NovelToon NovelToon
Operasi Sandi Kala

Operasi Sandi Kala

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Tentara / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Di pedalaman hutan belantara, sebuah kuil kuno yang lama terkubur ternyata menyimpan rahasia mematikan incaran sindikat teroris internasional. Kolonel Rayyan Aksara, Komandan elit Black Ops yang dingin, kaku, dan tak kenal kompromi, ditugaskan memimpin misi infiltrasi untuk menetralkan ancaman tersebut. Baginya, misi ini hanyalah tugas mematikan biasa—sampai pihak intelijen memaksanya membawa seorang “beban”. Dr. Lyra Andini adalah arkeolog jenius bertubuh mungil yang kemampuannya memecahkan sandi kuno hanya bisa ditandingi oleh kecerobohannya. Lyra lebih sering menjatuhkan barang, tersandung kakinya sendiri, dan membuat kacamata tebalnya melorot daripada berdiri tegak. Kehadirannya menguji batas kesabaran Rayyan hingga ke titik maksimal. Namun, di dalam labirin kuil yang dipenuhi jebakan mematikan dan desingan peluru musuh, kecerdasan Lyra menjadi satu-satunya kunci keselamatan mereka. Rayyan segera menyadari bahwa melindungi Lyra dari peluru musuh adalah satu hal, tetapi melindungi hatinya sendiri dari pesona kekacauan gadis itu adalah misi yang jauh lebih berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Frekuensi Resonansi & Sangkar Faraday

[Satu Minggu Kemudian]

Laboratorium Isolasi Tingkat 4, Markas Besar BIN, Jakarta - Pukul 23.45 WIB.

Laboratorium bawah tanah itu lebih terlihat seperti fasilitas peluncuran satelit antariksa daripada ruang kerja seorang arkeolog. Dindingnya dilapisi baja putih steril, udaranya disaring ketat melalui sistem HEPA, dan pencahayaannya menggunakan LED putih yang tidak menyisakan satu pun bayangan gelap.

Di tengah ruangan, berdiri sebuah tabung kaca silinder setinggi dada. Kaca tersebut bukan sembarang kaca, melainkan kaca balistik berlapis jaring emas murni—Sebuah Faraday Cage (Sangkar Faraday) raksasa yang dirancang khusus untuk mengurung gelombang elektromagnetik buas.

Di dalam tabung hampa udara itu, sang kristal purba dari Dataran Tinggi Dieng melayang angkuh. Pendaran biru Cyan-nya berdenyut pelan, menerangi wajah Dr. Lyra Andini yang berdiri menempel pada kaca pelindung.

Lyra menghela napas panjang, mengusap matanya yang lelah di balik kacamatanya. Kantung matanya menghitam. Sudah tiga belas jam ia mengurung diri di lab ini. Kemeja putih labnya sedikit kusut, dan rambutnya kembali dijepit asal-asalan menggunakan sebatang pena stylus.

Di layar monitor raksasa di samping tabung, deretan angka dan grafik spektrum terus berjalan tanpa henti.

“Kau bukan sumber tenaga,” gumam Lyra dengan suara serak, mencatat di sabak digitalnya. “Radiasimu nol. Massamu bergeser setiap kali ada perubahan frekuensi suara di dalam ruangan. Kau merespons… kau mendengarkan.”

Lyra mengetuk layar komputernya, memutar sebuah rekaman audio pita kaset tua berisi pelantunan mantra berbahasa Kawi Kuno yang ditemukan dari situ abad ke-8. Suara serak sang pendeta mengalun memenuhi laboratorium melalui pelantang suara.

Seketika, urat-urat biru di permukaan kristal metalik itu menyala lebih terang. Benda itu berputar lebih cepat pada porosnya, dan grafik gelombang elektromagnetik di layar monitor Lyra melonjak liar membentuk pola fraktal yang sangat simetris.

“Astaga…” Lyra terkesiap, senyum kemenangan merekah di bibirnya yang pucat. “Pola ini… ini bukan acak. Ini adalah kode biner arsitektur kuno. Kau bukan baterai. Kau adalah sebuah diska penyimpanan data (flash drive) purba berukuran masif!”

SWUUSH!

Suara desisan pintu berlapis hidrolik di belakang Lyra tiba-tiba memecah konsentrasinya.

Lyra menoleh dengan cepat. Pintu kedap udara itu terbuka, menampakkan sosok Kolonel Rayyan Aksara.

Rayyan melangkah masuk. Pria itu tidak sedang bertugas. Ia mengenakan kaus henley lengan panjang berwarna abu-abu gelap yang melekat ketat di otot dada dan lengannya, dipadukan dengan celana kargo hitam santai. Rambut gelapnya yang biasanya disisir rapi dengan gel militer kini sedikit berantakan, jatuh menyentuh keningnya, membuatnya terlihat lebih muda namun sama berbahayanya. Kalung dog tag militernya berdenting pelan beradu dengan ristleting jaket yang ia sampirkan di bahu.

Di tangan kanannya, Rayyan membawa sebuah kantong kertas cokelat yang menebarkan aroma harum ayam panggang dan rempah.

“Sudah tengah malam, Lyra,” tegur Rayyan. Suaranya rendah, menggema di dinding lab yang steril. Ia melirik jam tangan taktisnya. “Sistem biometrik melaporkan kau belum keluar dari ruangan ini sejak jam sepuluh tadi pagi.”

Lyra mengerjap, baru menyadari betapa pegal pinggangnya. “Rayyan! Kau harus melihat ini!”

Alih-alih merasa bersalah karena mengabaikan kesehatannya, Lyra justru berlari kecil menghampiri Rayyan, menarik sebelah lengan pria besar itu dengan antusiasme seorang anak kecil, dan menyeretnya mendekati tabung kaca.

Rayyan membiarkan dirinya ditarik. Ia meletakkan kantong makanannya di atas meja alumunium terdekat, matanya tidak fokus pada kristal bercahaya di dalam tabung, melainkan sepenuhnya terkunci pada wajah Lyra yang berbinar-binar.

“Lihat grafiknya!” Lyra menunjuk ke arah monitor dengan penuh semangat, sementara tangan kirinya tanpa sadar masih bertengger nyaman di lengan berotot Rayyan. “Kristal ini merespons frekuensi suara tertentu! Terutama mantra-mantra kuno dalam nada rendah. Benda ini meresonansi gelombang suara menjadi data elektromagnetik. Sindikat itu mengebor candinya karena mereka mengira itu senjata. Padahal, ini adalah perpustakaan, Rayyan! Sebuah arsip raksasa dari peradaban yang hilang.”

Lyra mendongak menatap Rayyan, matanya memancarkan kejeniusan murni yang selalu membuat Rayyan takluk tak berdaya. “Jika aku bisa membuat algoritma untuk menerjemahkan pola fraktal ini ke dalam bahasa visual, kita bisa melihat apa yang disembunyikannya.”

Rayyan menunduk menatap gadis itu disampingnya. Ia melihat gairah akademis yang meledak-ledak, namun ia juga melihat bibir Lyra yang pucat karena dehidrasi dan jari-jarinya yang sedikit gemetar karena kelelahan.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun soal penemuan luar biasa itu, Rayyan memutar tubuhnya, melepaskan lengannya dari genggaman Lyra, lalu berdiri sepenuhnya di hadapan gadis itu.

“Penemuan yang luar biasa, Dokter,” ucap Rayyan datar. Tangan besarnya naik, menarik pena stylus yang menjepit rambut Lyra.

Gelombang rambut cokelat gelap Lyra jatuh tergerai di bahunya seketika. Lyra terkesiap pelan, protesnya tertahan di tenggorokan saat jari-jari kasar Rayyan menyisir rambutnya dengan gerakan yang sangat lembut, memijat tengkuknya yang kaku dengan ibu jari.

“Tapi perpustakaan purbamu itu tidak akan lari kemana-mana jika kau tinggalkan selama tiga puluh menit untuk makan,” lanjut Rayyan, nada suaranya turun menjadi bisikan suara serak yang menggetarkan perut Lyra. “Kau belum makan siang, apalagi makan malam. Benar, kan?”

Lyra menelan ludah. Kedekatan fisik mereka selalu berhasil mematikan sementara fungsi otaknya. Aroma maskulin Rayyan—peppermin, kayu pinus, dan sabun mandi—mengusir bau ozon dari lab steril tersebut.

“Aku… aku hanya minum kopi tadi siang,” cicit Lyra, tidak berani menatap langsung ke dalam mata obsidian yang kini menatapnya dengan campuran antara teguran dan afeksi yang mendalam.

Rayyan menghela napas panjang, sebuah helaan napas kekalahan dari seorang pria yang tidak pernah kalah di medan perang, namun selalu menyerah di hadapan keras kepalanya seorang arkeolog.

“Duduk,” perintah Rayyan, menarik sebuah kursi lab beroda ke dekat Lyra.

Lyra menurut. Rayyan berbalik ke meja, membuka kantong kertas cokelat itu, dan mengeluarkan dua kotak makanan hangat dan sebotol air mineral. Ia membuka botol itu terlebih dahulu dan menyodorkannya ke bibir Lyra.

“Minum. Sampai habis.”

Lyra memegang tangan Rayyan yang memegang botol itu, meminum airnya dengan patuh. Rasa dingin air itu menyadarkannya betapa kering tenggorokannya. Setelah tandas, Rayyan menarik kursi lain dan duduk tepat di hadapan Lyra, lutut mereka saling bersentuhan.

Rayyan membuka kotak makanannya, mematahkan sumpit bambu, dan mengambil sepotong daging ayam panggang. Bukannya memakannya sendiri, pria itu menyodorkannya tepat di depan bibir Lyra.

Lyra membelalakan matanya yang bulat. Rona merah seketika menjalar dari leher hingga ke telinganya. “R-Rayyan, aku bisa makan sendiri. Tanganku tidak lumpuh.”

“Tanganmu bergetar karena gula darahmu anjlok, Lyra,” balas Rayyan tak terbantahkan, alis tebalnya terangkat satu. “Buka mulutmu. Atau aku yang akan membuka rahangmu secara taktis.”

Lyra mendengus geli mendengar ancaman militer yang konyol itu, namun ia membuka mulutnya dan menerima suapan dari sang komandan. Mereka menghabiskan lima belas menit berikutnya ke dalam keheningan yang nyaman. Rayyan dengan telaten menyuapi Lyra bergantian dengan dirinya sendiri, memastikan gadis itu menelan makanan bergizi, sementara matanya tak henti-henti mengamati setiap detail wajah Lyra.

Di bawah pendaran cahaya biru dari kristal di seberang ruangan, garis-garis lelah di wajah Lyra perlahan memudar.

Setelah kotak makanan itu kosong, Rayyan membuang sampahnya ke tempat sampah terdekat. Ia kembali ke hadapan Lyra, namun kali ini ia tidak duduk di kursi. Rayyan berjongkok di lantai, menempatkan dirinya di bawah level mata Lyra.

Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua tangannya bertumpu pada lengan kursi yang diduduki Lyra, mengurung gadis itu sepenuhnya di wilayah kekuasaannya.

“Kau berutang tidur padaku, Lyra,” bisik Rayyan, mendongak menatap wajah Lyra.

“Berutang tidur padamu?” Lyra tertawa pelan, jantungnya mulai berdetak liar melihat betapa intimnya posisi mereka saat ini. “Itu frasa yang sangat ambigu, Komandan.”

Seringai tipis dan mematikan muncul di bibir Rayyan. Pria itu mengangkat satu tangannya. Seperti sebuah ritual sakral yang hanya milik mereka berdua, ibu jari dan telunjuk Rayyan menjepit kacamata Lyra, menariknya perlahan, dan meletakkannya di atas meja.

Dunia Lyra mengabur, namun wajah tampan Rayyan yang berjarak hanya sejengkal darinya terlihat sangat jelas dan intens.

“Kau tahu persis apa maksudku,” suara Rayyan semakin serak, tatapnnya jatuh ke bibir Lyra. “Setiap kali kau menyiksa dirimu sendiri di lab ini, aku tidak bisa tidur di barak. Pikiranku terus-menerus kembali ke ruangan ini, membayangkanmu pingsan di lantai dingin itu tanpa ada yang menjaga.”

Tangan Rayyan yang kapalan merayap naik dari lengan kursi, menyentuh lutut Lyra yang terbalut celana bahan, perlahan bergerak ke atas hingga telapak tangannya menangkup pinggang gadis itu. Kehangatan kulit Rayyan menembus lapisan tipis kemeja lab Lyra.

Lyra menahan napas. Ia memajukan tubuhnya, menunduk sedikit hingga dahinya bersentuhan dengan dahi Rayyan. Jari-jari Lyra yang mungil menyusup ke dalam rambut gelap Rayyan, meremasnya dengan lembut.

“Aku meminta maaf membuatmu khawatir,” bisik Lyra, matanya terpejam, menikmati keintiman yang menyapu mereka. “Tapi kristal ini… ini adalah penemuan seumur hidup, Rayyan.”

“Dan kau adalah penemuan seumur hidupku,” balas Rayyan tanpa keraguan sedikit pun.

Kalimat itu sederhana, tidak puitis, namun diucapkan dengan ketulusan yang meremukkan hati Lyra. Di dunia Rayyan yang dipenuhi kematian, pengkhianatan, dan strategi perang, Lyra adalah satu-satunya cahaya murni yang ia temukan.

Rayyan mengangkat wajahnya sedikit, memangkas sisa jarak diantara mereka. Bibirnya menyapu bibir Lyra dengan sentuhan seringan bulu, sebuah godaan yang membuat Lyra mengerang tertahan.

Lyra menangkup rahang Rayyan, tidak sabar dengan ritme lambat pria itu. Ia menarik wajah Rayyan dan memperdalam ciuman mereka.

Rayyan merespons dengan gairah yang buas. Ia bangkit dari jongkoknya dengan gerakan mulus, menarik tubuh Lyra dari kursi dan mengangkat gadis itu hingga Lyra harus mengalungkan kedua kakinya di pinggang kokoh Rayyan. Pria itu memutar tubuh mereka, menekan punggung Lyra ke tepi meja alumunium tanpa memutus pagutan mereka sedetik pun.

Ciuman itu dalam, basah, dan menuntut. Tangan Rayyan meremas pinggul Lyra posesif, sementara lidahnya mencecap rasa manis di bibir gadis itu, mengklaim setiap hela napas Lyra sebagai miliknya. Lyra balas menciumnya dengan keputusasaan yang sama, menenggelamkan jari-jarinya di otot bahu Rayyan, merasa seluruh dunianya melebur ke dalam pelukan sang tentara.

Hanya ada suara deru napas mereka yang saling memburu dan dengungan rendah dari mesin pendingin lab.

Tiba-tiba, suara bernada rendah mengalun memecah keheningan ruangan.

Itu bukan suara dari mesin. Itu suara dari dalam tabung Sangkar Faraday.

Rayyan melepaskan bibir Lyra dengan enggan, napasnya memburu keras. Ia memuta kepalanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lyra sambil berusaha menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh layaknya rentetan senapan mesin.

“Beritahu aku bahwa itu bukan alarm bom, Lyra,” gerutu Rayyan dengan suara parau di kulit leher gadis itu, membuat Lyra merinding geli.

Lyra menoleh ke arah tabung kaca di tengah ruangan, matanya yang sayu seketika membelalak lebar. Ia menepuk bahu Rayyan dengan panik.

“Rayyan… turunkan aku. Turunkan aku sekarang!”

Merasakan urgensi dalam suara Lyra, Rayyan segera menurunkan gadis itu kembali ke lantai. Insting tempurnya langsung menyala, menempatkan tubuhnya di antara Lyra dan tabung kaca tersebut.

Namun, tidak ada ledakan. Tidak ada gelombang elektromagnetik.

Kristal di dalam tabung itu berdenyut dengan kecepatan yang sinkron dengan napas mereka yang memburu tadi. Pendaran biru cyan-nya tidak lagi menyebar secara acak. Sebaliknya, sinar biru itu memancar ke atas, menembus jaring emas Faraday Cage, dan membentuk sebuah pola proyeksi holografik tiga dimensi tepat di langit-langit laboratorium.

Rayyan dan Lyra mendongak, terpaku dalam kebisuan yang luar biasa.

Proyeksi cahaya itu melukiskan peta topografi yang sangat detail. Garis-garis gunung, lembah, dan lautan tergambar dari untaian cahaya biru. Di tengah-tengah peta itu, sebuah titik koordinat berkedap-kedip terang dengan simbol bunga teratai kuno.

“Benda itu… baru saja memproyeksikan peta,” gumam Rayyan, matanya menyipit membaca lekukan topografi hologram tersebut. “Itu bukan sekedar peta acak. Itu peta kepulauan Nusantara.”

Lyra buru-buru menyambar kacamatanya dari atas meja dan memakainya dengan tangan bergetar. Ia melangkah maju, berdiri tepat di bawah proyeksi cahaya tersebut. Otaknya mencocokkan titik koordinat yang berkedip dengan ingatan fotografisnya tentang peta geografis modern.

“Itu di Sumatera,” bisik Lyra, menunjuk titik yang berkedip di hologram. “Tepat di sabuk pegunungan Bukit Barisan. Di sebuah lembah yang tertutup hutan perawan, yang belum pernah dipetakan oleh satelit modern mana pun.”

Rayyan berjalan menghampirinya, menatap peta yang sama. Sisa-sisa gairah romantis di udara seketika tergantikan oleh adrenalin misi yang memanggil.

“Kristal ini merespons frekuensi suara,” ucap Rayyan, mengingat eksperimen Lyra tadi. Pria itu menoleh ke arah Lyra dengan alis bertaut. “Pita kaset mantramu sudah mati sejak sepuluh menit yang lalu, Lyra. Ruangan ini sunyi.”

Lyra terdiam. Ia menatap kristal itu, lalu menatap Rayyan.

“Benda ini mengukur resonansi akustik,” jawab Lyra lambat-lambat, wajahnya memucat menyadari sesuatu. “Bukan sekadar mantra, Rayyan. Benda ini membaca getaran suara biologis. Detak jantung manusia. Tarikan napas.”

Lyra menelan ludah. “Tadi… saat kita berciuman, detak jantung kita berpacu di frekuensi yang sangat spesifik dan ritme napas yang sangat berat. Kristal ini merespons bio-ritme kita.”

Mata Rayya melebar sedikit menyadari implikasinya. Artefak kuno bernilai miliaran dolar itu tidak bereaksi pada alat canggih BIN, melainkan bereaksi pada detak jantung mereka yang sedang dimabuk asmara.

Sudut bibir Rayyan kembali tertarik membentuk seringai yang luar biasa sombong dan memikat. Ia menatap Lyra dari atas ke bawah.

“Kalau begitu, Dokter,” ucap Rayyan dengan nada rendah yang dipenuhi janji-janji berbahaya, melangkah maju hingga ujung sepatu botnya menyentuh ujung sepatu kets Lyra. “Sepertinya untuk membuka rahasia di Sumatera nanti, aku harus lebih sering menciummu di lapangan. Murni demi ilmu pengetahuan, tentu saja.”

Lyra memukul dada bidang pria itu dengan main-main, tawanya meledak menghapus seluruh ketegangan. Wajahnya merona merah hingga ke telinga. “Kau adalah Kolonel paling tidak tahu malu yang pernah ada di republik ini, Rayyan Aksara.”

Rayyan menangkap tangan Lyra yang memukul dadanya, mengecup punggung tangan itu, lalu menatap peta hologram yang berkedip di atas mereka.

1
nur atika
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
nur atika
🥰🥰🥰up trus ya thorr mangattttt
nur atika
🥰🥰🥰
NP: 🥰🥰🥰🥰😍
total 1 replies
nur atika
lanjut author
NP: Inshaallah makasih semangatnya 🥰
total 1 replies
Lutfiah Tunnissa
kerenn Thor
NP: Makasih ya kak, ikuti terus ceritanya ya🥰
total 1 replies
nur atika
😍😍😍
nur atika
🤭🤭🤭🤭🤭
𝗝𝗔𝗧𝗜ᴾᵁᵀᴿᴼ
debar2 cinta
NP
Mas Rayyan, melindungi Lyra banget😍
Akbar Aulia
lyra kamu sangat beruntung dilindungi mas rayan
Akbar Aulia
beruntung lyra kamu direkrut jadi tim alpha,
Akbar Aulia
mungil mungil si cabe rawit tapi pedas rasanya,awas mas Rayyan nanti kamu tersepona
Akbar Aulia
aih...sepatu kesayangan mas Rayyan kena kopi,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!