Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Ibas berdiri ragu di depan pintu kamar Aliya. Tangannya tampak menggantung di udara. Hatinya ragu. Haruskah mengetuk atau justru berbalik pergi begitu saja?
Jam baru menunjukkan pukul empat pagi. Di jam segini, Ibas sudah siap dengan seragam lengkap, bersiap untuk berangkat dinas ke luar kota bersama atasannya.
Setidaknya, sebelum dia pergi, dia ingin melihat Aliya sekali lagi. Setidaknya, sebelum dia pergi, dia ingin mengatakan kepada Aliya untuk menunggunya kembali.
"Ibas..." panggil sang Ayah.
Ibas pun menoleh. Tangan yang semula mengambang di udara reflek dia turunkan kembali.
"Ya, Ayah?" sahut Ibas.
"Aliya-nya nggak usah diganggu! Kasihan," kata sang Ayah.
Ibas memandangi pintu dihadapannya dengan perasaan campur aduk. Mungkin, sang Ayah ada benarnya. Sebaiknya, dia tidak mengganggu istirahat Aliya.
"Oke," angguk Ibas patuh. Dia akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah sang Ayah untuk turun ke lantai bawah.
"Yah, Ibas titip Aliya, ya," tukas Ibas.
Sang Ayah tertegun sejenak. Didetik berikutnya, dia mengangguk dengan senyuman ganjil yang tidak disadari Ibas sama sekali.
"Sudah jam empat lewat. Sebaiknya, kamu jemput Bu Inggar sekarang buat ke bandara! Perjalanan dari rumah Bu Inggar ke bandara lumayan jauh loh, Bas," titah sang Ayah kemudian.
"Iya, Yah. Aku berangkat sekarang. Assalamualaikum!" pamit Ibas sambil mencium punggung tangan Ayahnya.
Sambil menggeret koper, Ibas berjalan keluar rumah. Langkahnya terasa berat. Separuh hatinya terus merasakan firasat tak enak. Seolah-olah, Ibas akan kehilangan sesuatu yang amat berharga dalam hidupnya.
"Aku kenapa, ya? Kok, firasatku nggak enak terus kayak gini?" gumam Ibas dalam hati.
Namun, dia berusaha mengabaikan perasaan itu. Demi memulihkan kepercayaan kedua orangtuanya, Ibas harus bisa menyelesaikan tugas ini dengan sebaik-baiknya.
........
Saat cahaya matahari sudah mulai mengintip malu-malu lewat tirai jendela yang tertiup angin, Aliya sudah selesai bersiap. Wajahnya tampak jauh lebih baik.
Sambil menyibak tirai jendela itu, dia tersenyum. Ya, hari ini... hari baru akan dimulai.
Barang-barangnya sudah selesai dibereskan. Kini, dia tinggal menunggu kondisi Saraswati benar-benar sehat lalu dia akan pergi meninggalkan rumah itu.
"Aliya..." panggil Saraswati.
Perempuan paruh baya itu berdiri diambang pintu kamar Aliya yang tidak tertutup sambil ditopang oleh sang suami.
"Bunda, Ayah... Ayo masuk!" ajak Aliya dengan antusias.
Sepasang suami-istri paruh baya itu kompak mengangguk. Mereka melangkah masuk lalu duduk di sofa panjang yang ada diujung tempat tidur.
"Aliya, Ibas sudah berangkat ke luar kota subuh tadi," kata Ikhsan.
"Aku tahu," sahut Aliya.
Sejujurnya, saat Ibas sedang berdiri di depan pintu kamarnya, Aliya juga melakukan hal yang sama. Dia juga berdiri dibalik pintu yang tertutup. Perasaannya campur aduk. Gugup dan bimbang menjadi satu.
Haruskah dia keluar dan mengucap perpisahan, atau biarkan saja semuanya berlalu begitu saja seolah tak pernah terjadi?
"Soal perceraian kalian, Ayah yang akan mengurus semuanya. Setelah akta cerai kalian jadi, Ayah akan langsung kabari kamu supaya mengambilnya sendiri di pengadilan," lanjut Ikhsan.
"Terimakasih banyak, Ayah," sahut Aliya.
Ikhsan mengangguk.
"Aliya..." Kini, giliran Saraswati yang buka suara. "...apa barang-barang kamu sudah siap semua, Nak?"
Dan, Aliya pun menjawab, "Iya. Sudah, Bun."
Tampak, Saraswati mengusap sudut matanya yang mulai basah. Dia menghela napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "kalau begitu, berangkatlah nanti siang! Jangan ditunda-tunda lagi."
Aliya tersentak kaget. Nanti siang? Mendadak sekali.
"Tapi, kondisi Bunda masih belum terlalu sehat. Kalau aku pergi sekarang, nanti siapa yang akan rawat Bunda?"
"Soal itu, kamu nggak perlu khawatir! Ayah yang akan urus segalanya."
Ikhsan tersenyum. Dia meyakinkan Aliya bahwa semuanya akan baik-baik saja meski Aliya pergi.
"Ayah... Bunda... Terimakasih, ya!" lirih Aliya dengan mata berkaca-kaca. "Terimakasih karena sudah menyayangi Aliya dengan cara sehebat ini. Kalian nggak cuma sayang sama Aliya. Tapi, kalian juga memperlakukan Aliya persis seperti anak kandung kalian sendiri."
Saraswati memeluk mantan menantunya. Air matanya tumpah dan membasahi bahu Aliya.
"Aliya... Sampai kapanpun, kamu akan selalu jadi anak Bunda dan Ayah. Kalau kamu butuh bantuan... Jangan sungkan hubungi kami."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺