NovelToon NovelToon
The Broken Lens

The Broken Lens

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: Vian's

Sinopsis: The Broken Lens

Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.

Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.

Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 6: Dialog sunyi setelah jingga

Karya Vian's

Setelah denting lonceng di pintu depan mereda seiring perginya Sila dan Farel, keheningan di Thalassa Coffee terasa jauh lebih nyata. Cahaya jingga yang tersisa di lantai kayu seolah menjadi saksi bisu kecanggungan Savya yang kini berdiri tak jauh dari meja Valerius.

Savya mencoba memecah keheningan dengan merapikan tumpukan serbet di meja kasir, meskipun matanya sesekali mencuri pandang ke arah pria yang sedang menikmati kopinya itu.

"Jadi... Anda benar-benar tidak keberatan menunggu di sini meski kedai sudah hampir tutup?" tanya Savya, suaranya terdengar lembut namun tetap menyiratkan kegugupan yang sulit disembunyikan.

Valerius meletakkan cangkirnya, lalu menatap Savya dengan binar mata yang lebih santai. "Tadi kau sendiri yang bilang tidak perlu terburu-buru karena ini kedaimu, bukan?" jawab Valerius dengan nada suara yang dalam.

Ia terdiam sejenak, lalu memberikan tatapan yang sedikit lebih intens namun tetap terasa sopan. "Lagi pula, aku baru menyadari sesuatu. Ternyata pemilik kedai ini bisa tetap terlihat sangat bersemangat memberikan senyuman ceria, meskipun bunga mataharinya sedang tidak ada di tempatnya."

Savya tersentak kecil, tangannya refleks meraba sanggul rambutnya yang kini polos tanpa jepit kuning kesayangannya. Wajahnya memanas seketika. "Ah, itu... saya lupa memakainya tadi setelah merapikan rambut," jawabnya terbata-bata, mencoba membela diri dengan senyum yang semakin salah tingkah.

Valerius terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar sangat hangat di telinga Savya. "Tidak perlu panik begitu. Kau tetap terlihat... seperti sedang merencanakan sesuatu yang besar meski hanya berdiri di sana," goda Valerius secara kaku, seolah ia sendiri jarang melakukan hal seperti itu.

Savya menarik napas panjang untuk menenangkan detak jantungnya. Baginya, godaan kaku dari pria dewasa seperti Vale terasa jauh lebih mendebarkan daripada candaan Sila yang biasanya ia dengar. Di tengah dialog sunyi itu, Savya mulai menyadari bahwa ketenangan yang selama ini ia cari sendirian, mungkin kali ini terasa lebih indah karena ia membaginya dengan orang lain

Savya berdehem kecil, berusaha mengalihkan perhatian dari wajahnya yang memanas akibat godaan kaku Valerius tadi. Ia menarik napas panjang, mencoba mengembalikan wibawanya sebagai pemilik kedai yang tenang.

"Berbicara tentang pertemuan kemarin," Savya memulai dengan senyum ceria yang lebih terkontrol, "saya tidak menyangka melihat Anda di toko lensa seserius itu. Saya pikir Anda sedang mencari peralatan baru, tapi sepertinya Anda sedang mengurus sesuatu yang cukup penting di sana."

Valerius sedikit menyandarkan punggungnya, matanya menatap cangkir kopi yang tinggal setengah. "Ah, itu... aku memang ada urusan yang harus diselesaikan di sana kemarin. Bukan untuk membeli lensa," jawabnya singkat namun tetap dengan nada bariton yang tenang.

Ia kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Savya, seolah ingin segera menutup bab tentang urusannya tersebut. "Tapi, mari lupakan sejenak tentang toko lensa yang pengap itu. Bagaimana dengan kedai mu? Menutup tempat secantik ini lebih awal hanya untuk 'ingin tenang' rasanya seperti sebuah kemewahan yang langka bagi seorang pemilik bisnis."

Savya tertawa pelan, merasa sedikit lega karena topik tentang dirinya kembali diangkat. "Yah, terkadang saya memang butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri jika harinya terasa terlalu penuh," aku Savya jujur, menunjukkan sisi polosnya yang tidak pandai berpura-pura.

"Begitukah?" Valerius menatap sekeliling kedai yang kini hanya menyisakan mereka berdua.

"Lalu, apakah kehadiranku di sini sekarang... merusak waktu tenang yang kau cari itu?"

Pertanyaan itu membuat Savya tertegun. Alih-alih merasa terganggu, ia justru merasa bahwa kehadiran Valerius memberikan jenis ketenangan yang berbeda—ketenangan yang membuatnya tidak ingin buru-buru mengunci pintu kedainya.

"Begitukah?" Valerius menatap sekeliling kedai yang kini hanya menyisakan mereka berdua.

"Lalu, apakah kehadiranku di sini sekarang... merusak waktu tenang yang kau cari itu?"

Pertanyaan itu membuat Savya tertegun sejenak. Ia terdiam, namun pikirannya justru mendadak bising. Savya tersadar bahwa sore ini ia telah berubah. Biasanya, ia adalah gadis yang akan menghindar dari keramaian demi memulihkan energi dan mencari ketenangan. Namun sekarang, ia justru sengaja memperlama percakapan dengan pria yang baru beberapa kali ditemuinya.

Ia merasa dirinya menjadi terlalu antusias—bahkan mungkin terlalu penasaran—kepada Valerius. Padahal, mereka tidak terlalu mengenal satu sama lain. Logikanya berbisik bahwa semua ini bermula hanya karena secarik kertas dengan tulisan bermakna dalam yang ditinggalkan Valerius waktu itu, namun mengapa dampaknya bisa sebesar ini bagi hatinya?

Savya meremas ujung celemek-nya, mencoba mengendalikan rasa ingin tahunya yang meluap-luap. Ia merasa konyol karena biasanya ia lebih memilih tenggelam dalam dunia novel daripada mengurusi urusan orang lain. Tapi di hadapan Valerius, rasa penasaran itu justru menjadi dorongan yang sulit ia bendung.

"Tidak," jawab Savya akhirnya, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar ceria meskipun ada sedikit getaran gugup di sana. "Justru sepertinya, waktu tenang saya sore ini jadi sedikit lebih berwarna karena ada teman bicara. Meskipun saya harus mengakui, saya sendiri kaget kenapa saya jadi banyak bicara sore ini."

Valerius hanya tersenyum tipis, seolah ia bisa membaca gejolak yang sedang terjadi di balik mata jernih gadis di depannya itu.

Percakapan itu terus mengalir, berpindah dari satu topik kecil ke hal lainnya. Savya yang biasanya irit bicara, kini sesekali tertawa ceria saat menanggapi cerita-cerita pendek Vale yang disampaikan dengan gaya kaku namun tulus. Tanpa mereka sadari, warna jingga di luar jendela telah sepenuhnya berganti menjadi biru tua keunguan. Lampu jalanan di depan kedai mulai menyala, menandakan bahwa waktu telah berjalan jauh lebih lama dari yang mereka duga.

Savya sempat terdiam sejenak, menyadari bahwa ia baru saja menghabiskan waktu tenangnya dengan cara yang sangat berbeda. Alih-alih menyendiri untuk memulihkan energi, ia justru merasa energinya terisi kembali melalui obrolan ini.

Valerius kemudian melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu menatap Savya dengan senyum tipis yang tampak lebih rileks. "Sepertinya aku sudah terlalu lama menyita waktu tenang mu, Savya. Aku tidak ingin pemilik kedai ini jatuh sakit karena terlalu lama menemaniku berbincang," ujarnya sambil mulai berdiri dari kursinya.

Ia merapikan kemejanya sebentar, lalu menatap Savya untuk terakhir kalinya sore itu. "Terima kasih untuk kopi dan bincang-bincangnya. Ini jauh lebih baik daripada sekadar mencari ketenangan di toko lensa."

Savya ikut berdiri, mengantar Valerius hingga ke depan pintu dengan langkah ringan. Rasa canggung yang tadi menghimpitnya kini telah mencair, digantikan oleh rasa pengertian yang hangat. Ia mengerti bahwa setiap pertemuan, sepanjang apa pun itu, memang harus memiliki akhir untuk bisa dinantikan kembali.

"Hati-hati di jalan, Valerius," jawab Savya dengan senyum tulus yang sangat manis. "Terima kasih sudah mampir. Kedai ini selalu punya waktu tenang, kapan pun Anda membutuhkannya."

Saat punggung Valerius mulai menjauh dan menghilang di balik keremangan malam, Savya tetap berdiri di ambang pintu sebentar. Ia memegang dadanya yang masih berdegup sedikit lebih cepat, menyadari bahwa rasa penasarannya kini bukan lagi sekadar tentang secarik kertas, melainkan tentang pria yang baru saja pamit dari hadapannya.

..."Story by Vian's."...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!