NovelToon NovelToon
Always His

Always His

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Catherina Lawrence (24 tahun) mengira pernikahannya dengan Adrian Mettond, senior di kampusnya dulu, adalah pelabuhan tenang setelah badai masa lalu yang kelam. Namun, belum genap satu tahun berjalan, kenyataan pahit menghantamnya. Adrian ternyata tidak siap menjadi ayah bagi putra mereka, Liam, dan sang ibu mertua terus memperlakukannya layaknya orang asing yang tak diinginkan.

Di tengah dinginnya sikap Adrian, Catherina dihantui oleh bayang-bayang Everest Cavanaught—mantan kekasih sekaligus "pangeran berandalan" dari masa Lalunya. Hubungan Empat tahun itu berakhir karena keegoisan Catherina, meninggalkan luka yang belum sembuh. Ironisnya, semakin Liam tumbuh, wajah sang bayi justru semakin menyerupai Everest, bukan Adrian.

Terjebak dalam rumah tangga yang hampa dan penuh tuntutan, Catherina mulai mempertanyakan segalanya.

Apakah Adrian benar-benar mencintainya?
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#22

Aula utama katedral yang telah disewa eksklusif oleh keluarga Cavanaugh itu tampak seperti potongan surga yang turun ke bumi. Ribuan kelopak bunga mawar putih dan lili lembah memenuhi lorong panjang menuju altar, menciptakan aroma yang memabukkan dan suci. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui kaca patri berwarna-warni, membiaskan warna keemasan yang jatuh tepat di tengah ruangan.

Everest Cavanaugh berdiri di depan altar. Pria yang biasanya dikenal dengan wajah angkuh, sorot mata yang tajam seperti elang, dan sikap yang tak tergoyahkan, kini tampak sangat berbeda. Tubuhnya yang kekar dalam balutan tuxedo hitam kustom itu sedikit bergetar.

Saat pintu besar katedral terbuka perlahan, melodi Canon in D mulai mengalun lembut. Sosok Catherina muncul di sana, begitu anggun dan bercahaya dalam balutan gaun pengantin putih yang menyapu lantai. Cadar tipis menutupi wajahnya yang cantik, namun sinar matanya yang penuh haru tidak bisa disembunyikan.

Deg.

Jantung Everest seolah berhenti berdetak. Ia menatap kekasihnya yang sempat pergi, wanita yang ia tangisi setiap malam di London, kini sedang melangkah menuju ke arahnya untuk menjadi miliknya selamanya.

Tiba-tiba, pemandangan itu meruntuhkan seluruh tembok pertahanan Everest. Pria yang tak pernah menunjukkan kelemahannya di depan siapa pun itu, menundukkan kepalanya. Bahunya berguncang hebat. Air mata jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan. Everest menangis sesenggukan—sebuah tangisan yang begitu dalam, tulus, dan penuh rasa syukur. Suara isaknya yang tertahan menggema di aula yang sunyi, membuat para tamu undangan, kolega bisnis, hingga para pelayan merasa sesak di dada. Mereka tidak melihat seorang pengusaha kejam, mereka melihat seorang pria yang baru saja mendapatkan kembali dunianya.

Saat Catherina sampai di depannya, Everest meraih tangannya dengan gemetar, mencium punggung tangan itu lama seolah takut jika ia melepaskannya, Catherina akan menghilang lagi.

Kini tiba saatnya bagi Everest untuk mengucapkan sumpahnya. Ia mengambil mikrofon dengan tangan yang masih bergetar, menatap Catherina, lalu beralih sejenak ke arah Liam yang sedang digendong oleh Nyonya Cavanaugh di baris depan.

"Catherina Lawrence..." Everest memulai, suaranya parau dan sering terputus karena tangis yang kembali pecah. "Hari ini, di hadapan Tuhan dan semua orang yang hadir, aku ingin meminta maaf kepadamu sebelum aku memintamu menjadi istriku."

Everest menarik napas panjang, air matanya masih mengalir membasahi pipinya.

"Maafkan aku, Sayang... Maafkan aku yang tidak ada di sampingmu saat kau berjuang membawa putra kita, Liam, di dalam rahimmu. Maafkan aku karena aku tidak pernah ada untuk menuruti setiap mengidammu, tidak pernah ada untuk mengelus perutmu ketika kau merasa lelah, dan tidak pernah bicara dengan putra kita, Liam, ketika dia masih dalam kandunganmu."

Setiap kata-kata Everest terasa seperti sembilu yang menghujam hati setiap orang yang mendengarnya.

"Aku membayangkan berapa malam kau harus terbangun sendirian, menahan sakit, sementara aku pengecut yang bersembunyi di belahan dunia lain. Aku merindukan setiap tendangan kecil Liam di perutmu yang seharusnya menjadi musik terindah bagiku. Aku merindukan saat-saat di mana aku seharusnya membisikkan doa di telinganya sebelum dia lahir."

Everest terisak lagi, matanya merah namun penuh cinta.

"Mulai hari ini, aku berjanji demi nyawaku sendiri. Aku akan menjadi ayah yang akan membayar setiap detik waktu yang hilang bagi Liam. Aku berjanji akan menjadi suami yang akan memastikan kau tidak akan pernah menangis sendirian lagi. Liam adalah darahku, nafasku, dan bukti bahwa cintamu padaku tidak pernah mati meski aku telah menghancurkannya. Aku mencintaimu, Catherina. Aku mencintai Liam lebih dari hidupku sendiri."

Di sudut ruangan, Adrian Mettond yang duduk di baris tengah—hadir sebagai bentuk penghormatan terakhir—merasakan dadanya sesak. Setiap kalimat Everest tentang "tidak pernah bicara dengan putra kita" dan "mengidam" terasa seperti tamparan keras di wajahnya. Adrian teringat bagaimana ia dulu mengabaikan Catherina, bagaimana ia merasa jijik saat Catherina mengeluhkan kandungannya, dan bagaimana ia tidak pernah sudi menyapa bayi di dalam perut itu karena kebenciannya.

Adrian menunduk dalam, tangannya mengepal di atas lutut. Ia merasa tertampar oleh ketulusan Everest. Ia sadar, meski ia memegang Catherina selama ini, ia tidak pernah benar-benar memilikinya karena ia tidak pernah memberikan cinta sebesar yang Everest berikan hari ini.

Catherina menangis tersedu-sedu, ia mengangguk dan menggenggam erat tangan Everest. "Aku memaafkanmu, Everest... Aku memaafkanmu. Mari kita mulai semuanya bersama Liam."

Pendeta kemudian mempersilakan mereka bertukar cincin. Saat Everest menyematkan cincin di jari manis Catherina, ia membisikkan kata-kata terakhir yang hanya bisa didengar oleh wanita itu.

"Terima kasih sudah menjaga Liam untukku, Sayang. Sekarang, biarkan aku yang menjaga kalian selamanya."

Pernikahan itu bukan hanya sebuah upacara legalitas, melainkan sebuah penebusan dosa dan pernyataan kemenangan cinta di atas segala kepahitan masa lalu. Dan saat Everest mencium Catherina di bawah altar, seluruh aula berdiri memberikan tepuk tangan yang meriah, merayakan kembalinya sang pangeran dan ratunya ke takhta yang seharusnya.

Di bawah sinar matahari katedral, keluarga Cavanaugh akhirnya lengkap dengan kehadiran Liam sebagai pangeran mahkota yang baru.

🌷🌷🌷

Happy Reading Dear😍

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!