Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 27
Pagi ini aku datang untuk menjemputnya. Entah mengapa perasaanku begitu tidak enak. Apa karena aku akan mendapat penolakan darinya hari ini? Sudah setengah jam aku menunggu Julia di depan rumahnya namun ia tak kunjung keluar dari rumahnya. Bahkan dia tidak membalas pesanku dan juga telpon dariku. Aku mulai sedikit khawatir. Namun aku akhirnya pergi tanpa dirinya kesekolah.
Keesokan pagi nya aku menunggunya lagi di depan rumahnya. Namun ia tak kunjung keluar juga dari rumah itu. Kalau dulu jika terlambat biasanya karena ibunya yang tidak ada dirumah untuk membangunkannya dan alasannya selalu karena menginap di tempat kekasihnya. Aku mulai khawatir lagi. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi Mei. Namun Mei bilang ada masalah internal yang bahkan ia enggan memberitahukannya padaku. Dan aku berencana mengunjungi rumahnya lagi. Aku sudah membunyikan bel rumahnya berkali-kali, namun tidak ada jawaban juga. Aku pun mulai mengetuk pintu keras itu. Tapi rumahnya seperti tidak ada siapapun. Namun saat aku hendak meninggalkan rumahnya, pintu itu terbuka. Dari balik pintu itu seorang pria yang usianya kurang lebih 50 tahunan berdiri di belakang Julia yang membukakan pintu itu. Tampak Julia menggenggam erat gagang pintu itu dengan ekspresi yang terlihat ketakutan.
"Julia... Aku..."
"Ada apa?"
Tanya pria itu dengan suara beratnya.
"Selamat sore pak. Saya teman sekelas Julia. Saya ingin melihat keadaan Julia, karena Julia sudah beberapa hari ini tidak masuk sekolah. Jadi..."
"Mengganggu saja! Pulang sana! Julia baik-baik saja! Sana pulang!"
Ucap pria itu marah lalu menutup paksa pintu itu.
Aku mencoba mencerna situasi yang terjadi. Selama ini aku hanya tau Julia tidak memiliki ayah. Aku pun memutuskan menghubungi Mei lewat telpon saat itu juga.
"Mei, ada pria yang keluar dari rumah Julia. Dia siapa?"
"Sebenarnya aku tidak mau menceritakannya. Tapi karena kamu sudah melihatnya... Dia ayah tiri Julia. Keluarga besar kami sangat menentang pernikahan itu. Tapi ibunya Julia bahkan rela melepaskan hubungan kekeluargaan demi pria itu. Keluarga besar disini juga jadi tidak peduli. Karena ibunya Julia sendiri yang membuang hubungan kekerabatan kami."
Setelah mendengar itu kekhawatiranku bukannya menghilang namun malah semakin bertambah. Dan keesokan harinya aku mendapatkan kabar bahwa ibu Julia telah meninggal dunia karena penyakitnya dirumah sakit. Aku dan teman yang lain memutuskan untuk menengok Julia. Walau Mei sedikit enggan karena takut keluarganya tahu. Tapi Juna meyakinkannya untuk ikut dengan kami. Persahabatan yang kami jalin selama kurang lebih satu tahun ini ternyata tidak sia-sia juga. Namun niat baik kami untuk melihat keadaan Julia di sambut pahit oleh Julia sendiri.
"Kalian pulang saja."
Ucap Julia dengan muka datar. Ekspresi yang tidak pernah kami lihat, hari itu Julia menunjukkannya pada kami.
"Julia, apa maksudmu? Kami kesini untuk..."
"Hentikan Mei! Aku bilang kalian pulang saja!! Aku tidak butuh kalian! Lebih baik kalian pergi dari sini!! Lagi pula kita sudah tidak ada hubungan apapun."
Mei tampak sedih mendengar ucapan Julia. Aku mengepal kedua tanganku. Ini tidak benar. Mengapa Julia yang aku kenal menjadi seperti ini?
"Ada apa denganmu? Kenapa kau..."
Mei mencoba bertanya namun belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Bass langsung memotongnya karena kesal.
"Sudah Mei. Kita pergi saja. Julia tidak membutuhkan kita lagi."
Untuk pertama kalinya bagiku, Bass yang tanpa ekspresi kini menunjukkan kekesalannya. Juna, Mei, dan Bass memutuskan pergi. Namun aku tetap tinggal untuk meminta penjelasannya. Aku benar-benar tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada Julia? Mengapa sikapnya tiba-tiba berubah dingin? Kenapa Julia jadi menjauh dari kami? Bukan kah kami sahabatnya?
"Julia, apa yang...."
"Cukup Gerald! Kamu ini cuma pria culun dan hanya orang baru di kelompok ini! Jangan sok-sokan untuk mencampuri urusanku. Aku tidak butuh belas kasih dirimu ataupun mereka! Sebaiknya kamu pulang juga. Aku muak melihat wajahmu."
"Apa?!"
"Kamu tuli? Aku bilang pergi!"
"Julia! Apa kamu sadar dengan apa yang kamu ucapkan?!"
"Ya! Aku sangat sadar!! Dan aku benci berteman dengan kalian!!"
'Plak!'
Satu tamparan mendarat dipipi Julia. Ternyata Mei dan yang lain masih belum pulang dan mendengarkan percakapan antara aku dengan Julia.
'Plak!'
Julia membalas tamparan Mei.
"Kamu pikir aku akan diam saja saat kamu melakukan itu padaku?!"
Julia mulai berteriak.
"Apa ini arti pertemanan kita selama ini Julia?!"
"Pertemanan kita tidak pernah ada artinya! Kamu saja yang bodoh!!"
"Kami datang karena khawatir padamu!!"
"Aku tidak butuh kekhawatiran sialanmu itu!!"
Mei menangis keras dan Juna mulai emosi. Namun Bass menghentikannya.
Suasana semakin tidak terkendali. Mengapa jadi seperti ini?
"Julia, kita..."
"Diam kau Gerald!!"
Julia mulai membentakku.
"Harusnya kamu sadar akan dirimu!! Kamu tidak berhak mencampuri urusanku!! Dan satu hal lagi, Untuk kau yang mencintaiku, cuih! Menjijikan!! Dicintai orang sepertimu itu menjijikan!!!"
Julia pun masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu rumah itu rapat-rapat. Aku terkejut akan perkataan yang keluar dari mulut Julia. Apa itu benar-benar Julia yang aku kenal? Seketika air mataku menetes. Bukan karena penolakan darinya saja, tapi fakta Julia yang hanya menganggapku orang asing selama ini benar-benar membuatku merasa bodoh.
"Gerald..."
Juna menyentuh pundakku.
"Gerald, lupakan saja. Kami tidak pernah menganggapmu orang baru ataupun orang asing. Bagi kami, kamu adalah sahabat terbaik kami."
Ucap Mei mencoba menenangkanku.
"Ayok kita pulang."
Ucap Bass dengan raut wajahnya yang sedih.
Hari itupun berlalu. Dan keesokan harinya aku mendapat berita bahwa Julia berhenti dari sekolah. Aku tidak mencoba mencari tahu lagi tentang Julia. Dan setelah kejadian itu, aku jadi sering melamun juga. Dihadapanku Mei dan yang lain bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun dan berusaha melupakan hubungan kami dengan Julia. Namun aku tahu. Tidak semudah itu.
Aku mulai mengalihkan pikiranku dengan melakukan hal lain. Juna dan Bass sudah tidak berlatih di tempat pelatihan bela diri dan hanya aku seorang yang masih bertahan. Juna sudah mulai ikut dengan ayahnya ke perusahaan untuk belajar mengurus bisnis. Mei juga sibuk dengan komik yang dikirimkannya karena tiba-tiba meledak di pasaran. Aku mencoba beralih ke hobi lain dengan merakit mesin. Lama-lama aku mempelajari perihal mobil sport. Membelinya untuk di bongkar. Bass yang selama ini diam tanpa ekspresi mulai memberanikan diri membuka galeri. Untungnya dia berbakat. Bahkan lukisannya di lelang sampai harga fantastis di kalangan elit. Karena hal itu orang tuanya sudah tidak lagi mengaturnya. Aku juga mulai memberanikan diri untuk membalas wanita-wanita yang mendekatiku. Bukan hanya itu, aku pun juga mulai berkencan dengan beberapa dari mereka juga. Lama-kelamaan aku jadi menyadari satu hal. Bahwa aku tidak seharusnya mencintai. Karena dicintai itu lebih baik.
Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Sudah hampir setengah tahun sejak Julia pergi. Aku pikir aku telah melupakannya. Namun saat itu tanpa aku sadari kakiku melangkah ke arah rumahnya. Namun aku mendengar suara sirine mobil ambulan dan mobil polisi besaut dengan keras. Dan mobil-mobil itu berhenti tepat dirumah Julia. Aku melihat Juna dan yang lain berdiri dari kejauhan yang melihat ke arah rumah Julia.
"Ke-kenapa didepan rumah Julia?"
Mei mulai gemetar.
"Kenapa kalian kemari?"
Tanyaku.
"Aku dan Bass hanya menemani Mei."
Aku dan yang lain menghampiri rumah Julia. Aku melihat polisi mencoba mendobrak pintu itu. Aku mulai berkeringat. Isi kepalaku sudah penuh dengan hal-hal yang mengerikan. Mei juga menangis. Dan Juna mencoba menenangkannya. Para tetangga yang menyaksikan juga mulai ribut menduga-duga.
Pintu itu terbuka. Polisi berbondong-bondong memasuki rumah itu. 10 menit berlalu. Seorang polisi keluar dari rumah itu dan menyuruh tim medis masuk membawa tandu. Kami menunggu dengan cemas. Beberapa menit kemudian, dua tandu keluar dari dalam rumah itu dengan kain yang menutupinya. Seketika aku berlari ke arah tandu itu. Aku melepas paksa kain itu. Aku terdiam membeku. Jantungku berdetak begitu cepat. Mei yang melihat sosok yang ada di tandu itu menangis hebat. Begitu pula Juna dan Bass.
"Ju-Julia... Julia!! Julia!!!"
Aku berteriak memanggil namanya. Tubuhnya sudah membiru dan mengeluarkan bau busuk. Aku mencoba meraihnya, namun polisi menghalangiku. Aku meronta-ronta, namun polisi lain kembali memegangiku.
"Julia! Tidak! Julia!!! Julia!!! Kau berjanji untuk selalu bersamaku!! Julia!!! Kenapa kamu melakukan ini!!!! Julia!!!!"
Aku melihat sosoknya yang dingin penuh luka di tubuhnya. Aku menyayangkan diriku yang menyerah mencari dirinya. Sosoknya yang indah kini berubah menjadi abu. Aku kehilangan kesadaranku.