NovelToon NovelToon
Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Rebith: Gadis Beracun Kesayangan Bos Mafia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: FT.Zira

Dikhianati... Kemudian dibunuh...

Siapa sangka, kematian menjadi awal bagi Lea La Bertha- seorang ahli racun- mengetahui kebenaran yang selama ini ditutupi sang kekasih.

Kehidupan kedua yang ia dapatkan membuat dirinya memilih jalan berbeda dengan bergabung dalam lingkaran dunia mafia.

"Jika aku memintamu membunuh seseorang, apa kau akan melakukannya?" Angkasa.

"Jadikan aku sebagai tangan kananmu. Maka, aku akan lakukan semua perintahmu tanpa terkecuali," Lea.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya yang ia bawa, Lea bertekad mengubah takdirnya. Tetapi ia tidak pernah menyangka, perubahan itu justru membuka rahasia besar dari kedua orang tuanya yang sudah tiada.

Lalu, bagaimana jika cinta hadir diantara mereka? Akankah Lea percaya pada 'Cinta'?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Seyuman Jebakan.

Mobil hitam itu berhenti tepat di depan pintu masuk sebuah bar. Awalnya, tidak ada yang peduli. Bagi mereka, mobil mewah bukanlah hal baru, terutama saat banyak dari mereka yang menjadi pengunjung bar juga memiliki mobil yang sama.

Namun, begitu pintu belakang mobil itu terbuka diikuti sosok wanita keluar dari mobil, atensi hampir semua pengunjung yang baru saja tiba, terutama pria, seketika terpaku pada sosok wanita yang baru saja datang.

Wanita itu menyelipkan rambut ke belakang telinga dengan gerakan anggun, tersenyum tipis saat ia menutup pintu mobil, lalu melangkah pelan menuju pintu masuk.

Di saat para pengunjung lain perlu menunjukkan kartu akses mereka, hal berbeda terjadi pada Lea saat salah satu dari tiga pria yang berjaga melihat kalung yang Lea kenakan.

Penjaga itu tidak tersenyum, tetapi dia segera membungkuk sopan, menundukkan wajah tanpa berani menatap terlalu lama, dan membuka jalan dengan satu tangan terulur ke arah pintu. "Anda bisa masuk, Nona."

Wanita yang tidak lain adalah Lea itu hanya memberikan anggukan samar, lalu masuk ke dalam, dan membawa langkahnya menuju satu-satunya tempat yang bisa ia gunakan untuk menarik perhatian: meja bar tempat bartender berada.

Di dalam Scarfers Bar, lampu gantung kristal memantulkan cahaya kuning redup ke permukaan meja. Aroma cerutu dan whisky bercampur parfum mahal menguar di udara diiringi musik jazz yang mengalun rendah.

Di salah satu sudut ruangan, Vito duduk bersandar di sofa dengan gelas whisky di tangan yang sesekali ia sesap isinya. Netranya memindai, mencari sesuatu yang menarik baginya untuk ia jadikan pelarian kekesalan. Dan saat itulah pandangannya menangkap sosok wanita yang baru saja datang sekaligus tidak pernah ia lihat sebelumnya.

"Menarik." Vito bergumam pelan, seringai tipis terbentuk di bibirnya. Ia menenggak sisa whisky di gelasnya, kemudian berdiri. Merasa menemukan mangsa.

Cantik, seksi dan datang seorang diri.

Musik jazz terus mengalun, mengiringi langkah Lea sampai wanita itu duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan meja bar.

"Negroni," pinta Lea pada bartender.

Bartender itu tersenyum ramah, menatap kalung yang melingkar di leher Lea dalam hitungan detik, kemudian kembali ke mata Lea yang tengah menatapnya datar.

"Baik. Mohon tunggu sebentar."

"Beri aku minuman yang sama."

Suara bariton yang datang dari belakang Lea tiba-tiba menyela, membuat ia menoleh cepat dan mendapati pria berstelan jas hitam sudah berdiri di belakangnya. Memberikan senyum menawan.

"Vito." lanjutnya mengulurkan tangan.

Lea tidak segera menyambut uluran tangan yang datang. Pandanganya turun ke tangan pria di depannya, kemudian kembali ke mata pria itu sembari menyambut uluran tangan Vito.

"Vermouth," jawab Lea.

"Nama yang menarik," sahut Vito dengan pujian.

"Sendirian?" tanyanya seraya duduk di kursi di samping Lea.

"Ada banyak orang di sini, tentu saja aku tidak sendirian," sahut Lea.

Vito tergelak singkat, meletakkan tangan kirinya di meja yang membuat tato ular di pergelangan tangannya sedikit terlihat. "Kau sangat pandai berbicara."

Lea tersenyum samar, menemukan target yang ia cari.

"Silakan minumannya." sela barista meletakkan minuman di depan masing-masing.

Lea sedikit menggeser duduknya, menyilangkan kaki saat tangannya mengangkat gelas, kemudian menyesapnya pelan.

"Apakah kau datang untuk bertemu seseorang atau menunggu seseorang?" tanya Vito turut menyesap minuman miliknya.

"Mungkin ...keduanya." jawab Lea sambil meletakkan gelas di meja, lalu mencondongkan tubuhnya, sedikit mendekatkan wajah dalam jarak yang bisa membuat Vito menghirup aroma parfum di tubuhnya.

"Woody," Vito memejamkan mata selama dua detik sambil bergumam pelan. "Aroma kayu, aku menyukainya."

"Siapa yang ingin kau temui?" lanjut Vito bertanya.

"Dia sudah ada di depanku sekarang," jawab Lea.

Seringai tipis terbentuk di bibir Vito. Dalam benaknya ia menganggap wanita yang kini ada di depannya adalah mainan barunya malam ini.

"Aku? Kau mengenalku?" tanya Vito dengan alis terangkat.

"Bukankah kamu baru saja menyebutkan namamu?" Lea balas bertanya.

Vito kembali tergelak singkat, tubuhnya condong ke arah Lea, dan meletakkan satu tangannya di paha Lea. Ia benar-benar tertarik pada wanita di depannya saat ini.

"Kudengar ...kamu pemilik bar ini, apakah itu benar?" Lea berbicara lagi.

Vito tidak menyingkirkan tangannya dari paha Lea. Sebaliknya, satu jarinya justru mengusap lembut paha Lea.

"Itu benar," jawab Vito.

Lea tersenyum tipis, sangat tipis sampai tidak ada yang menyadari jika senyuman itu sempat ada. Ia menyesap minumannya lagi, lalu membalikan badan hingga kini duduknya saling berhadapan dengan Vito.

"Kalau begitu ..." Lea turun dari duduknya, maju satu langkah, menjalankan jemarinya di dada Vito, lalu menarik dasi Vito dengan satu sentakan ringan yang membuat wajah Vito mendekat ke wajahnya.

Untuk sesaat, napas Vito seakan berhenti. Jarak yang teramat dekat membuat ia bisa melihat lebih jelas betapa cantiknya wanita yang bersamanya malam ini. Napas Lea yang berbaur dengan napasnya, aroma woody yang memenuhi indra penciumannya, membuat benaknya terus berteriak jika wanita di depannya sekarang berbeda dengan wanita yang sudah ia kencani selama ini. Sentuhan ringan yang yang Lea lakukan berhasil membuainya begitu mudah, dan membangkitkan hasratnya dengan cepat.

"Kenapa kita tidak ke tempat lain saja yang lebih privat untuk berbicara?" ucap Lea dengan suara menggoda. "Bukankah ..." satu jarinya bergerak menyusui garis rahang Vito. "Banyak yang bisa kita bicarakan tanpa bicara?"

Lea tersenyum. Jarak bibirnya hanya tinggal beberapa senti saja dari bibir Vito yang membuat napasnya memburu.

"Kau ..." Vito menyeringai lebar, melingkari pinggang Lea dan menariknya mendekat. "Sangat berani. Aku suka. Aku memiliki ruang pribadi di bar ini."

Lea mendorong dada Vito menjauh, menggeleng pelan. "Tidak."

"Kalau begitu, hotel. Ayo."

Vito berdiri, memberikan isyarat pada orang-orangnya agar tidak mengikutinya, dan melangkah keluar meninggalkan bar bersama Lea.

"Tunggu," cegah Lea saat Vito akan membawanya ke mobil pria itu.

"Kita pakai mobilku saja," ucap Lea.

Vito mengangguk setuju, kewaspadaan pria itu runtuh sepenuhnya. Bahkan, saat pria itu duduk di jok belakang dari mobil yang ia masuki bersama Lea, ia masih tidak menyadari apapun.

Hingga, saat tangannya kembali terulur untuk ia lingkarkan di bahu Lea, perubahan intonasi pada suara Lea berhasil membuat gerakan tangannya terhenti di udara.

"Sebaiknya urungkan niatmu untuk menyentuhku lagi jika kau masih menyayangi tanganmu," kata Lea. Bukan permintaan, tetapi peringatan.

Vito menoleh dengan gerakan cepat, merasakan tekanan udara di dalam mobil berubah dalam sekejap.

"Kamu kenapa, Ver_..."

Klik.

Sekali lagi. Vito menoleh dengan gerakan cepat. Kali ini ke pintu mobil yang sudah terkunci. Detik berikutnya ia mengeluarkan ponsel, yang sialnya, signal di ponselnya sudah hilang total. Ia terjebak.

"Kau ..." Vito menggeram kesal. Tatapannya berubah, netranya mengunci wajah Lea yang sedang menatap ke depan.

Lea menoleh, memberikan tatapan sedingin gletser kutub utara yang membuat tubuhnya membeku seketika, tatapan yang sama dengan tatapan yang biasa ia terima dari Angkasa. Membuat benaknya bertanya-tanya: siapa wanita ini sebenarnya?

"Siapa kau? Apa yang kau inginkan dariku?" tanya Vito. Gagal menyembunyikan getaran kekhawatiran dalam suaranya. Mulai merasakan firasat buruk.

Lea tersenyum tipis, sangat tipis tetapi mampu membuat Vito bergidik. "Kau bodoh atau pura-pura bodoh?" Lea berdecak tidak sabar.

"Kau ingat apa yang aku minta pada bartender?" Lea berkata lagi tanpa menunggu jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

"Ne-"

"Negroni," potong Lea cepat. "Campuran campari, gin dan ...vermouth." Lea tersenyum. Bukan lagi senyuman menggoda seperti beberapa menit lalu, tetapi senyuman algojo yang siap menjalankan tugasnya.

"Vermouth." Lea menunjuk dirinya sendiri. "Aku sebagai pengirim pesan. Campari. Merah ...darah?" Lea menaikkan satu alisnya. "Dan gin ...silver, belati? Peluru?"

Wajah Vito sepucat kapas, bibirnya terkatup rapat, napasnya terputus. Kombinasi yang baru saja Lea sebutkan adalah ciri khas Angkasa. Senjata yang biasa Angkasa gunakan untuk melakukan eksekusi terhadap seorang pengkhianat. Dan Angkasa mengirim wanita untuk menjemputnya.

"K-k-kau ..."

Lea memalingkan wajah, kembali menatap ke depan. "Gio, jalan."

"Baik, Nona."

Suara datar yang berada di belakang kemudi membuat Vito semakin tenggelam dalam keterputus asaan. Tidak bisa menggunakan ponsel untuk memanggil anak orang-orangnya, juga tidak mungkin menyerang Lea secara gegabah. Ia bisa merasakan, ancaman yang beberapa saat lalu Lea ucapkan bukanlah ancaman kosong: urungkan niatmu untuk menyentuhku lagi jika kau masih menyayangi tanganmu.

Mobil yang mereka tumpangi melaju semakin jauh meninggalkan Scarfers Bar. Perjalanan yang membawa Vito lebih dekat pada vonis yang sudah menunggunya.

. . . .

. . . .

To be continued...

1
Patrick Khan
lanjut
j4v4n3s w0m3n
lanjut ahhhh seruuu jgn lama kak upnya🤭👍
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Makanya jangan mata keranjang 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Angkasa kebakaran jenggot nggak tuh ntar kalau lihat ini 🤭🤭🤭
Zhu Yun💫
Yah jiwa kepo Vito meronta-ronta 🤭🤭🤣🤣
Dewi Payang
Akupun akan bereaksi sama jika jadi Thalia😂
Dewi Payang
Mantap Lea👍🏻
🌸Sakura🌸
wow
Zenun
Vito sangat mudah dijebak karena dia pemain wanita
j4v4n3s w0m3n
rayuan mematikan bener bener lea ngeri ngeri sedep🤣🤭👍
aku
si Lea ngeri2 sedep 🙄🙄
vania larasati
lanjut
Zhu Yun💫
Yakin akan melepasnya pergi nih 🤧🤧🤧 nanti anu loh 🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Rugi kalau nggak bawa ke ranjang duluan, nanti nyesel loh 🤣🤣🤣🔥🔥🔥
〈⎳ FT. Zira: jangan ada anu dulu diantara kita🤧🤧
total 1 replies
Zhu Yun💫
Yang ada burung mu siap-siap dipotong iya 🤣🤣🤣
〈⎳ FT. Zira: hilanglah masa depan😭
total 1 replies
Zhu Yun💫
Angkasa mengalami reinkarnasi juga kah... /Slight//Slight//Slight//Slight/
〈⎳ FT. Zira: entahlah🤣🤣
total 1 replies
Zhu Yun💫
Kalau ingin naik ke atas ranjangmu dikasih ijin nggak 🤭🤭🤣🤣🤣
Zhu Yun💫
Maklum, Lea pengen ngintip kamu mandi 🤣🤣🤣✌️
Zhu Yun💫
Ya itu kan modusnya Angkasa juga 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!