Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.
Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.
Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.
Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.
Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:
Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?
Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seorang Gadis dan Pesan.
Lorong belakang aula itu hampir kosong. Hanya deretan pintu kelas yang tertutup dan cahaya lampu yang terasa terlalu pucat.
Seorang gadis berdiri di sana. Sendirian. Tangannya menggenggam ponsel erat—terlalu erat sampai jemarinya sedikit gemetar.
Layar ponselnya masih menyala. Satu chat terakhir terbuka.
| Udah kamu lakuin, kan?
Ia menatap kalimat itu tanpa berkedip. Beberapa detik. Atau mungkin lebih. Napasnya mulai tidak teratur. Pendek. Tersendat.
Ia mencoba menggerakkan ibu jarinya.
| aku udah—
Tetapi sebelum sempat mengetik lengkap, ia menghapusnya lagi
|aku gak—
hapus lagi.
Tangannya semakin gemetar. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kering. Di kepalanya, bayangan kemarin muncul lagi—jelas, terlalu jelas.
Lemari kelas, dalamnya bersih, lilin-lilin dalam kotak itu tersusun rapi. Tangannya yang sempat berhenti di udara. Ragu. Harusnya berhenti. Harusnya mundur. Tapi tidak.
Tangannya tetap bergerak.
Dan—
crack.
Suara itu kembali terngiang. Kecil. Tapi cukup untuk membuat jantungnya berdebar tak karuan. Ia memejamkan mata.
“Gue harusnya nggak…” bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar.
Getaran tiba-tiba membuatnya tersentak. Notifikasi masuk. Ia langsung membuka mata.
| Jangan pura-pura nggak lihat.
Jantungnya seperti dipukul dari dalam. Lebih cepat. Lebih keras. Ia buru-buru mengetik.
| aku udah lakuwn
Salah ketik.
Ia mendecak pelan, panik. Mengedit pesannya lagi.
| aku udah lakuin.
Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.
Balasan masuk.
| Bagus.
Ia langsung menggeleng pelan.
“Enggak…” bisiknya. “Ini nggak bagus…”
Dadanya terasa semakin berat. Ia mengetik lagi, lebih cepat—lebih kacau. Ini salah. Itu punya dia.
Balasan datang hampir seketika.
|Kalau lo nyebarin soal gue...
Gadis itu membeku. Matanya melebar. Jari-jarinya berhenti di atas layar. Justru itu. Dunia di sekitarnya seolah menyempit. Suara dari aula hilang.Udara terasa lebih dingin.
“Kenapa…” suaranya pecah. “Kenapa harus dia…” Ia mengetik lagi, buru-buru.
"N-nggak akan"
Belum sempat dikirim.
Pesan berikutnya muncul.
| Mau gue kirim videonya ke grup sekolah?
Tubuhnya langsung kaku. Seolah waktu berhenti. Tangannya gemetar hebat. Ponselnya hampir terlepas.
“Jangan…” suaranya bergetar.
Ia mengetik cepat.
| Jangan!
Balasan muncul lagi
| Atau ke guru?
| JANGAN!!
Ia menekan layar terlalu keras, hampir panik. Air matanya langsung jatuh. Tidak tertahan. Satu. Lalu langsung menyusul yang lain.
Ia mengangguk kecil tanpa sadar.
“Iya… iya… gue nurut…” bisiknya terbata. "Tolong…”
Dadanya sesak. Seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Video itu. Kalau sampai tersebar— maka semuanya selesai sudah.
Ia membayangkan tatapan orang-orang. Bisikan. Tuduhan. Ia menutup mulutnya sendiri, menahan tangis yang hampir pecah.
Pesan masuk lagi.
| Ini terakhir. Abis ini lo aman.
“Aman…?” ia tertawa kecil.
Suara itu patah. Kosong. “Aman dari mana…”
Layar kembali diam. Tidak ada lagi tanda mengetik. Tidak ada lagi pesan. Hanya kata-kata itu. Gadis itu menatap layar kosong.
Beberapa detik. Lalu— kakinya lemas. Ia perlahan turun, terduduk di lantai dingin lorong itu. Punggungnya bersandar ke dinding.
Ponselnya masih di tangan, tapi hampir jatuh. Air matanya sekarang benar-benar pecah. Tidak ditahan lagi. Napasnya berantakan. Cepat. Pendek. Tidak beraturan.
“Aku nggak mau…” suaranya gemetar hebat.
“Gue nggak mau ini…”
Tapi semuanya sudah terjadi. Ia sudah melakukannya. Dan yang paling menakutkan— orang itu punya bukti. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya semakin keras, meski berusaha ditahan.
“Kalau ketahuan…”
Kalimat itu berhenti di tenggorokannya. Ia tidak sanggup melanjutkan. Bayangan-bayangan buruk sudah lebih dulu memenuhi kepalanya—tatapan orang-orang, bisikan pelan yang berubah jadi tawa, dan satu hal yang paling ia takuti: semuanya runtuh dalam sekejap.
Langkah kaki terdengar dari ujung lorong. Pelan. Lalu semakin jelas. Tubuhnya langsung menegang.
Ia tersentak, seolah baru tersadar dari sesuatu yang dalam.
Dengan gerakan cepat, ia berdiri. Tangannya buru-buru mengusap wajah. Tidak rapi, hanya asal. Sisa air mata masih terasa di pipinya. Ia menarik napas. Sekali.
Tersangkut. Dada terasa sempit.
Ia mencoba lagi, lebih dalam kali ini. Memaksa udara masuk meski rasanya tidak cukup. Jemarinya masih bergetar saat menyelipkan ponsel ke saku. Ia mengepalkan tangan sejenak, berusaha menghentikan getaran itu.
Tegakkan badan. Tenang. Ia mengangkat dagu sedikit, memaksa ekspresi wajahnya kembali datar. Seolah tidak ada apa-apa.
Langkah kaki itu kini tepat di dekatnya. Ia menahan diri untuk tidak menoleh. Tidak ingin terlihat mencurigakan. Tidak ingin bertemu mata dengan siapa pun. Orang itu lewat begitu saja.
Hanya bayangan sekilas di ujung pandangan.
Ia tetap diam. Bahkan napasnya ditahan, takut suara sekecil apa pun akan menarik perhatian.
Beberapa detik terasa panjang. Sampai akhirnya suara langkah itu menjauh. Lalu hilang. Baru saat itulah bahunya sedikit turun. Ia menunduk pelan.
Kosong. Namun, di dalam kepalanya—semuanya berputar tanpa henti. Satu pikiran muncul.
(Dia lihat gue.) Jantungnya berdegup lebih keras. Pikiran lain menyusul, lebih tajam. Tenggorokannya kembali terasa kering. Lalu yang terakhir datang perlahan. Tidak keras, tapi justru lebih menekan.
(Ada yang ngawasin gue)
Ia berhenti bernapas sejenak.
Matanya bergerak perlahan, menyapu lorong di depannya. Ujung koridor terlihat lebih panjang dari sebelumnya. Pintu-pintu kelas tertutup rapat, seolah menyimpan sesuatu di baliknya.
Sudut-sudut yang tadi tampak biasa kini terasa berbeda. Lebih gelap. Lebih dalam. Ada rasa dingin merayap di punggungnya. Ia berdiri kaku, mencoba memastikan bahwa ia benar-benar sendirian.
Tapi perasaan itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Seolah ada seseorang yang tidak terlihat— yang sejak tadi tidak pernah pergi. Diam. Memperhatikan. Menunggu.
Gadis itu menelan ludah pelan. Matanya berhenti di satu titik kosong. Tidak ada apa-apa di sana.
Namun, entah kenapa, ia merasa kalau ia mendekat sedikit saja… atau menoleh terlalu cepat… ia akan menemukan sesuatu, atau seseorang yang dia cari. Tetapi dia tak sanggup melakukannya.