NovelToon NovelToon
BANGKIT DARI LUKA

BANGKIT DARI LUKA

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Amira 3 Tahun Jadi TKI, melunasi hutang keluarga suami
meninggalkan dua anaknya yang masih kecil
saat pulang di mendapatkan
arjuna anak sulungnya usia 7 tahun sedang di pukul oleh seorang wanita
wanita itu adalah istri muda suaminya
anak keduanya saat itu usia 1 tahun tidak ada di rumah
Hati Amira hancur namun dia harus tetap hidup
sebuah kisah kebangkitan wanita

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENJUAL IKAN

“Amira!” teriak Nanda.

Amira tentu saja terbangun oleh teriakan ibunya itu. Suara keras itu seolah menariknya paksa keluar dari mimpi indahnya.

“Ih, kenapa sih ganggu saja? Padahal baru saja mimpi bermain bola dengan Ronaldo,” gumamnya kesal sambil mengucek mata yang masih berat terbuka.

“Amira!” kembali terdengar suara Nanda, kali ini lebih mendesak.

Rasa kantuk Amira langsung menguap. Ia bangkit dengan cepat. Takut terjadi sesuatu pada ibunya, Amira segera turun ke bawah dengan langkah tergesa.

“Ada apa, Mah?” tanya Amira, napasnya masih tersengal.

“Itu, Amira, anco kita banyak ikannya, tapi ada ularnya.” Nanda mengarahkan pandangannya ke arah anco di pinggir air.

Amira pun mengikuti arah pandang itu. Ia memicingkan mata, lalu membelalak. Benar saja, anco mereka dipenuhi ikan lele dan sepat yang bergerak-gerak, tetapi di antara itu tampak tubuh panjang seekor ular yang meliuk pelan.

“Ya sudah, lepaskan saja, Mah. Bahaya, itu ada ularnya,” ucap Amira cepat. Ia mundur selangkah, merasa ngeri. Baginya, tidak sebanding mempertaruhkan keselamatan hanya demi beberapa ekor ikan.

“Amira, itu hanya ular sawah, tidak berbahaya. Coba kamu singkirkan saja, Ibu ngeri.”

“Ih, aku enggak berani,” jawab Amira spontan sambil menggeleng keras.

“Ya, gimana dong?” Nanda terdengar kesal, namun tetap tidak berani mendekat.

“Ada apa sih, Nek? Berisik sekali,” suara Dewi tiba-tiba muncul dari belakang. Ia berdiri dengan wajah setengah mengantuk, tetapi sorot matanya langsung tajam saat melihat ke arah anco.

“Dewi, lihat itu ada ular. Ular sawah, Dewi. Ambil dan buang,” ucap Nanda penuh harap.

“Mamah, jangan begitu. Nanti bagaimana kalau ularnya mematuk? Dewi bisa celaka,” bela Amira cepat, refleks melindungi.

“Hanya ular sawah, Amira. Kalau aku enggak geli, sudah aku buang,” kata Nanda, sedikit menggerutu.

“Itu bukan ular sawah, itu ular sanca, Nek.”

Ucapan Dewi membuat suasana langsung berubah. Amira menelan ludah. Ia kembali menatap lebih saksama. Pola kulit dan bentuk tubuhnya memang berbeda.

Amira kaget. Ia kembali memperhatikan ular itu. Setelah diteliti, ternyata benar ular sanca, meski ukurannya masih kecil.

“Angkat, Nek!” tiba-tiba Dewi memberi perintah dengan nada tegas.

Belum sempat Amira mencegah, Nanda sudah refleks mengangkat bambu penyangga anco. Air bergoyang, ikan-ikan berloncatan panik. Dalam sekejap, Dewi melangkah maju tanpa ragu. Tangannya langsung menangkap bagian leher ular sanca itu dengan cekatan.

Dewi menatap ular itu lekat-lekat, seolah sedang berhadapan dengan makhluk yang ia pahami sepenuhnya. “Hei, anak manis. Kamu akan aku beri makan kodok dan tikus yang banyak, asal kamu nurut padaku.”

Ular itu meliuk-liuk memberontak, tubuhnya berusaha melilit, tetapi tangan Dewi mencengkeram kuat, tidak memberi celah.

“Aku cekik sampai mati kalau tidak nurut.”

Perlahan, gerakan ular itu melemah. Ketegangannya mengendur.

Akhirnya ular itu berhenti melawan.

“Bagus, anak yang baik. Sekarang kamu temanku.”

Dengan enteng, Dewi melingkarkan ular itu di lehernya seperti selendang hidup. Amira langsung bergidik ngeri melihat pemandangan itu.

“Hati-hati, Dewi,” ucapnya pelan, masih tidak tenang.

Dewi tidak menjawab. Ia justru tampak menikmati, tangannya mengelus kepala ular itu dengan lembut, kontras dengan sikapnya tadi yang tegas.

“Mah, bagaimana kalau nanti ular itu membahayakan Dewi?” tanya Amira lagi, suaranya penuh kekhawatiran.

“Tenang saja. Dewi hanya takut sama Mak Lampir,” jawab Nanda santai, seolah itu cukup menjelaskan segalanya.

“Sudahlah, sekarang kamu cari plastik. Ikan itu harus dimasukkan ke dalam plastik.”

Amira menghela napas panjang. Ia masih melirik ke arah Dewi dengan rasa waswas sebelum akhirnya beranjak mencari plastik bekas. Setelah menemukannya, ia menyerahkannya kepada Nanda.

Dengan perlahan, Nanda memasukkan satu per satu ikan dari anco: ikan gabus, lele, sepat, dan beberapa jenis lain yang bentuknya asing. Sisik dan lendir ikan membuat tangannya licin, tetapi ia tetap telaten.

“Ya, masih sedikit, Mah. Paling tiga kilo. Kalau dijual, paling laku lima puluh ribu,” ucap Amira dengan nada menyesal sambil memperkirakan.

“Memang sedikit, Amira. Tapi mau bagaimana lagi? Kita harus menjualnya. Nanti siang kita buat bubu sederhana,” jawab Nanda, tetap berusaha berpikir ke depan.

Amira terdiam. Di dalam hati, ia merasa ironis. Hidup di zaman modern, tetapi harus bertahan dengan cara tradisional seperti ini.

“Ya sudahlah, Mah. Kita jalani saja pelan-pelan.”

Saat sedang memperhatikan ikan-ikan itu, pandangan Amira tiba-tiba tertuju pada satu ikan yang bentuknya berbeda.

“Mah, tahu enggak itu ikan apa?” tanyanya sambil menunjuk.

“Kayaknya ikan gabus,” tebak Nanda ragu.

“Itu bukan ikan gabus, Nek,” ujar Dewi tanpa menoleh.

Mereka langsung menoleh ke arah Dewi. Gadis kecil itu dengan santai sedang menyuapi ular di lehernya dengan seekor kodok hidup. Amira kembali bergidik ngeri melihatnya.

“Kalau bukan gabus, itu ikan apa?” tanya Nanda.

“Itu namanya ikan channa, Nek,” jawab Dewi datar.

“Mah, benar! Itu ikan channa!” seru Amira antusias, matanya berbinar.

“Dari mana kamu tahu?” tanya Nanda heran.

“Nenek, aku sering di toko ikan hias. Tentu saja tahu.”

“Kalau ikan hias, paling laku sepuluh ribu,” kata Nanda meremehkan.

“Enggak mungkin, Mah. Ini bisa sampai lima ratus ribu,” bantah Amira dengan yakin.

“Mana ada yang beli semahal itu?”

“Tenang saja, aku punya cara.”

“Sekarang kita harus siap-siap jual ikan ini,” lanjut Amira, mulai bersemangat.

“Dewi, kamu harus lepaskan ular itu,” kata Amira sambil menatap adiknya.

“Ih, enggak mau. Dia temanku. Aku janji enggak akan banyak makan asal si Anjani ini bersamaku,” jawab Dewi sambil mengelus ular itu.

“Tapi itu bahaya, Sayang.”

“Baiklah, tapi aku mau semua ikan itu dibakar. Aku lapar,” kata Dewi dengan raut kecewa.

“Bawa saja Anjani itu, asal kamu bisa menjaganya,” ujar Nanda akhirnya. Ia tahu sifat Dewi keras kepala, dan melarang hanya akan memperpanjang masalah.

Amira sempat ingin membujuk lagi, tetapi Nanda memberi kode halus agar ia diam. Akhirnya Amira mengalah.

Karena memiliki “teman baru”, Dewi jadi lebih menurut. Bahkan saat Amira mengatakan mereka harus menunda sarapan sampai ikan terjual, Dewi hanya mengangguk, meski wajahnya masih cemberut.

Mereka pun bersiap. Hidup di kolong jembatan membuat mereka terbiasa dengan kesederhanaan. Barang-barang dirapikan seadanya. Arjuna juga sudah bangun. Awalnya ia mundur ketakutan saat melihat ular di leher Dewi, tetapi perlahan ia mengumpulkan keberanian. Dengan ragu, ia bahkan mencoba menyentuh tubuh ular itu.

Amira memisahkan ikan channa ke dalam galon bekas agar tidak tercampur. Setelah semuanya siap, mereka mulai berjalan menuju pasar yang berjarak sekitar dua kilometer.

Sepanjang perjalanan, Dewi menjadi pusat perhatian. Orang-orang berhenti, menunjuk, bahkan mengeluarkan ponsel untuk merekam.

“Dek, foto dong sama ularnya,” kata seorang remaja dengan antusias.

“Aku capek. Kalau mau foto, bayar lima ribu,” jawab Dewi tanpa ragu.

“Lho, tadi gratis!”

“Kalau bayar, ular ini bisa menjulurkan lidahnya,” kata Nanda cepat, melihat peluang.

Dewi mengelus kepala ular itu, dan benar saja ular menjulurkan lidahnya.

“Baik, aku bayar!”

Satu per satu orang datang. Tanpa terasa, perjalanan yang seharusnya tiga puluh menit berubah menjadi lebih dari satu jam. Dewi berhasil mengumpulkan tiga puluh ribu dari hasil foto.

“Kamu anak pintar,” puji Nanda bangga.

Namun, saat akhirnya mereka tiba di pasar dan menjual ikan, kenyataan tidak sesuai harapan. Ikan-ikan itu hanya laku tiga puluh ribu.

“Apes sekali,” ucap Amira pelan, rasa lelah dan kecewa bercampur jadi satu.

“Syukuri saja, Amira. Ini rezeki kita hari ini,” jawab Nanda tenang, mencoba menguatkan.

1
nunik rahyuni
karena rukonya sarsng preman mabuk mabukan...iya tak mira🤔🤔🤔
nunik rahyuni
g ada takut takut dewi ni ...hebat...hasil didikan nenek nanda g menye menye...
ayo semangat demi masa depan yg cerah..secerah duit merah merah di dompet dan bawah kasur🤣🤣🤣🤣
nunik rahyuni
kok adik thor bukanya ansk2 nya 🤔
nunik rahyuni
iya nek berapa pun yg di dapat harus di syukuri
nunik rahyuni
banyak banyak up thor.....semangat sehat selalu thor 💪💪
nunik rahyuni
kulihan apa hayo....iwak kah emas lah🤔🤔🤔 pina nyaring kuciak🤣🤣
sunaryati jarum
Dapat harta Karun
sunaryati jarum
Semangat Amira , sekarang kalian sudah bersatu menjadi kuat.Wah Dewi mau mengurangi porsi makannya dengan kemauan sendiri,semoga Juna tumbuh jadi pemuda kuat dan gagah sedangkan Dewi jadi gadis cantik.Keduanya jadi manusia bermartabat.
sunaryati jarum
Lanjut dan Semangat semoga Bu Nanda bisa menolong orang yg akan dibegal dengan balok kayu yang dibawanya, kemudian saling tolong agar Nanda dan Amira bangkit jadi orang sukses lalu bisa membalas perbuatan mantan suami dan keluarganya
Anonim
Lanjut thor seru ,up nya jangan dikit dikit thor
nunik rahyuni
mangga di lanjutken thor triple up 🤣🤣✌️✌️✌️
nunik rahyuni
g sopan manggil ibu kok langsung nama nya
nunik rahyuni
bener itu...merusak pemandangan...penebar janji palsu
ambil j nek buat alas tidur🤣🤣
Anonim
Lanjut thor buat amira ibu nya dan anak anak nya bangkit dan bisa balas dendam thor
nunik rahyuni
g da habis habis nya ujian dan penderitaan..
Anonim
Lanjut thor up nya banyakan dong
nunik rahyuni
tegang thor..tahan nafas ikit memburu cari udara
huuuuh...akhirnya
mudah mudahan mereka lekas bangkit..menyusun masa depan dg kuat dan tegar
nunik rahyuni
judulnya bangkit dr luka..tp klo menye menye kya itu masih lama lg bangkitnya
yg ada di tindas terus
nunik rahyuni
ujian datang lagi...
semangat thor banyak banyak up tiap hari
💪💪💪💪
nunik rahyuni
aq setuju sama nanda...mira terlalu bodoh..polos atau picik atau pengecut sdh merasakan di hiba direndahkan dihianati sama lakinya masih ssja bodoh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!