Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Kutemani kau bermain
Ruangan mendadak berubah sunyi. Gurat kekesalan di wajah Rendra semakin terlihat jelas usai satu kalimat itu keluar dari mulut Thalia.
"Ulangi!"
Rendra melangkah maju. Netranya mengunci wajah Thalia, mencoba membaca ekspresi istrinya. Namun yang ia lihat bukan lagi sosok Thalia yang ia kenal. Thalia di depannya saat ini bukan lagi wanita penurut yang akan menunduk ketika ia marah. Dan itu melukai egonya.
"Kamu sudah mendengarnya," ucap Thalia datar.
Rendra melangkah maju, mengikis jarak yang ada di antara mereka.
"Jadi, ini masih tentang pesan Clara yang kamu baca?" tanya Rendra.
"Kamu sudah menggunakan namaku tanpa izin, Ren," ucap Thalia.
"Hanya karena itu..." Rendra berhenti melangkah saat ia sudah berdiri tepat di depan Thalia. "Kamu mengucapkan kata cerai semudah itu? Kamu menganggap pernikahan kita ini apa?"
"Kamu pikir, kamu bisa apa tanpa aku? Kamu baru sekali bertemu Miranda dan sudah bertingkah seolah kamu bisa hidup tanpaku. Semua biaya hidupmu selama ini, aku yang memberikannya, kamu lupa?"
Thalia terdiam. Berusaha menahan diri untuk tidak menyebut perselingkuhan yang sudah Rendra lakukan. Ia belum ingin Rendra tahu bahwa dirinya sudah memiliki bukti perselingkuhan Rendra. Ia membutuhkan bukti lebih banyak.
Hembusan napas panjang Rendra terdengar, satu tangannya terangkat untuk ia letakkan di puncak kepala istrinya, lalu mengusapnya pelan.
"Jangan katakan kalimat itu lagi. Itu tidak pantas. Aku minta maaf sudah memasukkan namamu dalam proyek yang aku kerjakan, tapi itu belum resmi." tutur Rendra seraya menyentuh pipi istrinya.
Thalia mengerjap pelan, netranya menatap wajah suaminya dengan rasa tak percaya. Kata maaf yang Rendra ucapkan membuat Thalia berpikir: apakah indra pendengarannya sudah rusak?
"Jika kamu memang sangat ingin bekerja seperti dulu, baiklah. Aku tidak akan melarang lagi, tapi jangan katakan kalimat seperti tadi lagi," pinta Rendra dengan nada lembut.
"Kamu... serius?" tanya Thalia masih dengan rasa tidak percaya.
Rendra mengangguk, tatapannya melembut. "Kamu bisa bekerja di Dirgantara Group-"
"Ren!" potong Thalia kembali kesal.
"Dengarkan aku dulu." ucap Rendra cepat. Kedua tangannya mencengkram lembut bahu istrinya.
"Kamu bisa berada di posisi di atas staf biasa karena Pak Arkana tahu kamu memiliki riwayat konsultan bisnis. Dengan kamu bekerja di sana, kamu bisa membuat jaringanmu sendiri. Jika suatu saat kamu membuka kantor sendiri, kamu bisa memanfaatkan posisi yang sudah ada di tanganmu."
"Tapi kenapa di kantor tempatmu bekerja?" tanya Thalia keberatan. Tetapi di dalam hatinya, ia sudah menduga kata itu akan keluar dari mulut Rendra.
Rendra tersenyum. "Bukankah itu lebih baik? Aku bisa membantumu menyesuaikan diri."
"Kamu yakin ingin aku bekerja di tempat yang sama denganmu?" tanya Thalia.
"Kenapa tidak?" sahut Rendra kembali menyentuh pipi istrinya.
"Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Thalia menyelidik.
Rendra menghembuskan napas pelan, lalu menurunkan tangannya. "Aku salah. Selama beberapa minggu terakhir aku terlalu keras padamu, mengabaikan perasaanmu, dan melihatmu berubah membuat hatiku sakit. Jadi..." ia meraih kedua tangan sang istri. "Aku ingin memperbaikinya. Aku akan mendukungmu asalkan kamu bekerja di Dirgantara Group."
"Kamu..." Rendra kembali bersuara setelah beberapa saat Thalia hanya diam. "Mau kan?"
Thalia menatap lekat mata suaminya lama. "Aku pertimbangkan."
Senyum di bibir Rendra merekah, lalu menarik tubuh istrinya ke dalam dekapannya. "Terima kasih, Sayang."
"Bukan berarti aku akan kembali ke kamar malam ini." ucap Thalia mendorong dada suaminya.
"Tidak apa-apa. Kamu bisa kembali ke kamar setelah merasa lebih baik. Aku yang bersalah karena sudah membuatmu tidak nyaman di kamar kita."
Rendra kembali memeluk tubuh istrinya selama beberapa saat, lalu melepaskannya dan membiarkan sang istri masuk ke kamar tamu, sementara dirinya masuk ke kamar utama.
Rendra melemparkan jasnya di sofa, melonggarkan dasi di lehernya seraya berjalan menuju balkon, lalu mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.
"Bagaimana?"
Suara Clara seketika terdengar begitu panggilan itu tersambung.
Seringai tipis muncul di bibir Rendra. "Kau cerdik, Clara. Dia mengatakan akan mempertimbangkan masuk ke Dirgantara Group."
"Kubilang juga apa?" sahut Clara terkikik pelan. "Kamu hanya perlu melunak sedikit untuk membuat dia kembali seperti dulu. Beri dia sedikit ruang, lalu arahkan ke tempat yang kamu mau."
"Kalaupun dia memiliki kemampuan setelah bergabung di Dirgantara Group," Clara melanjutkan. "Kamu bisa menggunakan namanya untuk memperkuat posisimu."
Rendra membalikkan badan, menyandarkan punggungnya pada pembatas balkon. "Dan kalau dia melawan lagi?"
"Buat dia merasa bersalah. Katakan kamu sudah mendukungnya, tapi dia tidak tahu diri, dan kamu bisa memainkan peranmu sebagai suami yang terluka. Tapi untuk sekarang, bersikaplah seolah kamu sudah berubah, dan jangan menekannya."
Seringai di bibir Rendra melebar. "Kau benar. Dia terlalu mudah luluh hanya dengan sedikit perhatian saja."
.
Di saat yang sama, Thalia mengunci pintu kamar tamu yang ia tempati begitu ia sudah berada di dalam. Langkahnya pelan menuju ranjang, lalu duduk di tepi ranjang dan melakukan hal yang sama dengan yang Rendra lakukan.
Ia mengeluarkan ponsel, menggulirnya sebentar, lalu menggeser layar untuk menghubungi seseorang.
"Dia ingin aku masuk ke Dirgantara Group," ucap Thalia tanpa basa-basi begitu panggilannya terhubung dengan seseorang.
"Bagus," suara Arkana terdengar puas. "Terima saja. Biarkan dia merasa kendali yang dia miliki masih berada di tangannya."
"Itu rencanaku," sahut Thalia.
Tawa rendah Arkana terdengar. "Lihat? Kita sepemikiran. Kamu bisa bekerja di sini sementara."
Arkana menjeda sejenak sebelum kembali berbicara. "Kamu ingin membuka jasa konsultasi bukan? Kamu bisa memulainya dari kantorku. Buatlah citramu sendiri, bangun relasi dengan kemampuanmu, dan reputasi akan mengejarmu tanpa dipaksa."
Thalia terdiam untuk berpikir sejenak. "Tapi aku tidak-"
"Kau tidak ingin bekerja di bawah naunganku?" potong Arkana cepat. "Aku mengerti. Itulah mengapa aku menunjukkan jalannya, bukan memberimu posisi secara instan meski aku bisa melakukannya dalam waktu kurang dari setengah menit."
Hening sejenak.
"Bangun sendiri karirmu dan aku akan berada di belakangmu. Rendra tidak akan mudah menyentuhmu jika kamu membangun karirmu sendiri. Mulailah dari Nyonya Miranda sebagai klien awal, karena Nyonya Miranda memiliki bisnis yang tidak berhubungan dengan Dirgantara Group."
Thalia tertegun. Tanpa sadar tangannya menggenggam ponsel lebih erat. Ia tidak pernah menyangka jika Arkana akan membukakan jalan tanpa membuat dirinya terlihat rendah meski ia tahu, jalan yang sedang ia ambil justru menariknya lebih jauh ke dalam lingkaran yang tidak seharusnya ia masuki.
"Alia..."
Thalia mengerjap pelan, menurunkan ponselnya sebentar untuk melihat layar, dan kembali menempelkannya ke telinga setelah yakin itu masih nomor Arkana.
"Ya?"
"Datanglah ke kantorku besok jam sebelas. Ada sesuatu yang perlu kau lihat."
Thalia mengerutkan kening. "Apa itu?"
"Datang dan lihatlah sendiri," jawab Arkana dengan suara berbeda. "Bawa serta CV-mu untuk menghindari kecurigaan."
Panggilan terputus sebelum Thalia sempat bertanya lebih jauh. Ia menurunkan ponselnya, menatap layar yang perlahan berubah gelap, lalu mengalihkan pandangan ke balkon kamar.
Senyum samar perlahan terbentuk di bibir Thalia.
"Aku turuti keinginanmu Rendra. Kutemani kau bermain untuk sementara."
. . . .
. .. .
To be continued...