Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Dengan langkah kaki yang dihentakkan keras dan sisa air mata yang masih membasahi pipinya, Angela berjalan cepat menuruni anak tangga menuju ruang tengah.
Kemarahannya sudah mencapai ubun-ubun setelah mendengar peringatan keras dari Dokter Gunawan.
Di ruang tengah yang luas, Andre dan Riko tampak sedang duduk santai di atas sofa kulit sembari menyesap kopi, seolah tidak terjadi hal kritis apa pun di lantai atas.
"Mas Andre! Mas Riko!" bentak Angela dengan suara melengking, langsung melabrak kedua kakaknya.
"Apa-apaan kalian ini?! Papa baru saja kritis dan hampir kehilangan nyawanya gara-gara kalian terus-menerus mendesak soal surat kematian Tante Jihan! Dokter bilang Papa tidak boleh diberi tekanan psikologis lagi, atau kita akan kehilangan Papa selamanya! Bisakah kalian punya otak dan hati sedikit saja?!"
Andre dan Riko hanya saling melempar pandangan malas. Namun, sebelum Andre sempat membalas makian adiknya, sebuah suara dari arah lantai atas seketika menghentikan perdebatan mereka.
"Hahaha! Hahahahaha! Jihan... Jihan, lihat ini sayang!"
Suara tawa terbahak-bahak yang terdengar begitu nyaring namun sarat akan kekosongan itu menggema di seluruh penjuru mansion. Angela, Andre, dan Riko seketika membeku. Itu adalah suara Darren.
Efek obat penenang dosis tinggi dari Dokter Gunawan ternyata memaksa Darren terbangun dalam kondisi mental yang pecah.
Tekanan batin yang luar biasa hebat, rasa bersalah, cemburu buta, dan duka yang datang bertubi-tubi dalam waktu singkat telah merusak sistem saraf dan kewarasan sang CEO tangguh. Darren telah kehilangan akal sehatnya—ia menjadi gila.
Angela dengan jantung yang berdegup kencang langsung berlari kembali ke kamar utama, diikuti oleh Andre dan Riko di belakangnya.
Begitu pintu kamar terbuka, pemandangan di dalam sana membuat runtuh hati siapa pun yang melihatnya.
Darren sudah turun dari ranjang medisnya dengan selang oksigen yang terlepas begitu saja.
Pria paruh baya yang biasanya tampil berwibawa dan ditakuti di dunia bisnis itu, kini duduk bersimpuh di atas karpet beludru sembari memeluk sebuah guling besar erat-erat.
"Jihan, sayang. Kamu dari mana saja? Jangan tinggalkan aku lagi, ya?" ucap Darren dengan mata yang berbinar-binar aneh, penuh ilusi.
Ia mencium guling besar yang ada di pelukannya berulang kali, mengelusnya dengan sangat lembut karena menganggap benda mati itu sebagai istrinya.
Darren kemudian mendongak, menatap ke arah sudut kamar yang kosong sembari tersenyum lebar.
"Kamu masak apa hari ini, sayang? Bau sotonya harum sekali... Aku lapar, Jihan..." racau Darren, mengira sang istri sedang sibuk di dapur seperti biasanya.
"Papa...!" Angela menjerit tertahan, air matanya luruh semakin deras melihat kondisi mengenaskan sang ayah.
Angela segera maju mendekat, berlutut di samping Darren yang masih asyik mengajak guling itu berbicara.
Dengan hati-hati dan penuh kelembutan, Angela memeluk bahu ayahnya, mencoba menenangkan Darren yang terus meracau tak karuan. "m
"Papa, ini Angela, Pa. Ayo kembali ke tempat tidur, ya? Papa harus istirahat..."
Sementara Angela sibuk menenangkan Darren yang jiwanya telah terbang entah ke mana, Andre dan Riko yang berdiri di ambang pintu justru saling melempar senyuman tipis yang sarat akan kelicikan.
Tidak ada sedikit pun rasa iba di wajah kedua pemuda itu melihat ayah kandung mereka menjadi gila.
Bagi Andre dan Riko, ini adalah skenario yang jauh lebih menguntungkan daripada kematian Darren.
Dengan kegilaan yang menimpa papanya, Darren secara hukum tidak akan lagi mampu memimpin korporasi maupun mengelola aset.
Mereka berdua merasa sangat yakin bahwa sebentar lagi, semua saham Bramantyo Corporation dan seluruh harta warisan dari mendiang mama kandung mereka yang selama ini dikuasai Darren, akan jatuh sepenuhnya ke tangan mereka bertiga tanpa ada halangan lagi.
Malam itu, setelah Dokter Gunawan pulang dengan raut wajah frustrasi, Andre dan Riko berkumpul di ruang kerja lantai bawah.
Di atas meja, beberapa berkas hukum mengenai pelimpahan kekuasaan dan hak asuh aset sudah tersusun rapi.
"Kondisi si tua itu sudah tidak bisa diselamatkan. Akal sehatnya sudah hilang," ucap Riko sembari menyalakan rokoknya.
"Kita harus bergerak cepat sebelum relasi bisnis Papa mencium kegilaan ini."
Andre mengangguk setuju, matanya berkilat serakah.
"Besok pagi, kita panggil pihak Rumah Sakit Jiwa swasta. Kita masukkan Papa ke sana dengan alasan perawatan intensif terisolasi. Begitu dia dinyatakan tidak cakap hukum secara resmi oleh dokter jiwa pilihan kita, seluruh tanda tangan kekuasaan atas saham dan aset peninggalan Mama akan beralih ke tangan kita."
"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian melakukan itu pada Papa!"
Suara lantang Angela memotong pembicaraan rahasia mereka.
Gadis itu berdiri di ambang pintu dengan napas memburu.
Ia sejak tadi curiga dan diam-diam menguping rencana busuk kedua kakaknya.
"Papa tidak gila permanen! Papa hanya syok! Kalian berdua benar-benar iblis yang tidak tahu diri! Aku melarang kalian membawa Papa ke rumah sakit jiwa!"
Andre bangkit berdiri, wajahnya berubah menjadi sangat menyeramkan.
Ia melangkah mendekati adik bungsunya itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Melarang kami, Angela? Kamu pikir kamu punya kekuatan apa di rumah ini? Tanpa Papa yang waras, kamu itu bukan apa-apa!"
"Kalau kamu mau membela si tua bangkai yang sudah gila itu, lebih baik kamu ikut bersamanya keluar dari rumah ini sekarang juga!" bentak Riko
kejam, ikut berdiri di samping Andre.
Malam itu juga, konflik internal keluarga Bramantyo mencapai titik paling tragis.
Tanpa memedulikan rasa kemanusiaan, Andre dan Riko memanggil beberapa satpam sewaan yang baru mereka bayar.
Mereka menyeret Darren yang masih mendekap erat guling besarnya, serta Angela yang terus menangis dan menjerit histeris melawan.
BLAM!
Pintu gerbang besi mansion mewah itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam.
Angela dan Darren didepak begitu saja ke jalanan.
Tepat di saat itu, langit seakan ikut menangis. Hujan deras mendadak tumpah dari langit malam yang gelap gulita, mengguyur bumi dengan sangat beringas.
Petir menyambar silih berganti, menerangi wajah Darren yang tampak linglung dan basah kuyup di tepi jalan.
Setengah jam berlalu di bawah guyuran badai yang menusuk tulang.
Angela duduk bersimpuh di trotoar sambil memeluk tubuhnya yang menggigil hebat, sementara tangannya yang lain memayungi kepala ayahnya dengan jaket tipis yang ia kenakan.
Di tengah keputusasaan itu, seberkas cahaya lampu mobil membelah kegelapan malam dan berhenti tepat di depan mereka.
Pintu mobil terbuka, dan seorang pemuda berlari keluar menembus hujan deras menggunakan payung.
Itu adalah Jonas, teman satu kampus Angela. Jonas adalah lelaki yang sudah lama memendam rasa cinta yang sangat mendalam kepada Angela, namun selama ini ia hanya bisa mengagumi gadis itu dari jauh karena perbedaan status sosial mereka.
"Angela?!" jerit Jonas, terkejut luar biasa mendapati gadis pujaan hatinya berada dalam kondisi sekumuh dan sehancur ini di pinggir jalan.
Jonas langsung berlutut di depan Angela, memayungi tubuh gadis itu.
"Kamu kenapa, Angela? Kenapa kamu dan Om Darren ada di sini malam-malam begini dalam keadaan basah kuyup?"
Angela mendongak. Begitu melihat wajah Jonas yang dipenuhi rasa khawatir yang tulus, pertahanan Angela runtuh total. Ia menangis histeris di bawah derasnya air hujan.
'Jonas... Mereka mengusir kita..." isak Angela dengan suara yang bergetar hebat menahan dingin dan rasa sakit di hatinya.
"Mas Andre dan Mas Riko... mereka jahat, Jonas! Mereka mau membuang Papa ke rumah sakit jiwa demi harta, dan sekarang mereka mengusir kami!"
Jonas mengepalkan tangannya mendengar kekejaman luar biasa dari kakak-kakak Angela.
Ia melirik ke arah Darren yang duduk di samping Angela.
Pria paruh baya yang dulunya adalah penguasa bisnis yang sangat disegani itu, kini tampak sangat mengenaskan.
Darren sama sekali tidak memedulikan hujan deras yang menusuk kulitnya; ia hanya terus memeluk guling besarnya yang sudah basah kuyup dengan tatapan mata kosong yang tersenyum perih.
"Jihan... dingin ya, sayang? Nanti aku buatkan teh hangat untukmu..." bisik Darren lirih, masih sibuk berbicara dengan dunianya sendiri di dalam pelukan guling tersebut.
Jonas menelan salivanya ,hatinya teriris melihat kehancuran keluarga ini. Ia langsung menatap Angela dengan tegas.
"Angela, kamu dan om tidak aman di sini. Ikut aku sekarang. Kita bawa Om Darren ke rumahku dulu. Aku akan menjaga kalian."
Jonas segera melajukan mobilnya membelah jalanan Jakarta yang basah, melaju secepat mungkin menembus derasnya sisa hujan malam itu.
Di kursi belakang, Darren masih mendekap gulingnya erat-erat dengan pandangan kosong, sementara Angela terus menggigil sembari memeluk lengan sang ayah, mencoba menyalurkan kehangatan yang tersisa.
Sesampainya di rumah Jonas—sebuah hunian yang sederhana namun terasa sangat hangat dan nyaman—Jonas langsung membuka pintu dan memapah Darren masuk.
"Bi Min! Bi, tolong ambilkan beberapa handuk kering sekarang juga!" seru Jonas setengah berteriak begitu melangkah melewati pintu depan.
Seorang pelayan paruh baya berlari cekatan membawa beberapa helai handuk tebal.
Jonas mengambil satu handuk untuk mengeringkan rambut Darren, lalu menatap Angela yang tampak luar biasa pucat.
"Ayo, Ngel, aku antar kamu dan Om Darren ke ruang tamu dulu supaya bisa duduk di dekat penghangat."
Angela hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.
Jemarinya yang dingin tak sedetik pun lepas menggenggam tangan papanya, menuntun pria paruh baya itu untuk duduk di atas sofa panjang.
Darren menurut saja seperti anak kecil, lalu kembali menatap guling basahnya dengan senyuman hampa.
Jonas menyelimuti bahu Angela dengan handuk kering, lalu duduk di kursi seberangnya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa iba sekaligus hormat.
"Angela, aku turut berdukacita yang sedalam-dalamnya atas meninggalnya Tante Jihan di jurang itu," ucap Jonas dengan suara yang rendah dan tulus, memecah keheningan di ruang tamu.
Angela mendongak, matanya yang sembap kembali berkaca-kaca.
"Terima kasih, Jonas.Terima kasih banyak kamu sudah mau menampung aku dan Papa dalam kondisi seperti ini."
Jonas menggelengkan kepalanya perlahan, sebuah senyuman tipis yang sarat akan kenangan manis terukir di wajahnya.
"Jangan berterima kasih kepadaku, Ngel. Ini semua sebenarnya juga karena kebaikan mama tirimu, Tante Jihan."
Angela tertegun di balik handuknya. Dahinya berkerut samar, merasa bingung.
"Maksud kamu apa, Jonas?"
Jonas menghela napas panjang, tatapannya menerawang mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu.
"Kamu ingat, kan, waktu Tante Jihan bersikeras mengantarkan kamu ke kampus menggunakan sepeda motor matic-nya? Waktu itu kamu sangat marah dan malu sampai menolak berjalan berdampingan dengannya di parkiran kampus."
Angela terdiam, lidahnya mendadak kelu karena ingatan itu memang nyata.
"Saat kamu sudah berjalan jauh dan masuk ke dalam kelas, Tante Jihan tidak langsung pulang," lanjut Jonas dengan suara yang semakin melembut.
"Beliau melihatku sedang duduk sendirian di koridor. Tante Jihan menghampiriku, lalu memberikan sebuah kotak bekal makanan yang sangat banyak untukku."
Jonas menatap lurus ke dalam manik mata Angela yang mulai berkaca-kaca.
"Beliau duduk di sampingku dan menitipkan sebuah pesan. Beliau memintaku untuk menjaga kamu di kampus, Ngel. Tante Jihan bilang, dia tahu kalau aku menyukaimu dengan tulus, dan dia tahu aku tidak seperti teman-teman sosialitamu yang lain meskipun aku sering duduk di dekat barisan mereka. Tante Jihan bisa melihat ketulusan orang, Ngel. Dia tahu siapa yang benar-benar peduli padamu dan siapa yang hanya memanfaatkan hartamu."
"Mama...."
Detik itu juga, pertahanan hati Angela yang keras seperti batu karang runtuh total hingga berkeping-keping.
Tangisan Angela kembali pecah, kali ini jauh lebih histeris dan sesenggukan.
Dada gadis muda itu naik turun menahan rasa sesak yang luar biasa hebat.
Ia benar-benar tidak percaya, sama sekali tidak pernah menyangka bahwa wanita berhati malaikat yang selama ini ia benci, ia maki, dan ia rendahkan, justru diam-diam berjalan di belakangnya untuk memastikan ada lelaki baik yang menjaganya di kampus.
Di saat Angela sibuk merencanakan penolakan dan kebencian, Jihan justru sedang menenun jaring pelindung untuk masa depannya.
Penyesalan yang teramat terlambat kini mencekik leher Angela di tengah malam yang dingin itu.