NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah...

Malam itu… di rumah Hana Pintu terbuka pelan. Hana melangkah masuk, mendorongnya dengan bahu karena tangannya masih menggenggam ponsel. Begitu kakinya menginjak lantai ruang tamu, ia langsung berhenti.

Gelap. Tidak ada suara. Tidak ada TV yang biasanya menyala sebagai latar, tidak ada dentingan sendok dari dapur, tidak ada suara pintu kamar yang dibuka-tutup. Hanya keheningan yang terasa terlalu menyesakkan, terlalu penuh, sampai seperti menekan telinga.

Hana berdiri beberapa detik, menatap ke dalam rumahnya sendiri seperti orang asing yang baru pertama kali masuk.

“Sepi banget…” gumamnya pelan, suaranya sendiri terdengar aneh di telinganya.

Ia menutup pintu perlahan, bunyi klik kecilnya terasa lebih keras dari biasanya. Tangannya meraba dinding, mencari saklar. Saat lampu menyala, cahaya putih langsung memenuhi ruangan—terang, jelas, tapi dingin. Tidak ada kehangatan di dalamnya.

Ia melangkah masuk lebih jauh, tasnya masih menggantung di bahu. Matanya menyapu sekeliling, seolah berharap tiba-tiba ada seseorang muncul dari balik lorong atau memanggil namanya dari dapur.

Tapi tidak ada. Hanya sofa yang rapi. Meja yang kosong. Dan udara yang terasa… tidak dihuni. Hana menghela napas panjang, lalu menjatuhkan tasnya ke sofa. Ia ikut duduk, tubuhnya sedikit terhempas, seakan semua tenaga yang ia tahan sejak tadi akhirnya dilepaskan begitu saja.

Tangannya masih memegang ponsel. Tanpa sadar, ia membuka layar. Chat dari Mama. Pesan terakhir masih sama. Tentang rumah sakit. Tentang kakaknya. Tentang sesuatu yang terjadi mendadak—sesuatu yang membuat semua orang langsung beralih fokus.

Hana menatap layar itu lama. Jempolnya sempat bergerak, mengetik satu huruf. “Ma..." Ia berhenti. Menghapusnya. Mengetik lagi.

“Aku—”

Berhenti lagi. Ia menatapnya, lalu tertawa kecil tanpa suara.

“Ngapain sih…” bisiknya pelan. “Mau bilang apa juga…”

Ia mengunci layar, lalu menjatuhkan ponselnya di samping.

Kepalanya menunduk. “Kenapa hari ini…” ia bergumam lagi, kali ini lebih pelan. “Kenapa rasanya… panjang banget ya…”

Kalimatnya tidak selesai. Karena ia sendiri tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Hari itu terasa seperti tidak punya jeda. Dari pagi sampai sekarang, semuanya terus terjadi—tanpa memberi ruang untuk bernapas.

Tentang sekolah. Tentang Nisa. Tentang hal-hal yang seharusnya sudah selesai, tapi malah muncul lagi. Tentang perasaan yang ia kira sudah hilang, tapi ternyata hanya bersembunyi, dan sekarang— rumah pun terasa asing.

Tiba-tiba— suara mobil berhenti di depan rumah. Hana langsung menoleh, tubuhnya refleks berdiri.

“Udah pulang…” bisiknya.

Pintu terbuka cepat.

“Pelan-pelan, Kak!”

Suara Mama langsung memenuhi ruang.

Hana melangkah mendekat, jantungnya sedikit berdebar—antara lega dan… sesuatu yang tidak ia mengerti.

Kakaknya masuk lebih dulu, langkahnya pelan. Wajahnya sedikit meringis, kaki kanannya dibalut perban, tangannya juga terlihat tidak sepenuhnya bebas.

Mama di sampingnya, wajahnya penuh kekhawatiran.

“Makanya kalau jalan jangan sambil main HP!” suara Mama terdengar tegas, tapi jelas panik.

“Iya, Ma…” jawab kakaknya lemah.

“Udah tahu lantai licin, masih aja ceroboh!”

“Iya… maaf…”

Hana berdiri beberapa langkah dari mereka.

Diam. Ia membuka mulut. “Ma—” Tapi belum sempat ia melanjutkan—

“Sini, duduk dulu. Pelan-pelan!” Mama sudah lebih dulu menarik kakaknya ke sofa.

Hana terhenti. Tangannya turun perlahan. Matanya mengikuti gerakan mereka.

“Sakit nggak? Tadi dokter bilang apa?” tanya Mama lagi, suaranya berubah lebih lembut.

“Cuma keseleo sedikit…”

“Sedikit apanya, sampai dibalut begitu?”

Hana mencoba lagi. “Ma, aku mau—”

“Nanti aja ya, Hana,” potong Mama cepat, bahkan tanpa menoleh. “Mama lagi urus kakak kamu dulu.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Ringan. Seperti hal biasa. Tapi entah kenapa— terasa berat di dada Hana. Seolah sesuatu di dalam dirinya ikut jatuh bersamaan dengan kata-kata itu.

“Iya…” jawab Hana pelan.

Sangat pelan. Hampir seperti ia bicara ke dirinya sendiri. Ia mundur satu langkah. Lalu satu langkah lagi. Kakaknya perlahan berdiri, berjalan menuju kamar dengan bantuan Mama.

“Pelan! Jangan dipaksa!”

“Iya, Ma…”

Pintu kamar tertutup. Suara langkah menghilang. Dan rumah kembali— sunyi. Hana masih berdiri di ruang tamu. Menatap lorong kosong itu.

“Lucu ya…” gumamnya pelan. “Tadi aku nunggu rumah ini hidup lagi… sekarang malah pengen kabur aja dari rumah." Ia tertawa kecil. Pahit.

Tangannya mengusap wajah sebentar.

“Harusnya aku bilang apa tadi…” ia melanjutkan, suaranya lebih pelan. “Tentang sekolah? Tentang Nisa? Tentang aku yang… sebenarnya nggak baik-baik aja?”

Ia menggeleng pelan. “Ah… percuma juga sih.”

Ia berjalan kembali ke sofa, mengambil tasnya.

“Semua orang lagi sibuk… ya wajar,” katanya, mencoba terdengar biasa. “Mama juga pasti capek. Kakak juga lagi sakit. Masa aku nambahin…”

Langkahnya menuju kamar pelan, tidak terburu-buru. Setiap langkah terasa berat. Bukan karena fisik. Tapi karena pikirannya tidak berhenti.

Di depan pintu kamar, ia berhenti. Tangannya menggenggam gagang pintu. Matanya menatap lurus ke depan, kosong.

“…aku juga capek, tahu,” bisiknya, hampir seperti mengeluh ke ruang kosong. “Cuma… nggak ada yang nanya aja.”

Ia menarik napas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. “Aneh ya… di luar aku bisa pura-pura kuat. Bisa jawab orang, bisa ketawa… tapi begitu pulang…” suaranya bergetar sedikit. “Malah nggak tahu harus jadi apa.”

Ia menunduk.

“Kalau aku bilang aku capek… nanti dibilang lebay.” Matanya berkaca-kaca “Kalau aku diam… ya dianggap nggak apa-apa."

Ia tersenyum tipis. “Serba salah.”

Beberapa detik ia hanya diam di sana. Lalu akhirnya— ia membuka pintu. Masuk, dan menutupnya pelan. Di dalam kamar, suasana lebih sunyi lagi. Hana menjatuhkan tasnya ke lantai tanpa peduli. Ia duduk di tepi tempat tidur, tubuhnya sedikit membungkuk.

Ponselnya masih di tangan. Ia menatap layar gelap itu lama. Seolah berharap ada sesuatu muncul. Pesan. Notifikasi. Apa pun. Tapi tidak ada.

“Kenapa sih… aku nunggu sesuatu yang nggak pasti…” bisiknya.

Ia mematikan ponselnya, lalu meletakkannya di samping. Tubuhnya rebah ke kasur. Menatap langit-langit. Matanya terbuka.

“Kalau aku cerita ke orang… mereka bakal ngerti nggak ya…” gumamnya pelan. “Atau malah mikir aku ribet…”

Ia menarik selimut sedikit, memeluknya.

“Kenapa harus hari ini semua kejadian ya…” suaranya semakin kecil. “Kenapa nggak satu-satu aja…”

Dadanya terasa sesak. Bukan karena satu hal.

Tapi karena terlalu banyak yang ia tahan.

“Tadi di sekolah…” ia berhenti sejenak. “Aku pengen banget cerita ke Mama.”

Matanya mulai panas.

“Tapi pas sampai rumah… malah nggak sempat.” Satu air mata jatuh.

Ia tidak menghapusnya.

“Mungkin emang bukan waktunya ya…” katanya pelan. “Atau… emang nggak penting aja.”

Ia tertawa kecil, tapi suaranya pecah. “Padahal buat aku penting…”

Air mata berikutnya jatuh. Lalu satu lagi. Tanpa suara. Tanpa tangisan. Hanya mengalir pelan di sisi wajahnya.

Hana menutup matanya. “Besok… harus kuat lagi,” bisiknya. “Harus pura-pura lagi.”

Ia menarik napas dalam. “Kayak biasa aja…”

Sunyi kembali memenuhi kamar, dan malam itu— Hana tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring. Dengan pikiran yang terus berputar. Dengan perasaan yang tidak sempat disampaikan. Tetapi dengan satu hal yang paling terasa sendiri.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!