NovelToon NovelToon
Lamaran Ketujuh

Lamaran Ketujuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Hanum, seorang wanita cantik dan berbakat, telah menolak enam lamaran dari pria-pria yang ingin menikahinya. Semua orang berpikir bahwa Hanum terlalu selektif, namun sebenarnya dia hanya sedang menunggu satu orang, yaitu Reza.

Reza merupakan cinta pertama Hanum, namun ternyata Reza memiliki rahasia yang tidak diketahui oleh Hanum. Reza lebih mencintai Nadia, adik kandung Hanum yang penampilannya lebih seksi.

Setelah Hanum menyadari bahwa Reza tidak serius padanya, Hanum berusaha tegar dan menerima kenyataan. Saat itu juga, Abi tiba-tiba datang ke rumah membawa lamaran ke tujuh, setelah lamarannya ditolak tanpa alasan yang jelas oleh keluarga Nesa, kekasihnya sendiri.

Karena terikat sebuah janji, Hanum menerima lamaran itu. Akankah Hanum dan Abi akan menemukan kebahagiaan setelah hidup bersama, atau keduanya masih akan terikat dengan cinta lamanya?

Temukan jawabannya dalam Lamaran Ketujuh! 🤗🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rutinitas pagi

   Udara masih sejuk, membawa aroma kopi yang baru saja diseduh dari dapur.

   "Selamat pagi!" Sapa Abi yang tiba-tiba sudah di belakang.

   Sebuah rutinitas yang tak ingin Abi lewatkan setiap paginya adalah memeluk sang istri dari belakang.

    Hanum menoleh, tersenyum lembut. "Ada ibu," katanya.

   "Tapi aku terbiasa dengan ini," bisiknya pelan di dekat telinga Hanum.

   "Dengan apa? Kopi buatan aku, maksudnya?" Balas Hanum, dengan kalimat mengoda.

    "Dengan kamu," jawabnya.

    Hanum tertawa kecil, lalu berbalik menghadapnya. "Jangan di sini, ada ibu," bisiknya lagi.

  "Nggak ada, sayang...."

  "Ada...."

   Abi tahu, hampir setiap pagi usai memasak ibunya tidak akan sarapan di rumah, tetapi akan pergi berjalan santai, lalu berbelanja sayur bersama teman-temannya.

   Kemudian mereka duduk saling berhadapan. Tatapan mereka sangatlah berbeda dari saat mereka masih duduk di bangku sekolah yang sama.

   "Jangan menatap aku seperti itu," kata Hanum sambil tersenyum malu.

   "Memangnya kenapa?" Tanya Abi sembari menyesap kopinya.

   "Kamu membuat jantungku tidak aman." Bisiknya yang membuat Abi tertawa.

   Kemudian Abi mengambil tangan Hanum, dipegangnya erat-erat. "Jadi, aku harus gimana supaya jantungmu tetap aman?"

  "Kamu buat aku salah tingkah, Bi." Katanya sambil menunduk malu.

  "Bi, aku bawain sarapan buat kamu!" ucap Nesa sambil menyelonong masuk, yang membuat keduanya berdiri.

  "Yah, penganggu datang." Keluh Abi dengan suara berbisik yang langsung dicegah oleh Hanum.

  "Ssstt!"

  "Itu tidak perlu, aku sama Hanum juga mau sarapan." Tolak Abi.

  Senyum hangat masih menyapa, meski ada sesuatu yang menganjal di hati. "Kalau begitu kita sarapan sama-sama saja," kata Hanum.

 "Tapi, Yang...." Abi tidak setuju.

  "Udah, nggak apa-apa." Bisik Hanum.

  Abi menghembus napas kasar, "ya sudah, silahkan."

  "Makasih, Bi." Ucap Nesa tanpa ragu.

  Abi merasa tidak nyaman, akan tetapi Hanum justru memberinya ruang.

  Nesa mengambil piring, kemudian meletakan makanannya, "maaf ya, Hanum. Sebenarnya aku masih sulit menghilangkan kebiasaan aku."

  Kerutan tipis muncul di dahinya, Abi menatap Hanum dengan tatapan tak setuju. Namun Hanum memberi isyarat melalui matanya, agar Abi tetap menghargai kebaikan Nesa.

  "Iya, Nesa. Dengan senang hati kita terima kebaikan kamu. Makasih, ya, sudah buatin sarapan untuk suami aku." Kata Hanum yang langsung dilanjut oleh Abi.

  "Tapi kamu nggak perlu repot-repot," katanya dengan ekspresi datar.

  Nesa tersenyum menatap Abi sambil memberikan sarapan untuknya. "Nggak apa-apa, Bi. Aku nggak ngerasa direpotin kok, aku seneng banget masih punya kesempatan nyiapin sarapan buat kamu," kata Nesa lalu menatap Hanum. "Apa lagi, pas aku dengar kalau Hanum tidak bisa memasak."

Kata-kata Nesa membuat Hanum merasa sedih, bukan karena ucapa Nesa, namun karena merasa belum bisa menjadi seorang istri yang pandai memasak untuk orang yang ia cintai.

Sering kali Hanum merasa iri ketika melihat wanita lain begitu lihai di dapur, menciptakan hidangan hangat dengan penuh percaya diri—sementara dia masih sering ragu.

   Seketika Abi berdiri dari tempat duduknya, menatap Nesa dengan mimik wajah serius. "Siapa yang bilang, istriku tidak bisa masak?"

  Nesa ikut berdiri, ada rasa menyesal telah berkata seperti itu di depan Abi. "Maaf, Bi. Aku nggak ada maksud buat kamu tersingung. Aku cuma pernah dengar dari cerita tetangga."

  "Yang..." cegah Hanum, sambil menyentuh lembut tangan Abi, lalu menggelengkan kepalanya pelan, agar Abi tidak perlu emosi hanya karena mendengar ucapan Nesa.

  Terpaksa Abi duduk kembali, "Nesa, terlepas Hanum bisa masak atau tidak, masalah sarapan aku itu bukan urusan kamu, bukan kewajiban kamu buat ngasih sarapan ke aku!" tegasnya.

  "Iya, Bi. Aku mengerti!" katanya, sambil menunduk sedih.

  Ada rasa tak tega melihat Nesa seperti itu, Hanum pun mencoba memecah suasana. "Ya sudah, sebaiknya kita lanjutkan sarapannya. Jangan sampai karena kita berdebat dengan hal-hal kecil, kalian jadi terlambat ke kantor." Katanya.

  "Iya, Hanum benar." Kata Nesa yang tidak mendapat tanggapan dari Abi.

  Sejenak mereka hanya saling diam, melanjutkan sarapannya dengan serius. Kemudian Hanum kembali membuka obrolan.

  "Yang, aku mau bilang sesuatu, tapi jangan ketawa, ya...." Kata Hanum yang membuat Abi kembali ceria.

  "Kedengarannya serius banget." Kata Abi.

  "Iya, emang serius. Makanya dengerin, ya!"

  "Iya, sayang. Bilang aja, aku pasti dengerin." Kata Abi yang membuat Nesa merasa cemburu.

  "Ah, sialan nih, mereka. Sengaja banget bikin aku merasa iri. Kenapa coba, aku harus ninggalin Abi, harusnya kan aku yang ada di posisi itu." Batin Nesa penuh penyesalan.

   Ragu-ragu Hanum mengatakannya, merasa aneh dengan yang ingin ia katakan.

   "Udah, cepetan bilang!"

   Hanum tertawa kecil, matanya melirik ke kanan kiri secara bergantian, kemudian ke Abi. "Aku mau minta izin beli kosmetik."

    "Hmm...kosmetik, ya?"

    Hanum mengangguk.

    "Ah iya, kalau mau kosmetik, gimana kalau nanti sore kita jalan bareng? Aku tahu, pasti kamu nggak punya pengalaman soal kosmetik, dan aku tahu mana yang akan cocok sama kamu." Saut Nesa tanpa diminta.

    "Iya, kamu benar, aku memang nggak tahu soal itu. Selama ini cuma lihat punya adik." Kata Hanum.

    Baru saja mulutnya akan terbuka untuk mengatakan sesuatu, Abi sudah lebih dulu bicara mendahului Nesa.

    "Padahal kamu itu sudah paket lengkap lho, sayang. Udah cantik, manis, dan caramu mengerti perasaan aku itu....sudah bikin aku nggak bisa pindah ke lain hati."

"Ya ampun, Bi... kamu nggak ngerti banget sama perasaan aku." Bathin Nesa lagi.

   "Bisa aja kamu, Yang. Tapi tetep ya, aku mau beli biar makin pede."

   "Boleh dong, istriku sayang." Kata Abi yang semakin membuat Nesa kepanasan.

   "Jadi diizinin kan, ya?" Hanum ingin memastikan.

   "Sangat diizinin, bahkan aku dukung penuh." Kata Abi.

   "Oke. Makasih..." kata Hanum, sedikit manja.

   "Nggak perlu makasih. Selama kamu senang, aku juga ikut senang." Katanya.

Tanpa disadari, cara sederhana yang kelihatan membuat mereka terus saling bermanja, mampu menutup celah bagi Nesa yang selalu berusaha masuk di antara mereka.

Hanum tidak akan memberi kesempatan bagi Nesa untuk menggantikan posisi yang sudah ia jaga.

"*Yang kamu hadapi itu bukan hubungan renggang, Nesa. Jadi, menyerah saja dari pada kamu capek sendiri*." Bathin Hanum sambil menatap penuh kemenangan ke arah Nesa.

\* \*

Di kamar luas itu, Nadia masih berjalan mondar-mandir. Penyesalannya begitu dalam, ketika menyadari sesuatu yang seharusnya ia jaga sudah ia berikan pada orang lain.

"Kenapa...kenapa aku sebodoh itu?"

Ia tak pernah menyangka, bahwa kekecewaan Rendra menjadi hal yang menyakitkan bagi dirinya.

"Aku menyesal... sangat menyesal...!!" Teriaknya penuh tekanan.

"Kenapa aku tidak berpikir panjang, kenapa aku tidak menjaga diri?" sambungnya lagi.

Nadia merasa telah mengecewakan sesorang yang justru paling sempurna untuk dirinya. Ia terus menyalahkan dirinya sendiri, berharap semua itu hanyalah mimpi. Dan andai masih diberi kesempatan, ia berjanji akan mencintai suaminya dengan sepenuh hati, sebagai penebus atas masalalu yang tak bisa ia hapus itu.

Suaranya kini semakin pelan, "aku tahu, aku tidak pantas untuk dimaafkan, tapi aku tetap akan meminta maaf padamu, tolong maafkan aku."

Ia terisak dalam pelukan sendiri, menatap foto Rendra yang menempel di dinding kamar itu.

...****************...

1
Retno Harningsih
lanjut
Abad
lanjut sama jangan kelamaan upnya
Emily
wah gak tau gimana tabiat si rendra
Emily
meski sulit tapi harus di paksa biar biasa
Diana Dwiari
ayo sikat ulet keket itu dg cara elegan......
Fatra Ay-yusuf
menarik
Restu Langit 2: Terimakasih 🤗
total 1 replies
Abad
Yang ini mana kelanjutannya Thor?
Restu Langit 2: ditunggu ya...
total 1 replies
Diana Dwiari
wah.....hati2 kamu Nadia....malah jadi tawanan rendra
Diana Dwiari
salahmu sendiri nesa,meski dijodohkan ,tp setidaknya kan selesaikan dulu dg masalalu
Abad
Ceraikan saja Davin, biar Nesa makin terpuruk setelah ditingal nikah Abi 🤣
Abad
Reza pasti ambil kesempatan tuh
Restu Langit 2: he he 🤭
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuutt👍😍
Restu Langit 2: Makasih penyemangatnya 🤗
total 1 replies
Abad
wah wah masalah pasti sama keluarga pak karto
Restu Langit 2: sepertinya begitu 🤭
total 1 replies
Abad
Semangat!
Restu Langit 2: Terimakasih Apresiasinya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!