Aku pikir bertahan adalah bentuk paling tulus dari cinta.
Sampai aku sadar…
aku tidak sedang memperjuangkan hubungan,
aku hanya sedang menahan luka yang terus berulang.
Ini bukan cerita tentang kehilangan seseorang.
Ini cerita tentang
bagaimana aku perlahan kehilangan diriku sendiri
di hubungan yang tidak pernah benar-benar memilihku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23
Kadang, yang membuat kita ragu untuk melangkah lagi
bukan karena orang baru itu salah…
tapi karena kita belum sepenuhnya selesai
dengan diri kita sendiri.
Hari-hari setelah pertemuan di kafe itu berjalan seperti biasa.
Tidak ada hal besar yang berubah.
Nara kembali ke rutinitasnya—bangun pagi, bekerja, pulang, lalu menghabiskan waktu sendiri. Tapi entah kenapa, sesekali pikirannya kembali ke satu hal kecil yang terjadi beberapa hari lalu.
Tentang seseorang yang duduk di depannya,
tanpa sengaja, tanpa rencana.
Arga.
Bukan karena ia merasa tertarik.
Tapi karena perasaan yang ia rasakan saat itu… berbeda.
Ringan.
Tenang.
Tidak memaksa.
Dan itu yang justru membuatnya terus teringat.
Siang itu, saat jam istirahat, Dina tiba-tiba duduk di sampingnya.
“Lagi mikirin apa sih?” tanyanya santai.
Nara sedikit terkejut.
“Kenapa emang?”
“Soalnya dari tadi kamu diem aja. Tapi bukan diem biasa… kayak lagi mikir.”
Nara tertawa kecil, mencoba mengalihkan.
“Enggak kok, biasa aja.”
Dina mengangkat alis, tidak sepenuhnya percaya.
“Hmm… ada cerita, ya?”
Nara menggeleng.
Tapi dalam hatinya, ia tahu… memang ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
Bukan tentang masa lalu.
Tapi tentang kemungkinan baru.
Dan itu yang membuatnya sedikit tidak nyaman.
Sore harinya, saat pulang kerja, langkah Nara terasa sedikit lebih lambat dari biasanya.
Ia tidak langsung menuju rumah.
Tanpa sadar, kakinya justru mengarah ke tempat yang sama seperti beberapa hari lalu.
Kafe kecil itu.
Nara berhenti sejenak di depan pintu.
“Aku ngapain ke sini lagi?” gumamnya pelan.
Ia sendiri tidak punya jawaban.
Mungkin hanya ingin memastikan sesuatu.
Atau mungkin… hanya ingin merasakan kembali ketenangan yang sama.
Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya masuk.
Suasana di dalam tidak banyak berubah.
Tenang.
Hangat.
Seperti sebelumnya.
Nara memilih tempat duduk yang sama.
Dan untuk beberapa menit, semuanya terasa biasa saja.
Sampai suara yang familiar itu terdengar lagi.
“Kamu ke sini lagi?”
Nara menoleh.
Dan benar saja.
Arga berdiri tidak jauh darinya, dengan ekspresi sedikit terkejut tapi tersenyum.
Nara tidak bisa menahan senyum kecilnya.
“Iya… kebetulan.”
Arga tertawa pelan.
“Kayaknya bukan kebetulan.”
Nara menggeleng cepat.
“Beneran.”
Arga tidak membantah. Ia hanya duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya, tanpa perlu diminta.
Seolah tempat itu memang sudah menjadi kebiasaan baru bagi mereka.
“Kerja di sekitar sini?” tanya Arga.
“Iya, nggak jauh,” jawab Nara.
Percakapan kembali mengalir.
Masih sederhana.
Masih ringan.
Tapi kali ini, terasa sedikit lebih dekat.
Mereka mulai berbicara lebih banyak.
Tentang pekerjaan, tentang hal-hal kecil yang sering dianggap tidak penting.
Dan di tengah percakapan itu, Nara menyadari sesuatu.
Ia tidak lagi merasa canggung.
Tidak lagi menjaga jarak seperti biasanya.
Ia hanya… menjadi dirinya sendiri.
Tapi justru di situlah konflik kecil itu muncul.
Di dalam dirinya.
“Kenapa aku nyaman?” pikirnya.
Pertanyaan itu muncul tiba-tiba.
Dan membuatnya sedikit mundur, walaupun hanya dalam hati.
Karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia merasa nyaman dengan seseorang yang baru.
Dan itu… menakutkan.
Bukan karena Arga salah.
Tapi karena Nara takut
kalau semuanya akan berakhir sama seperti sebelumnya.
“Kalau boleh jujur,” kata Arga tiba-tiba.
Nara menatapnya.
“Apa?”
“Aku senang kamu datang lagi ke sini.”
Nara terdiam sejenak.
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa, terasa lebih dalam dari yang seharusnya.
“Iya?” jawabnya pelan.
Arga mengangguk.
“Jarang nemu orang yang enak diajak diam… tapi nggak canggung.”
Nara tersenyum kecil.
“Ternyata aku tipe yang begitu, ya?”
Arga ikut tersenyum.
“Mungkin.”
Hening sejenak.
Tapi kali ini, hening itu terasa hangat.
Namun di balik itu semua, Nara masih merasakan satu hal
keraguan.
Ia menikmati momen itu.
Tapi di saat yang sama, ia juga menahan diri.
Takut terlalu jauh.
Takut terlalu cepat.
Dan yang paling ia takuti
takut harus merasakan hal yang sama lagi.
Saat akhirnya waktu mulai sore, Nara berdiri.
“Aku harus pulang,” katanya.
Arga mengangguk.
“Iya. Hati-hati.”
Nara mengangguk balik, lalu melangkah keluar.
Di luar, langit mulai berubah warna.
Sore menuju malam.
Langkahnya pelan.
Pikirannya penuh.
Bukan tentang masa lalu.
Tapi tentang sesuatu yang baru saja mulai.
Dan untuk pertama kalinya,
Nara menyadari
melangkah maju
ternyata tidak selalu mudah.
Bahkan ketika itu adalah hal yang ia inginkan.