"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Kenapa Menjadi Seperti Ini?
Kharisma mengerjap, tubuhnya membeku sesaat mendengar pengakuan Benjamin. "Teman... Kak Lihana?" ulangnya pelan, lantas mendapati anggukan kepala dari Benjamin yang masih menjabat tangannya.
Tepat saat mulut Benjamin terbuka hendak bicara, tiba-tiba suara keras menarik atensi mereka. Suara debam dari pintu mobil yang dibanting. Kharisma langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Mas Prabu?" Kharisma terbelalak, terkejut melihat Prabujangga yang keluar dari mobilnya dengan wajah meringis marah.
Laki-laki itu menyebrang kaku menghampirinya, rambutnya yang biasanya klimis kini acak-acakan di terpa angin, di tambah lagi dengan kemejanya yang terlihat kusut. Kenapa suaminya itu terlihat seperti iblis yang ingin mengamuk?
"Mass!" Kharisma menjerit kaget saat Prabujangga tiba-tiba menariknya, tangannya terlepas dati Benjamin.
"Sudah berani kamu bermain-main di belakang saya?" Prabujangga berdesis marah, napasnya berhembus mengancam di wajah Kharisma.
Kharisma merasa bahwa jantungnya berhenti berdetak, ekspresi murka Prabujangga tidak pernah ia lihat sebelumnya. Wajahnya begitu dekat, hingga ia bisa melihat warna asli bola mata Prabujangga yang coklat gelap.
"Maksud Mas..." Kharisma mencicit takut, hendak menarik tangannya dari cengkraman Prabujangga namun laki-laki itu menolak untuk melepaskan.
"Jangan berpura-pura polos kamu sekarang," bisiknya penuh penekanan, nadanya menuduh. "Jadi selama ini kamu bermain dengan pria lain di belakang saya? Saat saya sendiri berusaha menghindar dari teman kamu itu?"
Kharisma menggeleng panik, tidak mengerti dengan maksud Prabujangga. Napasnya terhenti di detik saat Prabujangga mengangkat tubuhnya. Kharisma secara naluriah mengalungkan tangannya di leher Prabujangga agar tidak terjatuh.
"Tidak, Mas salah paham..." Kharisma buru-buru menjelaskan. Suaranya sedikit bergetar. "Aku tidak seperti itu, dia tadi menanyakan Mas, katanya teman Kak Lihana."
Saat Prabujangga tak bergeming, air mata mulai membasahi pipinya. Kharisma terisak, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami. Ia tidak pednah melihat Prabujangga semarah ini sebelumnya, dan ini jelas membuatnya takut.
"Apa? Teman Kak Lihana—"
Ucapan Prabujangga terhenti saat sosok laki-laki keluar dari dalam mobil merah. Laki-laki berambut pirang itu membelakanginya, dan rambut pirangnya berkilauan di bawah sinar matahari.
"Benjamin?" Nama itu bagaikan racun di lidahnya.
Kharisma mencengkeram erat kerah kemeja Prabujangga, tubuhnya masih bergetar karena menangis. Perlahan-lahan ia menoleh ke arah Benjamin yang membalas tatapan Prabujangga dengan senyum santai.
"Maaf sudah menciptakan keributan rumah tangga," celetuknya santai, mengangkat tangan tanda menyerah. "Hanya menjalankan perintah."
"Perintah?" Kharisma mengulangi pelan, menatap wajah Prabujangga yang semakin keras. Tangannya melingkari Kharisma seperti tali kekang.
"Saya kira perempuan itu akan mengirim seseorang yang lebih berguna daripada kamu, Benjamin." Kata-kata itu pelan, namun jelas sarkas. "Tapi sayang sekali, saya sudah memutuskan bahwa tidak akan ada yang bisa menyentuh istri saya tanpa seizin saya."
"Posesif." Benjamin tertawa pelan, bersedekap menatap bagaimana Prabujangga menggendong Kharisma dengan begitu enteng. "Jelas tidak seperti Wimana-Wimana lainnya."
Kharisma dibuat semakin bingung oleh ucapan Benjamin. Sebenarnya apa yang sedang mereka bicarakan ini?
"Masuk. Biar saya yang mengurus ini."
Kharisma ragu-ragu saat Prabujangga perlahan-lahan menurunkannya dengan hati-hati. Ia menatap Prabujangga yang terus-terusan menatap tajam Benjamin.
"Mas masih marah?" bisiknya, menarik perhatian Prabujangga.
"Marah atau tidaknya akan saya tegaskan nanti," balas Prabujangga pelan, mendekatkan bibirnya pada telinga Kharisma. "Saya tidak akan mentoleransi hal seperti ini. Saya tidak suka jika kamu bersikap genit dengan pria lain."
Kharisma terbelalak, bibirnya terkatup tak berani melawan.
"Sekarang masuk ke dalam kamar, jangan keluar sebelum saya datang dan mengizinkan. Mengerti?" suara Prabujangga merendah, napasnya menyapu Kharisma seperti hipnotis yang berbahaya.
"I-iya Mas."
Kharisma hanya bisa pasrah saat dua satpam penjaga di gerbang dipanggil oleh Prabujangga untuk menggiringnya masuk, sementara ia berdiri di sana menghadapi Benjamin. Kharisma jadi bertanya-tanya apa urusan mereka sebenarnya.
...***...
"Menjauh dari istri saya sebelum saya sendiri yang menendangmu kembali ke Pakistan."
Hal yang pertama Benjamin dengar saat Kharisma meninggalkan mereka berdua di depan gerbang kediaman Respati adalah ancaman dingin yang meluncur langsung dari mulut Prabujangga. Ancamannya bukan main-main. Siapapun tau bahwa Prabujangga tak pernah memberikan ancaman kosong.
"Apapun yang kakak saya perintahkan padamu, saya pastikan tidak akan pernah berjalan mulus," timpalnya menantang. Tapi Benjamin hanya menarik sudut bibir dan mengukir seringai.
"Mudah saja untuk itu. Jika misi tidak bisa dijalankan dengan baik, kalau begitu biarkan saja Tuan Besar sendiri yang turun tangan dan menyeret istri cantik dan polosmu ke kediaman utama," ucap Benjamin acuh, seakan-akan tidak benar-benar niat menjalani tugasnya kali ini.
Tapi Prabujangga tidak bodoh, karena orang-orang modelan Benjamin ini yang seharusnya lebih diwaspadai. Manusia yang hidupnya terlalu serius selalu terbaca, berbeda dengan orang-orang yang menjalankan sesuatu dengan santai dan abstrak. Seperti Benjamin ini, contohnya.
Dia salah satu orang kepercayaan tuan besar, sama seperti Lihana. Hanya saja, biasanya dia datang di saat-saat seperti di rumah sakit kala itu, mengunjungi calon anggota keluarga baru dan melihat apa jenis kelaminnya. Itulah mengapa Prabujangga begitu kaget saat yang datang bukan dirinya, melainkan Lihana.
"Kamu menyebut istri saya cantik dan polos?"
Di antara kata-kata ancaman Benjamin, justru itu yang menarik perhatian Prabujangga. Cara laki-laki pirang di hadapannya ini menyebut istrinya benar-benar tidak bisa diabaikan.
"Ya, memangnya salah?" Benjamin memiringkan kepala. "Kharisma memang polos dan cantik. Aku penasaran di mana orang sepertimu menemukan perempuan sempurna sepertinya. Sangat mudah untuk dibodoh-bodohi, kan?"
"Jaga cara bicaramu. Dia istri saya yang sedang kemu bicarakan," peringat Prabujangga tajam, matanya memincing. "Dan saya tidak suka jika kamu menyebutnya sebagai perempuan cantik dan polos."
Prabujangga melangkah mendekat, tangannya begitu ringan menarik kerah kemeja Benjamin yang jelas mahal dan licin. Laki-laki tengil itu tersentak, berjinjit saat Prabujangga menariknya.
"Saya peringatkan sekali lagi agar kamu menjauh dari istri saya. Jika saya melihat kamu dekat-dekat dengan istri saya lagi, saya tidak akan segan-segan memberikan peringatan lain dengan cara yang lebih serius dari sekedar kata-kata." Prabujangga mengancam, tangannya meremat kerah kaku itu lebih erat, mencekik Benjamin hingga wajah beningnya itu memerah.
Rupanya rintangannya bukan hanya Lihana, tapi laki-laki pirang konyol ini juga.
...***...
Kharisma kini berada di kamarnya dengan kecemasan yang tidak bisa lagi ditepis. Ia menghela napas, duduk di tepi tempat tidur dengan murung.
"Mas Prabu bicara apa ya pada Benjamin? Kenapa Mas Prabu marah sekali?" gumamnya, bersandar pada kepala tempat tidur.
Sepertinya Prabujangga telah salah paham. Ia mana mungkin memiliki pikiran seperti itu? Bermain di belakang dengan laki-laki lain? Sejak kecil Mama bilang itu tidak baik. Kalau sudah bersuami, jangan lagi bersikap berlebihan pada pria lain.
Tapi apakah Prabujangga bisa melakukan hal yang sama? Apakah laki-laki itu bisa setia padanya seperti Papa setia pada Mama?
Di saat-saat pikirannya berkelana, tiba-tiba pintu terbuka. Ia menoleh dan mendapati Prabujangga yang masuk ke dalam kamar.
"Mas..."
Kharisma menelan ludah, menatap penampilan Prabujangga yang acak-acakan. Rambut laki-laki itu berantakan, dan dua kancing teratas kemejanya terbuka. Kain mahalnya terlihat kusut. Dan yang paling mencolok... tatapannya pada Kharisma. Tajam. Tidak memberi ruang untuk kabur.
"Saya berikan kesempatan lima menit untuk kamu menjelaskan."
Kharisma bergeser gugup. "M-menjelaskan apa?"
"Menjelaskan apa? Kamu masih bertanya tentang apa yang seharusnya kamu jelaskan sekarang?" suara Prabujangga merendah, terdengar serak dan berbahaya.
Kharisma bergeser mundur di ranjang, berusaha tetap menjaga jarak dengan Prabujangga yang perlahan-lahan. Pekikan kaget lolos dari bibirnya saat Prabujangga menarik pergelangan kakinya ke tepi kasur. Kini, Kharisma berada tepat di bawah kungkungan suaminya.
"A-aku tadi hanya menunggu Kinnar, Mas..." Kharisma buru-buru menjelaskan dengan gugup, matanya terpejam saat Prabujangga mendekatkan wajah.
"Perempuan itu lagi? Untuk apa kamu menunggunya di luar?" tanya Prabujangga berbisik. "Dia memerintahkan kamu untuk keluar dari kediaman, hm?"
Kharisma menggeleng kaku. "Tidak... aku hanya tidak sabar menunggu Kinnar datang dari kantor Mas Prabu..." jawabnya takut-takut. "Katanya dia akan kembali setelah diwawancara kerja."
Kharisma semakin menegang merasakan tangan Prabujangga mencengkeram erat pinggangnya. Rasanya menyakitkan. Apakah jawabannya salah?
"Jadi kamu yang benar-benar menyuruhnya masuk sembarangan ke dalam ruangan saya? Dengan pakaian minim seperti itu?"
Kharisma menggigit bibir, menahan napas saat bibir Prabujangga menyentuh lehernya. Apa maksudnya pakaian minim?
"Kamu ingin menguji saya? Atau kamu benar-benar bodoh dan tidak sadar kalau perempuan itu mencoba menggoda saya?"
Tuduhan itu lagi-lagi membuat Kharisma menggeleng. Lidahnya terasa kelu, ia tidak bisa bicara.
"Jika kamu memang ingin menguji saya, saya anggap itu sangat menyebalkan. Saya tidak suka jika saya diragukan seperti ini," bisiknya, menggigit ringan kulit leher Kharisma hingga sang empunya meringis. "Tapi jika kamu benar-benar bodoh dan tidak sadar jika 'sahabatmu' itu mencoba menggoda saya..."
"M-mas..." Kharisma merintih, tangannya mencengkram bahu Prabujangga.
Kenapa jadi seperti ini?
Bersambung...
di kalau ga denger atau melihat dengan mata kaki kepala nya susah untuk percaya