Velix Purnama umur 26tahun seorang pekerja kantoran tanpa sengaja kembali ke masa lalu saat dia masih menduduki bangku SMP.
"Dengan sistem aku akan mengejar apa yang menjadi mimpiku", ujar Velix
bagaimana kisah Velix menjadi legenda sepakbola mari kita saksikan bersama sama!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wawan wan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Detak Jantung di Menit Krusial
BAB 22: Detak Jantung di Menit Krusial
Lima menit terakhir babak pertama berjalan dengan tensi yang makin mencekik. Lapangan berguncang oleh sorakan penonton yang menuntut gol penyeimbang dari SMP 21. Tim raksasa itu mengurung total pertahanan Merah Marun. Mereka tidak lagi bermain rapi; bola-bola liar langsung dihantam ke depan menuju Reyhan yang bermain kesetanan seperti badak luka.
Menit ke-38, sebuah kemelut terjadi di depan kotak penalti Merah Marun. Bola pantul hasil sapuan bek jatuh di kaki gelandang serang SMP 21. Dengan cepat, dia menyodorkan bola pendek ke arah Reyhan yang berdiri membelakangi gawang.
"Gua hancurin lu!" teriak Reyhan emosi sembari menggunakan bokong dan punggung besarnya untuk mengempas Danu yang menempel di belakangnya. Danu terhuyung, kehilangan keseimbangan.
Reyhan memutar tubuhnya secepat kilat, menarik kaki kanannya ke belakang bersiap melepaskan tembakan voli keras yang berpotensi merobek jaring gawang.
Seluruh penonton SMP 21 sudah berdiri, bersiap menyambut gol. Pak Joko menahan napas di pinggir lapangan dengan wajah pucat.
Namun, sebelum sepatu Reyhan sempat menghantam si kulit bundar, sebuah bayangan merah marun meluncur dengan presisi yang mengerikan di atas rumput.
Sret!
Velix! Sisi serius dan fokusnya telah membaca momentum tembakan itu semenjak Reyhan memutar badan. Dengan perhitungan waktu yang sangat matang khas pemain bertahan kelas dunia, Velix melakukan sliding tackle bersih dari samping. Ujung sepatunya menyenggol bola tepat satu milidetik sebelum kaki Reyhan mengayun penuh.
Plak!
Kaki Reyhan menghantam angin kosong hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling. Bola bergulir liar ke arah luar kotak penalti, langsung diamankan oleh bek sayap Merah Marun.
"Tekel yang sangat bersih dari Velix Purnama! Penyelamatan krusial di menit akhir!" Teriak komentator menggunakan peluit yang ditiup heboh.
Reyhan memukul rumput dengan frustrasi, berteriak ke arah wasit, namun wasit dengan tegas mengayunkan tangan—bersih! Murni mengenai bola.
[Misi Sampingan Darurat Berhasil!]
[Blokir Peluang Emas: Anda berhasil memotong tembakan Reyhan di dalam kotak penalti.]
[Hadiah Instan: +1.0 Kekuatan (Strength), +0.5 Kecepatan (Speed).]
Velix tidak memedulikan notifikasi itu. Begitu bangkit berdiri dengan tubuh 163.5cm nya yang kian kokoh, dia melihat bek sayapnya bingung mau membuang bola ke mana karena terus ditekan oleh penyerang sayap SMP 21.
"Kemari! Kasih gua bolanya!" Teriak Velix dengan suara baritonnya yang lantang, memecah kepanikan.
Bek sayap itu langsung mengoper bola pendek menyusur tanah ke arah Velix yang berdiri di sepertiga area pertahanan sendiri. Dua pemain tengah SMP 21 langsung merangsek maju, berniat menjepit Velix agar dia melakukan kesalahan di area berbahaya.
Dalam situasi krusial dengan sisa waktu satu menit di babak pertama, kehilangan bola di area ini sama saja dengan bunuh diri. Namun, efek pasif Cold-Blooded Mentor Frank Lampard menjaga detak jantung Velix tetap stabil di angka 70 BPM. Pria dewasa di dalam dirinya justru melihat ini sebagai peluang transisi terakhir.
Sistem, aktifkan Skill: Sentuhan Pertama Sutra,' perintah Velix dingin.
[Mengaktifkan Skill: Sentuhan Pertama Sutra (Berbatov)]
Bola umpan dari bek sayap datang agak melambung karena kontur lapangan yang rusak. Velix mengangkat kaki kirinya, menyerap momentum bola di udara dengan kelembutan yang tidak masuk akal untuk ukuran anak SMP. Bola itu mendadak mati, jatuh tepat di depan ujung sepatu kanannya seolah ditarik oleh magnet.
Dua gelandang lawan yang berlari kencang mengerem mendadak, terpaku melihat kontrol bola magis tersebut.
Sebelum mereka sempat menutup ruang, Velix menggunakan bagian luar kaki kanannya untuk memutar tubuh 180 derajat—sebuah gerakan turning yang sangat fluid. Begitu menghadap ke depan, matanya langsung melihat posisi Ryan dan striker utama yang sudah berlari kencang membelah garis pertahanan tinggi (high line) SMP 21 yang kedodoran karena asyik menyerang.
Bum!
Velix mengayunkan kaki kanannya, melepaskan sebuah umpan lambung jarak jauh (long ball counter) sejauh 50 meter yang meluncur indah membelah udara sore Jakarta Timur. Bola itu melambung melewati kepala seluruh pemain tengah dan belakang SMP 21, menukik tajam dengan efek backspin yang membuatnya melambat tepat di jalur lari sang striker utama Merah Marun.
"Umpan yang luar biasa! Striker Merah Marun lolos dari jebakan offside!"
Striker utama menerima bola dengan nyaman di depan kotak penalti lawan, tinggal berhadapan satu lawan satu dengan kiper SMP 21 yang terpaksa keluar dari sarangnya. Dengan satu kecerdikan, sang striker mencungkil bola (chip shot) melewati kepala kiper yang melompat pasrah.
Bola bergulir syahdu, mencium tiang gawang sebelum akhirnya masuk merobek jaring.
Breeettt!
Gol! Skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan mutlak Tim Merah Marun tepat di menit ke-40 babak pertama!
Stadion Mini Jakarta Timur seketika pecah dalam histeria massal. Suporter Merah Marun melompat-lompat, menyalakan cerawat (flare) asap merah di tribune. Pak Joko berlutut di pinggir lapangan sambil menangis haru, tidak percaya timnya bisa memimpin dua gol atas sang raksasa.
Prreeettt! Prreeettt! Wasit meniup peluit panjang tanda babak pertama usai.
Velix berdiri di tengah lapangan, menyeka keringat di dahinya dengan senyuman hangat yang penuh kepuasan. Dia menyambut pelukan histeris Danu dan Ryan yang berlari menerjangnya. Di sudut matanya, layar Sistem menyala terang benderang.
[Statistik Babak Pertama Selesai:]
[Velix Purnama: 0 Gol, 2 Assist, 1 Intersepsi Krusial.]
[Tingkat Frustrasi Reyhan: 85% (Kritis).]
[Sisa 40 Menit Menuju Klaim Hadiah 100 SP!]
Cetak biru itu kini telah meremukkan mental sang juara bertahan di paruh pertama. Hanya tersisa satu babak lagi sebelum Velix Purnama resmi menancapkan taringnya sebagai penguasa baru di tingkat kecamatan.