NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas kesabaran

Ruang OSIS SMA Garuda terasa seperti oven yang rusak. 

Udara di dalam stagnan, hanya didorong oleh satu kipas angin meja yang berputar pelan dengan bunyi ngiiing... ngiiing... yang konstan dan menyebalkan.

 Naren berdiri di luar pintu kayu ruang itu, tangannya memegang kunci motor yang ia mainkan di antara jari-jari. 

Ia tidak berniat masuk, tapi langkahnya terhenti begitu saja saat mendengar suara Agnesa dari balik pintu.

​"Laporan baksos tidak bisa ditunda lagi. Mahendra, tolong jangan berdebat soal hal yang sudah disepakati," suara Agnesa terdengar tajam, diikuti bunyi dentuman kecil—mungkin sebuah map yang diletakkan agak kasar di atas meja.

​"Nes, gue cuma bilang kalau budget-nya terlalu mepet. Kita butuh sponsor tambahan," suara laki-laki lain, Mahendra, terdengar lebih tenang namun sarat akan tekanan.

​Kriet.

​Naren tidak sengaja menyenggol pintu kayu yang tidak tertutup rapat itu dengan bahunya. 

Pintu terbuka sedikit, menciptakan celah sempit yang menampilkan Agnesa sedang berdiri di depan meja panjang, dikelilingi tumpukan kertas yang berantakan. 

Wajahnya terlihat jauh lebih lelah daripada biasanya. Ada garis hitam di bawah matanya, dan rambutnya yang biasanya terikat sempurna kini tampak sedikit berantakan di bagian samping.

Agnesa menoleh cepat ke arah pintu. 

Tatapannya bertemu dengan Naren yang masih berdiri di sana dengan santai. 

Posisi Agnesa yang tadinya condong ke depan untuk berdebat dengan Mahendra, tiba-tiba tegak lurus. 

Ia mematung. 

Mahendra menoleh juga, alisnya terangkat tinggi, otot rahangnya mengetat seketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

 Ruangan itu mendadak hening, kecuali bunyi ngiiing... dari kipas angin yang semakin terasa nyaring di telinga.

​"Ada perlu apa di sini?" tanya Mahendra, suaranya naik satu oktaf.

​Naren tidak menjawab. Ia justru melangkah masuk tanpa diundang. 

Langkah kakinya berat, tap... tap... tap... di atas lantai vinil yang sudah mulai terkelupas. 

Ia berjalan melewati Mahendra tanpa menatapnya sedikit pun, langsung menuju meja Agnesa.

​"Gue cuma mau balikin ini," Naren meletakkan sebuah buku catatan hitam di atas tumpukan map laporan Agnesa.

​Agnesa menatap buku itu, lalu menatap Naren. "Saya tidak merasa meminjamkan itu pada kamu."

​"Gue yang minjemin. Sekarang gue ambil balik."

​"Ini ruang OSIS. Kamu tidak punya hak berada di sini," Mahendra melangkah maju, menghalangi jarak antara Naren dan Agnesa.

Naren tidak mundur. Ia justru berhenti tepat di depan dada Mahendra.

Jarak mereka hanya beberapa sentimeter.

Naren menatap Mahendra dengan tatapan datar, tidak menantang, tapi sangat intimidatif.

Mahendra mengepalkan tangannya di samping tubuh, namun ia tidak berani melakukan kontak fisik.

Naren kemudian mengabaikannya sepenuhnya, memalingkan wajah untuk menatap Agnesa lagi.

Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi kehadirannya membuat udara di ruangan itu terasa semakin menipis.

​"Nes, usir dia," kata Mahendra, matanya masih terkunci pada Naren.

​Agnesa tidak merespons Mahendra. Ia mengambil buku catatan hitam itu dari tumpukan map, lalu mengulurkannya kembali ke arah Naren dengan tangan yang sedikit gemetar.

​"Ambil. Dan jangan pernah datang ke sini lagi," ujar Agnesa, suaranya rendah.

​"Kenapa? Takut rapat evaluasi lo makin berantakan kalau gue ada?" Naren tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya.

​Bruk!

​Mahendra menyambar buku catatan hitam itu dari tangan Agnesa sebelum Naren sempat menyentuhnya.

 "Nggak ada yang butuh barang sampah ini di sini."

​Mahendra hendak melempar buku itu ke tempat sampah di sudut ruangan, tapi Naren bergerak lebih cepat. 

Ia mencengkeram pergelangan tangan Mahendra sebelum buku itu terlepas dari genggamannya.

Keduanya terkunci dalam posisi itu.

Naren mencengkeram tangan Mahendra, jari-jarinya menekan kuat.

Tidak ada suara benturan, tidak ada teriakan.

Hanya suara napas mereka yang mulai memburu.

Agnesa berdiri di sana, di antara mereka berdua, tangannya tidak tahu harus diletakkan di mana.

Ia menatap tangan Naren yang mencengkeram Mahendra, lalu menatap wajah Naren yang tetap tanpa ekspresi.

Situasi itu membeku selama beberapa detik—sebuah momen di mana tindakan apa pun bisa memicu ledakan.

​"Lepasin tangan lo," desis Mahendra.

​"Lo lempar buku itu, tangan lo yang gue patahin," sahut Naren datar.

​Agnesa menarik napas tajam. "Sudah! Cukup!"

​Agnesa menyambar buku catatan itu dari tangan mereka berdua dengan paksa. 

Srek! Buku itu robek sedikit di bagian punggungnya. 

Agnesa memeluk buku itu ke dadanya, matanya menatap tajam ke arah Naren, lalu ke arah Mahendra.

​"Keluar. Kalian berdua, keluar dari ruangan ini sekarang juga," perintah Agnesa.

​Naren melepaskan cengkeramannya dari tangan Mahendra. Ia menatap Agnesa sebentar, melihat buku catatan itu yang sedikit rusak, lalu mengangguk kecil.

​"Oke. Gue keluar."

​Naren berbalik dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang sama santainya seperti saat ia masuk.

 Tap... tap... tap...

​"Nes, lo nggak bisa biarin dia terus-terusan kayak gitu," Mahendra mencoba mendekat ke arah Agnesa.

​"Gue bilang keluar, Mahendra!" Agnesa berteriak, suaranya bergetar.

​Mahendra tertegun.

 Ia tidak pernah melihat Agnesa berteriak seperti itu sebelumnya. Ia akhirnya berbalik dan berjalan keluar, membanting pintu dengan suara keras.

 Brak!

Kenapa suara pintu itu harus terdengar begitu menyakitkan? Agnesa merasa seperti ada sesuatu di dalam dadanya yang ikut terbanting saat pintu kayu itu tertutup. 

Ia ingat, dulu sekali, ia pernah takut pada suara pintu yang dibanting. Ayahnya sering membanting pintu kalau pulang kerja dengan wajah marah. 

Sekarang, setiap kali ada pintu yang dibanting, Agnesa tidak merasa takut; ia hanya merasa kosong. 

Seperti ada lubang yang terbuka di tengah dadanya, sebuah lubang yang perlahan-lahan mulai ia isi dengan ketenangan palsu, dengan laporan-laporan baksos yang rapi, dan sekarang, dengan buku catatan hitam yang sobek ini.

 Ia ingin tahu, apakah suatu hari nanti, dia akan bisa menutup pintu itu tanpa perlu membantingnya?

​Agnesa berdiri sendirian di ruang OSIS yang kini sunyi. Ia menatap buku catatan hitam yang sobek di tangannya. 

Ia membuka halaman terakhir, tempat di mana ia menuliskan kalimat tentang susu stroberi tadi. 

Ternyata, noda susu yang ia tinggalkan di sana sudah mengering, meninggalkan bekas kekuningan yang samar di atas kertas.

​Ia tidak membuang buku itu. Ia justru memasukkannya ke dalam tasnya, menyembunyikannya di bawah map-map laporan yang berat.

​Krek...

​Suara sesuatu yang pecah terdengar dari luar jendela. 

Mungkin ranting pohon yang patah tertiup angin, atau mungkin sesuatu yang lain. 

Agnesa tidak peduli. Ia mematikan lampu ruang OSIS. 

Klik.

​Ia berjalan keluar dari ruangan itu dalam kegelapan. 

Di lorong sekolah yang mulai meredup karena senja, ia melihat Naren masih berdiri di dekat gerbang sekolah, sedang menyalakan motornya. 

Naren menoleh ke arah jendela ruang OSIS, seolah tahu Agnesa sedang memperhatikannya dari balik kaca yang gelap.

​Naren tidak melambai. Ia hanya mengangguk kecil—sebuah gerakan yang nyaris tidak terlihat—lalu melaju pergi meninggalkan area sekolah.

​Agnesa berdiri di sana, membiarkan kegelapan melingkupinya. 

Ia tahu, setelah hari ini, tidak akan ada lagi yang sama. 

Laporan baksos, rapat evaluasi, dan bahkan ketenangannya sendiri—semuanya terasa seperti kertas yang sudah terlipat, tidak akan pernah bisa benar-benar kembali rata seperti semula, tidak peduli seberapa keras ia menekannya dengan buku-buku tebal.

​Ia berjalan pulang dengan langkah yang lambat, memikirkan betapa ironisnya bahwa sebuah buku catatan hitam yang tidak berguna justru menjadi satu-satunya hal yang ia bawa pulang dengan perasaan paling berat.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Kalau besok semuanya berantakan, lo bakal tetep di pihak Naren?"

​"Gue nggak tahu. Gue di pihak gue sendiri. Tapi, ya, mungkin gue tetep bakal ada di sana kalau Naren butuh."

​Ke mana Kesetiaan Abyan Berlabuh? Intip Kelanjutan Dilema Sahabat Naren di Bab 23: Sisi yang Memilih

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!