Bukankah menikah adalah sebuah ladang ibadah ? Lalu kenapa ibadah yang seharusnya mendapatkan pahala justru bak di neraka ? Semua berawal dari kesalah pahaman yang tidak berdasar hingga berubah menjadi sebuah tragedi yang hampir menenggelamkan rumah tangga yang bahkan pondasinya saja masih sangat rapuh.
Mampukah mereka bertahan ataukah malah karam di hantam ombak besar?
Kisah kembar Azzam dan Azima , di mana seharusnya cinta itu sudah berlabuh di dermaga tapi harus terlunta dan terapung di tengah lautan luas menunggu datangnya pertolongan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25 : Telpon di tengah malam
Dubai .
A baru saja tiba di mansion dan mendudukkan tubuh nya di sofa panjang setelah seharian berjibaku dengan banyak sekali pekerjaan . Lalu letih dan lelah nya itu justru di sambut panggilan kemarahan Abi Zayn yang semakin membuat mood nya berantakan.
" Ada apa sih ?! " Kebingungan melanda A ketika Abi Zayn tiba tiba menyuruhnya pulang .
A memijit batang hidung nya, kemudian bersandar di sandaran sofa dengan suara helaan nafas yang terdengar berat.
Pelayan datang . " Makan malam sudah siap, tuan . "
" Letakkan di atas meja, nanti saya makan. "
" Baik, tuan."
Vano muncul setelah mandi dan berganti pakaian. Ia menghampiri A.
" Ada masalah, tuan ? "
" Mmm_ Abi menyuruhku pulang besok pagi. "
" Maksudnya? Pulang ke Indonesia?"
" Memangnya mau ke mana lagi ! "
" Kenapa tiba tiba sekali, tuan. "
" Entah."
" Lalu, apa kita benar benar akan kembali ?"
" Menurut mu ? "
" Baiklah, akan saya siapkan . "
*
*
Jam satu dini hari waktu Dubai.
A baru saja terlelap ketika sebuah panggilan telpon membangunkan nya. Ia mengintip benda segi empat itu. Tidak ada nama di layar , A menyimpan kembali ponselnya. Ia tidak berniat untuk mengangkat sama sekali. Telpon iseng, begitu pikir nya.
Tapi, beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi, masih dari nomor yang sama.
A menghela nafas kasar dan akhirnya mengangkat panggilan itu.
" Halo." Ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Hening. Yang di seberang telpon tidak berbicara.
" Haloo. " A mulai menaikkan intonasinya.
Masih hening .
Habis kesabaran A, hingga, " Kalau kau tidak mau bicara , kena_?
" Assalamualaikum."
Netra A membulat sempurna. Karena terkejut, tangan A yang ingin bertumpu di pinggiran kasur hilang keseimbangan dan membuatnya jatuh terjengkang.
Gedebuk. " Au.."
Dari balik telpon, suara kebisingan itu mengusik Annasya . " Kamu kenapa ?"
" Tidak_ tidak apa apa."
Indonesia, beberapa jam lalu.
Abi Zayn mengamuk. Ia marah besar dengan kelakukan A pada Annasya. Kemarahan Abi Zayn tak urung membuat Annasya bergidik ngeri. Ia belum pernah melihat mertua nya semarah itu. Di rumah sakit pun ,meski terkenal cuek, garang dan perfeksionis, namun Abi Zayn tidak pernah melampiaskan kekesalannya sampai rasa rasa nya ingin membunuh orang.
Ketakutan itu mengakibatkan Annasya bergerak cepat. Ia tidak punya nomor telpon A. Meminta pada umi jelas akan semakin memperburuk keadaan. Pun umi saat ini terlihat menyimpan dendam kesumat pada A.
Lalu, satu satu nya harapan yang Annasya punya adalah, Azima.
Diam diam, ia menghubungi ipar nya itu. " Halo, zi.."
" I- iya, Sya. " Jawab Azima terdengar gugup.
" Kenapa suara mu bergetar?"
" Tidak_ tidak apa apa. "
" Zi, bantu aku."
" Kamu kenapa ? "
" Abi Zayn marah besar, Zi. Beliau tau kalau A tidak pernah menelpon ku."
" Dasar si A !! "
" Aku minta nomor nya , boleh ?"
" Tentu saja. Tunggu. "
*
*
A memperbaiki posisi duduk nya, menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
" Bagai_? A belum selesai dengan pertanyaannya dan Annasya sudah lebih dulu memotong dengan ucapan permintaan maaf.
" Aku minta maaf karena telah mengganggu waktu tidur mu. "
" Tidak, tidak sama sekali. "
" Bagaimana kabar mu ?" Tanya Annasya. Pertanyaan itu seharusnya sudah di ucapkan A tapi urung karena Annasya memotong nya.
" Baik, kamu ?"
" Alhamdulillah. "
Sunyi. A sibuk memainkan ujung bantal sembari tersenyum samar, sementara Annasya sibuk memikirkan mau memulai dari mana menyampaikan maksudnya menelpon A tengah malam.
" Mmmm__ tadi Abi menelpon mu , kan ? "
" Iya."
" Kamu tidak usah pulang. Aku tau pekerjaan mu sangat banyak. Biar aku yang mencoba menjelaskan pada Abi."
" Memangnya apa yang terjadi ? "
" Ini semua salah ku, makanya Abi jadi marah dan melampiaskan nya pada mu."
A mengernyit ." Bisa kamu jelaskan apa masalah nya? " Tanya nya penasaran.
" Pokoknya, kamu fokus saja dengan pekerjaan mu. "
Bunyi pintu di ketuk membuyarkan konsentrasi Annasya.
" Aku tutup telponnya. Assalamualaikum Alaikum. "
Annasya setengah berteriak. " Iya umi, sebentar ."
" Kamu belum tidur, kan ?" Pertanyaan umi begitu pintu terbuka dan melihat wajah teduh sang menantu.
Annasya tersenyum. " Belum umi, aku baru selesai sholat isya. "
Umi Tata memeluk Annasya. " Tadi Abi marah, jangan di masukkan di hati , ya. Dia tidak marah pada mu , Abi sangat kesal pada A ."
" Asya tidak apa apa, umi."
Umi melepas pelukan nya. " Ayo duduk, ada yang mau umi tanyakan ."
Mereka duduk di pinggiran ranjang.
" Jujur sama umi. Mungkinkah kamu tidak punya nomor telpon A ? "
" Ada umi, Asya ada. "
" Kapan, kamu baru punya beberapa menit lalu, iya kan ? Kamu pasti minta sama Zizi ."
Tertangkap basah.
Annasya diam. Entah kenapa dia merasa seluruh keluarga Brawijaya memiliki indra ke enam dan bisa menebak serta mengetahui isi kepala orang.
Annasya tertunduk kemudian mengangguk pelan. " Maaf kan Asya , umi. "
Umi Tata mendesah panjang. " Tidak apa apa sayang, aku tau kamu ingin melindungi A, tapi biarkan dia belajar bertanggung jawab untuk rumah tangganya. Umi sampai bertanya tanya, bagaimana bisa kalian tidak saling berkabar setelah sebulan menikah ? Kok bisa tahan ya kalian ini .."
Annasya tersenyum kikuk. ( Pasti akan tahan umi, dia kan memang tidak menyukai pernikahan ini, jadi aku juga harus belajar untuk mengikuti semua alur cerita yang dia inginkan , apa yang akan terjadi ke depannya, nanti saja di pikirkan. )
" Umi masih ada satu pertanyaan untuk mu. "
" Umi katakan saja. "
" Umi tau jadwal operasi mu lumayan padat , tapi umi yakin bukan itu penyebab utama kamu tidak ikut A ke Dubai. Ada yang namanya pendelegasian tugas , dan itu bisa kamu lakukan. Boleh umi tau alasan nya ?"
Annasya memegang tangan umi Tata, mengusap tangan itu lembut kemudian perlahan menaruh kepalanya di bahu sang umi. " Ayyazh sudah membawa Zizi pergi, lalu jika A juga membawa Asya pergi, umi dan Abi sama siapa ? "
Umi Tata terdiam . Itu bukan jawaban dari pertanyaan nya, melainkan sebuah usaha dari seorang gadis yang baru sebulan masuk ke dalam kehidupan keluarga nya untuk membuat ia dan sang suami tetap dalam kelapangan hati setelah menerima kehampaan di tinggal kan seorang putri di waktu yang tiba tiba dan terbilang cukup singkat.
Tak kuasa terbendung, air mata umi jatuh membasahi jilbab Annasya.
" Kalau Asya ikut A, umi pasti kesepian. Jadi biarlah Asya tinggal bersama umi dulu. "
Umi Tata tak mampu berucap, dia benar benar seperti memiliki dua anak perempuan. Yang satu, kekanakan dan sangat manis, sementara yang satunya lagi sangat dewasa dan penuh kasih.
Dan, mereka tidak tahu, jika di seberang telpon yang Annasya anggap sudah berakhir sejak tadi, ada seorang pria yang ternyata sedang merekam setiap momen kehangatan yang tercipta antara ibu dan istrinya.
A terpegun. Jantung nya berdebar kencang dan perlahan melemah.
( Ku rasa, aku sudah tau jawaban dari keteguhan Abi grandpa dan umi grandma menjodohkan ku dengan mu, semua di mulai dari hati mu yang sebening embun dan akhlak mu yang seluas samudera ).
...****************...
sekarang sih bilang gtu.. nti lama2 jg zizi diterkam..🤭