NovelToon NovelToon
PUTRA KE EMPATKU

PUTRA KE EMPATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ElQue ElQue

Sedih dan sakit hati di rasakan oleh Arista, hanya karena belum bisa memberikan anak perempuan pada suaminya. Pada kehamilan ke empat, Arista sengaja tidak mau USG untuk mengetahui jenis kelamin janin dalam kandungannya. Dia sudah pasrah, apa pun takdir dari Sang pencipta, dia akan menerimanya dengan ikhlas.

Hingga hari yang di tunggu pun tiba. Sore itu dengan di temani adik perempuannya, Anisa. Mereka ke klinik bersalin terdekat dari desa mereka.

Suaminya ke mana??

"Alhamdulillah, selamat ya, Bu Arista atas kelahiran putra ke empatnya"

Arista tersenyum gamang. Di depan pintu sorot mata penuh kekecewaan, seolah sedang menghakiminya.

" Mas...maaf " lirih suara Arista.

Sorot mata itu perlahan menjauh dan menghilang di telan kekecewaannya sendiri.

Arista tergugu, tak ada air mata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ElQue ElQue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Setelah Restu berangkat ke kantor, Anisa buru-buru mengganti pakaiannya dan pakaian Hanif. Tas berisi perlengkapan Hanif dia keluarkan dari tempat persembunyiannya.

Bergegas dia keluar ke jalan dan masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Yah..dia sudah menghubungi orang kepercayaannya , bahkan sebelum suaminya berangkat ke kantor, mobil itu sudah standby di pinggir jalan.

" Selamat pagi Bu Anisa." sapa seorang laki-laki sambil membukakan pintu mobil.

" Selamat pagi mas Rafli. Maaf menunggu lama" jawab Anisa sebelum masuk ke dalam mobil.

" Nggak apa-apa, Bu Anisa. Hai... ganteng, sudah makin besar aja dan tambah gemoy." Rafli menyapa Hanif. Hanif tampak senang dan mengulurkan tangannya minta di gendong.

Rafli meraih tangan mungil itu dan menimang nya sebentar. Dan mengembalikan lagi ke dalam dekapan Anisa.

" Sama bundanya dulu, ya.Kapan-kapan main sama om." ujar Rafli sambil mencolek hidung Hanif.

Anisa pun masuk ke dalam mobil dan meletakkan Hanif ke jok khusus bayi agar lebih nyaman.

" Kita ke mana dulu Bu Anisa." tanya Rafli sambil melihat ke belakang melalui kaca spion.

Anisa mengangkat kepalanya dan menengok ke arah spion. Sesaat tatapan mereka beradu.Anisa buru-buru membuang muka dan pura-pura melihat ke kaca jendela mobil di samping kanannya.

Rafli tersenyum kecil.

"Mm...ke rumah orang tuanya Restu dulu."

Rafli mengangguk samar. Mobil pun berjalan dengan kecepatan sedang.

Tak berapa lama mereka pun sampai di depan sebuah rumah yang tampaknya seperti bangunan baru.

Anisa mengernyitkan dahinya.

" Mas Rafli nggak salah alamat ?. Ini rumah siapa mas?." tanya Anisa bingung.

Seingatnya memang benar, ini alamat rumah mertuanya. Dulu rumahnya sederhana, tidak terlalu besar, tapi sejuk dan asri.

Sekarang di hadapan Anisa , tampak rumah dua lantai berdiri dengan megah. Ada garasinya juga dan tampak bertengger sebuah mobil warna putih.

Jantung Anisa berdebar kencang, telapak tangannya berkeringat.

Rafl melirik dari balik kaca spion. Tangannya mengulurkan botol minuman kemasan. Dia tahu perempuan di belakangnya sedang shock.

" Minum dulu Bu Anisa. Tarik nafas pelan-pelan." saran Rafli.

Anisa mendelikkan matanya ke arah Rafli. Tapi tak urung juga dia pun mengikuti saran dari Rafli. Dan merasa sedikit tenang. Rafli cuma menanggapi dengan gelengan kepala dan senyuman kecil.

" Sudah tenang Bu Anisa?." tanya Rafli.

Anisa meremas ke dua tangannya.

" Cepat jelaskan."

Rafli menganggukkan kepalanya.

" Siap Bu Anisa. Yang di bilang saya salah alamat itu nggak benar. Memang ini rumah ke dua orang tuanya pak Restu. Jadi pak Restu membongkar dan merenovasi rumah ini, dan kalau nggak salah baru satu bulan di tempati."

Anisa kembali terlihat bingung. Dia merasa di bodohi , atau memang dia selama ini bodoh beneran.

Anisa memejamkan matanya. Dia tak boleh terlihat bodoh dan lemah di depan Rafli. Walaupun dia memang benar-benar sudah di bodohi.

( Kenapa mas Restu nggak pernah bilang kalau dia mau merenovasi rumahnya. Jadi selama ini aku di larang mengunjungi orang tuanya , alasannya karena ini?. Nggak masuk di akal.") batin Anisa.

" Selama ini mas Restu kadang suka nginep dengan alasan ke dua orang tuanya sakit sakitan. Bahkan saya di larang mengunjungi atau sekedar main , oleh mas Restu."

"Alasannya apa, Bu." tanya Rafli.

" Katanya ibunya sekarang cerewet, nanti saya di suruh ini itu. Nanti saya malah nggak nyaman." cerita Anisa.

Rafli tertawa sedikit keras.Sampai-sampai mengagetkan Hanif yang sedang terlelap. Anisa menepuk nepuk dada Hanif lembut, supaya tidak terbangun.

Sontak Rafli menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.

" Maaf Bu Anisa, nggak bisa di kontrol ini mulut."

Anisa menatap kesal ke arah Rafli.

" Kenapa tertawa." tanya Anisa kesal.

" Bagaimana saya nggak tertawa Bu. Menurut saya alasan pak Restu melarang Bu Anisa itu terlalu mengada-ada dan terlalu di buat-buat, dan nggak masuk akal." kata Rafli.

[Betul juga apa yang di bilang Rafli]

"Sekarang bagaimana, Bu. Bu Anisa mau turun apa bagaimana." tanya Rafli.

" Aku titip Hanif sebentar, nanti kalau bangun tolong kasih susu. Botol susunya udah aku siapin." kata Anisa sambil meletakkan botol susu di dekat Hanif.

Rafli garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

" Hmm... double job. Eh..salah ..triple job. Bukan lagi...ACDC lebih tepatnya " gumam Rafli.

Pukk...

Sebuah pukulan mendarat di punggung Rafli. Dia terkejut dan menoleh.

Anisa memukulnya menggunakan tas tangan miliknya. Mukanya cemberut dan tampak kesal.

" Kalau gajimu merasa kurang , bilang aja. Nggak usah nggerundel." Kata Anisa.

Rafli nyengir kuda , dia mengangkat ke dua jarinya yang membentuk huruf V.

" Gaji saya udah lebih dari cukup Bu Anisa. Tapi kalau mau kasih bonus ,kantong celana saya masih longgar." kata Rafli tersenyum lebar.

Anisa sudah mengangkat tangannya kembali, tapi di urungkan. Rafli yang sudah bersiap malah jadi kesal. Dia berharap Anisa kembali memukulnya.

[ Ah...harapan macam apa ini] gerutu Rafli dalam hati.

" Hati-hati Bu Anisa." pesan Rafli. Saat melihat Anisa sudah membuka pintu dan hendak turun dari mobil. Anisa mengangguk.

Sebelum melangkah Anisa merapikan baju dan rok sebatas mata kakinya. Rambut dia cukup merapikan dengan ke lima jarinya, serta membetulkan tas tangannya yang terlihat mahal.

Semua gerak gerik Anisa tak luput dari perhatian Rafli. Hingga tanpa sadar dia menarik nafas dalam-dalam.

Anisa semakin cantik dan anggun. Dengan bentuk tubuh mungil membuat dia sedikit terlihat dewasa.

Yang menarik dari Anisa, walaupun tubuhnya mungil, tapi apa pun yang di kenakan terlihat pantas di tubuhnya.

[ Sayangnya udah jadi istri orang] Rafli bergumam.

Anisa melangkahkan kakinya menuju pintu gerbang yang di biarkan terbuka. Dia celingukan mencari bel rumah, tapi nihil.

Dengan langkah pelan tapi pasti , Anisa menuju pintu utama rumah dengan cat putih tersebut.

Tok..tok...tok

" Assalamualaikum." Anisa memberi salam. Sepi. Anisa mengedarkan pandangannya mencari sesuatu, mungkin ada bel atau lonceng yang biasa di gunakan untuk rumah.

Anisa berniat mengetuk pintu sekali lagi. Tapi niatnya dia urungkan karena telinganya mendengar langkah kaki dari dalam rumah.

Kreekk...pintu pun di buka.

Anisa yang berdiri di depan pintu sudah bersiap memasang senyum.

" Waalaikumsalam."

" Lhoo...nn...non Anisa." seorang wanita setengah baya tampak terkejut dengan kedatangan Anisa.

Anisa tersenyum.

" Iya...saya Anisa Bu. Ibu Ratih apa kabar." senyum Anisa masih terpasang di bibirnya.

" Alhamdulillah..baik non Anisa. Ma..mari masuk ." Bu Ratih terlihat gugup.

" Makasih Bu." Anisa pun melangkah masuk mengikuti Bu Ratih.

Seperti di ketahui Anisa menikah dengan Restu, karena perjodohan. Restu yang nota bene anak dari Pak Darto sopir pribadi dari Hardi Suseno. Restu yang terlihat dewasa di anggap cocok untuk melindungi Anisa.

Tabiat Restu yang sopan dan baik, serta disiplin, itu yang membuat Hardi Suseno mempercayakan putri ke duanya untuk menikah dengannya.

Setelah di persilahkan, Anisa pun duduk. Anisa tersenyum. Tampak perabot memenuhi rumah baru mertuanya. Anisa tahu semua perabotan yang tampak di matanya harganya tak ada yang murah.

" Silahkan di minum dulu, non Anisa."

 Rupanya Bu Ratih masih belum biasa meninggalkan kebiasaan lamanya memanggil Anisa dengan embel-embel non.

" Panggil Anisa aja Bu. Toh...sekarang saya kan, udah jadi anak ibu." kata Anisa sambil meraih teh hangat yang di suguhkan Bu Ratih.

" I..iya..non. Eh...nak Nisa. Maaf saya nggak terbiasa." jawab Bu Ratih ragu.

" Panggil nak , juga nggak apa-apa Bu."

"I...iya, non. Eh..nak Nisa."

"Ada tamu siapa, Bu." dari arah dalam tedengar suara seorang perempuan.

"Sebentar ya, nak Nisa. Ibu ke dalam dulu." pamit Bu Ratih.

" Iya..Bu. Ke mana istrinya Budiman, Bu. Bukankah dia tinggal di sini." tanya Anisa.

" Oh... itu. Istrinya Budiman lagi pulang kampung. Kemarin dapat telepon katanya ibunya sakit." kata Bu Ratih sambil berdiri dari duduknya.

Anisa mengernyitkan keningnya. Kalau Lina istrinya Budiman pulang kampung, lantas siapa yang barusan manggil ibu. Batin Anisa.

[ Duh...kenapa aku keceplosan kalau Lina pulang kampung. Pasti Anisa bingung dan bertanya-tanya suara siapa tadi]. Bu Ratih tampak gelisah.

" Bu.."

Ratih kaget. Dia mengira yang memanggil Anisa. Dengan raut cemas Ratih menarik pemilik suara tadi.

" Masuk kamar sekarang. Kalau belum di panggil jangan keluar." kata Ratih sambil menarik tangan lawan bicaranya.

" Tapi Bu.."

" Linda, di depan ada Anisa, istrinya Restu.Kalau kamu nggak mau menurut apa kata ibu, sebaiknya mulai sekarang kamu jangan tinggal di sini."

"Tapi Bu, semua kan atas permintaan mas Restu." protes seseorang yang ternyata bernama Linda.

Ratih menatap tajam ke arah Linda.

" Kehadiranmu hanya mempersulit posisi ibu." ucap Ratih datar.

Linda menundukkan kepalanya.

" Masuk ke kamarmu. Sekarang." tegas Ratih.

Dengan menghentakkan kaki Linda masuk ke dalam kamar.

Ratih menghela nafas dan menggelengkan kepala. Tangannya mengelus dada, tubuhnya lunglai.

[ Kenal dari mana anakku dengan perempuan ini] Ratih menggelengkan kepala.

" Bu. Saya boleh numpang ke kamar mandi." tanya Anisa sesaat setelah Ratih sudah kembali ke ruang tamu.

" Nak Nisa ini, kayak di rumah siapa aja. Nak Nisa bebas mau ke mana juga, ibu jadi malu dan nggak enak hati." kata Ratih kikuk.

" Sudah lama saya nggak mengunjungi ibu. Ternyata banyak perubahan ya, Bu." kata Anisa sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

" I...ini semua atas usulan dari Restu nak Nisa. Sebetulnya ibu lebih suka rumah yang lama." kata Ratih.

" Tapi kenapa mas Restu nggak pernah cerita ya, Bu."

Uhuk...uhuk..

Dari arah dalam muncul sosok pria yang mengenakan kain sarung dan baju Koko putih. Dialah Pak Darto, mertua laki-laki Anisa.

" Bapak." Anisa berdiri menyambut pak Darto.

" Lho..non Nisa. Udah lama non." kata Darto setengah terkejut.

" Belum, pak."

Tiba-tiba Darto menjatuhkan tubuhnya di depan Anisa. Seperti orang yang tengah bersimpuh.

" Non Nisa. Maafin bapak, bapak nggak bisa mengemban amanah dari pak Hardi." tangis Darto tiba-tiba pecah.

Anisa mengernyitkan dahinya, bingung.

Ratih cuma bisa duduk sambil menundukkan kepalanya. Tak berani mengangkat wajahnya.

" Ada apa pak, Bu." tanya Anisa bingung.

Sesaat semua yang ada di ruang tamu terdiam. Detak jam dinding seakan ikut terhenti. Yahh...semua terhenti...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!