Sequel dari TERIKAT PERNIKAHAN DENGAN KAPTEN CANTIK❗
Kaluna Seraphina Wijaya adalah seorang anggota Korps Wanita Angkatan Darat (Kowad) sekaligus dokter militer yang bercita-cita mengikuti jejak almarhum mamanya sebagai prajurit TNI.
Ia dijodohkan dengan putra dari sahabat orang tuanya, namun ia menolaknya hingga terjadi pertentangan dengan papanya.
Akhirnya, Kaluna menerima perjodohan itu dengan syarat, ia tetap diizinkan menjalankan tugas di Papua.
Di Papua, Kaluna bertemu dengan seorang Kapten bernama Kalvin Natha Wiratama. Di tengah tugas dan kerasnya medan penugasan, perasaan mulai tumbuh di antara mereka.
Namun, ketika Kaluna dihadapkan pada pilihan antara pria yang dijodohkan dengannya dan pria pilihan hatinya sendiri, mampukah ia tetap bertahan pada keputusan keluarga, atau justru memilih cinta yang benar-benar diinginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kondisi Kaluna dan Safira menyesakkan
“Bughhh... bughhh...”
“Manusia biadab!”
“Anjing! brengsek!”
Umpatan terus keluar dari mulut Kalvin dan Nakara. Rasanya mereka begitu marah ketika menemukan keberadaan Safira dan Kaluna di tengah hutan dalam keadaan setengah telanjang. Ditambah lagi keduanya tidak sadarkan diri dengan luka lebam di bagian bibir.
Kedatangan dua pria itu sontak mencuri perhatian Yohanes dan teman-temannya. Mereka tidak mengenali siapa Kalvin dan Nakara, namun kedua pria itu nampak membawa senjata dalam genggaman mereka.
Tiga dari lima pelaku berhasil dilumpuhkan, sedangkan dua orang lainnya kabur. Dan Yohanes masih terus mencoba melawan.
Pria itu hendak berlari masuk lebih jauh ke dalam hutan sebelum akhirnya pihak kepolisian setempat melayangkan tembakan dan mengenai kaki Yohanes.
“Dor!”
“Dor!”
“Akkhhhh...”
Yohanes meringis. Pria itu bersimpuh di antara rerumputan yang cukup rimbun. Darah mengalir dari bagian betisnya.
Galang dan para anggota lainnya tiba di waktu yang tepat. Mereka datang bersama rombongan polisi yang sebelumnya telah dihubungi untuk membantu pengejaran.
Meski sudah seperti itu, namun amarah belum juga mereda dalam diri Kalvin dan Nakara. Bergegas mereka mendekati Yohanes, sebelum Galang menginterupsi keduanya untuk segera membawa Kaluna dan Safira ke rumah sakit atau klinik terdekat.
“Sudah, Kapten Kalvin, Lettu Nakara. Cari Letda Kaluna dan Letda Safira, bawa mereka segera ke rumah sakit atau klinik terdekat!” perintahnya.
Kalvin menghela napas dalam, mencoba meredam kemarahannya. Keduanya segera menghampiri Kaluna dan Safira. Dua wanita muda itu tergeletak di balik mobil jip yang ada di sana.
“Jangan ada yang kemari!” ucap Kalvin menginterupsi, membuat Anton dan anggota lainnya urung mendekat.
Pandangan Kalvin menilik sekitar, mencari apa pun yang bisa menutupi bagian atas tubuh Kaluna dan Safira.
“Vin, kita tutup pakai apa?” tanya Nakara. Sungguh pemandangan ini membuatnya menelan ludah. Namun ia tak boleh berpikir macam-macam. Safira dan Kaluna adalah anggotanya yang harus dijaga.
Kalvin menyambar kaos Kaluna dan menutupi bagian atas tubuh wanita itu, lalu menggendongnya menuju mobil. Nakara pun melakukan hal yang sama pada Safira.
“Anton, bantu mereka. Kamu yang kemudikan mobilnya!” perintah Galang.
“Siap, Komandan!” sahut Anton.
Wajah Sersan satu itu terlihat lesu. Bagaimanapun semua ini berawal dari kelalaiannya.
Entah apa yang harus ia katakan jika nanti Kaluna dan Safira sadar. Anton hanya berharap tidak terjadi sesuatu yang serius pada kedua rekannya itu.
Anggota kepolisian dan TNI bekerja sama mengamankan lokasi. Sebagian anggota dikerahkan untuk mencari dua pelaku yang melarikan diri.
Sementara Yohanes dan ketiga temannya segera dibawa menuju kantor polisi terdekat untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Yohanes tertunduk lesu. Ia tak menyangka jika wanita yang dilecehkannya merupakan anggota militer yang tengah menjalankan misi. Bisa dipastikan semua yang telah ayahnya bangun akan hancur karena ulahnya.
Kasus ini tak akan berakhir begitu saja. Yohanes yakin kejahatan lain yang selama ini mereka lakukan juga akan terbongkar.
Salah satunya keterlibatan mereka dalam jaringan penyelundupan senjata ilegal yang beroperasi di wilayah pedalaman Papua.
Raut khawatir dan panik begitu kentara. Kalvin nampak mendekap tubuh Kaluna dengan erat, berusaha menutupi bagian atas tubuh wanita itu dengan kaos yang tak seberapa.
Begitu pun dengan Nakara. Berulang kali pria itu menghela napas dalam. Kedua tangan menopang tubuh mungil Safira yang terkulai lemas.
Pandangan Kalvin menangkap bagian lengan Kaluna yang lebam. Pria itu nampak menggenggamnya erat.
“Laki-laki bajingan, perbuatannya seperti binatang,” maki Kalvin.
Nakara mengikuti arah pandangan Kalvin. Sepertinya tubuh Kaluna yang lebih banyak mengalami memar. Mungkin wanita itu lebih banyak melakukan perlawanan.
Sementara Safira hanya mendapat lebam di bagian sudut bibir. Dan Nakara tidak melihat luka di bagian tubuhnya yang lain. Entah apa yang membuat Safira tak sadarkan diri seperti ini?
Anton menyaksikan apa yang terjadi di bangku penumpang melalui spion tengah. Bukan hanya Nakara dan Kalvin, ia pun khawatir pada Kaluna dan Safira.
Sampai-sampai Anton tak fokus mengemudi dan hampir saja mobil yang dikendarainya oleng. Beruntung ia segera tersadar dan kembali menyeimbangkan setir kemudi.
...****************...
Flashback On...
“Cuih...”
Kaluna membuang air liurnya hingga mengenai wajah Yohanes. Sontak hal itu membuat Yohanes marah besar. Pria itu menatap Kaluna dengan mata memerah.
“Plakkk!”
“Perempuan kurang ajar! Tidak tahu terima kasih!” maki Yohanes.
Satu tamparan mendarat di pipi Kaluna. Terasa sangat pedih dan nyeri. Bahkan Kaluna merasa rahangnya seperti bergeser. Sungguh sangat menyakitkan.
Matanya sampai terpejam. Air mata pun luruh begitu saja. Namun sekuat tenaga Kaluna menahannya agar Yohanes tidak mengira ia menyerah.
“Bajingan, lepaskan saya!” Kaluna masih terus berusaha memberontak.
“Buat dia pingsan, biar tidak merepotkan!” ucap Yohanes menginterupsi.
“Bughh!”
Pukulan yang mendarat di bagian tengkuk membuat kesadaran Kaluna berangsur menghilang.
Entah apa yang akan terjadi ketika ia sadar nanti. Kaluna benar-benar tak berani membayangkannya.
“Mama... tolong Luna...” gumamnya sebelum akhirnya matanya tertutup sempurna.
Sementara dua teman Yohanes yang lain nampak sudah berada didekat Safira, dua pria itu membuka kain penutup dalam tubuh Safira. Pemandangan indah yang benar-benar luar biasa. Kulit putih dengan dada sintal yang sangat menggiurkan.
“Boleh kami menikmatinya dulu, Han?” Pria yang tangannya sudah cedera membuka suara.
“Jangan, kita sandingkan dulu mereka, agar kita bisa menikmatinya bersama-sama,” ucap Yohanes. Pria itu membuka kaos yang Kaluna kenakan, lantas menggendongnya dan meletakan disisi Safira.
Keenam pria itu menggeleng-gelengkan kepala menatap keindahan yang tersaji didepan mereka. Ini merupakan rezeki yang luar biasa, benar-benar wanita sempurna. Kulit mereka sangat bersih, meski bagian lengan dan kaki sedikit eksotis.
“Foto dulu sebagai kenang-kenangan.” Yohanes mengeluarkan ponselnya, mengambil gambar mereka semua, dengan kondisi Safira dan Kaluna tak mengenakan baju maupun dalaman. benar-benar pelecehan yang sangat keji.
Sementara Kalvin dan Nakara terus saja mengikuti arah lokasi yang Kaluna berikan. Namun sangat disayangkan, lokasi itu berakhir di sebuah perkampungan dan tidak lagi ada petunjuk ke mana Kaluna dan Safira dibawa.
“Sial! Sudah nggak bisa, Vin,” ucap Nakara.
Kalvin menghentikan mobil itu di bahu jalan. Isi kepalanya mencoba berpikir keras, bagaimana cara agar mereka bisa menemukan Kaluna maupun Safira. Hingga pandangannya menangkap sebuah kain saputangan di tengah jalan.
“Ka, itu kayak saputangan Kaluna, coba kamu ambil!” ucap Kalvin sembari menunjuk sebuah kain di tengah jalan.
Nakara bergegas turun, menuruti apa yang Kalvin katakan, lantas kembali masuk ke dalam mobil.
“Apa kamu yakin ini punya Kaluna, Vin?” tanya Nakara.
“Aku yakin. Aku sering lihat dia bawa ini kalau patroli,” jawab Kalvin yakin.
“Kalau gitu kita jalan terus. Siapa tahu Kaluna meninggalkan jejak lainnya,” ucap Nakara.
Mobil itu kembali melaju. Berkilo-kilometer mereka tempuh, namun tak lagi menemukan jejak yang Kaluna maupun Safira tinggalkan.
Hingga akhirnya Kalvin menghentikan mobil itu di tepi jalan tanah merah yang membelah kawasan hutan pedalaman.
Pria itu menyandarkan tubuhnya pada jok. Kepalanya terasa pening memikirkan di mana keberadaan Kaluna dan Safira.
Hingga samar-samar Nakara membuka suara.
“Vin, coba kamu dengarkan. Tadi aku kayak dengar suara teriakan,” ucap Nakara seraya menajamkan pendengaran.
Kalvin bangkit. Pria itu memandang keluar. Terlihat sebuah jalan sempit yang sepertinya baru saja dilewati beberapa kendaraan.
Kalvin menatap Nakara, berbarengan dengan Nakara yang juga menatapnya. Sepertinya keduanya memiliki pemikiran yang sama.
Buru-buru Kalvin melajukan mobil itu memasuki jalanan tanah merah tersebut.
Tak lama kemudian mereka menangkap keberadaan beberapa mobil yang terparkir di sebuah area terbuka di tengah hutan.
Dari kejauhan terlihat beberapa pria berkumpul, entah mengelilingi apa. Buru-buru saja Kalvin dan Nakara keluar lalu menghampiri mereka.
Apa yang mereka lihat nyatanya begitu menyesakkan. Dua perwira dokter militer yang mereka cari tengah berada di bawah tatapan penuh nafsu para pria bejat itu.
Tangan Kalvin dan Nakara terkepal. Tanpa mengatakan apa-apa, mereka segera menghampiri keenam pria tersebut. Kalvin dan Nakara menghajar mereka dengan membabi buta.
Kalung identitas militer yang mereka kenakan sampai keluar dari balik kaos, membuat dua teman Yohanes yang masih sadar langsung melarikan diri.
Flashback Off...
izin autor hebat, 🙏🙏
jangan lupa singgah ya ka, dinovel baru ku "Balas Dendam Nyonya Cha" udah update sampai 20 episode, saling suport boleh dong ka🤗