Syela tak ingat apapun yang terjadi malam itu, berawal dari pesta di sebuah klub membuatnya harus kehilangan kegadisannya.
Apa yang harus dilakukannya pun ia tak tahu...
Apakah harus????.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.A.Hanifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Flasback On sebelum Syela sampai dirumah beberapa hari yang lalu.
Di perjalanan pulang dari rumah sakit, saat memasuki wilayah perumahannya Syela tak sengaja melihat Mobil Miko berhenti tepat didepan pos jaga. Karena penasaran dia pun turun dari taxi bersama sang bayi.
"Miko" ucapnya pelan saat melihat Miko mengobrol dengan security dipos itu.
Miko yang mendengar suara Syela pun menoleh dan terkejut, orang yang berhari hari dia cari akhirnya muncul juga. Dia langsung mendekat, "Syelaaaa, kamu kemana aja, aku mencarimu kemana mana tapi nggak ketemu juga" tanyanya penuh kekhawatiran sekaligus lega.
"Kamu ngapain disini?" Syela malah balik bertanya.
"Kenapa malah balik nanya, jawab pertanyaanku" ujar Miko.
"Aku...... " Syela menatap sang Putra sebelum melanjutkan kalimatnya.
Miko menatap kearah yang sama lalu memboyong Syela untuk berpindah tempat. "Kita kemobil ku aja, cuacanya panas".
Didalam mobil. "Kenapa ku nggak kasih tau aku, kenapa kamu jaga Ansel sendirian Sel?" tanya Miko sedikit kesal karena Syela menyembunyikan keberadaan dan keadaannya.
"Maaf tapi aku tidak mau membebani siapapun Miko, lagi pula aku masih bisa melakukan semuanya sendiri".
Miko berpaling mendesah berat dan Syela tau pria itu sedang menahan kesal. Tapi Syela benar benar tak ingin merepotkan semua orang termasuk Miko, jika dia tau pasti dia akan terus berada dirumah sakit, belum lagi kedua orang tuanya lalu Handoko, istrinya dan Catherine semua akan tau, Syela tak ingin hal itu terjadi.
"Terus gimana keadaan Ansel sekarang, dia benar benar sudah sembuh kan?" tanya Miko saat mulai tenang, menyentuh pipi gembul Ansel dengan jarinya.
Syela menganggukkan kepala. "Hmmmm, dia sudah lebih baik" jawabnya.
"Baguslah...., lain kali kalau dia kenapa napa kamu bisa hubungin aku Sel, jangan diam mengatasi masalah sendirian, masih ada aku, aku bisa bantu kalian" ucap Miko meyakinkan dan Syela hanya menganggukkan kepalanya. "Lalu masalah pria itu, gimana?" tambahnya lagi.
Syela menatap Miko sebentar lalu menggelengkan kepala. "Entahlah, Pak Handoko ingin aku menikahinya agar Ansel punya Ayah" jawabnya menyebutkan nama pada sang Papa, Miko paham dan tak mengomentari.
Keduanya terdiam sesaat. "Syela, menurutmu apakah dia benar benar Ayah Ansel?" tanya Miko. Sebenarnya dia ragu atas hadirnya Bagas yang mengakui dirinya sebagai Ayah Ansel, apalagi juga Syela tak yakin jika pria yang menghamilinya adalah Bagas.
"Aku bingung Mik, dari hati kecilku aku yakin dia bukan Ayahnya Ansel, tapi penjelasan dia dan Catherine sama, alibi mereka kuat".
Miko mencoba berpikir, "Kamu coba ikuti permintaan Om Handoko dulu" ucapnya tiba tiba yang membuat Syela membulatkan mata.
"Kamu gila Miko, menikah denganmu saja aku menolak apalagi menikahi pria be*re*sek itu" jawab Syela beranda tinggi.
"Tenang dulu Sel, aku memintamu begitu karena sebentar lagi aku akan mendapatkan sesuatu tentang pria itu".
Syela mengernyit bingung. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Aku nggak bisa bilang sekarang, aku juga belum tau pasti, tapi ada yang sudah disembunyikan pria itu dari kita semua, dan aku sudah selidiki" jawab Miko.
"Jadi aku minta kamu ikutin aja dulu mau mereka, sampai aku dapatkan semua yang kucari, aku janji sebelum kalian benar benar menikah aku akan bongkar semua kebusukannya".
Syela sempat terdiam berpikir beberapa saat, tapi jika tak dia coba kesempatan lain mungkin tak bisa menyelamatkannya itupun kalau ada. "Kamu yakinkan Mik?" tanyanya memastikan.
"Percaya sama aku" jawab Miko yakin dan Syela pun menyanggupi.
Setelahnya dimana hari pernikahan Syela hendak berlangsung Miko pun membawa Dinda istri Bagas yang selama ini dia cari infonya, sedikit sudah karena kehidupan pribadi Bagas sangat tertutup.
Flasback Off.
"Sekali lagi terima kasih Mik" ucap Syela tulus.
Miko mengangguk. "Setelah ini gimana, apa yang mau kamu lakuin, Catherine gimana?".
"Untuk sekarang mungkin seperti hari hari sebelumnya, aku belum ada pikiran untuk kedepannya, aku mau fokus ke Ansel dulu menunggu dia sedikit lebih besar supaya aku bisa leluasa melakukan apa saja" jawab Syela.
"Kamu nggak ada pikiran memaafkan Papa Mamamu dan kembali jadi anak mereka lagi?".
Ditanyai begitu Syela tak ragu untuk menggelengkan kepalanya. "Berapa kalipun kamu bertanya, jawabanku tetap sama" ucapnya.
Bukan hal yang mudah sebenarnya karena dia sudah bersama Handoko dan Susi sedari kecil, mereka orang tua kandung Syela. Tapi mengingat perlakuan keduanya setelah dia melakukan satu kesalahan ditambah lagi perbedaan sikap mereka pada Syela dan Catherine membuatnya yakin, jika kembali jadi anak mereka adalah bukan keputusan yang tepat.
"Baiklah, kalau begitu kalian istirahatlah, ingat kalau ada apa apa kabari aku cepat, oke" amanat Miko sebelum dia keluar dari kamar Syela.
Setelah kepergian Miko, Syela memilih merebahkan diri kembali merenung sambil menemani sang Putra yang lelap tertidur.
*****
Keesokan paginya seperti yang dikatakan Syela dia mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, menyapu, mengepel, mencuci dan lainnya. Saat ditengah pekerjaan dia juga bertemu Handoko dan Susi, didepan keduanya Syela hanya menganggukkan kepala lalu kembali bekerja seperti tak ada yang terjadi sebelumnya. Dia biasa saja.
Sedangkan Handoko dan Susi sendiri tak berani menegur Syela, keduanya juga memilih diam.
Hanya Catherine yang berbeda, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi tapi gadis itu belum juga kelihatan. Handoko bahkan sudah pergi kekantor karena biasanya Catherine akan berangkat kuliah bersama Papa angkatnya itu. Sepertinya gadis itu tengah mengurung diri dikamarnya.
Syela yang sedang membersihkan ruang keluarga memperhatikan Susi yang nampak gelisah sendiri, dari tadi hanya bolak balik naik kelantai dua lalu turun lagi kedapur terus seperti itu sampai beberapa kali.
Syela tak menghiraukan dia sibuk dengan pekerjaannya sendiri sampai terdengar suara teriakan Susi yang menggelegar.
"Tidak...... Catherine........!!!!!!!" teriaknya.
Syela yang terkejut berlari cepat menuju sumber suara. Begitu sampai dikamar Catherine tubuhnya nyaris limbung saat melihat darah segar mengalir dari pergelangan tangan gadis itu, sedang Susi sudah menangis sejadi jadinya memangku kepala Catherine dipahanya.
"Catherine, tidak...... bangun Nak.... bangun.... " serunya panik.
"A..... Aku akan memanggil ambulan" ucap Syela ketika sadar. Dengan lari sempoyongan dia mencoba menghubungi ambulan lewat telpon rumah.
Selang beberapa menit, ambulan dan perawat pun datang dan langsung membawa Catherine menuju rumah sakit, Susi pun mengikuti dan kini hanya tinggal Syela sendiri.
"Di... dia mau bunuh diri?" gumam Syela dalam pikirannya.
Hanya itu yang ada dalam pikiran Syela dari pagi hingga malam tiba bahkan untuk mengurus Ansel terkadang dia hilang fokus. Memikirkan apa alasan dibalik kenekatan Catherine, apa hanya karena rencana busuknya selama ini terbongkar atau ada hal lainnya. Hal itu menjadi masalah baru untuknya. Sepanjang malam Syela berpikir sampai akhirnya dia tertidur lelap.
"Syela tolong maafkanlah kesalahan Catherine, kamu tidak mau kan jadi alasan hilangnya dua nyawa manusia".
"Maksudnya apa?".
"Catherine merasa bersalah karena kamu tak mau memaafkannya, dan lagi...... Catherine sedang hamil".
"Apa......? Hamil.......?"
"Iya Catherine hamil, anak Miko".
Pasti bakal muncul kok, cuman belum waktunya
sesuai sama judul sih aku buat ceritanya, kalau cepet ketemunya bakal pendek ceritanya