Genre: Romance, Psychological Thriller, Suspense, Drama
Tag: CEO, Mantan Istri, Posesif, Psikopat, Penyesalan, Second Chance Romance
Sinopsis Resmi:
Dua tahun setelah menceraikan Kirana karena keangkuhannya, CEO Adrian Dirgantara didera penyesalan mendalam. Saat ia berniat merebut kembali hati mantan istrinya, Adrian mendapati Kirana telah menikah lagi dengan Rendy Baskoro.
Di mata publik, Rendy adalah suami sempurna. Namun di balik pintu rumah, Rendy adalah seorang psikopat manipulatif yang menyiksa dan menyekap Kirana dalam teror obsesi yang gila.
Menyadari Kirana dalam bahaya maut, Adrian mempertaruhkan nyawa dan seluruh kekuasaannya untuk menghancurkan Rendy. Akankah Kirana yang penuh trauma bisa kembali luluh dan selamat di pelukan Adrian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia yang Mengubur (2)
Keheningan di dalam ruang rapat utama Dirgantara Group terasa begitu pekat setelah pintu ganda itu tertutup rapat di belakang Danuar dan Arissa. Rendra langsung melangkah maju, tangannya menghantam meja kaca hingga menimbulkan suara dentangan keras.
"Ini gila! Ini benar-benar jebakan psikologis, Adrian!" seru Rendra, wajahnya memerah karena amarah. "Danuar tahu betul dia tidak bisa mengalahkan kita hanya dengan dokumen obligasi usang itu di pengadilan. Makanya dia membawa Arissa, makanya dia membawa-bawa cerita tentang kebangkrutan keluarga Kirana lima belas tahun lalu!"
Adrian tidak bergeming. Pria itu berdiri di dekat jendela besar yang menghadap langsung ke arah belantara beton Jakarta. Tatapannya lurus, tajam, namun di dalam kepalanya, potongan-potongan informasi masa lalu mulai tersusun menjadi sebuah gambaran yang mengerikan.
Lima belas tahun lalu, Adrian masih seorang remaja yang menempuh pendidikan di London. Ia hanya tahu bahwa perusahaan ayah Kirana, Larasati Tekstil, runtuh karena krisis manajemen, lalu dibeli oleh Baskoro Group. Setahun kemudian, ayah Kirana wafat karena serangan jantung, meninggalkan Kirana sebatang kara sebelum akhirnya Adrian dipaksa menikahinya atas perintah sang ayah.
"Rendra," suara Adrian terdengar sangat rendah, namun sanggup menghentikan kepanikan Rendra seketika. "Buka arsip rahasia milik Ayah di brankas lantai bawah tanah rumah utama Menteng. Cari buku harian atau catatan transaksi pribadi beliau pada tahun 2011. Aku harus tahu apakah klaim Danuar itu benar."
Rendra menatap sahabatnya dengan cemas. "Adrian... kalau itu benar, Kirana bisa hancur total jika dia tahu. Jiwanya baru saja mulai sembuh di Bali."
"Maka dari itu kita harus bergerak lebih cepat dari Danuar," desis Adrian, berbalik dan menatap Rendra dengan mata elangnya yang berkilat mematikan. "Dia ingin bermain dengan menghancurkan mental kami dari dalam. Aku tidak akan membiarkan dia memenangkan permainan kotor ini."
---
Sementara itu, di sebuah hotel butik mewah di kawasan Senopati, Danuar Baskoro berdiri di balkon kamarnya sambil menyesap segelas wiski mahal. Di dalam ruangan, Arissa duduk santai di atas sofa beludru, jemarinya yang lentik memutar-mutar tangkai gelas sampanye.
"Kamu yakin Adrian akan goyah hanya karena dokumen tua itu, Danuar?" tanya Arissa dengan nada meremehkan yang anggun. "Aku mengenal Adrian tiga tahun lalu. Pria itu keras kepala. Dia lebih memilih kehilangan lengannya daripada melepaskan apa yang dia anggap miliknya."
Danuar tidak menoleh. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi datar yang mencerminkan kalkulasi dingin di otaknya. "Rendy gagal karena dia mengincar tubuh Kirana, Arissa. Dia bertindak menggunakan hormon dan emosi. Tapi aku? Aku mengincar fondasi hidup Adrian."
Danuar berbalik, menatap Arissa dengan mata kosong di balik kacamata bingkai emasnya. "Hubungan Adrian dan Kirana saat ini berdiri di atas rasa bersalah dan penebusan dosa. Bayangkan apa yang terjadi jika Kirana tahu, pria yang dia anggap sebagai penyelamatnya saat ini, sebenarnya adalah anak dari pria yang merancang pembunuhan perlahan terhadap ayah kandungnya melalui kebangkrutan buatan itu."
Arissa tersenyum puas, matanya berkilat penuh dendam. "Dan di saat Kirana pergi meninggalkan Adrian karena kecewa, aku akan ada di sana untuk mengisi kekosongan itu. Dirgantara Group akan kembali bersekutu dengan keluargaku, dan kamu mendapatkan seluruh aset logistik Rendy kembali."
"Skenario yang sempurna," gumam Danuar, mengangkat gelas wiskinya ke udara. "Hukum tidak pernah berpihak pada siapa yang benar, Arissa. Hukum berpihak pada siapa yang memegang kendali atas narasi."
---
Jauh dari intrik yang membara di Jakarta, malam mulai turun menyelimuti vila Uluwatu, Bali. Udara laut yang hangat biasanya membawa ketenangan bagi Kirana, namun malam ini, perasaannya begitu gelisah.
Sejak Adrian berangkat subuh tadi ke Jakarta, Kirana tidak bisa memfokuskan pikirannya pada sketsa-sketsa desain pakaian di mejanya. Kata-kata "Baskoro" yang sempat ia dengar dari pembicaraan telepon Adrian terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak.
Ia berjalan ke arah ruang tengah, mencoba mengalihkan perhatian dengan merapikan beberapa buku di rak. Namun, saat ia menggeser sebuah buku tebal tentang arsitektur lama, sebuah amplop cokelat usang yang terselip di bagian paling belakang rak terjatuh ke lantai.
Kirana mengernyitkan dahi. Ia berlutut, mengambil amplop tersebut. Di bagian depannya, tertulis nama mendiang ayahnya: *Untuk Kirana - Jangan dibuka sebelum kamu siap.* Tulisan tangan itu sangat akrab, membuat dada Kirana seketika berdesir perih.
Dengan tangan yang gemetar, Kirana membuka segel amplop yang sudah rapuh itu. Di dalamnya terdapat sebuah surat lama bertanggal sepuluh tahun lalu, beserta salinan dokumen pemindahan saham Larasati Tekstil.
Kirana duduk di lantai marmer yang dingin, membaca baris demi baris tulisan tangan ayahnya yang ditulis beberapa minggu sebelum beliau wafat.
> *...Kirana, anakku tersayang. Jika kamu membaca surat ini, artinya Ayah sudah tidak ada lagi di dunia ini. Ayah ingin kamu tahu bahwa kebangkrutan Larasati Tekstil bukanlah karena kesalahan manajemen atau murni karena takdir. Ada tangan-tangan besar yang sengaja memotong jalur kredit bank kita. Baskoro Group yang membeli perusahaan kita hanyalah pion di permukaan. Orang yang mendanai mereka dari belakang, orang yang sebenarnya menginginkan kehancuran Ayah agar bisa menguasai lahan pelabuhan kita, adalah Baskoro Senior dan sekutunya, Dirgantara...*
Mata Kirana membelalak sempurna. Napasnya tercekat di tenggorokan seolah seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Surat itu terjatuh dari genggamannya, mendarat di atas lantai bersamaan dengan air matanya yang menetes deras.
"Dirgantara..." bisik Kirana, suaranya bergetar hebat di dalam kesunyian vila.
Otaknya yang terstimulasi oleh trauma masa lalu langsung memproses informasi itu dengan kejam. Ayah Adrian... keluarga Dirgantara... adalah alasan mengapa keluarganya hancur, mengapa ayahnya meninggal dalam kemiskinan, dan mengapa ia bisa berakhir terjerat di dalam neraka bersama Rendy Baskoro sejak awal.
Pernikahan pertamanya dengan Adrian dahulu, yang ia kira adalah sebuah kecelakaan takdir, ternyata adalah sebuah rantai belenggu yang sengaja dipasang oleh keluarga Dirgantara untuk membungkam sejarah.
Di tengah kekacauan batin yang luar biasa itu, ponsel Kirana di atas meja berdering. Sebuah nomor tidak dikenal muncul di layar. Kirana mengangkatnya dengan tangan yang gemetar hebat, mendekatkannya ke telinga tanpa mengeluarkan suara.
"Halo, Kirana Larasati," sebuah suara wanita yang sangat anggun namun dingin terdengar dari seberang telepon. Itu adalah suara Arissa. "Aku rasa kamu sudah membaca atau mendengar sesuatu tentang masa lalu keluargamu. Kasihan sekali ya... selama ini kamu tidur di samping anak dari pembunuh ayahmu sendiri. Jika kamu ingin tahu kebenaran seutuhnya tentang bagaimana Adrian memanipulasimu selama ini, datanglah ke Jakarta besok pagi. Aku dan Danuar Baskoro menunggumu."
Panggilan terputus. Kirana memeluk lututnya di atas lantai, menumpahkan tangis histeris yang begitu menyakitkan di dalam kegelapan malam Uluwatu. Sangkar emas yang ia kira sudah runtuh, kini berubah menjadi labirin kebohongan baru yang jauh lebih mengerikan, dan kali ini, jerujinya dibangun oleh pria yang paling ia cintai: Adrian Dirgantara.
---
Bersambung