Di daratan Huanjiang, Dinasti Wuji Chao memerintah dengan tangan besi. Chen Fengyin lahir di desa yang damai, hingga sebuah pembantaian menghancurkan segalanya ketika dia masih kecil – menyisakan dia sebagai satu-satunya yang tersisa.
Ditemukan oleh seorang ahli bela diri kuno, dia menghabiskan tahun-tahun untuk melatih diri dan menguasai kekuatan elemen alam yang jarang orang bisa miliki. Namun ketika masa lalunya kembali mencari dia, pertempuran yang dahsyat membuatnya harus membangkitkan kekuatan legendaris yang hanya diberikan kepada orang terpilih.
Meskipun berhasil mengusir musuh, tubuhnya tak mampu menahannya. Tapi takdir tidak mengizinkannya pergi begitu saja – dia bangun kembali dengan tubuh baru di desa yang jauh, membawa kekuatan yang sama namun harus belajar mengendalikannya lagi.
Bersama teman baru yang setia dan kelompok perlawanan yang tersembunyi, Fengyin berkelana selama bertahun-tahun
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Mata yang Terbuka di Yinye Cun
Kilatan cahaya. Bukan putih, bukan emas, tapi sesuatu di antaranya. Sesuatu yang berdenyut seperti detak jantung yang terlalu cepat, terlalu kuat .
Kemudian suara. Banyak suara. Angin yang membawa bisikan dari ribuan mulut. Air yang jatuh dan memantul. Api yang tidak membakar, tapi bernafas . Tanah yang bergerak, sangat lambat, sangat tua .
Kemudian... tidak ada .
Waktu berlalu tanpa bentuk. Tanpa rasa. Tanpa diri .
Hingga, tiba-tiba, ada sesuatu lagi. Sesuatu yang kecil . Sesuatu yang terbatas . Sesuatu yang... baru .
Fengyin membuka mata.
Bukan "membuka" dalam arti biasa—lebih seperti meledak menjadi kesadaran. Dari tidak ada menjadi ada. Dari luas menjadi sempit . Dari segalanya menjadi... satu titik. Satu tubuh. Satu tempat .
Atap jerami. Dinding kayu. Bau tanah basi dan tungku arang dan sesuatu yang manis—mántóu , bisik ingatan yang bukan miliknya, tapi menjadi miliknya sekarang.
Dia mencoba bergerak. Tangan kecil—terlalu kecil, terlalu lemah —bergerak di depan wajahnya. Jari-jari pendek, gemuk, dengan kuku yang belum dipotong. Bukan tangan yang dikenalnya. Bukan tangan yang dilatih selama tiga belas tahun di Gunung Puncak Angin. Bukan tangan yang mati di gua yang hancur.
Sepuluh tahun. Yuèyǐng Pèi telah menunggu. Telah mencari. Telah menemukan .
"Nak? Nak, kamu sudah bangun?"
Suara itu datang dari samping. Fengyin menoleh—perlahan, terlalu perlahan, leher yang terlalu kaku—and melihat seorang wanita. Tidak dikenal. Tidak muda, tidak tua, dengan wajah yang lelah tapi hangat. Rambut diikat dengan kain kasar, tangan kasar yang terbiasa kerja.
"Ibu..." kata Fengyin, tapi suara yang keluar bukan suaranya. Terlalu tinggi. Terlalu muda . Suara anak laki-laki berusia... delapan?
Wanita itu—ibunya , meski dia tidak mengenalnya—terkejut. Matanya melebar, kemudian berkaca-kaca.
"Kamu... kamu memanggilku Ibu," bisik wanita itu, suaranya pecah. "Sudah tiga tahun kamu tidak memanggilku apa-apa. Tidak berbicara. Tidak mengenali siapapun. Dokter bilang jiwamu... hilang. Tapi aku tahu. Aku tahu kamu masih di sana. Menunggu. Dan sekarang..."
Dia menarik Fengyin ke dalam pelukan, erat, hampir terlalu erat. Bau keringat dan sabun kasar dan sesuatu yang aman .
Fengyin membiarkannya. Membiarkan dirinya dipeluk, diterima, dicintai oleh orang asing yang kini menjadi ibunya. Meski jiwanya—jiwa Chen Fengyin yang berusia delapan belas tahun, yang mati di gua Gunung Puncak Angin, yang melepas dan menunggu —masih berputar, masih mencari , masih mencoba mengerti.
Hari-hari berikutnya adalah... aneh .
Bukan karena tubuh yang salah—meski itu juga aneh, tubuh yang terlalu kecil, terlalu lemah, dengan refleks yang lambat dan otot yang belum terbentuk. Tapi karena dunia yang salah.
Kampung Daun Bayangan—Yinye Cun —bukan Kampung Awan Kasih. Bukan Gunung Puncak Angin. Bukan gua yang hancur. Bukan tempat apapun yang dikenalnya.
Desa ini lebih kecil. Lebih miskin. Lebih... takut .
Fengyin melihatnya dalam cara warga berjalan—cepat, dengan kepala menunduk, seolah-olah takut dilihat oleh sesuatu di atas. Dalam cara mereka berbicara—pelan, dengan kata-kata yang dipilih hati-hati, seolah-olah dinding punya telinga. Dalam cara mereka menatap ke timur—ke arah gunung yang lebih tinggi, di mana sinar matahari tidak pernah sepenuhnya terbit karena tertutup awan abadi.
Di sana, di puncak gunung itu, terdapat istana kecil. Bukan istana Kaisar—jauh lebih kecil, lebih lokal . Tapi istana yang sama-sama ditakuti. Milik Penguasa Setempat, wakil dari Dinasti Wuji Chao yang mengontrol provinsi ini dengan tangan besi yang tersembunyi di dalam sarung beludru.
Fengyin belajar ini dari Liu Dage, tetangga yang sering datang membantu ayahnya di ladang. Pria berusia empat puluhan dengan punggung bungkuk akibat tahun-tahun membawa beban berat, tapi dengan mata yang masih tajam—mata yang mengenali sesuatu di Fengyin, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
"Kamu berbeda sekarang, Nak," kata Liu Dage pada suatu sore, ketika mereka beristirahat di tepi sawah. "Tiga tahun yang lalu, kamu seperti... kosong. Seperti cangkang tanpa isi. Tapi sekarang..." dia berhenti, menggigit bibir. "Sekarang kamu seperti orang lain. Seolah-olah ada yang masuk ke dalammu."
Fengyin menatapnya. Tidak dengan ekspresi anak laki-laki berusia delapan tahun—tapi dengan ekspresi yang lebih tua. Yang mengenali pengakuan ketika mendengarnya.
"Aku mimpi," kata Fengyin, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Mimpi panjang. Tentang gunung. Tentang orang tua yang mengajarkan sesuatu. Tentang... kekuatan."
Liu Dage menjadi kaku. Bukan karena takut—tapi karena pengertian . Seolah-olah dia telah menunggu sesuatu seperti ini.
"Kekuatan," ulangnya, suaranya hampir tidak terdengar. "Kekuatan seperti apa, Nak?"
Fengyin tidak menjawab langsung. Dia menatap tangannya—tangan kecil, lemah, belum siap untuk apa pun. Tapi di dalam, di tempat yang tidak bisa dilihat, dia bisa merasakan mereka. Mereka masih ada . Kristal-kristalnya. Enam elemen. Tidak berdenyut dengan kuat seperti dulu—terlalu lemah, tubuh ini terlalu kecil , terlalu muda —tapi ada. Menunggu. Bertahan hidup bersamanya.
Yuèyǐng Pèi telah melakukan tugasnya. Telah menyimpan benih. Telah menemukan tanah baru.
"Seperti angin," kata akhirnya. "Seperti bayangan. Seperti... sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini."
Liu Dage menatapnya lama. Kemudian, perlahan, dia berdiri dan berjalan pergi—tanpa kata-kata, tanpa penjelasan. Tapi pada malam itu, dia kembali dengan sesuatu. Sebuah gulungan kain, disembunyikan di balik jubahnya, yang dibuka dengan tangan gemetar.
Di dalamnya, sebuah liontin. Tidak seperti Yuèyǐng Pèi—lebih sederhana, lebih kasar, dengan ukiran yang hampir terhapus oleh waktu. Tapi Fengyin mengenali jenisnya . Mengenali bahwa ini adalah sesuatu yang dibuat oleh tangan yang sama, atau setidaknya oleh tradisi yang sama.
"Ini milik nenekku," kata Liu Dage, suaranya pelan, hampir malu. "Dia bilang, suatu hari, seseorang akan datang. Seseorang yang 'bermimpi panjang'. Dan aku harus memberikan ini padanya."
Dia menatap Fengyin, dan di matanya ada sesuatu yang kompleks. Sesuatu yang hampir seperti... takut . Tapi juga harapan .
"Aku tidak percaya pada dongeng, Nak. Tapi aku percaya pada nenekku. Dan aku... aku percaya pada apa yang kulihat di matamu sekarang."
Fengyin mengambil liontin itu. Hangat, meski seharusnya dingin. Berdenyut, meski seharusnya mati. Seolah-olah mengenalinya .
Dan ketika dia memakainya—menggantungkannya di leher bersama Yuèyǐng Pèi yang tidak terlihat oleh mata biasa, yang bersembunyi di dalam baju—sesuatu terjadi. Sesuatu yang kecil, hampir tidak terasa, tapi nyata .
Sebuah koneksi. Lemah, rapuh, seperti benang yang bisa putus kapan saja. Tapi ada. Antara liontin baru ini dan Yuèyǐng Pèi. Antara masa lalu dan masa kini. Antara mati dan hidup .
Minggu-minggu berikutnya, Fengyin belajar hidup sebagai anak lain .
Nama tubuh ini adalah Chen Xiaoyu—nama yang hampir sama, hampir seperti lelucon takdir. Anak dari Chen Dali, petani yang juga pembuat arang, dan Wang Cuilan, wanita yang menjual sayur di pasar desa. Mereka bukan keluarga yang istimewa. Bukan kepala desa, bukan Dàshī, bukan apa pun kecuali manusia yang berusaha bertahan hidup di bawah tirani.
Tapi mereka adalah keluarga . Dalam cara yang tidak pernah dimiliki Fengyin sejak Kampung Awan Kasih hancur. Dalam cara yang tidak pernah diminta, tidak pernah diharapkan, tapi diberikan dengan tangan yang terbuka.
Ayahnya—Chen Dali—adalah pria yang pendiam. Yang bekerja dari subuh hingga senja, yang tangan selalu hitam oleh arang, yang tersenyum jarang tapi tulus . Yang, pada suatu malam ketika Fengyin tidak bisa tidur, duduk di sampingnya dan berkata: "Aku tahu kamu bukan anakku yang dulu. Aku tidak tahu siapa kamu. Tapi aku tahu... kamu baik. Dan itu cukup untukku."
Ibunya—Wang Cuilan—adalah wanita yang ramai. Yang selalu punya cerita, yang selalu punya makanan, yang tangan selalu sibuk meski tubuh selalu lelah. Yang, pada suatu pagi ketika Fengyin sedang sakit, duduk di samping tempat tidurnya sepanjang malam, menepuk kepalanya, dan berkata: "Ibu tidak peduli dari mana kamu datang. Kamu adalah anakku sekarang. Dan ibu akan melindungi anakku."
Fengyin—Chen Xiaoyu, atau siapapun dia sekarang—menangis pada malam itu. Bukan karena sedih. Tapi karena terima kasih . Karena, untuk pertama kalinya dalam dua kehidupan, dia merasa pulang .
Tapi dia juga merasa bersalah .
Karena dia tahu. Tahu bahwa ini tidak bisa bertahan. Tahu bahwa Xie Wuyou—meski tubuhnya kosong, meski jiwanya hancur, meski mati di gua Gunung Puncak Angin—masih punya pengaruh . Masih punya orang lain . Masih punya Dinasti yang menginginkan kehancuran Tiānzé Zhě.
Dan tahu bahwa, suatu hari, dia harus pergi. Harus kembali menjadi Fengyin . Harus melanjutkan apa yang dimulai.
Tapi bukan hari ini. Bukan tahun ini. Mungkin tidak sepuluh tahun berikutnya.
Hari ini, dia hanya anak laki-laki berusia delapan tahun yang belajar membaca dari ibunya. Yang belajar membuat arang dari ayahnya. Yang bermain dengan anak-anak lain di desa—anak-anak yang tidak tahu apa-apa tentang kristal, tentang elemen, tentang pembantaian .
Hari ini, dia hanya hidup .
Tapi bahkan dalam hidup yang tenang, ada pertanda .
Seekor burung biru, yang muncul di jendela pada subuh-subuh tertentu. Yang tidak berkicau, hanya menatap . Dengan mata merah seperti batu permata. Dengan sayap yang berkilauan seperti kristal.
Fengyin mengenalinya. Dari kehidupan sebelumnya. Dari mimpi-mimpi yang "panjang" itu. Dari gua yang hancur, dari detik-detik terakhir sebelum melepas . Burung yang selalu muncul di momen-momen penting. Yang selalu menunjukkan arah. Yang selalu... menunggu .
"Apa yang kamu tunggu?" tanya Fengyin pada suatu subuh, ketika yang lain masih tidur.
Burung itu tidak menjawab—tentu saja tidak. Tapi ketika terbang pergi, sayapnya membentuk pola di langit. Pola yang hanya bisa dilihat dari sudut tertentu. Pola yang, ketika Fengyin mengikutinya dengan mata, menunjuk ke arah timur. Ke gunung. Ke istana kecil di atas awan.
Ke tempat di mana Xie Wuyou pernah berkuasa. Dan di mana, mungkin, sesuatu yang tersisa darinya masih menunggu .
Fengyin menatap arah itu lama. Kemudian, perlahan, dia kembali ke dalam. Kembali menjadi Chen Xiaoyu. Kembali menjadi anak .
Tapi di lehernya, dua liontin berdenyut pelan—satu terlihat, satu tersembunyi. Seolah-olah setuju . Seolah-olah berkata: Tidak sekarang. Tapi suatu hari. Suatu hari, kamu akan kembali. Dan kami akan siap.
Di malam hari, ketika semua orang tidur, Fengyin duduk di depan rumah. Menatap langit yang dipenuhi bintang—bintang yang sama di Kampung Awan Kasih, di Gunung Puncak Angin, di sini. Bintang yang menjadi saksi dari segalanya.
Dia merasakan mereka di dalamnya. Jiwa-jiwa yang dibawa dari kehidupan sebelumnya. Gu Yanqing yang muda. Lin Xuan. Shimu. Mereka tidak berbicara sering—tubuh ini terlalu kecil, terlalu sempit untuk percakapan. Tapi mereka ada. Menunggu. Mendukung .
Dan dia merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang baru.
Yuèyǐng Pèi. Liontin aslinya. Yang masih di sana , di lehernya, tersembunyi di bawah yang lain. Yang menyimpan bagian dari jiwanya yang tidak muat di tubuh ini. Yang akan tumbuh. Yang akan menunggu waktunya.
Satu hari nanti, ketika tubuh ini cukup besar. Ketika kristal-kristalnya cukup kuat untuk dipanggil tanpa hancur. Ketika dunia membutuhkan Tiānzé Zhě lagi.
Fengyin akan kembali.
Tapi untuk sekarang, dia hanya anak laki-laki berusia delapan tahun, di bawah bintang-bintang, dengan dua liontin di leher dan keluarga di dalam rumah dan masa depan yang tidak pasti tapi penuh dengan kemungkinan.
Dia berbaring di tanah, merasakan dinginnya malam, dan tersenyum.
"Aku akan melindungi," bisiknya, bukan untuk siapapun, tapi untuk dirinya sendiri. Untuk janji yang dibuat dua kehidupan lalu. Untuk Gu Yanqing yang mati di gua. Untuk semua yang dihancurkan dan semua yang akan dibangun kembali. "Aku akan melindungi desa ini. Keluarga ini. Semua orang yang menjadi milikku."
Bintang-bintang berkedip. Seolah-olah setuju .
Dan di suatu tempat, di antara dedaunan, seekor burung biru berkicau sekali—satu nada tinggi, tajam, penuh dengan janji .
(Bersambung...)