NovelToon NovelToon
Sistem Dewi Rubah

Sistem Dewi Rubah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️

Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

"Cinta untuk Nona Muda" 18

Lucy terus menatap lekat ke arah sosok ringkih yang sedang terduduk sendirian di tengah keheningan malam itu. Karakter antagonis wanita yang selama ini ada di dalam ekspektasinya adalah seorang gadis kejam, ratu perundung di sekolah, dan seseorang yang gemar menghancurkan hidup orang lain tanpa pernah merasakan sebersit rasa bersalah di dalam hatinya. Namun pemandangan yang tersaji di depan matanya saat ini justru hanyalah seorang gadis pucat yang baru saja habis dibentak habis-habisan oleh ayah kandungnya sendiri, seorang gadis rapuh yang bahkan tidak memiliki keberanian sedikit pun untuk sekadar membalas ucapan kasarnya.

"Lili, tolong berikan aku seluruh ringkasan data mengenai latar belakang kehidupannya sekarang juga."

"Apakah kamu yakin ingin mendengarkannya saat ini?"

"Iya, berikan datanya sekarang juga."

Lili kembali menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai membacakan data. "Baiklah. Akane Minagawa merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, di mana kedua orang kakaknya adalah laki-laki kembar, dan Akane merupakan satu-satunya anak perempuan di dalam keluarga tersebut. Ibu kandungnya sudah dinyatakan meninggal dunia sejak dia masih menginjak usia tujuh tahun. Ayahnya memilih untuk tidak pernah menikah lagi, namun dia justru membawa pulang seorang anak perempuan angkat yang usianya sebaya dengan Akane ke dalam rumah. Anak angkat tersebut kemudian bertumbuh menjadi sosok anak kesayangan di dalam keluarga, sementara kondisi Akane..."

"Apa yang terjadi dengan kondisi Akane?"

"Dia kerap mendapatkan tindakan penyiksaan fisik dari kedua kakak laki-lakinya, diabaikan sepenuhnya oleh sang ayah, dan sengaja dijadikan sebagai sebuah alat pernikahan politik demi kelangsungan bisnis perusahaan milik keluarganya. Dan ada satu fakta lagi..." Lili sempat menahan kalimatnya sejenak. "Saat dia masih kecil dahulu, dia pernah diselamatkan dari sebuah insiden kebakaran rumah yang hebat. Anak angkat di dalam keluarganya kemudian menyebarkan sebuah cerita bahwa sosok yang sudah berhasil menyelamatkan nyawanya malam itu adalah Kaito Fujiwara. Sejak detik itulah, Akane tumbuh dengan memercayai bahwa Kaito adalah sosok pahlawan penyelamat hidupnya. Dia terus mengejar-ngejar keberadaan Kaito karena mengira cowok itu adalah pahlawannya, padahal..."

"Padahal fakta yang sebenarnya?"

"Sosok yang sudah berhasil menyelamatkan nyawanya malam itu adalah orang lain, seorang anak laki-laki lain yang sama sekali bukan Kaito Fujiwara."

Lucy seketika terdiam seribu bahasa mendengar penuturan itu. Sepasang matanya masih saja terus terfokus menatap ke arah Akane yang sedang meratapi kesendiriannya.

"Di dalam alur cerita novel yang asli," lanjut Lili dengan nada suara yang lambat, "Akane ditakdirkan akan mati mengenaskan akibat sebuah insiden ledakan pesawat terbang, saat dia sedang mencoba untuk pergi berlibur sendirian demi menenangkan kondisi batinnya. Setelah insiden itu terjadi, tidak ada satu orang pun yang berhasil menemukan keberadaan jasadnya. Bahkan pihak keluarganya sendiri sama sekali tidak memedulikan berita kematiannya, mereka bahkan memilih untuk tidak mengadakan acara upacara pemakaman untuk dirinya."

"Benar-benar sebuah latar belakang keluarga yang sangat luar biasa hebat," gumam Lucy dengan nada suara yang penuh dengan kesialan.

Dia kembali melayangkan pandangannya ke arah Akane. Gadis itu saat ini tampak sedang sibuk menyeka sisa-sisa air mata di pipinya dengan jemari tangan yang bergetar hebat, namun bulir air mata baru tampaknya masih saja terus mengalir deras tanpa bisa dibendung. Dia terlihat benar-benar berada dalam kondisi yang sangat hancur secara mental.

Dan tepat pada detik itulah, sebuah sensasi yang terasa sangat aneh mendadak muncul di dalam dada Lucy. Itu bukan merupakan sebuah rasa bersalah, bukan pula sebuah rasa simpati yang mendalam atas kemalangan nasibnya. Melainkan sebuah rasa ketertarikan yang sangat kuat.

Namun ketertarikan itu bukan tertuju pada sosok fisik Akane, melainkan pada bagian inti jiwanya.

"Struktur inti jiwa yang dimiliki oleh sang antagonis wanita ini..." pikir Lucy sambil membasahi bibirnya yang terasa kering. "...terasa memancarkan sebuah aroma yang sangat menggoda. Sama persis seperti karakteristik aroma jiwa yang dimiliki oleh ayahnya tadi. Mereka berdua memiliki sebuah aroma inti jiwa yang terasa sangat lezat untuk dinikmati."

"Apakah kamu sedang serius dengan ucapanmu itu?!" Lili seketika memprotes keras di dalam kepalanya. "Kamu baru saja selesai mendengarkan sebuah kisah latar belakang kehidupan yang sangat tragis dari seorang manusia, dan satu-satunya hal yang sedang melintas di dalam isi kepalamu saat ini adalah berniat untuk memakan inti jiwa mereka?!"

"Aku ini adalah seorang Dewi Rubah, Lili. Dan sudah menjadi sebuah kodrat alam jika jiwa manusia merupakan makanan utamaku. Namun kamu tenang saja, aku sama sekali tidak memiliki niat untuk memakan jiwa mereka saat ini. Aku hanya sedang mengagumi karakteristik aromanya yang terasa sangat harum." Lucy menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya. "Lagipula, bukankah salah satu tugas utamaku di dunia ini adalah untuk memberikan sebuah opsi kehidupan yang jauh lebih baik bagi karakter antagonis wanita? Aku rasa momen malam ini merupakan sebuah kesempatan emas yang sangat bagus."

Dia perlahan menarik napas panjang, mengubah kembali ekspresi wajahnya menjadi sangat polos tanpa dosa, lalu mulai melangkahkan kaki lebarnya untuk berjalan mendekat ke arah posisi kursi roda Akane.

"Kakak cantik?"

Akane seketika tersentak kaget dari lamunannya. Dia dengan cepat mendongakkan kepalanya ke arah atas, dan langsung mendapati keberadaan seorang gadis asing yang sudah berdiri tegak di samping posisi kursi rodanya. Gadis itu tampak mengenakan gaun rumah sakit yang sama persis dengan yang digunakannya saat ini, dengan bagian kepala yang masih terbalut rapi oleh balutan perban putih. Struktur wajah gadis itu terlihat sangat imut dengan bentuk pipi yang sedikit tembem, ditambah dengan sepasang manik mata berwarna hitam pekat yang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan yang sangat polos.

"A-Aku..." Akane dengan gerakan yang sangat terburu-buru langsung menyeka sisa-sisa air mata di pipinya. "Siapa sebenarnya kamu?"

"Perkenalkan, namaku adalah Lucy!" Gadis itu langsung menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat cerah di wajahnya. "Kenapa Kakak cantik menangis sendirian di tempat sepi seperti ini? Apakah baru saja ada orang jahat yang berani berbuat kejam kepada Kakak?"

"Bu-bukan karena hal itu... dan ini sama sekali bukan merupakan urusan yang harus kamu campuri..."

"Kakak cantik tidak boleh berkata seperti itu. Wajah Kakak itu terlihat terlalu cantik hanya untuk digunakan menangis seperti ini." Lucy tanpa permisi langsung mendudukkan tubuh manusianya di atas kursi tunggu yang terletak tepat di samping kursi roda Akane, membiarkan kedua belah kakinya yang pendek berayun-ayun santai di udara. "Kata mendiang ibuku dahulu, jika ada seseorang atau sesuatu hal yang sudah berhasil membuat hati kita merasa sedih hingga menangis, maka kita harus segera mengonsumsi makanan yang memiliki rasa manis. Katanya hal itu ampuh untuk membuat suasana hati kita bisa kembali ceria seperti sedia kala!"

Akane menatap lekat ke arah gadis di sampingnya dengan pandangan mata yang terasa agak aneh. "Ibumu?"

"Ibu Lucy saat ini sudah berada di atas surga sana." Lucy tersenyum manis, sebuah senyuman yang sengaja dibuat menyiratkan sedikit rasa kesedihan namun tetap memancarkan kesan ketulusan yang mendalam. "Namun Lucy sama sekali tidak mau terus-menerus larut di dalam rasa sedih. Karena sebelum pergi, Ibu pernah berpesan bahwa Lucy harus bisa bertumbuh menjadi seorang gadis yang kuat. Jadi, Kakak cantik juga harus bisa bersikap kuat seperti Lucy!"

Untuk pertama kalinya di malam yang dingin itu, sudut bibir Akane tampak bergerak sedikit. Gerakan itu memang belum bisa dikategorikan sebagai sebuah senyuman yang sempurna, namun itu sudah merupakan sebuah awal yang sangat baik.

"Kamu... kamu ternyata merupakan seorang gadis yang sangat aneh."

"Iya, benar sekali! Lucy memang sudah sering dibilang sebagai seorang gadis yang aneh oleh orang-orang! Teman-teman di sekolah Lucy juga sering mengatakan hal yang sama!" Lucy tertawa kecil mendengar penuturan itu. "Namun menurutku, menjadi sosok yang aneh itu adalah sebuah hal yang sangat bagus! Karena jika semua orang di dunia ini bertingkah laku secara normal dan seragam, maka dunia ini pasti akan terasa sangat membosankan untuk ditinggali!"

Akane terus memfokuskan pandangan matanya ke arah gadis mungil yang berada di sampingnya. Bentuk pipinya yang tembem serta binar matanya yang cerah membuat penampilannya malam ini terlihat menyerupai seekor anak kucing yang menggemaskan, atau sebuah boneka pajangan yang imut, atau sesuatu hal yang terasa sangat manis yang seharusnya tidak layak untuk berada di dalam koridor rumah sakit pada jam dua dini hari seperti ini.

"Apakah namamu yang sebenarnya adalah Lucy?" tanya Akane memastikan.

"Iya! Nama panjangku adalah Lucy! Lu-cy!" Gadis itu mengeja untaian namanya sendiri dengan disertai oleh sebuah gerakan tangan yang terlihat sangat menggemaskan. "Kalau boleh tahu, siapa nama Kakak cantik ini?"

"Namaku adalah Akane."

"A-ka-ne," Lucy mengulangi penyebutan nama itu dengan nada suara yang pelan dan lembut. "Sebuah nama yang terdengar sangat indah! Nama itu terasa sangat cocok dengan visual wajah Kakak yang cantik!"

Akane sudah tidak bisa lagi membendung rasa geli di dalam hatinya. Dia akhirnya melepaskan sebuah tawa kecil, sebuah tawa pendek yang hampir tidak terdengar di tengah keheningan lorong. Namun bagaimanapun juga, itu tetaplah merupakan sebuah tawa yang tulus. "Kamu benar-benar seorang gadis yang sangat unik dan aneh."

"Kan Lucy tadi sudah bilang sendiri kepada Kakak!"

Sebuah suasana keheningan yang terasa jauh lebih nyaman kini mulai tercipta di antara mereka berdua. Akane perlahan menyandarkan bagian punggungnya pada sandaran kursi roda yang didudukinya. "Kenapa kamu bisa sampai berada di tempat ini pada jam selarut ini, Lucy? Dan ada apa dengan kondisi bagian kepalamu itu?"

"Oh, perban yang ini?" Lucy menyentuh pelan bagian perban putih yang membalut kepalanya. "Lucy kemarin sempat tidak sengaja terjatuh menuruni anak tangga sekolah. Namun Kakak tenang saja, rasanya sama sekali tidak sakit kok! Hanya terasa sedikit linu saja!"

"Kamu sampai terjatuh menuruni anak tangga?!"

"Iya, benar sekali! Namun sekarang kondisiku sudah baik-baik saja dan tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan lagi. Kalau boleh tahu, Kakak sendiri kenapa bisa sampai dirawat di tempat ini?"

Akane seketika terdiam seribu bahasa mendengar pertanyaan itu. Kedua belah tangannya tampak mengepal kuat di atas pangkuan lututnya. "Aku... aku saat ini sedang mengalami sakit. Hanya sakit kecil saja."

"Memangnya Kakak sedang menderita penyakit apa?"

"Ini bukan merupakan sebuah jenis penyakit fisik yang biasa diderita oleh orang-orang." Akane mengalihkan pandangan matanya untuk menatap lurus ke arah luar jendela kaca besar. Di luar sana, hamparan lampu-lampu kota tampak berkelap-kelip indah di tengah kegelapan malam. "Aku hanya sedang merasa sangat lelah dengan semua hal di dalam hidupku."

Lucy memiringkan kepalanya sedikit ke arah samping dengan ekspresi wajah yang penasaran. "Memangnya apa yang sudah membuat Kakak merasa sangat lelah seperti itu?"

Mungkin karena faktor kelelahan fisik dan mental yang teramat sangat, atau mungkin juga karena atmosfer waktu yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari di mana tidak ada satu orang pun yang berada di sekitar tempat itu untuk mendengarkan, atau mungkin juga karena sosok gadis mungil yang berada di sampingnya saat ini terlihat sangat polos, suci, dan sama sekali tidak memancarkan aura yang berbahaya. Namun entah karena alasan apa pun itu, Akane perlahan mulai membuka mulutnya untuk menceritakan kisah hidupnya.

"Aku... aku selama ini merasa tidak pernah memiliki satu orang pun di dalam hidupku yang benar-benar tulus memedulikanku," ujarnya dengan nada suara yang terdengar sangat pelan dan lirih. "Ibu kandungku sudah lama meninggal dunia sejak aku masih kecil. Ayahku... dia sama sekali tidak pernah menaruh rasa peduli terhadap keberadaan diriku di dalam rumah. Kedua orang kakak laki-lakiku juga sangat membenci kehadiranku. Bahkan status seorang anak perempuan angkat yang ada di dalam keluargaku jauh lebih disayang dan dihargai oleh semua orang dibandingkan dengan keberadaan diriku sendiri. Anak angkat itu... dia sudah berhasil merebut segala bentuk kebahagiaan dan hak yang seharusnya menjadi milikku. Dan aku... aku selama ini hanya..." Untaian kalimatnya mendadak terputus karena suaranya yang berubah menjadi pecah menahan sesak.

Lucy memilih untuk tetap mempertahankan keheningannya. Dia sengaja memberikan ruang dan waktu yang cukup bagi Akane untuk bisa menumpahkan seluruh unek-unek yang selama ini dipendamnya sendirian.

"Aku selama ini hanya sedang mendambakan adanya sosok satu orang saja yang benar-benar menaruh rasa peduli terhadap kondisi diriku. Hanya satu orang saja di dunia ini, itu sudah lebih dari cukup bagiku. Namun kenyataan hidup yang harus kuterima justru sangat pahit, bahkan sosok tunanganku sendiri sama sekali tidak pernah menaruh rasa cinta terhadap diriku. Dia tidak pernah sudi untuk melayangkan pandangan matanya ke arahku dengan cara yang sama seperti saat dia sedang menatap..." Akane mendadak menghentikan kalimatnya. "Seperti saat dia sedang menatap ke arah orang lain."

"Dia saat ini sedang membicarakan mengenai sosok Kaito," bisik Lili secara perlahan di dalam kepala Lucy.

"Aku sudah mengetahui hal itu tanpa perlu kamu beri tahu."

"Namun di dalam hidupku, sebenarnya pernah ada sosok satu orang yang sangat berarti," lanjut Akane kembali bercerita dengan nada suara yang semakin mengecil. "Dahulu saat aku masih kecil, rumah kediamanku pernah mengalami sebuah insiden kebakaran yang sangat hebat. Aku saat itu sempat terjebak sendirian di dalam kepungan kobaran api yang besar, dan aku sudah berpikir bahwa hidupku akan berakhir mengenaskan pada malam itu. Namun tiba-tiba saja ada sosok seorang anak laki-laki yang datang menerobos kobaran api demi menyelamatkan nyawaku. Dia menggendong tubuhku keluar dari dalam rumah dengan selamat. Aku jujur sudah tidak bisa mengingat dengan jelas bagaimana rupa wajahnya malam itu, namun aku masih ingat betul dengan untaian kalimat yang diucapkannya kepadaku, dia bilang 'Kamu sudah aman sekarang bersamaku.' Dan sejak momen itulah, aku menghabiskan seluruh sisa waktu hidupku hanya untuk mencari keberadaan sosok anak laki-laki tersebut. Anak angkat di dalam keluargaku kemudian memberi tahu bahwa sosok pahlawan penyelamatku malam itu adalah Kaito Fujiwara. Oleh karena itulah aku terus berusaha keras untuk mengejar keberadaannya, aku bersedia untuk mengikat diri dalam hubungan pertunangan dengannya. Aku sempat berpikir bahwa jika aku bisa terus berada di sampingnya, maka hidupku akan selalu merasa aman, sama persis seperti apa yang aku rasakan pada malam insiden kebakaran itu."

"Lalu apakah menurutmu, dia memang merupakan sosok orang yang selama ini kamu cari? Apakah Kaito adalah pahlawanmu?"

Akane sempat terdiam dalam waktu yang cukup lama sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku jujur tidak tahu pasti mengenai hal itu. Terkadang aku berpikir bahwa mungkin saja sosok itu sebenarnya bukanlah dirinya. Mungkin saja selama ini aku hanya sedang berada dalam kondisi yang sangat putus asa, sehingga aku membutuhkan sebuah sosok untuk dijadikan sebagai sebuah alasan dan pegangan hidup. Namun bagaimanapun juga, aku sudah sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk melepaskan dirinya dari dalam hidupku. Karena jika ternyata dia bukanlah orang yang sudah menyelamatkan nyawaku malam itu... jika ternyata bukan dia yang datang menerobos api demi aku... maka itu mengindikasikan bahwa sebenarnya tidak pernah ada satu orang pun di dunia ini yang sudi bertaruh nyawa demi menyelamatkanku. Dan aku... aku sama sekali tidak akan pernah bisa menerima kenyataan pahit seperti itu."

Bulir air mata kembali luruh membasahi pipinya, dan kali ini aliran air mata itu terasa jauh lebih deras dari sebelumnya.

Lucy terus menatap lekat ke arah wajah gadis yang berada di sampingnya. Gadis yang selama ini dia duga akan bertindak sebagai sosok musuh bebuyutannya di dalam dunia ini, gadis yang seharusnya memegang peran sebagai karakter antagonis wanita yang kejam. Namun pemandangan nyata yang tersaji di depan matanya saat ini justru hanyalah seorang gadis malang yang sangat kesepian, penuh dengan luka batin yang mendalam, dan sedang berjuang keras untuk mencari keberadaan seseorang, siapa pun orangnya, hanya demi bisa membuat dirinya merasa aman dan berharga di dunia ini.

"Makhluk yang bernama manusia," pikir Lucy di dalam hatinya. "Karakteristik mereka ternyata selalu jauh lebih rumit dan kompleks dibandingkan dengan apa yang tertulis di atas lembaran kertas sebuah cerita."

Dia perlahan mengulurkan tangan manusianya untuk meraih dan menggenggam erat jemari tangan Akane, tangan yang terasa sangat dingin dan sedang bergetar hebat. "Kakak cantik."

Akane seketika mendongakkan kepalanya untuk menatap ke arah Lucy.

"Kakak harus tahu bahwa mulai detik ini, Kakak sudah tidak akan pernah sendirian lagi di dunia ini." Lucy menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis dan tulus di wajahnya. "Karena sekarang sudah ada Lucy di sini. Lucy yang akan mengajukan diri untuk menjadi teman baik Kakak mulai sekarang."

"Kamu... kamu bahkan sama sekali belum mengenal mengenai siapa jati diriku yang sebenarnya..."

"Lucy tentu saja sudah sangat mengenal Kakak! Kakak adalah Kakak Akane! Sosok Kakak cantik yang ternyata sangat suka menangis sendirian!" Dia menyeringai jenaka.

"Dan nanti, kita berdua harus pergi bersama untuk mengonsumsi kue mochi yang lezat! Kue mochi dengan isian buah stroberi segar di dalamnya! Makanan itu merupakan menu camilan nomor satu favorit Lucy!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!