NovelToon NovelToon
Terbelenggu Takdir

Terbelenggu Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dokter / Mengubah Takdir
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.


Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.

SALAM DARI AUTHOR 🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 22 : RETAKNYA SEBUAH DINASTI DAN KEHANGATAN DI BALIK MEJA MAKAN

Langkah kaki Kalea Azzahra Putri terasa begitu dingin saat ia turun dari pintu taksi online yang membawanya kembali ke kawasan perumahan elit keluarga Wijaya. Sore itu, sekitar pukul setengah enam, langit Jakarta mulai meredup, menyisakan semburat jingga keunguan yang berbaur dengan hawa gerah setelah badai emosi yang menguras seluruh tenaganya di Rumah Sakit Pusat Harapan Medika. Kalea merapikan blazer kasual hijau botol dan jilbab voal hitamnya yang terasa agak pengap. Hatinya masih bergetar hebat mengingat bagaimana tangan kekar Radit menangkup wajahnya di koridor ICU, menghapus air matanya, dan bagaimana genggaman tangan itu terpaksa lepas karena taktik serangan jantung palsu Ambarwati.

Begitu Kalea mendorong pintu gerbang samping dan melangkah masuk melalui pintu penghubung dekat dapur, sosok Bi Minah sudah berdiri di sana dengan wajah yang dipenuhi kecemasan luar biasa. Pelayan tua itu tampak sedang meremas ujung celemeknya yang agak pudar.

Kalea langsung mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis demi menenangkan hati wanita tua yang sudah mengasuhnya sejak kecil itu. Kalea melangkah maju, meraih tangan kanan Bi Minah, lalu mencium punggung tangannya dengan sangat takzim penuh rasa hormat.

"Ya Allah, Non Kalea... Akhirnya Non pulang juga," ucap Bi Minah dengan nada suara yang gemetar, matanya yang mulai rabun menatap lekat-lekat wajah asuhannya. "Bibi cemas sekali dari siang tadi, Non. Bagaimana... bagaimana keadaan Nyonya Besar Ambarwati di rumah sakit, Non? Tadi pagi sewaktu beliau pingsan di ruang tamu, Bibi rasanya mau copot jantung melihat Dokter Radit menggendong beliau lari-lari keluar."

Kalea mengembuskan napas pendek, mencoba menghilangkan bayangan Radit dari kepalanya sejenak. "Tante Ambarwati sudah sadar kok, Bi. Kondisinya sudah ditangani langsung sama tim dokter terbaik di dalam ruang ICU. Tadi Dokter Radit dan Mbak Fitri juga langsung bergerak cepat memberikan pertolongan. Bibi tenang saja, ya, beliau sudah aman di sana."

Bi Minah mengelus dada dengan binar mata lega yang mendadak muncul. "Alhamdulillah ya Allah... Bibi dari tadi tidak berhenti berdoa di dapur, Non. Takut sekali kalau terjadi apa-apa pada Nyonya Besar, nanti Non Kalea lagi yang disalahkan sama orang-orang di rumah ini."

PRANGGG!!!

"KAU PEREMPUAN JALANG TIDAK TAHU MALU, SHINTA!!! KAU HANCURKAN RUMAH TANGGAKU SEJAK KAU MASIH BERTUNANGAN DENGAN MAS FANDI, HAH?!"

Belum sempat Kalea membalas ucapan Bi Minah, sebuah suara lengkingan histeris bercampur suara pecahan vas bunga atau benda keramik terdengar begitu nyaring menggelegar dari arah koridor lantai dua. Suara teriakan murka itu tidak lain adalah milik Fitri Amelia Wijaya, disusul suara bentakan Hermawan yang menggelegar laksana petir, serta tangisan parau dari Shinta dan jeritan histeris Sarah yang mencoba menengahi.

Kalea langsung menghentikan gerakannya, keningnya berkerut dalam menatap ke arah langit-langit langit koridor tangga. "Bi... itu suara Mbak Fitri, kan? Kenapa di atas berisik sekali seperti ada perang dunia? Ada apa sebenarnya, Bi?"

Bi Minah buru-buru menarik lengan Kalea sedikit mendekat ke arah sudut pintu masuk, suaranya mendadak berubah menjadi bisikan pelan yang sangat ketakutan. "Non... tadi sekitar jam lima sore. Tapi begitu Non Fitri naik ke kamarnya... Ya Tuhan, Non... Non Fitri memergoki Den Fandi sedang bergumul melakukan perbuatan menjijikkan itu bersama Non Shinta di atas ranjang mereka sendiri! Non Fitri menangis kejer lalu menjerit memanggil Tuan Hermawan dan Nyonya Sarah yang kebetulan baru pulang dari acara rekan bisnis. Sekarang di atas Tuan Hermawan sedang murka besar, Non Shinta ditampar sampai babak belur, dan Den Fandi juga habis dihajar habis-habisan sampai berdarah-darah sama Tuan!"

Mendengar penjelasan detail yang keluar dari mulut Bi Minah, Kalea sempat tertegun selama dua detik. Namun perlahan, seulas senyuman yang sangat sinis, dingin, dan dipenuhi rasa mengejek yang luar biasa dalam mendadak terukir di wajah cantiknya. Mata birunya berkilat jernih bagaikan batu permata yang menertawakan karma.

"Bwahaha... Jadi akhirnya topeng menjijikkan mereka telanjang juga di depan Mbak Fitri?" cemooh Kalea dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kepuasan balas dendam yang batin. "Tadi siang di rumah ini dan di supermarket semalam, mereka bertiga kompak memfitnahku sebagai perempuan gatel yang menggoda Mas Fandi. Shinta bahkan menyuruh Papa mencambukku lagi pakai ikat pinggang. Dan lihat sekarang... Gusti Allah beneran nggak tidur, Bi. Karma instan langsung datang meremukkan muka dua iblis itu dalam sekejap mata!"

Bi Minah mengangguk pasrah, mengelus lengan mungil Kalea penuh kelembutan. "Benar, Non. Hukum tabur tuai itu nyata. Bibi kasihan melihat Non Fitri yang sampai histeris begitu, tapi Bibi jauh lebih tidak tega mengingat bagaimana Non Kalea selama bertahun-tahun ini selalu difitnah dan dijadikan keset di rumah ini. Sudah, Non... tidak usah dipikirkan keributan di atas. Ayo ikut Bibi ke meja makan saja. Bibi sudah masak makanan kesukaan Non Kalea dari sore tadi."

Kalea tersenyum tulus, merasa sangat hangat di dalam dadanya. Di saat seluruh penghuni rumah Wijaya sedang sibuk saling cakar dan menghancurkan martabat satu sama lain, hanya pelayan tua inilah yang selalu mengingat perutnya. Kalea berjalan mengekor di samping tubuh Bi Minah menuju area meja makan kayu tersembunyi yang terletak di dekat dapur bersih.

Di atas meja, sudah tersaji sepiring anyaman nasi hangat, ayam goreng bumbu ketumbar yang aromanya menggugah selera, serta sambal bawang kesukaan Kalea.

Di lantai atas, suara Fitri masih terdengar marah-marah, memaki Shinta dengan sebutan pelacur dan menyatakan akan mengurus surat perceraiannya dengan Fandi besok pagi ke pengadilan. Namun, Kalea sama sekali menolak untuk mendongak atau melangkah ke atas untuk melihat tontonan gratis tersebut. Dia memilih duduk tenang di atas kursi makan kayu, mengambil sendoknya dengan gerakan anggun.

"Biarkan saja mereka hancur bersama di atas sana. Itu sama sekali bukan urusanku lagi," batin Kalea sinis sambil menyuap nasi hangatnya perlahan.

Bi Minah melangkah mendekat membawa segelas air putih hangat, lalu mendudukkan tubuh paruh bayanya tepat di samping kursi Kalea. Pelayan tua itu menopang dagunya di atas meja kerja dapur, menatap wajah asuhannya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa sayang namun sarat akan kekhawatiran baru yang mengganjal pikirannya sejak tadi subuh.

Kalea mengembuskan napas panjang yang cukup kasar dari lubuk dadanya, meletakkan sendoknya setelah menyelesaikan makannya yang tidak terlalu banyak karena pikirannya yang masih bercabang.

"Non Kalea..." panggil Bi Minah dengan nada suara yang sangat lembut dan berhati-hati, memutus kesunyian di antara mereka berdua. "Kalau Bibi boleh bertanya sesuatu... Apakah benar apa yang Bibi dengar sewaktu terjadi keributan besar di ruang tamu tadi pagi? Apakah benar... Non Kalea akan menikah dengan Dokter Radit dalam waktu dekat?"

Mendengar pertanyaan kritis dari mulut Bi Minah, Kalea mendadak tertegun kaku di atas kursinya. Ingatan tentang deklarasi nekat Radit di depan ibunya, tatapan tajam pria itu saat melindunginya dari cakar Natasha, hingga ucapan romantis Radit di pinggir jalan yang melabelinya sebagai "cinta pertama" langsung berputar-putar rapi memicu kepanikan batin di dadanya.

Kalea memalingkan wajah cantiknya ke arah gelas air hangat, menyembunyikan semburat warna merah merona yang mendadak kembali menjalar tipis di kedua pipi mulusnya akibat salah tingkah. "Aku... aku nggak tahu, Bi. Jujur, kepalaku rasanya mau pecah kalau mikirin masalah itu."

"Kenapa begitu, Non? Dokter Radit itu kelihatannya pria yang sangat bertanggung jawab dan gagah sekali pas membela Non tadi pagi," puji Bi Minah tulus.

Kalea menarik napas dalam-dalam, lalu menyandarkan seluruh tubuh mungilnya yang kelelahan fisik dan batin ke arah tubuh paruh baya Bi Minah. Dia menyandarkan kepalanya yang terbungkus jilbab voal hitam dengan pasrah di atas bahu empuk pelayan tuanya tersebut, mencari kedamaian yang selama 24 tahun hidupnya tidak pernah dia dapatkan dari sosok Sarah.

Bi Minah tersenyum hangat, tangan tuanya yang keriput namun terasa sangat nyaman bergerak perlahan mengusap-usap puncak kepala Kalea dengan penuh rasa sayang seorang ibu kandung. Pelayan tua itu menundukkan kepalanya sedikit, lalu mendaratkan sebuah ciuman lembut yang cukup lama di atas jilbab hitam Kalea, mengirimkan getaran ketenangan yang luar biasa manis bagi batin Kalea.

"Dilema ya, Non?" bisik Bi Minah lembut sambil terus mengelus jilbab Kalea. "Bibi paham... Di satu sisi status Non kemarin kan cuma pacar kontrak biasa buat satu minggu, nggak mungkin melompat jauh jadi pernikahan nyata tanpa persiapan hati. Apalagi... Nyonya Ambarwati benci sekali sama status Non yang selalu direndahkan orang di rumah ini karena sebutan anak haram itu. Non pasti takut masuk ke neraka baru, kan?"

Kalea memejamkan sepasang mata birunya rapat-rapat di bahu Bi Minah, menikmati setiap detik usapan lembut tersebut. Air mata kelelahan batin kembali merembes samar di sudut matanya. "Iya, Bi... Aku takut banget. Mas Radit emang manis banget bicaranya pas di mobil tadi, dia bilang dia nggak peduli sama status silsilah darahku dan janji mau jadi benteng pelindungku. Tapi melihat bagaimana ibunya jantungan dan pingsan di depan mataku tadi... Aku ngerasa aku ini emang pembawa sial seperti yang selalu diucapkan Mama Sarah selama ini, Bi. Aku nggak mau egois ngerusak hubungan Mas Radit sama ibunya sendiri."

"Non Kalea sayang, dengerin Bibi ya," ucap Bi Minah dengan nada suara yang sangat bijak, memperlambat usapan tangannya di kepala Kalea. "Non itu bukan pembawa sial. Non itu anak terhormat, mutiara berharga yang sengaja disimpan Tuhan di tempat yang salah. Mengenai Dokter Radit... kalau batin Non merasa dia adalah pria yang dikirimkan takdir buat mengeluarkan Non dari penderitaan di rumah Wijaya ini, jangan takut buat melangkah bersama dia, Non. Masalah Mommy-nya yang menolak, itu urusan belakangan. Yang penting adalah ketulusan Dokter Radit dalam melindungi harga diri Non."

Kalea terdiam membisu di dalam dekapan kehangatan Bi Minah, meresapi setiap baris kalimat nasehat berharga dari pelayan tuanya. Debaran jantungnya yang kencang setiap kali mengingat nama Radit kini mulai berubah jadi sebuah keyakinan samar yang mulai meraba jalinan takdir masa depannya.

Tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari, dari arah lantai atas—tepat di balik pilar pembatas kayu koridor anak tangga lantai dua—sosok Hermawan Wijaya berdiri mematung sendirian di kegelapan. Pria paruh baya itu sengaja melangkah keluar dari ruang kerjanya setelah meredam baku hantam antara Fandi dan Fitri di dalam kamar.

Sepasang mata tua Hermawan menatap lurus ke bawah, mengunci pandangannya pada posisi Kalea yang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Bi Minah penuh kedamaian di meja makan dapur. Menyaksikan bagaimana putri bermata birunya itu bisa tersenyum manis dan mendapatkan kelembutan pelukan dari seorang pelayan tua, sementara di bawah atap rumahnya sendiri anak itu selalu dia pukul dan dicambuk menggunakan ikat pinggang kulit akibat ego manipulasi Sarah selama bertahun-tahun, menimbulkan sebuah gejolak penyesalan yang teramat sangat mendalam di balik netra tua Hermawan.

Pandangan mata Hermawan tampak sangat rumit, kaku, dan dipenuhi oleh beban misteri masa lalu yang sangat berat tentang silsilah kelahiran Kalea yang sesungguhnya yang sengaja dia kubur hidup-hidup dari dunia luar. Pria paruh baya itu mengembuskan napas panjang terakhirnya yang kaku, lalu berbalik tubuh masuk kembali ke dalam kegelapan koridor dengan langkah yang berat.

...****************...

Keributan besar di lantai dua kediaman keluarga Wijaya bukannya mereda, melainkan justru semakin pecah menjadi badai yang mengerikan. Fitri Amelia Wijaya yang sudah dibutakan oleh rasa sakit hati dan dendam yang membara, melangkah kesetanan menuju lemari pakaian besar di dalam kamarnya. Dengan tangan yang bergetar hebat penuh amarah, dia membanting sebuah koper hitam besar milik Fandi ke atas lantai marmer, membuka resletingnya dengan kasar, lalu meraup puluhan baju, kemeja, dan jas kerja suaminya itu secara membabi buta dari gantungan baju.

"Fitri! Stop! Kamu apa-apaan sih, hah?!" teriak Fandi Achmad Mahendra dengan wajah merah padam menahan emosi, mencoba merebut tumpukan baju dari dekapan istrinya. "Jangan gila kamu ya! Jangan berlagak sok jadi hakim di rumah ini!"

Fitri peduli? Tentu saja tidak sepeser pun! Dia malah melempar tumpukan baju itu ke dalam koper dengan gerakan yang sangat kasar, lalu menatap lurus ke dalam manik mata Fandi dengan pandangan sedingin es. "Aku peduli? Enggak, Fandi! Mau kamu teriak sampai urat lehermu putus, keputusanku udah bulat! Besok pagi aku sendiri yang bakal serahin surat perceraian kita ke pengadilan! Dan detik ini juga, kamu harus angkat kaki dari kamarku dan dari rumah ini!"

"Nggak! Aku nggak mau cerai dan aku nggak bakal mau pergi dari sini!" bentak Fandi lantang.

Fitri tidak membalas ucapan itu dengan kata-kata lagi. Dengan kekuatan penuh yang dipicu oleh rasa murka, Fitri langsung mencengkeram erat pergelangan tangan Fandi, lalu menyeret paksa tubuh tegap suaminya itu keluar dari ambang pintu kamar tidur mereka, menuju ke arah selasar lorong lantai dua.

"Lepasin, Fitri! Sakit, sialan?!" bentak Fandi kesetanan. Merasa harga dirinya sebagai laki-laki diinjak-injak di depan keluarga Wijaya, Fandi mendadak menyentak kasar tangan Fitri dengan sentakan yang sangat kuat hingga genggaman Fitri terlepas. Fandi melangkah maju satu langkah, menunjuk tepat ke arah wajah Fitri dengan mata melotot murka. "Kalian keluarga Wijaya bener-bener keterlaluan ya! Kamu pikir kamu siapa, hah?! Berani-beraninya kamu nyeret aku kayak binatang begini di depan semua orang?!"

"Aku istrimu yang udah kamu khianatin selama tiga tahun, bajingan?!" balas Fitri ikut berteriak lantang dengan suara melengking yang bergetar hebat menahan sesak di dadanya. "Kamu yang nggak tahu diri, udah numpang hidup di rumah papaku, tapi malah tidur sama adek kandungku sendiri di ranjangku!"

PLAKKK!!!

Sebuah tamparan yang luar biasa keras dan telak mendadak mendarat mulus menghantam pipi kanan Fandi yang sudah babak belur. Sosok Hermawan Wijaya tiba-tiba muncul dari arah belakang tubuh Fitri, melayangkan pukulan itu dengan rahang yang mengeras kaku menahan kemurkaan yang luar biasa.

"JAGA MULUTMU, FANDI!!! BERANI-BERANINYA KAMU MEMBENTAK DAN MENYENTAK PUTRI SULUNGKU DI RUMAH SAYA, HAH?!" bentak Hermawan menggelegar laksana badai petir yang memecah keheningan koridor lantai dua.

Fandi yang tubuhnya terhuyung akibat tamparan Hermawan, menyeka sisa darah di sudut bibirnya menggunakan ibu jari. Bukannya ketakutan, posisi yang sudah hancur total dan tidak punya apa-apa lagi untuk dipertahankan justru membuat kelicikan dan kebusukan moral Fandi keluar seutuhnya. Dia mendadak meledakkan sebuah kekeh sinis yang sangat meremehkan dan dipenuhi ejekan menjijikkan tepat di depan wajah Hermawan dan Fitri.

"Hahaha... Putri sulung kebanggaan Papa?" cemooh Fandi dengan nada suara yang sangat menyebalkan. Dia menatap Fitri dari atas sampai bawah dengan pandangan mata yang penuh penghinaan yang kejam. "Papa mau ngebela perempuan kayak dia, hah?! Denger ya, Papa Hermawan... Biar Mas kasih tahu satu rahasia besar kenapa Mas bisa berpaling ke Shinta selama ini! Itu karena FITRI INI MANDUL, PA! Dia itu cewek mandul?!"

DEG!!!

Bagai disambar petir di siang bolong di tengah kegelapan, kalimat kejam dari mulut Fandi seketika membuat dunia di dalam dada Fitri Amelia Wijaya runtuh menjadi kepingan abu yang tak berbekas. Seluruh pasokan udara di paru-parunya lenyap seketika, dan tubuhnya gemetaran hebat laksana diterpa badai es.

Sakit? Tentu saja sakit. Sangat sakit hingga menembus ulu hatinya yang terdalam. Suami yang selama ini dia puja-puja, dia banggakan di depan rekan sejawat sesama dokter, dan dia bela mati-matian di depan Kalea tadi siang, ternyata tidak hanya tega berselingkuh selama tiga tahun dengan adik kandungnya sendiri, tapi malam ini dengan sangat biadab meneriakkan status bahwa dirinya mandul di depan orang tuanya hanya karena selama dua tahun pernikahan mereka tak kunjung dikaruniai kehamilan.

"KAU... KAU LAKI-LAKI BIADAB, FANDI!!!" Fitri menangis meraung-raung dengan suara parau yang sangat menyayat hati. Dengan sisa kekuatan batinnya yang hancur, Fitri melompat maju, memukuli dada bidang Fandi bertubi-tubi menggunakan kedua kepalan tangannya sambil terus berteriak histeris. "KAU YANG JAHAT!!! KAU YANG MENGHANCURKAN HIDUPKU!!!"

"Diam kamu, cewek mandul?!" bentak Fandi kesetanan. Dengan gerakan kasar yang tidak berperasaan, Fandi langsung mendorong kuat-kuat kedua bahu Fitri menjauh dari tubuhnya.

BRUKKK!

Dorongan tangan Fandi membuat tubuh Fitri terhuyung mundur hingga jatuh tersungkur di atas lantai marmer lorong. Fitri menangis sejadi-jadinya sambil memegangi dadanya yang sesak luar biasa akibat pukulan batin yang teramat berat.

"FANDI!!! KAU BENER-BENER MAU MATI DI TANGAN SAYA, HAH?!" Hermawan Wijaya seketika berteriak murka dengan pandangan mata tua yang berkilat memancarkan aura pembunuh yang mutlak. Urat di dahinya menegang kuat, siap melompat maju untuk menghajar menantunya lagi. Fandi sendiri justru semakin membusungkan dadanya penuh amarah yang meledak-ledak menantang mertuanya.

Sementara di ujung koridor, di dalam kamar tidur merah mudanya, Shinta Kirana Wijaya yang sedang duduk meringkuk di samping ranjang bersama Sarah yang memeluknya, mendengar jelas setiap baris rentetan bentakan dan jeritan dari luar pintu. Tubuh seksi Shinta gemetaran hebat dengan wajah pucat ketakutan mendengarkan bagaimana Fandi dibom mentah-mentah dan bagaimana kakaknya menjerit histeris. Sifat angkuhnya menguap, berganti rasa cemas kalau papanya bakal menyeretnya keluar juga.

Fandi memutar tubuhnya, meraup koper hitamnya yang tergeletak di lantai dengan sentakan kasar. Dia menatap Fitri yang masih menangis di lantai dengan seringai mengejeknya yang sangat menjijikkan. "Oke! Kalau kamu emang mau cerai, aku layanin kemauanmu, Fitri! Aku juga bakal ikut cerai! Sampai ketemu di pengadilan dengan status jandamu! Dasar wanita mandul! Cuih!" Fandi meludah ke arah lantai marmer tepat di depan kaki Fitri.

Dengan langkah kaku penuh keangkuhan palsu, Fandi membalikkan tubuhnya, menyeret koper besarnya menuruni satu demi satu anak tangga lantai dua menuju ke arah pintu keluar bawah.

Sementara itu, di bawah dekat pilar anak tangga kedua, Kalea Azzahra Putri dan Bi Minah masih berdiri mematung. Sejak tadi mereka berdua mendengarkan dengan sangat jelas setiap baris dialog penuh makian kejam tentang perselingkuhan, status mandul, hingga rencana perceraian yang meledak di lantai atas.

Begitu kaki Fandi menginjak anak tangga kedua dari bawah, langkah pria brengsek itu mendadak terhenti seketika. Dia menatap sosok Kalea yang sedang berdiri tegap di hadapannya dengan setelan blazer hijau botolnya yang anggun. Alih-alih merasa malu atau bersalah karena kebusukannya baru saja telanjang bulat di rumah itu, sepasang mata mesum Fandi justru kembali bergerak liar menatap lekuk tubuh mungil Kalea, lalu sebuah senyuman manis penuh kepalsuan terukir di bibirnya yang robek bersimbah darah.

Kalea yang melihat senyuman menjijikkan dari pria di hadapannya langsung memutar kedua bola mata birunya dengan sangat malas, menunjukkan rasa jengkel yang luar biasa dalam. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, Kalea mengembuskan napas lega dan bersyukur yang tiada tara.

"Alhamdulillah ya Allah... Akhirnya parasit brengsek pembawa sial ini ditendang keluar juga dari rumah ini! Rasain kamu karma instan dari Gusti Allah!" batin Kalea bersorak puas menertawakan ketidakberdayaan iparnya.

Fandi melangkah turun satu anak tangga terakhir, mempersempit jarak hingga berdiri tepat di depan wajah Kalea. Dia mencondongkan tubuh tegapnya sedikit ke depan, lalu berbisik dengan nada suara manis yang dipenuhi taktik manipulasi genit yang biasa dia gunakan. "Hai, Kalea... Sekarang Mas udah bebas, nggak punya hubungan apa-apa lagi di rumah ini. Jadi... kalau kamu nanti mendadak rindu sama ketampanan Mas, kamu bisa langsung hubungi nomor ponsel Mas kapan aja, ya." Fandi sengaja mengedipkan sebelah matanya dengan gaya sok memikat, sebelum akhirnya memutar tubuh tegapnya melangkah lebar menuju pintu utama lobi depan, melemparkan sebuah tatapan sinis terakhirnya ke arah atas tempat Fitri masih menangis parau.

Kalea yang mendengar kalimat rayuan mesum dan kedipan mata gila dari Fandi langsung memegangi perutnya, wajah cantiknya ditekuk kaku menahan rasa mual yang luar biasa besar yang mendadak menyerang tenggorokannya.

"Ih!!! Najis banget!!! Sumpah rasanya aku mau muntah darah denger omongannya babi itu, Bi?!" ketus Kalea setengah berteriak dengan wajah memerah padam menahan geli dan jijik yang mendalam, menatap kepergian koper Fandi yang menembus pintu gerbang. Di dalam hatinya, Kalea mendengus sinis penuh ejekan tajam.

"Cih! Sok kegantengan banget sih jadi cowok bajingan! Muka udah babak belur bersimbah darah begitu masih aja hobi tebar pesona mesum! Dasar manusia nggak punya urat malu!" gerutu Kalea dalam hati.

Dinding kepalsuan yang selama tiga tahun ini mengunci penderitaan batin Fitri akhirnya runtuh total sore ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!