NovelToon NovelToon
My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Balas Dendam
Popularitas:934
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.

Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.

Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 24

"Yaudah deh, Lo hati-hati ya jangan kemakan rayuan, gue duluan," kata Nola mewanti-wanti sang sahabat dan kemudian berjalan meninggal kan Clara dan Brayen.

"Clara makasih Lo udah mau ngomong sama gue," kata Brayen mengira kalau Clara ingin berbaikan dengan nya.

"Gak usah banyak basa-basi deh, langsung ngomong aja, apa yang mau kak Brayen omongin," kata Clara sambil melihat ke sekeliling.

"Clara gue gak tau kalau Lo sekarang udah gak tingal di rumah Lo lagi, sebenarnya kenapa sama orang tua Lo? Apa hukuman mereka dari Lo sekejam ini sampai-sampai Lo gak di kasih tingal di rumah lagi? Gue cuma mau tau sekarang Lo tingal di mana?" tanya Brayen panjang lebar.

Clara terdiam mendengar ucapan Brayen barusan, dia kaget karena Brayen tau kalau dirinya tak lagi tinggal di rumah mereka.

"Emang apa urusannya sama Lo? Udah deh gak perlu ikut campur lagi kan gue udah bilang kalau gue gak mau lagi ada urusan sama keluarga kalian, gue gak mau di tuduh lagi," jawab Clara.

"Itu gak akan terjadi lagi Clara, gue mohon kasih tau gue Lo sekarang tinggal di mana dan kenapa Lo sering ke sekolah jalan kaki apa mobil Lo juga di sita?" tanya Brayen tak ingin menyudahi rasa penasaran nya.

" Gue udah bilang bukan urusan Lo, udah ya gue mau masuk kelas," kata Clara yang kemudian berlalu pergi dari hadapan Brayen

Namun dengan cepat Brayen menarik tangan Clara dan menarik Clara ke dalam pelukan nya.

"Clara gue minta maaf, gue janji bakal bantuin Lo, gue bakal balikin nama baik Lo sama nyokap Bokap Lo biar Lo bisa balik lagi ke rumah Lo," ujar Brayen sambil memeluk Clara.

Clara yang kaget hanya bisa terdiam dengan mata terbelalak ketika tubuh nya di peluk dengan erat oleh Brayen, bahkan kedua tangan nya tak mampu mendorong Brayen.

"Apa-apaan ini?" ujar seseorang yang suara nya tidak asing di telinga Clara.

Seketika Brayen melepaskan pelukan nya dan menatap siapa yang ada di hadapan mereka saat ini.

"Pak Zidan," ucap Brayen.

Sementara Clara hanya menatap Zidan dan tak bisa mengatakan apa-apa setelah melihat Zidan yang menatap nya dengan tatapan tajam.

"Bel sudah berbunyi dan kalian masih berpelukan di sini? Apa kalian tuli?" tanya Zidan dengan suara khas nya yang sedang marah.

"Permisi," kata Clara segera berlalu pergi dari hadapan Zidan dan Brayen.

"Maaf pak, saya tidak ..."

Belum sempat Brayen meneruskan ucapannya, Zidan sudah terlebih dahulu pergi dari hadapan Brayen seolah tak peduli.

"Sial, kenapa dengan guru sialan itu," umpat Brayen yang merasa di ganggu oleh Zidan setiap saat dirinya mencoba untuk bicara dengan Clara.

Jam pelajaran pertama pun segera di mulai, namun Brayen memutuskan untuk tidak masuk kelas nya, ia memilih untuk pergi ke ruangan Zidan karena ada yang ingin dia bahas dengan Zidan.

Sementara itu di ruangan Zidan.

Bayang-bayang saat Brayen memeluk Clara seketika selalu bermain di benak Zidan, entah kenapa rasanya cukup panas ia bahkan membuka satu dua kancing kemeja nya dan tidak fokus dengan apa yang ia kerjakan saat ini.

"Berani-beraninya nya dia!" geram Zidan sambil mengepalkan tangannya.

Tok ... Tok ... Tok ...

Tiba-tiba ada ketukan di luar pintu ruangan Zidan.

"Masuk," ucap Zidan berusaha memendam emosi nya agar tidak ada yang tau kalau saat ini dirinya sedang emosi.

Setelah mendapat jawaban dari pemilik ruangan, Brayen pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Maaf pak, saya mau ngomong sebentar sama bapak," ungkap Brayen.

"Ada apa? Kenapa kamu tidak masuk ke dalam kelas? Ini kan jam pelajaran," kata Zidan mengerutkan keningnya menatap Brayen.

"Pak, saya tau kalo bapak ini wali kelas nya Clara, tapi saya mohon sama bapak jangan bertindak terlalu galak dengan anak-anak kelas dua apalagi Clara, saya dapat kabar kalau bapak menghukum Clara sampai dia pingsan, ini benar-benar gak baik sebagai seorang guru," kata Brayen tudepoin.

Zidan terdiam, ia menatap Brayen yang terlihat sangat peduli dengan Clara.

"Kenapa? Kamu kenapa sangat memperhatikan nya? Dia di hukum karena berasal dia pingsan juga karena belum makan, apa hubungannya dengan kamu? Apa kamu berusaha terlihat jadi pahlawan dan sok pintar di hadapan saya?" kata Zidan berdiri dari duduknya dan kemudian menghampiri Brayen.

"Tapi jadi guru itu mendidik pak bukan malah bikin anak-anak murid menderita, jangan mentang-mentang bapak ini keponakan kepala sekolah bisa bertindak sukarela," kata Brayen dengan beraninya demi Clara.

"Kamu ini masih anak kecil, dan kamu begitu sok tau, kamu membela nya dengan sangat perfect, memang nya kamu ini siapa nya dia?" ungkap Zidan yang kini hatinya semakin tak karuan dan juga tatapan itu semakin tajam menembus mata Brayen.

"Saya calon pacar nya Clara, saat ini saya sedang berusaha untuk membuat dia nyaman dan melindungi nya," ungkap Brayen.

"Hahaha, calon pacar ternyata, apa dia mau sama kamu? Orang yang menurut saya sama sekali tidak cocok menurut saya," kata Zidan.

"Saya tidak peduli karena saya akan tetap berusaha, karena pada dasarnya Clara memang sudah dari dulu menyukai saya," ungkap Brayen membangkang.

"Apa bagusnya kamu? Kamu hanya orang yang terlalu berharap, sedangkan saya adalah su ..." Zidan menghentikan ucapannya.

Hampir saja Zidan keceplosan mengatakan kalau dirinya adalah suaminya Clara, hal ini di karena kan Brayen yang terlalu memancing emosi.

"Apa pak? Kenapa diam? Ayo teruskan," kata Brayen menantang.

"Sekarang keluar dari ruangan saya atau saya akan membuat kamu di jemur di lapangan sekolah sampai nanti sore," kata Zidan sambil menujuk pintu keluar.

Mendengar itu Brayen segera pergi dari ruangan Zidan dengan banyak pertanyaan di benaknya.

"Kenapa pak Zidan kelihatan marah banget sama gue? Kok respon dia agak aneh ya?" batin Brayen sambil berjalan masuk ke dalam kelasnya.

Jam pelajaran pertama pun akhirnya berakhir.

"Clara, Lo lihat gak sih kalau tadi pak Zidan agak sedikit aneh, dia gak kayak biasanya gitu," kata Nola sambil menikmati mie panas nya.

"Maksud Lo?" tanya Clara tak mengerti.

Saat ini mereka sedang duduk di kantin sekolah sambil sarapan.

"Ya biasanya dia agak bersemangat, tapi kali ini vue ngelihat nya mood dia kayak buruk gitu gak sih?" ungkap Nola lagi.

"Gue gak tau karena gue bukan cenayang, yaudah sih makan aja jangan banyak ngobrol keselek tau rasa Lo," ujar Clara mengalihkan pembicaraan sang sahabat.

"Lo ini gak bisa di ajak ngomongin orang ganteng," ungkap Nola yang kemudian kembali memakan makanan nya.

Setelah dua puluh menit berlalu mereka pun akhirnya selesai makan, Clara dan Nola pun menghampiri pemilik kantin untuk membayar uang makan mereka.

Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!