NovelToon NovelToon
Sang Pendekar Pengendali Naga

Sang Pendekar Pengendali Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: cici aremanita

Lue Ang yang hampir mati diselamatkan oleh wanita tua, di sana Lue Ang diberitahu kalau dirinya memiliki spirit.

Untuk membalaskan dendam yang diterimanya selama ini, Lue Ang mencoba berkulivasi dan mengembangkan spirit yang ada di dalam tubuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cici aremanita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulainya

Lue Ang yang mendengar perkataan Ameng mengernyitkan dahinya tidak senang, jika spirit Naga api tahu harusnya beritahu saja padanya, dan jika tidak ingin memberitahu harusnya jangan mengatakan apapun.

"Tidak perlu mengatakannya jika tidak mau," ucap Lue Ang.

"Heeeh, aku tidak serius, akan aku katakan," sahut Ameng.

"Jadi apa kegunaannya?" Tanya Lue Ang yang merasa sangat penasaran.

"Jubah itu jubah tembus pandang, saat kamu menggunakannya kamu akan tidak terlihat," ucap Ameng.

"Ternyata ada juga jubah yang seperti itu," sahut Lue Ang.

"Bisa di bilang jubah itu juga artefak tingkat tinggi," ucap Ameng lagi.

"Ternyata murid ketua Tiang semua orang baik," sahut Lue Ang yang kembali melanjutkan langkahnya.

Kriiiiiiieeeeet.

"Selamat datang di rumah mu." teriak suara yang tidak asing bagi Lue Ang.

Lue Ang terdiam melihat siapa yang saat ini ada di depannya, para seniornya yang baru saja pergi kembali datang dan sekarang malah berada di dalam rumahnya.

"Penyambutan untuk mu belum berakhir," ucap Yun.

"Yang dikatakan wanita galak memang benar, mari kita makan sampai puas, kamu harus mengingat satu hal ketua hanya peduli dengan latihan tapi tidak dengan makanan," sahut Ran.

"Jangan membicarakan ketua jika dia mendengar kalian akan mendapatkan hukuman," ucap Raksa.

"Aku yakin ketua tidak akan datang kemari untuk saat ini, karena baru saja penerimaan murid baru Ketua akan sibuk di bawah," sahut Ran.

"Kali ini aku setuju dengannya," ucap Yun.

"Kalian terlalu banyak bicara, lihatlah yang punya rumah masih berdiri di depan pintu," sahut Mandu.

"Tunggu apa lagi kemarilah kita rayakan kedatanganmu," ucap Ran.

Lue Ang yang tadinya hanya diam berdiri di depan pintu perlahan melangkahkan kakinya masuk ke dalam, Lue Ang duduk di samping Raksa dan Mandu yang sudah tidak sabar ingin menikmati makanan di depan mereka.

Setelah mengambil makanan masing-masing tidak ada satupun dari kempat senior yang saling berbicara, semua makan dengan sangat rapi sampai habis bersih tanpa sisa.

Lue Ang yang tinggal memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya terdiam, keempat senior berpikir mungkinkah makanan yang mereka bawa sebenarnya tidak enak dan adik bungsu mereka dengan terpaksa memakannya.

"Apa makanannya tidak enak?" Tanya Yun.

Lue Ang yang tersadar langsung menggelengkan kepalanya, makanan yang dimakannya saat ini benar-benar sangat lezat, hanya saja kehangatan dari para seniornya mengingatkannya pada seseorang yang pertama kali memberikannya kehangatan.

"Kalau kamu tidak keberatan apa kamu mau menunjukkan spiritmu pada kami, kami juga akan memperlihatkan spirit kami semua padamu," ucap Ran yang langsung berdiri.

"Tidak bisa ini sudah malam," sahut ketua Tiang mengejutkan semuanya.

"Ketua," ucap keempatnya yang serentak.

"Dia adalah murid baru, dia hanya memiliki tiga hari untuk berlatih sebelum melawan murid senior ketua Puang dan ketua Qiu," sahut ketua Tiang.

"Bukankah kami sudah biasa seperti ini, menunjukkan spirit masing-masing untuk perkenalan," ucap Ran.

"Aku bilang tidak bisa ya tidak bisa, untuk hukuman kalian harus menerima misi," sahut ketua Tiang.

"Apa! Kami hanya diam saja kenapa kami juga juga harus menjalankan misi padahal kami baru saja pulang," ucap Yun.

"Misinya adalah mendapatkan berlian kehidupan yang ada di bawah pohon kematian, waktu kalian hanya 3 hari, jika terlambat kalian akan terlewat pertandingan pertama Lue Ang," sahut ketua Tiang.

"Tapi... ."

Mandu yang ingin ikut protes langsung menutup mulutnya saat ketua Tiang melihat ke arahnya, Mandu dan Raksa berbeda dari Ran dan Yun yang suka membantah, karena ketua sudah memerintahkan seperti itu mereka tidak punya pilihan selain melakukannya.

Keempatnya menghilang secara bersamaan meninggalkan Lue Ang yang dari awal hanya diam, Lue Ang tidak menyangka ternyata ketua Tiang cukup tegas pada muridnya.

"Bersihkan rumahmu dan segera beristirahat, besok adalah waktu latihan pertamamu jangan membuatku menunggu," ucap ketua Tiang.

"Baik ketua," sahut Lue Ang.

Setelah ketua Tiang pergi Lue Ang langsung membersihkan sisa makanan yang ada di depannya, setelah semua selesai Lue Ang membaringkan tubuhnya di tempat tidur empuk yang sudah disiapkan memang untuknya.

"Di sini aku memiliki tempat tinggal sendiri bahkan kamar sendiri yang sangat layak," ucap Lue Ang.

"Jadi apa kamu merasa senang di sini?" Tanya Ameng.

"Tentu saja, tapi aku tetap tidak akan lupa tujuanku datang kemari," sahut Lue Ang.

"Bagus, aku jadi tidak perlu mengingatkanmu," ucap Ameng.

Lue Ang tertidur dengan sangat cepat, saat kembali membuka mata matahari masih belum keluar tapi Lue Ang tidak ingin terlambat di latihan pertamanya.

Setelah membasuh mukanya Lue Ang bergegas ke lapangan, setibanya di sana ketua Tiang sudah lebih dulu datang dan seperti sedang menunggunya.

"Aku mengira akan menunggu mu lebih lama lagi," ucap ketua Tiang.

"Kita akan mulai pelatihan pertamamu," sambung ketua Tiang.

"Pelatihan apa yang harus kujalani ketua?" Tanya Lue Ang.

"Aku suka karena kamu bertanya, kamu harus melatih pernapasanmu lebih dulu, tarik nafas beberapa kali setelah itu tahan nafasmu sampai matahari terbit," ucap ketua Tiang.

Mendengar ucapan ketua Tiang Lue Ang merasa sangat terkejut, masih ada sekitar setengah jam lebih sebelum matahari terbit, walau tidak tahu apakah dirinya mampu bertahan Lue Ang tetap mengikuti perkataan ketua Tiang.

"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, lakukan saja lebih dulu setelah itu dengarkan aku," ucap ketua Tiang.

Lue Ang yang menganggukkan kepalanya langsung menarik nafas berulang kali, setelah beberapa kali menarik nafas pelan Lue Ang lalu mulai menarik nafas panjang.

"Bagus, tahan nafasmu, gunakan energi mu untuk bertahan sampai matahari terbit, jika seperti ini saja kamu tidak bisa bagaimana kamu bisa menghadapi para murid senior ketua Puang dan ketua Qiu," ucap ketua Tiang yang langsung menghilang meninggalkan Lue Ang.

"Caranya memang sedikit sulit dilakukan tapi cara seperti memang akan sangat berguna," gumam Ameng.

"Lebih tepatnya kamu harus memutar energimu, putar keluarkan dan kembali masukkan lagi tanpa melepas tarikan nafasmu," sambung Ameng.

Lue Ang yang seketika mengerti langsung melakukan seperti yang dikatakan spirit Naga api miliknya, Lue Ang mengeluarkan energi dari dalam tubuhnya dan kembali memasukkan ke dalam tubuhnya.

Saat memasukkan energi kembali ke dalam tubuhnya energi di sekitar ikut masuk ke dalam tubuhnya, Lue Ang bisa merasakan nafasnya yang tidak goyah walau dirinya saat ini sedang menarik nafas.

Dari kejauhan ketua Tiang bisa melihat Lue Ang yang berhasil bertahan lebih lama dari para seniornya di percobaan pertama, Lue Ang bahkan tidak gagal walau dirinya hanya menjelaskan secara singkat apa yang harus dilakukannya.

"Hemmmm, apa mungkin anak ini benar-benar jenius," ucap ketua Tiang.

1
Suciani Ade
Ditunggu up nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!