Saat langit retak dan hukum purba kembali berkuasa, manusia jatuh ke dasar rantai makanan. Di tengah keputusasaan itu, Rifana bangkit dengan luka yang tak kunjung sembuh dan ingatan yang perlahan terasa asing.
Di dunia di mana para Superhuman mulai membangun tatanan baru di atas reruntuhan, Rifana hanyalah anomali yang membawa aroma maut ke mana pun ia melangkah. Dia tidak memiliki kekuatan yang memukau, hanya kemampuan adaptasi yang gila dan perasaan bahwa dirinya bukan lagi manusia yang sama.
Berapa lama dia bisa bertahan di dunia yang tak lagi mengenali keberadaannya? Dan apa yang sebenarnya mengawasi dari balik fajar yang tak kunjung tiba?
Jadwal Up : 18.30 WIB
6-7 Ch/minggu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lloomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi ke kota (1)
Ziva tersentak dari tidurnya saat air dingin membasuh dirinya tepat di wajah.
"Uck.." beberapa air masuk kedalam mulutnya membuat Ziva tersedak dan terbatuk "Woi, lu gila ya dam" dia hendak berteriak dengan keras, namun tak jadi dan berbicara dengan normal.
Ziva menatap Adam yang cekikikan di sudut, dia dengan marah bangkit dan hendak menangkap kakaknya itu.
Namun Adam menyelinap pergi dan turun ke bawah dengan cepat, meninggalkan Ziva dalam keadaan kacau.
Ziva menghela nafas kesal "Nggak gausah pake air juga kali" Dia memang tahu kalau dirinya sulit dibangunkan. Namun kenapa harus menyiramnya dengan gayung yang dipenuhi air.
Bajunya kini setengah basah, dia harus berganti.
Namun...
"Gua ga bawa baju ganti," Wajahnya cemberut "Sial kau Adam"Ziva mengambil tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral.
Tidur mengeringkan air di tenggorokannya, dia sangat haus.
"Jadi gua harus pake apa sekarang?" Dia melihat ruang kamar dan matanya fokus pada lemari kayu yang ditempatkan di sudut.
Dia diam sejenak, sebelum beranjak membuka lemari
...
Adam menuruni tangga dengan terburu-buru, dia masih cekikikan mengingat ekspresi yang dibuat oleh adiknya beberapa saat lalu.
Dia kemudian kembali ke ruang tamu dimana sofa dan semua barang ditempatkan, saatnya untuk mengemas barang.
Adam mengambil tas ransel dan memasukkan perbekalan, beberapa makanan kalengan beserta beberapa botol air minum.
Mereka akan pergi ke kota setelah ini.
Rifana masih menghangatkan makanan di dapur, beruntung bagi mereka. Ternyata kompor masih bisa dinyalakan, berbeda dengan barang mekanis seperti jam dan barang elektronik.
Entah ada pengecualian khusus, atau memang ini hanya keberuntungan mereka.
Namun mereka tetap harus bijak dalam menggunakannya, jika mereka salah mungkin aroma dari makanan dan suara dari prosesnya akan mengundang tamu yang tak diinginkan.
Rifana akhirnya menumpuk tiga kaleng sarden dan menempatkannya di atas kompor, api mulai menari setelah kompor dinyalakan, menerangi dapur dengan cahaya tambahan yang lebih terang.
Cahayanya sampai ke ruang tamu. Mengejutkan Adam yang tengah membuka kotak, dia teralihkan sejenak sebelum kembali menelusuri kotak dengan sibuk.
Banyak kotak kardus ditempatkan secara acak oleh Rifana, dia mengatakan pernah memasukkan sebuah pipa besi kedalam kotak. Namun dia tak ingat di kotak mana tepatnya, Itulah mengapa dia kini mengorek empat dari enam belas kotak kardus.
Menurut penjelasan Rifana, pipa besi itu memiliki panjang sekitar 100 cm, dan ketebalannya juga cukup membuatnya kokoh dalam menahan benturan.
Rifana sebelumnya menyimpan ini, karena tak bisa menggunakannya.
Pipa besi terlalu berat untuknya. Jika dibandingkan dengan golok yang tajam tentunya golok lebih baik untuk Rifana, dengan kekuatannya yang terbatas efek luka berdarah dari golok akan lebih berguna untuknya.
Sebenarnya linggis yang digunakan Rifana saat ini juga tak begitu efektif, beratnya memang sedikit lebih rendah dibandingkan pipa besi, namun tetap saja Rifana butuh kedua tangannya untuk mengendalikan benda ini.
Dan juga ujung linggis yang bengkok sangat membantunya dalam menyerang, namun itu juga dapat menghambatnya.
Rifana beberapa kali menggunakan ujung bengkok dari linggis untuk mencungkil luka atau bahkan titik lemah yang ada di tubuh monster mutan, itu memberikan kerusakan yang lebih besar dibandingkan serangan biasa.
Masalahnya hanya satu, meskipun itu belum terjadi.
Linggisnya bisa saja tersangkut diantara serat otot dan tulang monster mutan, dan tentunya itu sangat berbahaya.
Melepaskan senjata di tengah pertarungan dengan monster gila yang ukuran tubuhnya sama atau bahkan lebih besar dari Rifana itu sendiri jelas merupakan tindakan bunuh diri.
Namun insting Rifana masih membantunya sejauh ini, membuat kesalahannya dalam pertarungan sangat minim.
Adam terus membongkar kotak di ruang tamu, mencari satu persatu.
Di dapur, Rifana menggunakan kain terlipat yang dibasahi untuk mengangkat tiga kaleng makanan itu dari kompor.
Makanan hangat lebih baik dikonsumsi, karena suhu panas api dapat membunuh bakteri di dalamnya. Itu juga memberikan rasa nyaman di tenggorokan dan menghangatkan tubuh mereka.
Jadi Rifana akan memasak semua makanannya jika bisa tentu tak perlu memaksakannya jika tak ada api, mereka bisa memakannya dengan cara biasa saja.
Kaleng itu didinginkan di dalam rendaman air selama beberapa menit, Rifana mengambil tiga piring di rak.
Dia kembali ke ruang tamu sebentar, Adam masih sibuk dengan urusannya, Rifana tak repot-repot mengganggunya dan mengambil roti tawar di salah satu kotak kardus.
Kembali ke dapur, ia menempatkan roti dan menuangkan ikan sarden diatasnya.
Memang terlihat aneh, namun mereka tak bisa pilih-pilih.
Sarden hangat menyelimuti roti tawar, membasahi dengan kuah dan dagingnya yang empuk.
Dia kemudian membawa semua itu ke ruang tamu.
Piring-piring ditinggalkan di meja, dua saudara itu bisa mulai makan kapan saja. Rifana mengambil suapan pertamanya 'Yah ini gak buruk' dia mengunyah itu.
Tekstur roti yang keras dinetralkan oleh kuah sarden yang hangat, sambal cabainya juga membawa rasa segar kembali ke mulutnya yang kesemutan.
Daging lembut ikan dicincang di dalam mulutnya, ini sarapan yang baik, pikir Rifana.
Akhirnya setelah beberapa saat, Ziva berjalan menuruni tangga. Langkahnya kadang terhenti sejenak sebelum melanjutkan.
Rifana menoleh mendengar langkah, dia hendak memanggil Ziva untuk segera makan, ia menoleh.
Ziva turun mengenakan kaus band metal yang terlihat norak, Rifana tertegun 'Tunggu, bukannya itu baju gua?' Dia berhenti mengunyah dan langsung menelan makanannya.
Gadis itu sepertinya merasakan tatapan Rifana dan mulai mengklarifikasi dengan cemas "Itu, gua pinjem baju lu oke," nadanya masih sama seperti biasanya, meskipun terdengar sedikit kaku "Ini salah si bodoh itu, dia nyiram air ke muka gua, oh juga kasur lu basah Rif" Ziva kemudian menatap Adam yang bersiul pura-pura sibuk mencari di kotak.
"Berhenti bertingkah bodoh, lu bisa nyalahin dia" Tunjuk Ziva, Adam hanya terkikik menertawakan Ziva.
Meski wajahnya dingin, Adam tahu kalau adiknya sedang tersipu malu saat ini. Menjahilinya memang menyenangkan, namun itu juga menyadarkannya, kalau ini bukan rumahnya.
"Ah itu, gua ga sengaja Rif sumpah, wkwk lagian salah sendiri jadi orang susah banget dibangunin" Ucap Adam, dia akhirnya menemukan pipa besi itu di salah satu kotak.
Dia meninggalkannya disana dan pergi ke sofa, wajahnya tampak berseri-seri dengan penuh tawa.
Rifana menghentikan makannya "Ah udahlah, gua tau lu bakal bikin masalah cepet atau lambat dam," Dia yakin, dalam pengamatannya Adam bertindak sebelum berpikir dan itu tentunya cukup beresiko "Gua gamau tau dah, lu bersihin kekacauan itu setelah kita balik dari kota nanti" Rifana mengambil suapan lainnya.
Adam mendecakkan lidahnya "Yaa baiklah-baiklah" Dia duduk di sofa, Ziva menyusul setelahnya mereka berdua mengambil piring masing-masing yang disajikan dengan menu unik itu.
Seperti biasa, sekali lagi.
Mereka makan bersama dalam keheningan.