Yvaine, ratu es yang legendaris di pasukan khusus, mengalami pengkhianatan dalam misinya. Dua tembakan menghantam tubuhnya, dan dia jatuh tak bernyawa di tempat.
Namun, ketika Yvaine membuka matanya lagi, dunia telah berubah. Kini dia menjadi nyonya rumah dari keluarga besar yang menyepelekan dirinya, seorang istri yang marah tapi diabaikan suaminya, dan seorang ibu yang anaknya juga tak pernah memperhatikannya.
“Kalau aku tidak salah, kita sudah bercerai. Sekarang kamu malah masuk ke rumahku, mantanku tercinta,” suara dingin sang mantan terdengar.
Yvaine mengangkat dagu, duduk di ujung sofa dengan kaki terlipat, menebarkan aura sombong yang tak terbantahkan. “Kalau begitu… kita bisa menikah lagi,” ujarnya dengan tenang tapi penuh tantangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sementara itu, Laura yang sejak tadi mencoba menahan diri akhirnya tidak bisa diam lagi.
“Vaine!” serunya, nada suaranya terdengar lembut tapi dipaksakan. “Ayahmu tidak bermaksud seperti itu. Dia hanya..”
“Diam.”
Satu kata yang pendek itu cukup untuk membuat Laura terbungkam, apalagi ketia ia melihat Yvaine menatapnya yang dingin, tanpa sedikit pun rasa hormat.
“Kamu tidak punya hak menjelaskan maksud ayahku padaku,” katanya datar.
Kemudian, ia melanjutkan dengan nada yang semakin tajam.
“Diskusi?” ia tersenyum sinis. “Kapan kalian pernah berdiskusi denganku?”
“Waktu kalian buru-buru menikahkanku dulu, apa kalian tanya pendapatku?”
Suasana langsung hening.
“Kalau begitu..” lanjutnya, “kenapa sekarang aku harus repot-repot berdiskusi dengan kalian soal perceraian?”
Laura mencoba menyela, suaranya mulai goyah.
“Waktu itu kamu sudah hamil, jadi..”
Namun begitu kata hamil keluar dari mulutnya, tatapan Yvaine berubah dingin dan tajam, aura Yvaine langsung membuat Laura refleks menutup mulutnya sendiri.
Yvaine tidak berkata apa-apa lagi soal itu. Ia hanya melirik sekilas, lalu mengalihkan pandangannya seolah hal itu bahkan tidak layak dibahas.
“Jadi,” katanya datar, “kalian datang ke sini hanya untuk menanyakan hal itu?”
Tidak ada yang menjawab.
“Kalau sudah selesai..” lanjutnya, sambil menggenggam tangan Joy, “kami mau pulang.”
Ia berbalik, hendak melangkah pergi, namun..
“Tunggu.”
Langkah Yvaine terhenti. Ia menoleh perlahan.
“Ada lagi?” tanyanya dingin.
Harris menarik napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. “Aku dengar..” katanya pelan namun berat, “kamu menjelek-jelekkan Tobias saat mengajukan cerai. Membuatnya tidak senang.”
Yvaine mengernyit.
“Apa Tobias tidak senang?” tanya Harris.
Dalam benaknya terlintas kejadian di kafetaria.
Pria itu memang terlihat tidak nyaman.. tapi tidak sampai seperti yang mereka katakan.
Ia mengangkat bahu. “Mungkin saja. Lalu?”
Jawaban acuh tak acuh itu kembali memancing emosi Harris.
“Apa maksudmu ‘lalu’?” suaranya meninggi. “Kamu tahu siapa dia, kan?!”
“Dia bukan orang yang bisa kamu hina seenaknya!”
Yvaine menatapnya tanpa ekspresi.
“Kamu bukan lagi bagian dari keluarga Raguel,” lanjut Harris. “Kalau dia marah, dia bisa dengan mudah membalasmu!”
“Kalau memang ingin bercerai, ya bercerai saja. Kenapa harus menyinggung dia?!”
Ia melangkah maju.
“Sekarang ikut aku.”
“Kita ke keluarga Raguel. Kamu akan minta maaf.”
Yvaine terdiam sejenak. Lalu Senyum tipis muncul di bibirnya.
Akhirnya, ia mengerti.
'Jadi ini tujuan mereka.. bukan karena peduli. Tapi karena takut jika aku menyinggung Tobias… dan dampaknya akan menyeret mereka.'
“Jadi.." katanya pelan, “kalian ingin aku minta maaf?”
“Benar,” jawab Harris tanpa ragu.
Namun Ia lupa satu hal penting, Vaine yang berdiri di depannya sekarang bukan lagi putrinya yang merupakan gadis lemah yang bisa ia atur sesuka hati.
Ia adalah Yvaine..
“Tidak mungkin.”
Jawaban itu jatuh ringan. Namun tegas.
Harris membeku. “Apa?” suaranya hampir tak percaya.
Yvaine menatapnya lurus. “Aku bilang.. itu tidak mungkin.”
Kali ini perkataannya sangat jelas. Tidak ada ruang untuk salah paham.
Kesabaran Harris akhirnya habis.
“Kurang ajar!” bentaknya. “Aku bicara baik-baik, tapi kamu malah menantangku?!”
Yvaine terkekeh pelan. “Ikut denganku untuk minta maaf dianggap kehormatan?” katanya sinis. “Menarik sekali cara berpikirmu.”
Ia menggeleng. “Sayangnya, aku tidak tertarik.” Lalu ia menarik tangan Joy.
“Kami pergi.”
Namun sebelum ia sempat melangkah..
“Berhenti!”
Suara keras itu membuat udara kembali menegang.
“Ini bukan pilihanmu,” kata Harris dingin. “Kamu harus ikut denganku.”
Ia menoleh ke belakang.
“Ayo. Bawa dia ke mobil.”
Dalam sekejap, ada lima pria berbadan besar muncul, mereka berpakaian hitam dan menatapan Yvaine dengan dingin.
Saat itu juga, mereka langsung mengepung Yvaine dan Joy.
Melihat rencana Harris itu malah membuat Yvaine melirik mereka sekilas dengan senyuman tipis.
“Jadi cara halus tidak berhasil, sekarang pakai kekerasan?”
Harris menatapnya tajam. “Aku beri kamu kesempatan terakhir,” katanya. “Masuk ke mobil. Minta maaf.”
“Kalau tidak.. jangan salahkan aku.”
Yvaine tertawa kecil. “Belas kasihan?” ulangnya. “Sejak kapan kamu punya itu untukku?”
Tatapannya berubah tajam. “Aku tidak ingat pernah merasakannya.”
Wajah Harris mengeras.
“Bawa dia!”
Perintah itu langsung disambut gerakan para pengawal.
Salah satu dari mereka maju.
“Nona, silakan..”
Ia mengulurkan tangan, namun tiba-tiba berhenti karna pergelangan tangannya dicekam dengan kuat.
Pria itu tertegun. Matanya bertemu dengan wajah Yvaine yang begitu tenang, bahkan ada sedikit senyuman di wajahnya seolah menantang pria itu
Perasaan buruk langsung muncul, dan benar saja.. Dalam sekejap siku Yvaine menghantam perutnya.
“Ugh!”
Tubuh pria itu langsung membungkuk, pada saat itu juga, ketika pria itu belum sempat pulih, lutut Yvaine melesat ke atas dan menghantam wajahnya.
Kacamata hitam pria itu pun terlempar dan tubuhnya jatuh keras ke tanah.
Adegan yang Yvaine perbuat langsung membuat semua orang terpaku.
Tidak ada yang menyangka bahwa seorang wanita.. bukan.. tapi seorang Vaine yang mereka kenal lemah, kini bisa menjatuhkan pria sebesar itu dalam satu gerakan.
Kini, Yvaine tidak peduli lagi, ia berjongkok di depan Joy.
“Bawa ini,” katanya lembut, menyerahkan tas belanja.
Ia menunjuk ke area kosong. “Tunggu di sana. Jangan ke mana-mana.”
Joy menatapnya khawatir. Namun ia mengangguk dan menjawab, “Baik, Mom..”
Ia berlari menjauh.
Saat Yvaine melihatnya aman, Ia berdiri dan menghela napas panjang. Lalu meregangkan lehernya perlahan.
Retakan kecil terdengar. Ia menggulung lengan bajunya dan mengangkat tangannya seolah memberi isyarat menantang.
“Ayo.”
Para pengawal akhirnya tersadar. Mereka saling berpandangan.
Lalu mereka menyerbu bersamaan dengan tangan yang melayang ke arahnya, namun dengan santai Yvaine menggeser tubuh menghindar dengan mudah.
Ia menangkap pergelangan pria itu, memutarnya. Lalu mengangkatnya ke atas bahu dan membantingnya ke tanah.
Gerakan itu bersih, cepat dan tanpa ragu.
Dua pria lain langsung menangkap lengannya untuk menahan dari kedua sisi.
Sementara satu lagi menyerang dari depan.
Yvaine menyipitkan mata. Ia tidak berusaha melepaskan diri.
Sebaliknya, ia malah melompat. Tubuhnya berputar ke belakang.
Kakinya menghantam dada pria di depan sehingga pria itu terlempar.
Kedua pengawal yang menahannya terkejut.
Yvaine langsung menendang salah satu dari mereka dengan keras sehingga membuat pria itu terhuyung, lalu jatuh.
Pegangan di tangannya lepas.
Yvaine mendarat dengan ringan.
Tatapannya menyapu mereka semua.
Seolah mengatakan bahwa ini baru permulaan.
cerita nya bagus
seruuuuu 👍😆