"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."
Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.
Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI
Matahari pagi di akhir pekan bersinar begitu terik, memantulkan hawa panas di sepanjang gang sempit tempat kediaman almarhum Pak Praga berdiri. Hari ini adalah hari yang paling krusial bagi kehidupan Arumi. Setelah proses hukum yang dipercepat berkat kekuatan dana segar yang ia miliki untuk mengurus segala administrasi dan menyewa jasa hukum terbaik, hari ini Pengadilan Agama akan menggelar sidang dengan agenda pembacaan putusan cerai antara dirinya dan Revan.
Arumi sengaja menggunakan uang warisannya untuk memotong segala birokrasi yang berbelit, memastikan bahwa statusnya sebagai istri Revan harus segera diputus secepat mungkin tanpa penundaan. Baginya, setiap detik yang berjalan dengan status masih menjadi istri pria kikir itu adalah sebuah penghinaan terhadap martabatnya.
Sebelum berangkat ke Pengadilan Agama, Arumi berdiri sejenak di tepi jalan gang. Sepasang mata bulatnya menatap lurus ke arah sebidang tanah miliknya yang kini sudah kosong melompong, bersih, dan rata dengan tanah. Seluruh sisa dinding batako tua dan atap bocor yang penuh dengan memori penderitaan bersama Revan telah selesai dirubuhkan total oleh Kang Jaya dan para warga sejak subuh tadi. Debu-debu tipis masih tampak beterbangan di udara sore, menyisakan hamparan tanah merah yang siap melahirkan sebuah fondasi baru.
Tepat pada saat itulah, dari arah ujung gang, sebuah mobil sedan hitam mewah milik Revan merayap pelan. Di dalam kabin mobil yang sejuk karena embusan AC, duduk Revan di balik kemudi, didampingi oleh sang mama di kursi penumpang depan, dan Rika di kursi belakang. Mereka sengaja memilih jalan melintasi gang rumah Arumi sebelum menuju ke gedung Pengadilan Agama, hanya untuk memuaskan ego busuk mereka.
Begitu moncong mobil Revan berpapasan dengan area tanah milik Arumi, pemandangan tanah yang sudah rata dengan tanah itu langsung menyapa pandangan mereka. Dari balik kaca mobil yang tertutup rapat, Revan, mamanya, dan Rika seketika menunjuk-nunjuk ke arah luar sembari meledakkan tawa ejekan yang teramat puas.
"Hahaha! Lihat itu, Revan! Rika! Benar-benar hancur lebur rata dengan tanah!" seru Mama Revan dengan wajah yang memerah karena terlalu banyak tertawa.
Wanita paruh baya itu menatap Arumi yang sedang berdiri diam di tepi jalan melalui kaca jendela dengan tatapan yang sangat merendahkan. "Gubuk pembawa sial itu akhirnya digusur juga! Rasakan itu, Rum! Kemarin sok jagoan menggugat cerai anak saya yang mapan, sekarang rumah satu-satunya malah disita warga karena kamu menumpuk utang setelah tidak diberi uang belanja oleh Revan!"
Revan menurunkan sedikit kaca mobilnya, melongokkan kepalanya keluar sembari memasang senyuman miring yang sangat sinis ke arah Arumi. "Kasihan sekali kamu, Arumi. Baru mau sidang putusan saja, gubukmu sudah roboh duluan dihantam linggis karena utang-utangmu. Makanya, jadi perempuan itu jangan belagu mau hidup mandiri kalau ujung-ujungnya cuma bisa jadi gelandangan tunawisma!"
Rika ikut menjulurkan kepalanya dari jendela belakang, mencibir dengan nada melengking. "Ih, kasihan banget ya, mantan kakak ipar gembel! Nanti malam bingung mau tidur di mana sama anak-anaknya. Paling-paling mengemis di bawah kolong jembatan! Hahaha!"
Mendengar rentetan olok-olok, makian, dan tawa yang meledak-ledak dari dalam mobil mewah itu, Arumi sama sekali tidak membalas. Ia justru bersedekap dada, menampilkan wajah yang sangat tenang dengan senyuman misterius di sudut bibirnya. Di sampingnya, Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida yang berdiri mengawal Arumi juga kompak memilih untuk diam seribu bahasa. Mereka berempat sengaja mengunci mulut rapat-rapat, tidak berniat sedikit pun untuk meluruskan kesalahpahaman konyol keluarga Revan. Mereka membiarkan singa-singa palsu itu menari di atas angin palsu, agar nanti di saat kenyataan tentang pembangunan istana megah berlantai tiga itu terungkap, hantaman syoknya bisa membuat Revan dan ibunya langsung terkena serangan jantung di tempat.
Revan yang merasa di atas angin langsung menancap gas mobilnya dengan angkuh, meninggalkan kepulan asap knalpot tipis ke arah Arumi dan para tetangganya. Mobil mewah itu melesat cepat menuju gedung Pengadilan Agama, membawa sejuta kesombongan palsu di dalam bagasinya.
Satu jam kemudian, suasana di halaman Pengadilan Agama tampak mulai ramai oleh lalu lalang orang yang mengurus perkara hukum. Mobil sedan hitam milik Revan terparkir dengan sangat gagah di area parkir depan, sengaja diposisikan di tempat yang paling mudah dilihat orang. Revan turun bersama mama dan adiknya dengan pakaian yang sangat rapi dan formal. Revan mengenakan kemeja batik sutra mahal, sementara mamanya memakai gamis berkilau lengkap dengan rentengan perhiasan emas palsunya yang mencolok di sepanjang pergelangan tangan. Ketiganya berjalan memasuki lobi pengadilan dengan dagu yang terangkat tinggi, merasa diri mereka adalah perwakilan dari kelas sosial paling atas di ruangan itu.
Namun, perhatian mereka kembali teralih ketika dari arah pintu gerbang pengadilan, terdengar suara deru mesin motor yang sangat berisik dan batuk-batuk.
Preketek... preketek... bremmm!
Itu adalah suara sepeda motor matic buntut milik keluarga Pak RT yang knalpotnya sudah agak longgar dan bodinya sudah banyak goresan di sana-sini. Di atas motor tua yang tampak sangat kontras dengan kemegahan gedung pengadilan tersebut, tampak Pak RT yang bertindak sebagai pengendara di depan dengan mengenakan kemeja rapi seadanya. Di bagian jok belakang, Arumi duduk berboncengan, diapit secara erat dan hangat oleh Bu RT dan Bu Ida yang ikut berboncengan tiga demi mengantarkan sang "Ratu Kampung" menuju gerbang kebebasannya.
Meskipun datang dengan mengendarai motor buntut yang berisik, penampilan Arumi hari ini sama sekali tidak mencerminkan kemiskinan. Berkat uang warisan yang melimpah, Arumi sengaja memuliakan hari sidangnya dengan penampilan yang luar biasa memukau. Ia mengenakan setelan blazer formal berwarna putih tulang yang sangat elegan, bergaya Chic mirip dengan penampilan para pengusaha wanita mandiri di dalam drama Korea kelas atas. Bahan pakaiannya yang halus memancarkan kesan mahal, rambutnya ditata dengan sanggul modern yang rapi, dan wajahnya dipulas riasan tipis yang membuatnya tampak begitu berwibawa, tegas, namun tetap sangat anggun.
Begitu motor buntut itu berhenti di area parkir motor, Revan, mamanya, dan Rika yang sedang berdiri di selasar lobi langsung berjalan menghampiri dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan, tidak ingin membuang kesempatan untuk kembali mengintimidasi batin Arumi di depan umum.
"Ya ampun, Arumi! Ibu kira kamu datang pakai kendaraan apa, ternyata masih setia menumpang motor buntut tua bangka yang jalannya saja sudah gemetaran seperti itu! Hahaha!" ejek Mama Revan dengan suara lantang, sengaja menarik perhatian beberapa pasang mata orang di sekitar lobi. Wanita tua itu melirik blazer putih yang dikenakan Arumi dengan tatapan sinis. "Sok bergaya pakai baju bagus hasil pinjaman atau hasil utang dari mana lagi itu, Rum? Mau menutupi fakta kalau rumah gubukmu baru saja rata dengan tanah karena disita bank, ya?!"
Rika ikut melangkah maju, melipat tangan di dada sembari memandang rendah ke arah Bu RT dan Bu Ida yang baru saja turun dari motor. "Ih, rombongan gembel gang sempit kok kompak sekali ya datang ke sini. Mau ikut menyaksikan tontonan bagaimana melaratnya nasib si Arumi setelah resmi menjanda dari Mas Revan yang kaya ini, ya? Kasihan sekali, datang berboncengan tiga seperti orang mau ke pasar kaget!"
Revan melangkah maju satu bab, berdiri tepat di depan Arumi yang baru saja merapikan blazernya yang sedikit tertiup angin. Revan menatap wajah cantik mantan istrinya itu dengan sorot mata penuh kemenangan yang mutlak.
"Arumi, Arumi... hari ini adalah sidang putusan. Hakim pasti akan meresmikan perceraian kita. Dan saya mau tegaskan kepada kamu di sini... jangan pernah bermimpi untuk meminta uang nafkah mut'ah atau nafkah anak sepeser pun dari saya setelah ini! Rumah gubukmu sudah hancur lebur disita utang, dan sekarang kamu datang ke sini luntang-lantung menumpang motor butut tetangga. Kamu sudah tidak punya apa-apa lagi, Arumi. Kamu sudah miskin total! Bersujudlah sekarang di depan kaki mama saya, minta maaf, mungkin saya masih berbaik hati memberikanmu uang beberapa lembar ratusan ribu agar anak-anak kita bisa makan besok!" cecar Revan dengan keangkuhan yang tiada tara.
Mendengar segala bentuk makian, intimidasi, dan ejekan yang bertubi-tubi dari keluarga mantan suaminya itu, Arumi tidak menunjukkan riak emosi sedikit pun. Kilatan amarah sama sekali tidak terbit di pelupuk matanya. Sebaliknya, Arumi justru menatap Revan, mamanya, dan Rika dengan tatapan mata yang sangat tenang, dingin, datar, seolah-olah ia sedang melihat tiga ekor serangga kecil yang sedang berdansa di atas tanah.
Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida yang berdiri di sekeliling Arumi juga tetap konsisten menjaga akting mereka. Mereka saling melemparkan isyarat mata yang penuh dengan kecerdikan, tetap mengunci bibir mereka rapat-rapat tanpa mengeluarkan satu patah kata pun untuk meladeni kegilaan keluarga Revan.
Mereka tahu betul, diam adalah emas terbaik saat ini. Biarkan saja keluarga sombong itu menikmati puncak komedi dari kesalahpahaman mereka hari ini, karena sebentar lagi, di dalam ruang sidang, takdir akan memberikan sebuah tamparan beton yang akan menjatuhkan seluruh harga diri keluarga Revan hingga ke dasar selokan yang paling dalam.
Arumi hanya tersenyum sangat tipis, sebuah senyuman elegan yang sarat akan makna ejekan balik yang mematikan. Ia merapikan kembali tas tangan kecilnya, lalu menatap lurus ke dalam bola mata Revan.
"Prasetyo Revan yang terhormat... simpan saja semua kata-kata besarmu itu untuk kamu perlihatkan di hadapan majelis hakim nanti," ucap Arumi dengan nada suara yang sangat tenang, bersih, dan berwibawa, tanpa ada sedikit pun getaran ketakutan. "Mari kita masuk ke dalam. Saya sudah tidak sabar untuk mendengarkan ketukan palu hakim yang akan membebaskan hidup saya sepenuhnya dari nama besarmu yang kikir itu."
Setelah mengucapkan kalimat yang tenang namun menusuk itu, Arumi membalikkan badannya dengan anggun. Didampingi oleh Pak RT, Bu RT, dan Bu Ida yang berjalan tegap mengawalnya bak pengawal pribadi seorang ratu, Arumi melangkah memasuki lorong ruang sidang utama Pengadilan Agama. Mereka meninggalkan Revan dan keluarganya yang sesaat terpaku jengkel di selasar, merasa heran mengapa wanita dasteran yang rumahnya baru saja rata dengan tanah itu bisa memiliki wibawa dan ketenangan sehebat itu di hari kehancurannya. Keluarga Revan tidak pernah tahu, bahwa kepuasan palsu yang mereka rasakan hari ini adalah awal dari mimpi buruk paling mengerikan yang akan meremukkan jantung mereka dalam hitungan menit ke depan.
kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏