Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tak lama kemudian, mereka benar-benar pergi dari kediaman Raguel yang telah Yvaine tinggali selama 4 tahun lebih itu.
Di dalam mobil, Joy memeluk Yvaine erat.
“Mom.. kita akan pergi?," tanya Joy dengan mata berbinar.
“Iya," jawab Yvaine dengan lembut sambil mengusap rambutnya.
“Apakah kita akan kembali?," tanya Joy lagi.
Yvaine tersenyum tipis. “Apakah kamu ingin kembali?”
Joy berpikir sejenak. Lalu menggeleng pelan. “Aku ikut Mommy saja.”
Jawaban itu membuat hati Yvaine menghangat. Ia mencium kepala kecil itu.
“Kita akan selalu bersama.”
Di kursi depan, Louis hanya bisa terdiam, ia sulit mempercayai bahwa wanita yang ia kenal begitu menakutkan, kini menjadi begitu lembut.
Beberapa saat kemudian, mereka berhenti untuk makan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke apartemen baru.
Saat akhirnya sampai, Yvaine turun sambil menggendong Joy.
“Terima kasih,” katanya santai.
Louis menatapnya dengan wajah menyedihkan. “Setidaknya undang aku masuk..”
Yvaine tersenyum tipis. “Silakan saja kalau kamu tidak takut ayahmu salah paham.”
Louis langsung terdiam dan sekali lagi, ia kalah telak.
Pada akhirnya, Louis tidak ikut naik.
Bukan karena ia takut pada ayahnya. Namun, entah kenapa, bayangan seorang pria yang sempat ia lihat di kafe beberapa waktu lalu kembali muncul di benaknya saat Yvaine berbicara.
Pria yang memiliki tatapan dingin itu tidak bisa ia pandang sepele, auranya begitu menekan dan cara ia memandang Yvaine seolah wanita itu bukan seseorang yang bisa dilepaskan begitu saja.
Meskipun secara hukum mereka sudah bercerai, Louis punya firasat aneh bahwa hubungan mereka belum benar-benar berakhir.
Karena itulah, ia memilih untuk menjaga jarak. Tetap sebagai teman, tidak lebih dan tidak kurang.
Lebih baik seperti itu.. agar ia bisa merasa aman.
Sementara itu, Yvaine sudah berjalan menuju lift sambil menggendong Joy.
Anak itu memeluknya erat, seolah takut terlepas.
Lift terbuka dengan bunyi pelan, lalu mereka masuk, setelah itu barulah Yvaine menyadari sesuatu yang berbeda.
Tempat itu bukan seperti apartemen biasa, disana tidak ada banyak pintu. Tidak ada lorong panjang dengan beberapa keluarga di kanan dan kiri.
Hanya ada satu lantai dan satu unit, yang artinya bahwa seluruh lantai itu milik mereka.
Yvaine melirik sekeliling. Diam-diam ia menghela napas.
'Tempat ini… terlalu mewah.'
Luasnya mencapai ratusan meter persegi, ditambah lokasinya yang berada di kawasan elit Kota S, pastilah harganya sangat tinggi.
Yvaine tahu siapa yang mengatur ini, pastilah Tobias yang ingin di sebut sebagai murah hati atau malah kejam karna memberinya semua ini, lalu memutus hubungan seolah tidak ada apa-apa.
Yvaine menggeleng pelan, menepis pikirannya, 'Terserahlah.. itu juga penting lagi.'
Lift berhenti di lantai dua puluh satu.
Pintu terbuka perlahan. Ia melangkah keluar, menyeret koper dengan satu tangan, sementara tangan lainnya masih menggendong Joy.
Langkahnya berhenti di depan sebuah pintu besar, ia mengeluarkan kunci dan mencoba membukanya
Klik.
Perlahan pintu terbuka, dan begitu masuk, ada aroma elegan yang langsung menyambut mereka.
Bukan sekadar harum, tapi seperti wangi yang mencerminkan kemewahan yang tenang.
Interiornya berbeda dari vila keluarga Raguel.
Jika vila itu penuh nuansa Eropa dengan warna putih yang lembut dan klasik, maka tempat ini sangat modern, minimalis dengan dominasi warna hitam dan putih.
Yvaine berjalan masuk perlahan. Matanya menyapu seluruh ruangan.
Ruang tamunya luas dengan dapur modern, juga terdapat beberapa kamar tidur.
Kamar mandi yang tampak seperti hotel bintang lima, dan sebuah kolam renang pribadi, serta area bermain.
Ia terdiam sejenak, lalu mencibir pelan, “Hidup orang kaya memang menyenangkan,” gumamnya.
Namun di sisi lain, ada rasa tidak nyaman yang samar.
'Semua ini adalah harga yang ia beri untuk menyingkirkan aku.. hebat sekali!'
Memikirkan itu, hati Yvaine sedikit mengeras. Bagaimanapun juga, setidaknya masalah tempat tinggal sudah terselesaikan.
Ia menarik napas panjang lalu tersenyum tipis.
“Mulai sekarang ini rumah kita,” katanya pelan.
Joy mengangguk kecil. Matanya berbinar, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti arti perubahan ini.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆
Saat akhirnya ketenangan si Kutub mulai terusik istri tak dianggap nya 😍😁😁👍
Lagiiiiiii.... doubleeee 😆😆🤩🤩