NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beri Aku Waktu

Aku melanjutkan mengenakan bra dan underwear, lalu memakai dress satin berwarna ivory dengan panjang sepaha yang sedikit terawang. Dress ini pemberian dari Leona. Kemarin, saat aku menginap di rumah ibu, dia diam-diam masuk ke kamarku.

“Ndra, jangan sampai nggak dipakai. Aku nggak ikhlas kalau kamu nggak pakai ini. Ini hadiah pernikahanmu sama Satya,” katanya sambil menggenggam tanganku.

Aku sempat ragu untuk menerimanya, tetapi Leona tetap memaksa.

“Dijamin Satya bakal nempel terus sama kamu, Ndra,” lanjutnya, yang langsung kubalas dengan cubitan di pinggangnya.

Kak Satya masih berada di kamar mandi. Sepertinya dia sedang mandi—padahal tadi dia bilang malas mandi karena dingin.

Aku melanjutkan dengan menyisir rambutku yang masih basah, lalu memakai skincare.

Ceklek.

Kak Satya keluar dari kamar mandi. Seperti biasa, dia hanya mengenakan sehelai handuk di pinggangnya. Aroma sabun menyebar di seluruh kamar. Ia melangkah santai melewatiku, rambut basahnya masih meneteskan air ke lantai.

Dia terus berjalan tanpa menoleh ke arahku.

“Kak, saklar untuk colok ini di mana, ya?” tanyaku sambil menunjukkan hair dryer yang akan kugunakan.

Kak Satya, yang sudah mengenakan kaus hitam santai, menoleh sekilas ke arahku.

“Di sana, Ndra,” katanya, menunjuk sisi kanan tempat tidur.

Jujur saja, dari tadi aku tidak menyadarinya.

“Oh iya, aku nggak lihat tadi.”

Kak Satya kembali melanjutkan kegiatannya—menunaikan salat empat rakaat.

Rambutku sudah cukup kering. Aku mematikan hair dryer yang masih terasa panas.

Aku melirik ke arah Kak Satya. Ia tampak khusyuk berdoa. Soal ibadah, dari dulu dia memang tidak pernah meninggalkan salat lima waktu. Ia lahir dari keluarga yang religius. Bahkan dulu, dia sering mengingatkanku untuk salat saat aku lalai.

Aku menyandarkan tubuh di ranjang kayu yang kokoh. Tidur di tempat seperti ini membuatku rindu masa kecil—rumah nenek yang dulu sering kutinggali. Sekarang nenek sudah tiada, dan rumah itu pun kosong, tak berpenghuni.

Perhatianku kembali tertuju pada Kak Satya yang sedang melipat sajadah dan sarungnya.

Ia berjalan ke arahku.

Duh… kenapa jantungku berdebar?

Aku pura-pura sibuk membuka ponsel.

Langkahnya semakin mendekat.

“Cuaca dingin, Ndra. Nanti kamu masuk angin lagi,” ucapnya sambil menarik selimut dan menutupi pahaku yang sedikit terbuka.

Aku hanya terdiam, menatap wajahnya.

Kak Satya mencabut ponselnya dari charger, lalu merebahkan tubuh di sampingku.

Hening.

Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri.

Tidak ada pergerakan darinya. Ia hanya menunduk memainkan ponselnya, seolah tidak tertarik padaku—bahkan sekadar menoleh pun tidak.

Aku menarik napas pelan. Aku harus berani.

“Kak…”

“Hmm…” jawabnya tanpa menoleh.

“Menurut Kak Satya… pernikahan ini seperti apa?”

Kali ini ia menoleh. Ponsel yang tadi dipegangnya diletakkan di atas nakas.

“Sebelum lebih jauh… kalau Kak Satya nggak serius dengan pernikahan ini, aku mundur, Kak.”

Mataku mulai memanas, tapi masih kutahan.

“Kak… pernikahan kita sah menurut agama. Jadi sebelum semuanya terlalu jauh, lebih baik kita pikirkan nasibnya.”

“Kalau Kak Satya ragu untuk melanjutkan… lebih baik kita berpisah saja, Kak.”

Air mataku akhirnya jatuh. Kak Satya hanya diam, menatapku.

Tatapannya sulit diartikan. Bibirnya seolah terkunci.

Aku merebahkan tubuh, menarik selimut hingga menutupi bahuku yang terbuka.

Aku malu… seolah aku yang menuntut sesuatu darinya.

Hening.

Air mataku terus mengalir. Menangis dalam diam terasa begitu sesak.

Aku merasakan pergerakan di sampingku. Mungkin dia akan tidur, tidak peduli pada tangisanku.

“Ndra…”

Suaranya terdengar tepat di telingaku.

Aku merasakan lengannya yang kokoh melingkari pinggangku. Aku tetap diam.

Napas hangatnya menyentuh tengkukku.

“Maaf, Ndra. Beri aku waktu untuk semua ini.”

“Sampai kapan, Kak? Kalau kamu nggak serius… lebih baik kita berpisah.”

“Aku sayang kamu, Ndra. Bertahanlah… beri aku waktu.”

“Sayang sebagai sahabat?”

Kak Satya tidak menjawab. Pelukannya justru semakin erat.

Aku tak bisa bergerak. Tak bisa melawan. Hanya diam.

“Hadap sini, Ndra,” ucapnya pelan.

Aku menurut, membalikkan tubuh dan menatap wajahnya. Ada jejak air mata di pipinya.

Dia… menangis.

Tangannya terangkat, menghapus air mataku.

“Bertahanlah, Ndra. Beri aku waktu.”

Cup.

Kecupan hangat mendarat di keningku—yang pertama sejak kami menikah.

Air mataku kembali luruh.

Pelukannya semakin erat.

Dengan sedikit ragu, aku membalas pelukannya. Menenggelamkan tubuhku di dadanya.

Nyaman.

***

Setelah mandi dan bersiap, Kak Satya mengajakku pergi ke toko oleh-oleh khas Bandung.

Sejak tadi, ia sudah rapi mengenakan kaus polo berwarna burgundy yang dipadukan dengan celana hitam. Seperti biasa—tampan.

Aku masih sibuk mencatok rambut. Hari ini aku mengenakan dress hitam selutut—hadiah dari ibu saat ulang tahunku yang ke-27.

“Ayo.”

Aku mengangguk, lalu melangkah keluar kabin. Kak Satya mengunci pintu.

Hari ini adalah hari terakhir kami berlibur di Bandung. Karena itu, kami membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang.

Hanya butuh lima menit perjalanan, kami sudah sampai di toko oleh-oleh terbesar di Bandung.

Tempatnya sangat luas—mulai dari makanan hingga pakaian, semuanya ada.

Mataku langsung tertuju pada deretan kebaya anak-anak. Aku langsung teringat Sandrina.

“Kak, aku ke sana, ya,” kataku sambil menunjuk.

Kak Satya menoleh. “Boleh.”

Aku berjalan mendekat. Pandanganku langsung tertuju pada kebaya berwarna kuning soft dengan bordir merah. Pasti akan sangat lucu jika Sandrina memakainya.

“Kak, yang ini, ya.”

“Oh iya, Kak. Untuk pembayarannya di kasir sebelah sana,” ujar pelayan dengan ramah sambil menunjuk ke depan.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sebelum ke kasir, aku juga membeli baju untuk ayah, ibu, Leona, dan baby Kenzo.

Kak Satya berpisah dariku. Sepertinya dia menuju bagian makanan.

“Sandra…”

Sebuah tangan menyentuh pergelangan tanganku. Aku menoleh.

Sosok laki-laki yang dulu hampir menjadi suamiku.

“Mas Dewa…”

“Iya, San. Apa kabar?”

“Baik, Mas. Mas Dewa bagaimana?”

“Seperti yang kamu lihat—sehat bugar,” jawabnya sambil terkekeh.

“Lagi apa di sini, Ndra? Liburan?”

“Iya, Mas.”

Kami mengobrol cukup lama. Ia bercerita tentang bisnis kulinernya yang sedang berkembang di Bandung.

“Ndra…”

Aku menoleh. Kak Satya sudah berdiri sambil membawa beberapa paper bag.

“Oh, Mas Dewa. Ini Kak Satya, suamiku.”

Keduanya berjabat tangan, saling memperkenalkan diri.

***

“Tadi… mantan tunangan yang nggak jadi itu, ya, Ndra?” tanya Kak Satya, matanya tetap fokus pada jalan.

Aku masih terdiam belum menjawabnya.

Kak Satya menoleh kepadaku seolah dia sedang menuntut jawaban dariku.

"Iya kak"

"Tampan juga, Mas dewa" balas kak Satya, ia sengaja menaik turunkan alisnya. Seolah sedang menggodaku.

"Iya tapi sayang gak jadi".

Jlebb

Aku melihat raut wajah kak Satya yang sedikit berubah.

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!