Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 - Langkah Pertama Sang Murid!
Kamar kos petak milik Surya terasa sangat pengap malam itu. Detak jam dinding plastik murahan berbunyi konstan, membuat Elang Dirgantara sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Di atas kasur kapuk tipis yang mulai terasa akrab di hidungnya, Elang terus berguling ke kanan dan ke kiri, menatap langit-langit tripleks dengan pikiran yang kalut. Tubuhnya luar biasa letih setelah seharian bekerja di balik gerobak angkringan, tetapi otaknya menolak beristirahat.
Ucapan Citra beberapa jam lalu terus terngiang-ngiang di kepalanya, memukul telak harga dirinya. Selama dua puluh tahun ini, dia sadar dirinya hanyalah orang manja yang berlindung di balik nama besar kakeknya. Begitu fasilitas itu dicabut, dia tidak lebih dari seorang pecundang. Ia bahkan tidak bisa membela diri saat dihajar oleh Wijaya Samudra di kampus, dan malam ini, seorang gadis harus kembali pasang badan untuk melindunginya. Rasa ridak berguna itu berubah menjadi amarah yang membakar sisa-sisa kemanjaannya. Ia menolak terus-terusan menjadi beban.
Dengan tekad bulat, Elang bangkit dari tempat tidur. Ia melangkah keluar dari kamar kos, menembus udara malam yang dingin menuju sebuah taman terbengkalai di bagian belakang kompleks kos-kosan.
Di sana, di bawah cahaya temaram tiang lampu yang berkarat, Citra Kencana sedang duduk bersila di atas bangku semen panjang. Punggungnya tegak lurus, matanya terpejam, mengatur napas dengan sangat tenang.
Elang berhenti tepat tiga langkah di hadapan Citra. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, menarik napas dalam-dalam, lalu menundukkan kepalanya, sebuah gestur menurunkan ego yang belum pernah ia lakukan kepada siapa pun seumur hidupnya.
"Citra..." suara Elang terdengar berat dan serak, namun terdengar bersungguh-sungguh. "Gue mohon... ajari gue cara bertarung. Ajari gue bela diri. Gue gak mau lagi jadi pecundang yang cuma bisa berlindung di balik punggung orang lain."
Kelopak mata Citra terbuka perlahan. Sorot mata bulatnya yang tajam menatap lurus ke dalam mata Elang, menguji mental pemuda itu selama beberapa detik yang menegangkan. Citra bisa merasakan ada perubahan sikap pada diri Elang; keangkuhannya telah runtuh, menyisakan mental polos yang siap dibentuk dari nol.
"Latihan sama gue nggak akan instan dan nggak akan mudah, Elang," ucap Citra, suaranya jernih namun terdengar dingin dan tegas.
"Kalau lo mengeluh sekali saja, gue akan suruh lo balik ke kamar dan silakan jadi pengecut lagi. Buka kaki lo selebar bahu. Sekarang."
Latihan dasar langsung dimulai detik itu juga tanpa ampun. Citra menyuruh Elang menurunkan poros tubuhnya, menekuk kedua lutut hingga membentuk posisi kuda-kuda rendah yang kokoh, dasar paling penting untuk mengunci keseimbangan. Kedua tangan Elang dipaksa lurus ke depan, mengepal kosong di udara.
Dalam hitungan menit, penderitaan fisik langsung menghantam tubuh Elang yang tidak terbiasa bekerja keras. Otot-otot pahanya mendadak terasa panas terbakar dan bergetar hebat. Keringat dingin mulai mengucur deras dari dahi, membasahi kaos oblong pudarnya hingga melekat ketat di kulit. Rasa sakit yang menusuk menjalar dari pinggang hingga ke pergelangan kaki, membuat pandangannya sempat berkunang-kunang.
Setiap kali tubuh Elang mulai goyah dan naik karena tak kuat menahan beban, Citra yang berdiri di sampingnya akan mengayunkan sebatang ranting pohon kecil.
Plak!
Ketukan ranting itu mendarat tepat di otot betis Elang. Tidak terlalu keras untuk melukai, namun cukup memberikan rasa sakit yang memaksa otot Elang kembali mengunci posisi kuda-kudanya.
"Poros tubuh lo terlalu tinggi! Kunci perut lo, atur napas sampai ke kaki, jangan loyo!" bentak Citra dingin tanpa rasa iba sedikit pun.
Di sudut taman yang agak gelap, Surya duduk bersandar di bawah pohon mangga sambil mengunyah sisa sate usus dingin dari wadah plastik. Pemuda itu menonton pemandangan tidak biasa tersebut dengan cengiran lebar, lalu melontarkan komentar blak-blakan yang memecah keheningan malam.
"Loh, Sam! Kaki lo kok kayak jeli gitu, mleyot-mleyot!" seru Surya terkekeh pelan, menunjuk kaki Elang pakai tusuk sate kosong.
"Jangan bikin malu cowok dong! Masa ditahan cewek segitu aja udah mau pingsan. Semangat, Lang! Katanya mau jadi kesatria!"
Elang tidak punya sisa energi untuk membalas omelan Surya. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat sampai giginya berkerit. Matanya memerah menahan perih keringat yang merembes masuk. Dalam hatinya, ia bersumpah tidak akan jatuh. Ia akan menahan rasa sakit ini demi membuktikan bahwa dirinya siap untuk bangkit.
Pada saat yang sama, beberapa puluh meter dari taman tersebut, suasana cemas justru sedang menyelimuti kamar kos petak milik Kirana. Cahaya lampu neon putih menerangi ruangan yang tertata rapi, namun sang pemilik kamar sama sekali tidak tenang.
Kirana berjalan mondar-mandir di atas lantai keramik dengan langkah gelisah. Kedua tangannya bertautan erat di depan dada. Sepasang matanya berulang kali melirik ke arah jam dinding yang telah melewati pukul satu dini hari. Ia sama sekali tidak bisa memejamkan mata karena dihantui firasat buruk sejak beberapa jam lalu.
Sebagai satu-satunya orang di kampus yang tahu tentang sisi misterius di dalam diri Citra, Kirana paham betul jika Citra sudah mulai memperlihatkan ekspresi waspada saat menutup angkringan tadi, artinya ada bahaya nyata yang sedang mendekat.
Kirana melangkah ke jendela nako kamarnya, membuka lipatan kacanya sedikit untuk membiarkan angin malam masuk. Dari ketinggian kamarnya, ia bisa melihat siluet tubuh Elang yang sedang bergetar hebat di bawah tiang lampu taman, terus berusaha mengikuti instruksi keras dari Citra.
"Lo... cepetan kuat dong, Lang," bisik Kirana lirih penuh harap, tanpa sadar meniru logat Surya karena saking paniknya.
Ia mencengkeram kusen jendela dengan jemari yang mendingin, berharap pemuda di bawah sana bisa berubah menjadi kuat dalam waktu singkat, sebelum orang-orang licik seperti Wijaya Samudra melangkah lebih jauh.
Sementara itu, suasana di luar kompleks kos-kosan justru menyajikan kesunyian yang mencekam.
Di mulut gang gelap yang berjarak lima puluh meter dari lokasi Angkringan Tenda Surya yang telah tutup, sebuah minibus hitam terparkir di bawah bayangan pohon beringin liar. Pengemudinya sengaja mematikan seluruh lampu utama dan mesin kendaraan, membiarkan kabin mobil berada dalam kegelapan total.
Di dalam kabin, tiga orang pria bertubuh kekar mengenakan jaket kulit hitam sedang duduk bersiap. Mereka adalah kelompok preman, kaki tangan yang diutus langsung oleh Rania Puspa Dewi dengan bayaran besar untuk beraksi malam ini. Pria yang duduk di kursi penumpang depan memegang selembar foto wajah Elang dan peta lokasi angkringan di bawah sorotan layar ponselnya yang redup.
"Gerobaknya diikat rantai di tepi trotoar jalan utama," ujar pria di tengah dengan suara serak yang dingin.
"Kondisi gang sepi, ronda malam baru saja lewat sepuluh menit lalu. Ini waktu terbaik buat bergerak."
Pria di sebelahnya menyunggingkan seringai mengerikan, memamerkan deretan giginya yang hitam akibat asap rokok.
"Sesuai perintah Bos Rania... gerobak itu harus rata dengan tanah. Bakar sampai nggak tersisa. Dan kalau anak manja bernama Elang itu keluar mencoba menghalangi... patahkan kakinya sekalian biar dia cacat seumur hidup."
Dengan gerakan lambat dan terencana, para preman tersebut mulai membuka pintu geser minibus tanpa menimbulkan suara derit. Dari dalam bagasi belakang, mereka mengeluarkan dua buah jeriken plastik berisi bensin, sebilah celurit panjang, dan beberapa pipa besi yang berkilat tajam dalam kegelapan. Mereka turun satu demi satu, menyusup di antara bayang-bayang dinding ruko kosong, bergerak lurus menuju lokasi gerobak angkringan.
Kembali ke lokasi taman tempat latihan berlangsung.
Brak!
Elang akhirnya kehilangan seluruh daya tahan ototnya. Kedua lututnya lemas seketika, membuatnya jatuh terduduk di atas rumput taman yang basah oleh embun. Napasnya memburu megap-megap. Seluruh tubuhnya dari pinggang ke bawah terasa mati rasa dan berdenyut sakit.
Ia mengangkat wajahnya yang dipenuhi peluh kotor, bersiap untuk melontarkan keluhan atau protes atas kerasnya latihan malam itu kepada Citra.
Namun, sebelum satu kata pun sempat meluncur dari bibir Elang, gerakan tubuh Citra mendadak berubah cepat.
Citra melangkah maju dengan gesit, lalu menaruh jari telunjuk kanannya tepat di depan bibir Elang. Di saat yang sama, tangan kirinya bergerak mencengkeram pundak Surya di sudut pohon, memaksa kedua pemuda itu untuk diam total dan menghentikan gerakan mereka seketika.
Sepasang mata bulat milik Citra berkilat tajam di kegelapan taman.
Pendengarannya yang tajam menangkap suara gesekan sepatu bot yang mencurigakan di ujung gang, disusul oleh embusan angin malam yang mendadak membawa aroma uap bensin yang samar namun tajam. Bahaya telah tiba tepat di depan pintu mereka.