NovelToon NovelToon
Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Hasrat Terlarang Bos Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:13.5k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.

Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.

Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.

Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Melempar Umpan

Suasana rumah Rendra terasa lebih tegang sejak beberapa menit lalu. Rendra duduk di sofa ruang tamu dengan wajah menahan amarah. Di sampingnya, Anna-ibunya juga memberikan eskpresi sama saat panggilan kesekian yang Rendra lakukan memberikan hasil sama.

"Tidak diangkat." desah Rendra menurunkan ponsel dari telinga.

"Ini yang kau sebut memberi istrimu ruang?" sergah Anna menatap kesal wajah putranya. "Berulang kali Mama bilang jangan biarkan istrimu kembali bekerja. Dia harusnya tetap di rumah."

"Ma..." Rendra melepaskan kacamatanya. "Tolonglah, jangan bahas ini dulu."

"Lalu kamu ingin Mama diam saja?" suara Anna naik satu oktaf. "Dia sudah mulai melawan, tugasmu mendisiplinkan istrimu."

"Lihat dia sekarang. Kau sudah pulang, tapi dia masih berkeliaran di luar," Anna melanjutkan, amarahnya meledak tanpa bisa ditahan.

Rendra terdiam, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Thalia sudah tahu aku menggunakan namanya, Ma."

"Apa?!"

Rendra kembali memakai kacamatanya, lalu mengangguk. "Dia membuka ponselku saat aku lengah dan melihat isinya. Itulah mengapa aku melunak padanya, dan itu bekerja. Jadi, tolong, jangan menekannya untuk sekarang yang akan membuat dia kembali curiga."

"Cih." Anna mendengus kesal. "Hanya jika dia tidak bersikap kurang ajar."

Tak... Tak...

Suara ketukan sol sepatu yang beradu dengan lantai menarik atensi keduannya untuk menoleh ke arah pintu.

Thalia pulang saat langit mulai meredup. Baru beberapa langkah memasuki ruang tengah, ia sudah melihat Anna duduk di sofa utama. Wajah ibu mertuanya dingin seperti biasa, tatapannya tajam sejak detik pertama ia muncul.

Rendra segera berdiri, tersenyum lembut melihat sang istri akhirnya pulang.

“Pulang juga akhirnya,” ucap Anna dingin.

"Ma," tegur Rendra pelan.

Thalia berhenti beberapa langkah di depan ibu mertuanya, lalu menundukkan kepala. “Maaf, Ma. Aku pulang terlalu sore.”

Rendra gagal menutupi keterkejutannya, tubuhnya membeku di tempat. Istrinya meminta maaf setelah tadi malam mengucapkan kata cerai? Pikirannya membutuhkan waktu lebih lama untuk meresponnya.

Anna pun terdiam sesaat, tidak menyangka Thalia akan merendahkan nada lebih dulu setelah apa yang putranya katanya sesaat lalu.

“Aku terlalu fokus mengurus pekerjaan,” lanjut Thalia dengan suara lebih lembut. “Aku lupa Mama datang hari ini. Itu salahku.”

Anna menyipitkan mata. “Kamu sadar itu salah?”

Thalia mengangguk. “Ya. Aku minta maaf.”

Rendra memperhatikan istrinya lekat. Ada sesuatu yang berubah, tetapi ia belum tahu apa. Ia melangkah mendekat pada istrinya, meletakkan tangannya di bahu Thalia.

“Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah pulang,” ucapnya.

Thalia melirik sekilas tangan Rendra di bahunya, berusaha sekuat tenaga tidak menepis tangan itu, lalu mengangkat wajah perlahan. “Maaf juga karena tidak mengangkat teleponmu.”

Rendra menatap istrinya dalam. “Kenapa tidak diangkat?”

“Aku sedang bicara soal pekerjaan. Aku takut kalau mengangkat telepon di tengah pembicaraan, aku terlihat tidak profesional.”

Jawaban itu terdengar masuk akal hingga Rendra tidak tahu bagian mana yang harus ia curigai.

Anna mendengus pelan. “Baru mulai bekerja saja sudah bicara profesional.”

“Maaf, Ma,” jawab Thalia pelan.

Anna tampak puas mendengar kata itu.

Rendra tersenyum tipis. “Sudahlah. Mama juga hanya khawatir.”

“Aku tahu,” jawab Thalia pelan.

Thalia menurunkan tas dari bahunya, lalu duduk di sofa seberang Anna. Gerakannya tenang tanpa reaksi defensif. Bahkan saat Anna menatapnya dengan mata menghakimi, Thalia tetap menundukkan wajah secukupnya.

Seperti dulu. Seperti Thalia yang mereka kenal.

“Kamu harus ingat.” ucap Anna duduk menyilangkan kaki. “Bekerja boleh saja asalkan Rendra mengizinkan. Tapi jangan sampai lupa kewajibanmu sebagai istri.”

Jari Thalia yang berada di pangkuan mengepal tipis, tetapi kelembutan di wajahnya tetap utuh. “Iya, Ma.”

Rendra melihat kelembutan itu. Dan kali ini, keyakinannya kembali sedikit demi sedikit. Yang Clara katakan benar, Thalia hanya perlu diberi ruang kecil, lalu diarahkan kembali. Dan Thalia akan kembali menjadi bidak caturnya seperti sedia kala.

“Ren,” panggil Thalia pelan.

“Ya?”

“Besok aku mungkin perlu menyiapkan beberapa data untuk prosesku di Dirgantara.”

Rendra mengeryit tipis. “Data apa?”

“Tidak banyak. Hanya supaya aku tidak terlihat kosong saat ditanya soal pengalaman dan hubungan bisnis keluargaku.”

Anna langsung mengangkat dagu. “Hubungan bisnis keluargamu?”

Thalia tersenyum kecil, sengaja terlihat ragu. “Dulu, Papa memang punya beberapa koneksi. Tapi aku sudah lama tidak mengurusnya. Karena itu aku agak bingung harus mulai dari mana.”

Rendra diam.

Thalia menatap suaminya dengan wajah yang dibuat lebih lembut. “Kamu sempat memakai nama Amradita untuk simulasi proyekmu, kan?”

Kedua mata Rendra menyipit, namun Thalia segera menunduk, seolah takut salah bicara.

“Aku tidak marah,” ucap Thalia cepat. “Aku hanya berpikir… mungkin data yang kamu pakai bisa membantuku menyusun ulang profilku. Supaya aku tidak mempermalukanmu kalau nanti benar-benar masuk Dirgantara.”

Kalimat terakhir yang Thalia ucapkan bekerja.

Rendra menatap istrinya lama. Kecurigaan itu sempat muncul, tetapi egonya bekerja lebih cepat daripada kewaspadaannya. Dan Rendra menyukai cara kalimat itu terdengar.

Anna beralih menatap putranya. “Kalau itu untuk membantu dia terlihat pantas sebagai istrimu, berikan saja.”

Thalia menahan napas pelan.

Rendra masih memperhatikan wajah istrinya. “Kamu ingin melihat dokumen proyekku?”

“Bukan dokumen proyek,” jawab Thalia cepat, seolah takut membuat suaminya salah paham. “Aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu. Aku hanya ingin melihat bagian yang mencantumkan profil Amradita supaya aku tahu apa yang harus kukatakan kalau ditanya.”

Rendra tidak langsung menjawab.

Thalia menatap suaminya, lalu tersenyum kecil. “Aku tidak mau membuatmu malu, Ren.”

Rendra menghela napas, lalu menggeser duduknya lebih dekat pada Thalia dan mengusap lembut pun.

“Baik. Nanti aku pilihkan bagian yang bisa kamu lihat.”

Thalia mengangguk pelan. “Terima kasih.”

“Nah, begitu seharusnya seorang istri. Kalau bicara baik-baik, semuanya bisa selesai," sahut Anna tersenyum puas.

Thalia menunduk. “Iya, Ma.”

Namun di balik wajahnya yang lembut, tatapan Thalia berubah dingin.

Mereka berdua tidak tahu, permintaan maaf yang baru saja keluar dari bibir Thalia bukan tanda menyerah, melainkan umpan. Dan Rendra baru saja menggigitnya.

.

.

.

Di dalam kamar tamu, Thalia masih berdiri di balkon dengan kepala sedikit tengadah, menatap pekatnya langit malam tanpa bintang dengan senyum samar terbentuk di bibirnya.

Satu tangannya yang menggenggam ponsel terangkat kala ia merasakan getaran, kemudian tersenyum saat nama sahabatnya terpampang di layar.

Maya. Sosok wanita enerjik yang menjadi sahabatnya sejak ia masih sekolah menengah. Dan menjadi satu-satunya orang yang ia temui sore ini setelah urusan dengan Arkana selesai.

Thalia menggeser layar untuk menerima panggilan, llau menempelkannya ke telinga.

"Aku sudah dapatkan jadwal janji dengan pengacaranya."

. . .

. . . .

To be continued...

1
Dewi Payang
Langsung tersindir😄
Dewi Payang
Mulai gombal🤭🤭
Dewi Payang
Sama Arkana bisa ngomong gitu, tapi sama Rendra kalah terus🤭
Zenun
juga ada obat penenang nya, yaitu Arkana
Zenun
daku kejar kak
Zenun
jan lupa kasih obat mencret
Patrick Khan
deg deg kan bacanya..😄
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq deg2an loh, kirain mau hiatus ini novel. trauma aq tuh
mery harwati
Tuan? Arkana kah itu? Atw Saka? Karena Arkana tipe orang yang bergerak di belakang layar 🤔
Dewi Payang
Blencek si Rendra......
Dewi Payang
Rwndra selingkih sama Clara?
W I 2 K
makin keren Thor ceritanya....., puas mataku dimanjakan karyamu... 😍😍😍
Zhu Yun💫
Padahal emaknya Thalia memberikan dukungan penuh, mungkin Thalianya saja yang tidak pernah mau terbuka. Dalam kasus yang lebih berat, sudah banyak tuntutan dari pihak suami dan keluarga suami, ditambah keluarga sendiri tidak memberikan dukungan... disini kewarasan benar-benar sangat diuji, belum lagi cemoohan dari lingkungan sekitar.... 🤧🤧🤧 eh malah curhat ini /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Zhu Yun💫
Lebih tepatnya tekanan batin ya, Thal...
MamDeyh
Lanjuuuutttt😁
MamDeyh
Lanjutt kak
Endah Puji Lestari
😍
Zhu Yun💫
Lanjut yuk lanjut /Determined//Determined//Determined/
Zhu Yun💫
Nanti kalau sudah cerai dari Rendra, jangan langsung mau sama Arkana ya, Thal 🤭🤭🤭 Biar si Ar punya gebrakan dulu 🤧🤧🤧
Zhu Yun💫
Semakin kesini aku malah lebih kepincut dengan sosok Rendra... meskipun dia licik, jahat dan endingnya sudah pasti tidak enak buat Rendra... tapi dia lebih banyak gebrakannya 🤭🤭💃💃💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!