NovelToon NovelToon
Menaklukkan Om Duda Tampan

Menaklukkan Om Duda Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ell.ellsan

Andreas Bramawijaya, seorang CEO ternama yang tampan dan selalu bersikap dingin. Sikap dingin nya itu, tidak lain karena dia kecewa dengan keluarga nya, dan kehilangan istri dan anak tercinta nya karena kecelakaan.
Akibat kehilangan istri dan anak nya, Andreas menjadi seseorang yang sangat dingin, ketus dan jarang tersenyum sehingga ditakuti banyak orang.
Bu Stella, kepala pembantu di rumah Andreas, yang sudah menemani Andreas sejak kecil, sangat kasihan melihat tuan yang sudah dianggap seperti anak nya itu berubah menjadi pendiam setelah ditinggal anak istri nya.
Akhir nya Bu Stella inisiatif untuk mendatangkan anak semata wayang nya ke rumah Andreas untuk menemani dan merawat Andreas supaya mau berubah menjadi Andreas yang seperti biasa lagi.
Savanna Zelindra anak yang baru lulus SMA, terpaksa harus menuruti kemauan ibu nya untuk ikut pindah kerumah bos nya. Apakah Savanna akan bisa berhasil menaklukkan sang bos duda tampan yang dingin?
Ikuti terus ya cerita nya🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ell.ellsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cerita menyedihkan

       Setelah tidak ada pembicaraan lagi dari Savanna. Andreas langsung berdiri dari kursi taman.

      "Eh tuan Andreas mau kemana?"

      "Istirahat."

      "Oh iya, tuan kan lagi sakit. Ya sudah, aku antar ya."

     "Gak perlu, saya bisa sendiri."

    Andreas berjalan kearah rumah.

    Savanna kembali duduk di kursi taman.

      "Hah, ternyata cukup menguras tenaga juga ngobrol sama tuan Andreas. Tapi lain kali aku akan berusaha mencari obrolan lagi." Savanna menengadahkan kepala nya, melihat sinar matahari yang perlahan mulai berada di kepala nya.

      "Hari ini cerah sekali." Savanna mengangkat tangan nya ke arah matahari. Ketika panas nya mulai terasa menjalar ke area tubuh nya, akhir nya Savanna masuk ke dalam rumah.

      Ternyata dari balkon kamar nya, Andreas memperhatikan Savanna.

         "Anak itu memang beda." Setelah berbicara seperti itu, Andreas kembali duduk di kasur nya.

       Andreas memijat pelipis nya, dia masih bingung dengan mimpi nya.

      "Apa arti semua ini Meyra, aku tidak paham dengan apa yang kamu bicarakan di mimpi itu."

     Karena Andreas pusing memikirkan tentang mimpi nya terus, Andreas berinisiatif untuk pergi saja ke kantor.

      "Seperti nya aku mending ke kantor saja." Andreas langsung bersiap siap.

      Andreas turun ke bawah dengan pakaian yang rapih, setelan kemeja dan jas.

      Savanna yang sedang membantu April mengelap vas dan lemari, tiba tiba terpana melihat Andreas turun dari tangga.

      "Astaga, tuan Andreas kenapa dia terlihat beda." Savanna bergumam dalam hati sambil melotot.

"Tuan Andreas kata nya sakit, kok dia malah seperti mau berangkat ke kantor ya dek?" April berbisik ke Savanna, tapi Savanna masih fokus memandangi Andreas.

Disenggol lah lengan Savanna oleh April. Savanna kaget tentu nya.

"Astaga, kak April. Ngagetin aja ih."

"Lagian, diajak ngobrol malah bengong. Jangan jangan terpesona ya liat Tuan Andreas."

"Ehh nggak kok. Jangan bikin gosip aneh aneh ah kak."

"Kata nya Tuan Andreas sakit, kok malah mau berangkat."

"Iya ya, bentar ya kak, aku panggilin dulu ibu, kaya nya ibu juga gak tahu ini deh."

"Iya boleh dek, silahkan."

Savanna akhir nya pergi meninggalkan April. Dia mencari cari ibu nya.

Ternyata Andreas pun belum pergi, dia malah ke ruang kerja bu Stella.

"Eh ternyata tuan Andreas ke ruangan ibu juga."

Tok..tok... Bu Stella boleh saya masuk.

"Eh Tuan Andreas. Ya ampun, mau kemana. Kondisi mu belum sepenuh nya pulih Tuan, kenapa buru buru harus ke kantor."

"Saya pusing bu."

"Ya kalau pusing, istirahat saja. Jangan malah pergi ke kantor, nanti tambah pusing dong."

"Saya, kefikiran mendiang istri saya bu."

"Ya ampun, sini sini, duduk dulu di sini." Bu Stella mengarah kan Andreas untuk duduk di kursi nya.

"Sini, cerita sama ibu. Semoga ibu bisa kasih solusi nya. Dan biasa nya, dengan bercerita, pikiran Tuan akan sedikit mereda."

"Hah." Andreas menghembuskan nafas.

"Jangan dipendam sendirian Tuan, tidak baik untuk kesehatan mu juga. Ibu tidak mau Tuan kenapa napa lagi."

"Jadi saya bermimpi bersama mendiang istri dan anak saya bu. Kami bertiga memakai baju putih. Kami sangat bahagia, Istriku tersenyum sangat cantik dan wajah nya berseri, begitu juga anak saya. Tapi tiba tiba istriku berkata, Jangan fikirkan kami terus dan jangan ikut dengan kami, kehidupan kita sudah berbeda, kami sudah sangat bahagia di sini, kamu harus melanjutkan hidup mu. kamu harus bahagia, karena kami sudah sangat merasakan kasih sayang mu." Andreas menjeda kata kata nya dengan mata yang memerah.

"Lalu Istri dan anak ku pergi lewat sebuah pintu. Aku mengikuti mereka sambil berteriak, tapi aku tak kuat dengan silau nya cahaya yang keluar dari pintu itu, hingga pintu itu tertutup kembali. Dan aku tidak bisa ikut dengan mereka." Andreas bergetar, tangis nya tak terbendung, air mata meleleh di pipi nya.

Bu Stella langsung memeluk Andreas. Ternyata Andreas sudah tak bisa lagi menahan semua nya.

"Tuan, mungkin itu sudah cukup jadi jawaban untuk Tuan, bahwa Tuan, sudah harus melanjutkan hidup Tuan lagi seperti biasa."

Bu Stella melepas pelukannya, dan menatap wajah Andreas yang sangat menyedihkan itu.

"Itu murni sebuah jawaban, karena Tuan, selalu saja ingin menyerah dengan kehidupan ini. Padahal mungkin, kehidupan Tuan yang bahagia di depan sana, sudah menunggu.

Andreas terdiam mendengar kan perkataan Bu Stella.

"Mendiang istri Tuan, menyuruh jangan ikuti mereka, karena mungkin istri Tuan disana sedih, melihat Tuan yang seperti ini. Padahal mereka sudah sangat bahagia di sana."

"Sekarang, tinggal tugas Tuan Andreas disini, kembali bangkit, dan melanjutkan hidup yang semangat seperti dulu."

Tetap tak ada jawaban dari Andreas, tapi bu Stella, tetap menyemangati Tuan nya itu.

" Memang, rasa nya akan sangat berbeda dengan ketika pas masih ada mendiang istri dan anak. Tapi Tuan kan sudah tahu, kalau mereka sudah bahagia, dan akan sangat bahagia melihat Tuan bahagia."

"Sekarang, Tuan Andreas istirahat dulu ya. Jangan dulu pergi ke kantor. Besok, baru boleh. Tolong dengar kan ibu ya."

Andreas mengangguk, seperti anak kecil yang dilarang main oleh ibu nya.

Di belakang pintu, Savanna ternyata mendengarkan percakapan antara Andreas dan Bu Stella.

Savanna jadi ikutan berderai air mata. Dia sangat sedih mendengar cerita Andreas kepada ibu nya.

Savanna tidak menyangka, dibalik sikap nya yang dingin, dan raut muka nya yang selalu tajam, Andreas menyimpan luka kesedihan yang mendalam.

Ketika Savanna mendengar suara langkah kaki, buru buru dia lari. Dia langsung pergi ke kamar nya.

Dia tahu, dia tidak sopan, mendengar obrolan orang lain. Tapi dia penasaran ketika mendengar Andreas yang jarang bicara, dia mau bercerita kepada ibu nya.

"Tuan Andreas, maaf, aku dari awal sudah salah menilai mu. Aku langsung menilai nya lewat tatapan tajam dan nada bicara nya. Padahal ternyata kamu sedang menyembunyikan rasa sedih mu." Savanna bergumam sendiri dikamar, sambil terus menangis.

"Cerita cinta nya sungguh menyedihkan sekali. Dia sangat setia dengan mendiang istri nya, sampai sampai dia selalu ingin mengikuti mendiang istri dan anak nya." Savanna makin menangis, dia menyembunyikan diri nya didalam bantal, dan menangis.

Tak lama, Bu Stella datang ke kamar nya.

Bu Stella melihat, Savanna yang bersembunyi di dalam selimut dan bantal.

"Nak, Savanna, apakah kamu tidur?" Bu Stella mengusap kaki Savanna.

Savanna yang merasakan sentuhan ibu nya, dia langsung membuka bantal nya.

"Ibu, maaf gak kedengaran, kirain gak ada ibu."

"Nak, kamu kenapa? Matamu bengkak, kamu menangis, menangis kenapa?"

"Mmmm, iya bu."

"Menangis kenapa? Ibu ada buat salah?"

"Eh ngga kok bu. Aku tiba tiba sedih aja, ibu gak salah apa apa kok."

"Tapi tadi, kak April lihat kamu lari dari arah ruang kerja ibu ke kamar, ada apa, kamu mau ngomong sama ibu?"

"Mmm iya bu maaf, tadi aku mau ke ruangan ibu, tapi kaki aku sakit lagi, jadi aku lari ke kamar terus nangis."

"Ya ampun nak, sudah di obati kan? Gimana sekarang kaki nya?"

"Udah baikan kok bu serius."

"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat saja dulu, ibu mau siapin makanan buat Tuan Andreas dulu ya."

Savanna mengangguk, dia terpaksa berbohong dulu kepada ibu nya, karena menurut dia, sekarang bukan waktu yang tepat untuk menjelaskan semua nya. Ketika semua nya sudah mereda, dan ibu nya sedang tidak sibuk, maka Savanna pasti akan menjelaskan semua nya.

1
Ell.ellsan
jangan lupa kasih masukan ya teman teman. terimakasih sudah membaca😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!