Aliya mencintai Ibas dengan tulus, namun Ibas membalasnya dengan luka. Demi kekasihnya, Nadia, Ibas menceraikan Aliya secara rahasia. Ia kemudian membayar Aliya satu miliar rupiah agar tetap tinggal serumah demi menipu keluarga besar mereka.
Namun, sandiwara itu justru membuat Ibas terjebak dalam rasa yang tak semestinya. Saat kebenaran terungkap dan Aliya memilih pergi selamanya, Ibas baru menyadari bahwa ia telah membuang permata demi kerikil.
Kini, Ibas harus berjuang mengejar maaf Aliya. Sialnya, ia bukan lagi satu-satunya pria yang menunggu. Ada Aufar, sepupunya sendiri, yang sudah lama menyiapkan hati untuk melindungi Aliya.
Siapakah yang akan Aliya pilih? Pria yang menghancurkannya, atau pria yang menyembuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Bunda
"Loh, Bas? Ngapain kamu nyusul ke sini?"
Ikhsan terkejut saat melihat keberadaan putra satu-satunya di rumah sakit, tempat dimana istrinya sedang dirawat.
"Yah, Bunda gimana?" tanya Ibas dengan mata yang terlihat memerah sekaligus lelah.
Sejak tadi malam, dia belum tidur sama sekali. Usai berbicara dengan sang Ayah lewat sambungan telepon, dia langsung memesan tiket pesawat dan terbang ke kota sebelah demi menemui sang Ibu yang katanya sedang kritis.
"Bunda kamu sudah melewati masa kritisnya. Sekarang, kondisinya sudah mulai stabil. Tapi, kata dokter... beliau masih butuh dirawat di rumah sakit selama beberapa hari."
Ibas menghela napas lega. Setidaknya, sang Ibu tidak kenapa-kenapa.
"Bunda kenapa bisa kena serangan jantung sih, Yah? Bukannya, pas berangkat dia baik-baik aja?"
"Ayah juga kurang tahu. Tapi, kata dokter... mungkin karena faktor kelelahan sekaligus banyak pikiran."
"Banyak pikiran?"
Sang Ayah mengangguk. "Semenjak kamu menikah, Bunda kamu terus kepikiran soal hubungan kamu sama Aliya. Bunda kamu sangat takut kalau sampai kalian bercerai. Apalagi, Bunda tahu kalau kamu sebenarnya belum punya perasaan apa-apa sama Aliya. Hati kamu... masih ada sama Nadia, kan?"
Degh!
Jantung Ibas berdetak lebih cepat. Cukup terkejut karena tak menyangka jika Ibunya akan sepeka itu terhadap perasaan yang sudah berusaha dia sembunyikan.
Sementara, sang Ayah tampak menghela napas berat. Firasat istrinya benar. Dan, dia cukup kecewa kepada putranya karena belum sepenuhnya putus dari masa lalu yang menurut mereka kurang baik untuk putra mereka.
"Bas, Ayah kecewa sama kamu."
Satu kalimat itu sukses membuat Ibas jadi mematung. Rasa kecewa sang Ayah bagai sebuah godam yang menghantam hatinya.
"Yah, aku bisa jelasin. Sebenarnya..."
Sang Ayah mengangkat telapak tangannya. "Cukup. Nggak usah dijelasin!"
"Tapi, Yah... Aku..."
"Lebih baik kamu pulang saja! Temani Aliya dengan baik di rumah sakit. Tolong jangan bikin Bunda lebih kecewa lagi! Ayah mohon..."
Tatapan sang Ayah membuat perasaan Ibas semakin campur aduk. Ingin menjelaskan, namun dia tidak tahu harus memulai darimana.
Alhasil, dia hanya diam selama beberapa menit. Membiarkan hening mengambil alih situasi diantara dirinya dan juga sang Ayah.
"Maaf, kalau aku udah bikin Ayah sama Bunda jadi kecewa. Tapi, perasaan memang nggak bisa dipaksa. Kalau aku belum bisa cinta sama Aliya, itu bukan salahku, kan?"
Setelah diam sekian lama, akhirnya Ibas angkat suara. Namun, apa yang dia sampaikan, justru membuat Ikhsan jadi semakin kecewa.
"Itu karena kamu yang nggak mau berusaha, Bas," ujar sang Ayah penuh penekanan.
"Aku udah usaha, Yah. Tapi, memang nggak bisa."
Ikhsan menatap wajah putranya cukup lama. Dia mulai memikirkan semua keputusan yang sudah dia ambil.
Mungkin... memang dia yang salah. Tidak seharusnya dia memaksa putranya untuk menikahi Aliya.
"Oke. Terserah kamu saja, Bas!"
Ikhsan menggeleng pelan. Dia melangkah masuk ke ruang perawatan sang istri diikuti oleh Ibas. Begitu berada didepan pintu, Ikhsan menghentikan langkahnya kemudian menoleh dengan tatapan tajam.
"Mau ngapain, kamu?" tanya Ikhsan dengan nada dingin.
"Mau jenguk Bunda-lah," jawab Ibas.
"Nggak usah," tolak Ikhsan. "Kalau Bunda sampai tahu kalau kamu ninggalin Aliya sendirian di sana, dia pasti bakal khawatir dan kondisinya pasti nge-drop lagi."
"Ada Bi Wati yang jagain Aliya di sana," timpal Ibas berbohong. "Ayah nggak perlu khawatir lah!"
"Bener?" tanya sang Ayah memastikan.
Ibas mengangguk. Berusaha meyakinkan sang Ayah dengan kebohongannya.
"Ya sudah. Ayo, masuk!"
Ikhsan membuka pintu ruangan lebar-lebar. Membiarkan putranya untuk bertemu dengan sang istri yang masih begitu lemah.
"Bas?" lirih Saraswati saat melihat kedatangan putranya.
"Bunda..." Ibas langsung memeluk sang Ibu singkat. "Gimana keadaan Bunda? Apa masih ada yang sakit?"
"Bunda baik-baik saja. Kamu... Kenapa ada di sini? Terus, Aliya gimana? Siapa yang jagain dia di sana? Dia kan juga lagi sakit."
"Ada Bi Wati kok, Bunda," jawab Ibas singkat. Ekspresinya berubah sedikit murung. Namun, sang Ibu tampaknya tidak bisa membaca keganjilan itu di wajah putranya.
"Aliya tahu nggak kalau Bunda masuk rumah sakit juga?"
"Nggak," geleng Ibas.
Bagaimana mungkin Aliya bisa tahu. Dia kan tiba-tiba menghilang hingga Ibas sampai pusing dibuatnya.
"Syukurlah," ujar sang Ibu seraya menghela napas lega. "Kamu video call Bi Wati dong, Bas! Bunda mau lihat Aliya."
"Li-lihat Aliya?" Netra Ibas sedikit membulat.
Celaka!
Video call? Mana bisa. Kan, Bi Wati ada di rumah, sementara Aliya entah ada dimana.
"Iya. Sembunyi-sembunyi aja, Bas! Jangan sampai Aliya sadar kalau kita lagi video call-an sama Bi Wati . Bunda cuma mau lihat dia dari jauh aja. Bunda pengen pastiin kalau keadaan dia sudah mulai membaik apa belum."
pelacur teriak pelacur
👍
dan bukan grup penggemar kelompok bnyinyir 🥺
coba dari awal Lo sikapnya biasa saja bila ga suka ha usah menghina atau berbuat
jahat ya sekarang Lo bermasud baik tetapi
sahabat lonsudah menghinanya,,,orang kota katanya sopan santun lah ini brandal cewek. sundel bolong lebih kampungan
matre dan . menjijikan Nadia tukang velap celup mirip teh sarinande,,,preeeettt,,🥺