Mati karena peluru lalu jiwa bertransmigrasi ke dalam raga seorang yang ternyata adalah seorang figuran tanpa nama yang miskin. Anin pun bertekad untuk merubah takdir nya memanfaatkan wajah polos raga barunya ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak rapuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cph 26
Mora mendorong pintu kamar nomor 27 dengan pelan. Di sana tidak ada siapapun kecuali Sora yang sudah terbaring di atas ranjang. Dengan gerakan pelan, Mora masuk. Kemudian bersembunyi di dalam lemari satu pintu yang isinya ada dua bathrobe tergantung dengan hanger.
Dengan kesusahan karena lemari tersebut kecil, Mora terpaksa jongkok lalu menghidupkan kamera dan mengarahkannya ke tempat Sora. Sepertinya besok Mora harus ke tukang urut, tidak masalah dia harus kehilangan gaji mencucinya.
Mora yang merekam dari awal hingga akhir kejadian yang menimpa Sora muntah. Tentu saja kelima iblis itu tidak menghiraukan Mora.
"Menyeramkan," gumam Mora sambil menangis.
Setelah membersihkan mulut nya dengan berkumur air mineral, Mora duduk di samping bar. Mereka sudah keluar sejak beberapa menit yang lalu.
"Cupu lo!" hardik Julian.
Menghiraukan itu, Mora memilih untuk pulang saja. "Nih ambil!" Arsen melempar seamplop uang ke Mora.
"Ma-makasih kak!"
Mora berseri-seri mendapatkan amplop coklat yang berat itu. Dia seketika melupakan tugasnya beberapa menit lalu. "Aku jadi orang kaya!" gumam Mora.
"Tapi aku pulang nya gimana?" Mora berubah menjadi panik. Dia sekarang sendirian di sini, bagaimana kalau ada orang jahat?!
"Mau pulang bersama ku, kelinci?"
"Hah?"
***
"Emang gak papa tu cupu di tinggalin di sana?" ujar Marco yang memakan mie instan.
Mereka sedang berkumpul di rumah Darius dan Darian karena rumah itulah yang paling aman sekarang, tidak ada orang dewasa nya.
"Aman aja, dia bakal ketemu sama seseorang," ujar Darian dengan santai. Dia tidak bodoh, kalau dari awal kedatangan mereka tadi ada yang mengamati Mora.
"Siapa?" tanya Julian penasaran.
"Dipka."
"WTF! Semoga si cupu selamat!"
Pramudita yang pulang dari kantor mendudukkan dirinya di sofa, merasa lelah. Saat perginya ketiga pemuda dari kantor nya tadi, Wira menelepon nya dari negara B.
Tidak ada yang penting, hanya ucapan permintaan maaf dan tawaran untuk bantuan tentang masalah yang menimpa Ara—putrinya, namun Pramudita tolak. Dirinya sudah tidak ingin melibatkan keluarga itu lagi, cukup kedua putranya saja.
"Papa kenapa?"
"Kenapa belum tidur?" Pramudita mengecup kedua pipi Ara. "Nungguin papa pulang!" Ucapan manis putri nya membuat Pramudita tersenyum. Rasa lelahnya mendadak hilang.
"Jangan pernah tinggalkan papa," lirih Pramudita. Bayang-bayang pemakaman Silviana terkadang menjadi mimpi Pramudita di kala tidur.
"Ara gak akan ninggalin papa dan mama!"
"Ara ayo tidur, besok harus sekolah." ujar Larasati. Wanita itu menyerahkan dot kepada putrinya.
Ara menerima dot itu, dirinya sudah kecanduan dengan benda itu. Ara jadi curiga sebenarnya susu dalam dot itu di campur dengan narkoba, makanya dirinya begitu kecanduan.
Ara mengenyot nipple silikon itu. Pramudita pun menggendong Ara membawa nya ke kamar nya dengan Larasati. Walau Ara sudah memiliki kamar pribadi, tapi tetap saja dia sering tidur bersama dengan kedua orangtua itu kecuali Pramudita ingin memakan Larasati maka Ara akan di suruh tidur di kamar nya sendiri.
"Mandi sana kamu!" Larasati mendorong tubuh suaminya. "Kamu bau asem!" Ara terkekeh geli mendengar itu membuat Pramudita cemberut.
"Good night, sweet dream sayang," bisik Larasati kepada Ara yang sudah mulai terlelap.
"Sudah tidur?" Pramudita merebahkan diri di samping Larasati lalu memeluk istrinya itu, ikut menatap wajah Ara. Di pikiran mereka, kenapa ada orang yang membenci anak sepolos Ara tanpa tahu kalau di balik topeng polos itu ada wujud setan tidak tahu diri.
Mora melirik pria di sampingnya. Dia sudah menolak namun mendengar ucapan pria itu kalau dirinya sedang di incar beberapa orang mabuk membuat nya terpaksa mengiyakan ajakan pulang. Padahal itu hanya akal-akalan pria tersebut. Tidak ada yang mengincar Mora kecuali pria itu sendiri.
"Aku Dipka Setiawan. Siapa nama mu?"
"Mo-Mora.."
Alis Dipka berkerut. "Hanya itu?" tanya nya. Mora meremas jari-jarinya gugup. "Mora Ayunita," sahut Mora dengan pelan.
"Cantik seperti pemilik nya,"
Pipi Mora bersemu merah mendengar pujian dari pria tampan di sampingnya. "Akan semakin cantik kalau menjadi milik ku."
Mora mengerjapkan matanya perlahan. Maklum otaknya lemot kalau soal seperti ini beda dengan pelajaran. "Maksud kamu?" Mora menoleh menatap wajah tampan Dipka.
"Kamu akan menjadi milik ku, milik Dipka Setiawan," tekan Dipka yang membuat Mora di landa ketakutan. Siapapun tolong dia dari orang pedofil ini!
semangat buat auto ya 💪💪💪