menelan mu hidup - hidup." kata Rendy semakin mengeratkan pelukannya.

Linda menghembuskan nafas panjang, bukan ia tidak mau menikah dengan pria yang sangat wanita ini cintai. Hanya saja, Linda ingin berkarir sebentar. Merasakan bagaimana rasanya menjadi wanita muda yang bisa mencari uang sendiri. Ia membalikkan badannya, menatap netra elang Rendy, "Jika kita menikah, apa aku masih bisa bekerja?"

Rendy mengernyitkan alisnya, "Bukankah di rumah menjadi ibu rumah tangga lebih bagus? Untuk biaya hidup itu menjadi tanggung jawabku."

Linda memanyunkan bibirnya, ia tampak tidak setuju dengan keputusan Rendy. Tepat saat itu pintu lift terbuka, Linda lebih dulu melepaskan diri dan melangkah keluar lift.

"Berdiam diri di rumah sebesar itu sangat membosankan. Maksudnya, aku lebih suka punya uang sendiri meskipun nanti uang suami ku akan menjadi milikku, tapi aku juga ingin bisa membeli kebutuhanku tanpa melibatkan kamu." kata Linda mengeratkan dasi Rendy yang sedikit kurang rapi.

"Lakukan yang kamu suka sayang. Asalkan kamu tetap bersamaku. Mana kecupan selamat pagi untukku, Linda?" ucap Rendy mendudukkan Linda di meja kerja milik wanita ini.

"Ini di kantor Rendy." kata Linda menahan tubuh yang mulai mendekat hendak mencuri bibirnya.

"Kantor ini milikku, dan kamu juga milikku." ucap Rendy mencuri rasa manis lip cream yang di gunakan Linda di bibirnya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

"Selamat pagi sekretaris Linda."

Fokus Linda pada laptopnya terganggu oleh suara halus dan lembut milik seorang wanita yang datang mengenakan blouse pink dengan midi skirt hitam sebagai bawahannya.

Tercetak nama Diandra pada name tag di dada sebelah kanan si wanita.

"Selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu hari ini?" sapa Linda balik tersenyum manis.

"Maaf saya menganggu anda sekretaris Linda." ucap wanita yang sepertinya seumuran dengan Linda itu sedikit gugup.

"Panggil Linda saja."

"Ah iya Linda. Maaf bisa saya bertemu Pak Direktur? Ada beberapa dokumen yang harus saya diskusikan dengan beliau." jawab Diandra menunjukkan map bening yang berisikan beberapa lembar kertas kepada Linda.

"Kamu Diandra dari divisi Marketing ya?" tanya Linda yang sempat membaca beberapa tulisan yang tercetak di kertas tadi.

"Iya. Saya bawahannya Pak Max."

"Apa ini harus bertemu Pak Direktur hari ini? Atau sudah ada janji sebelumnya? Saya tidak melihat jadwal kamu bertemu Pak Direktur hari ini." kata Linda yang membuka catatannya.

"Memang tidak ada. Saya datang sendiri ingin diskusi pekerjaan dengan Pak Direktur. Apa saya tidak bisa bertemu?" tanya Diandra dengan mimik wajah kecewa.

Linda menatap Diandra dengan pandangan aneh, bukan ia tidak mengijinkan wanita ini masuk. Hanya saja Direkturnya akan marah karena mengijinkan orang lain masuk tanpa jadwal bertemu sebelumnya kecuali ada hal yang sangat urgent.

"Apa itu dokumen urgent?" tanya Linda lagi.

Diandra meremas map yang dia bawa dengan wajah kesal, "Apa susah sekali anda memberi ijin saya masuk? Apa anda juga suka sama Pak Direktur dan takut bersaing sama saya?" ucapnya dengan nada agak tinggi.

Linda tercengang namun tertawa dalam hati. 'Sudah aku duga ini aneh. Biasanya Max yang datang, bukan wanita ini. Bisa saja aku ijinkan masuk, tapi tidakkah dia tahu aku sedang kasihan sama dia? Aku hanya kasihan dia di panggang Rendy di dalam.' ucap Linda berbicara dalam hati.

"Sekretaris Linda?" panggil Diandra yang sudah mulai kesal.

Linda menarik nafas sebentar lalu menghembuskan perlahan, "Silahkan masuk Ibu Diandra." kata Linda yang mempersilahkan Diandra masuk.

Tak sampai dua menit di dalam, pintu ruangan Rendy terbuka lagi menampilkan wajah Diandra yang syok dan takut.

"Kenapa cepat sekali? Saya kira diskusi itu lama." kata Linda yang tidak heran dengan ekspresi wajah wanita itu.

"Maaf saya datang tanpa janji, sekretaris Linda." jawab Diandra, ada nada bergetar di setiap kata yang ia ucapkan.

"Jangan di ulangi lagi. Itulah kenapa saya banyak bertanya tadi, karena Pak Direktur tidak suka di ganggu tanpa membuat jadwal lebih dulu, kecuali urgent dan saya rasa dokumen yang kamu bawa bukan lah hal urgent. Sepertinya Pak Max lebih cocok datang membawa dokumen itu, bukan kamu. Apa Pak Max tau?" kata Linda.

"Ah lupakan saja. Hati - hati saat kembali." sambung Linda yang melihat raut muka terkejut dan gugup Diandra.

"Saya permisi sekretaris Linda." pamit Diandra buru - buru pergi meninggalkan Linda yang bahkan belum menjawabnya.

Linda hanya menatap kepergian wanita itu dalam diam. Dia membuka pintu ruangan kerja Rendy dan melihat pria itu berdiri membelakanginya sedang menatap pemandangan di luar jendela.

"Ren, apa yang kamu katakan sama Diandra? Kenapa dia ketakutan begitu?" tanya Linda yang berdiri tiba - tiba di hadapan Rendy.

"Kenapa kamu kasi dia masuk? Bahkan nama dia tidak ada di jadwalku." kata Rendy yang masih menatap pemandangan kota.

"Diandra marah karena aku sangat susah memberi ijin dia masuk, dan katanya aku takut bersaing sama dia untuk menarik perhatian Pak Direktur." jawab Linda tertawa kecil mengingat wajah dan nada kesal yang keluar dari Diandra.

Rendy mendengus, "Wanita yang aneh. Lain kali aku tidak menerima alasan dari dia. Siapa tadi namanya?"

"Diandra, Divisi Marketing." jawab Linda.

"Ya dia, suruh Max aja yang datang." kata Rendy.

Dia suka kamu Rendy, apa dia cantik?" tanya Linda membawa wajah tampan itu menatapnya.

"Di mataku, wanita cantik itu kamu dan Ibu ku." jawab Rendy.

"Kamu pintar merayu ya." kata Linda, memeluk tubuh Rendy.

"Linda ini di kantor." kata Rendy.

Linda merasa deja vu dengan kalimat itu. Namun ia mengabaikan hal itu dan menatap Rendy, "Rendy. Aku hamil."

Tubuh Rendy seketika membeku, matanya membulat lebar mendengar kabar yang tiba - tiba seperti ini.

"Eh? Apa? Linda itu serius?" tanya Rendy menatap irish caramel mencari kebohongan di mata itu, namun tidak menemukannya.

"Apa kamu tidak mau?" tanya Linda dengan sendu.

Rendy mendekap tubuh Linda sedikit erat, dia berulang kali mengecup kepala Linda. "Makasih sayang. Mana mungkin aku tidak mau, aku hanya senang."

Linda bernafas lega, ia pikir Rendy tidak menginginkan anak ini. "Aku kira kamu tidak mau anak ini."

"Sayang bagaimana bisa kamu berpikir begitu? Aku Ayahnya, mana mungkin aku menolaknya. Tapi kapan kamu cek?"

"Aku hanya merasa aneh Rendy, tidakkah kamu sadar sampai hari ini aku belum datang bulan. Aku sudah telat satu bulan. Aku iseng membeli test pack sebelum berangkat kerja, aku beli tiga sekaligus yang berbeda dan saat aku cek, ketiganya hasilnya positif." jawab Linda.

"Ayo kita makan siang dulu, nanti sore kita ke dokter untuk cek anak kita." ucap Rendy.

Linda tersenyum dalam pelukkan Rendy, ia menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

1
Jro Resmiasa
terus berkarya Thor 💪💪💪🙏
Sumartini: terimakasih kak 🙏 semangat berkarya juga 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!