5 perempuan dengan keturunan setengah Dewa Dewi yang sangat kuat dan darah mereka yang mengalir dengan kekuatan yang melumpuhkan dan petualangan yang akan mereka hadapi di negeri ajaib Euthopia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bsf10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Sejarah Luna Wood
Luna dibawa ke sebuah wilayah di mana salju tidak pernah mencair namun bunga-bunga es tumbuh dengan indahnya.
Kerajaan Cryo-Olympus
Istananya terbuat dari es abadi berwarna biru tua yang tidak bisa ditembus oleh api mana pun. Langit-langitnya adalah aurora borealis yang menari tanpa henti, menciptakan suasana yang agung dan tenang.
Kerajaan Cryo-Olympus, sebuah kerajaan yang menggabungkan kemegahan dewa-dewa Yunani dengan kengerian dan keindahan elemen es abadi.
Cryo-Olympus tidak terletak di atas awan yang lembut, melainkan di puncak Gunung Aethelgard, sebuah gunung yang tingginya menembus atmosfer hingga ke ruang hampa yang membeku.
Bangunan utama kerajaan ini tidak dibangun dari batu, melainkan dipahat dari Es Purba (Primordial Ice) yang tidak bisa mencair bahkan oleh api sihir sekalipun. Dindingnya transparan seperti kaca namun sekeras berlian.Alih-alih bunga, taman di kerajaan ini berisi formasi kristal salju raksasa yang tumbuh secara organik dari kelembapan udara.
Di Cryo-Olympus, es bukan sekadar senjata, melainkan fondasi dari segala aspek kehidupan dan sihir mereka.Meskipun perkasa, kekuatan mereka adalah kutukan. Mereka tidak bisa meninggalkan zona dingin tanpa pelindung khusus. Paparan suhu hangat bagi mereka setara dengan paparan asam bagi manusia—membuat struktur tubuh mereka tidak stabil dan perlahan menguap (sublimasi).
Kerajaan ini sering disebut sebagai simbol dari ketenangan yang mematikan; keindahan yang bisa membunuh hanya dengan satu sentuhan.
Luna berjalan di atas lantai kristal biru tua yang memantulkan bayangan aurora di langit-langit istananya. Suasana di sini sunyi, namun sangat agung. Setiap napas yang ia keluarkan berubah menjadi butiran salju yang bercahaya.
"Ayah, tempat ini... begitu tenang. Berbeda dengan hiruk-pikuk Bumi," ucap Luna sambil menyentuh pilar es yang membekukan memori masa lalu.
Fadhy Xendrick menatap putrinya dengan bangga. "Ketenangan adalah kekuatan terbesarmu, Luna. Banyak yang menganggap es itu mati dan dingin, tapi mereka tidak tahu bahwa di dalam es, segala sesuatu tetap terjaga dengan abadi. Itulah warisan Khione dalam dirimu."
Zahira, ibu Luna, menyesuaikan jubah bulu di pundak Luna. "Dan jangan lupakan, kau juga membawa keanggunan dan otoritas martabat Hera. Kau adalah ratu di antara kawan-kawananmu. Kau yang menjaga mereka tetap dingin kepala saat situasi memanas. Dinginmu bukan untuk menjauhkan orang, tapi untuk memberi perlindungan yang kokoh."
Luna menatap pantulan dirinya di dinding es. "Di Bumi, aku sering merasa kesepian karena aku merasa 'berbeda'. Aku merasa terlalu kaku."
"Itu karena kau adalah permata yang belum diasah," ujar Zahira lembut. "Sekarang, lihatlah. Kau bisa menciptakan istana dari ketiadaan. Kau bisa membekukan waktu untuk menyelamatkan nyawa. Kau adalah keanggunan yang membeku, Luna. Jadilah pemimpin yang bijaksana dan teguh seperti es abadi."
Luna memejamkan mata, merasakan hawa dingin yang kini terasa seperti pelukan hangat. "Aku tidak akan lagi merasa kesepian. Aku adalah ratu es yang akan membekukan setiap ancaman bagi dunia kita."
Luna menyentuh dinding esnya, dan seketika muncul ukiran sejarah para dewa yang membeku dengan sempurna di dalam dinding tersebut.
"Duduklah, Putriku," ucap Fadhy. "Tunjukkan pada dunia bahwa keturunan Khione telah kembali."
Saat Luna melangkah menuju takhta, udara di sekitarnya mendadak mendingin hingga mencapai titik ekstrem. Badai salju kecil mulai berputar di sekelilingnya, mencoba menguji tekadnya. Luna sempat ragu, namun ia teringat saat-saat ia bertarung bersama Azzura dan teman-temannya di menara jam. Ia teringat bahwa kedinginannya adalah tempat berlindung bagi sahabat-sahabatnya.
"Aku tidak akan takut pada diriku sendiri lagi," bisik Luna.
Ia menghentakkan kakinya, dan seketika badai itu membeku menjadi ribuan bunga es yang indah yang menghiasi jalan menuju takhta. Saat ia duduk, sebuah mahkota yang terbuat dari pecahan bintang jatuh tepat di keningnya. Seluruh istana Cryo-Olympus bergetar pelan, dan cahaya biru dari bulan di luar memancar masuk, menyinari Luna dengan kemegahan yang tiada tara.
"Sempurna," ucap Fadhy dengan mata berkaca-kaca. "Kau telah menyatukan keanggunan Hera dan kekuatan Khione. Kau adalah Ratu Es yang sebenarnya."
Luna menatap ke luar jendela besar istananya, melihat seluruh kerajaan hijaunya yang kini diselimuti kabut perak yang indah. Ia tahu, tugasnya sebagai Sentinel baru saja dimulai, namun dengan kekuatan leluhurnya, ia siap menghadapi apa pun.