NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Menjadi Ibu Pengganti Anak Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: peony_ha

Sandra, Satya dan Raisya telah menjalin persahabatan sejak mereka memasuki dunia perkuliahan. Perhatian Satya pada Sandra terlalu berlebihan membuat Sandra menjadi terbawa perasaan.
Namun pada akhirnya Sandra harus mengubur perasaanya pada Satya kala Raisya memberitahunya bahwa dia akan segera menikah dengan Satya.
sakit dan perih yang Sandra rasakan.
Namun takdir berkata lain, Sandra terpaksa harus menjadi ibu sambung dari anak hasil pernikahan sahabatnya itu, Raisya dan Satya.
akan kah Sandra sanggup melalui hari harinya bersama Satya yang telah berubah dan masih di hantui oleh bayang-bayang istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung tapi Nyaman

Butuh perjalanan tiga jam, akhirnya kami sampai.

Benar kata Kak Satya, di sini dinginnya terasa sangat menusuk. Kak Satya telah memarkirkan mobilnya. Aku keluar dari mobil dengan hati-hati karena kakiku terasa sakit, dan sekarang terlihat sedikit bengkak.

Suasana penginapan yang ibu pesan cukup ramai oleh pengunjung, hanya saja aku kurang setuju dengan ini. Tidak ada dalam bayanganku suasana sedikit horor, dengan model penginapan bangunan tua dan dikelilingi pohon-pohon besar.

Dua orang resepsionis menghampiriku dan Kak Satya.

"Boleh saya bawakan kopernya, Pak, Bu?" ucap dua orang resepsionis.

Kak Satya tampak mengangguk dan mulai mengeluarkan koperku dan kopernya.

Dua orang resepsionis itu telah berlalu, berjalan cukup cepat setelah diberi tahu nomor kamar oleh Kak Satya.

Aku mengeratkan kardigan yang kupakai. Tubuhku memang sedikit demam hari ini, mungkin karena efek luka di kakiku yang lagi meradang.

"Ayo," ucap Kak Satya.

Aku balas mengangguk. Aku jalan di depan Kak Satya, karena tadi Kak Satya mempersilahkanku untuk jalan di depannya.

"Ndra, penginapan kita cukup jauh. Kamu kuat jalan dengan kaki begini?" Aku menoleh. Kak Satya sudah berada di sampingku. Aku mendongak karena tinggiku dengan Kak Satya cukup jomplang. Aku yang hanya memiliki tinggi badan 157 cm, sementara Kak Satya sepertinya memiliki tinggi badan 180 cm.

"Jauh? Bukannya di depan sana, Kak?" Aku menunjuk bangunan berderet di depan kolam berenang, dengan jarak beberapa meter di hadapanku. Jujur, aku tidak tahu. Aku tidak memperhatikan dua resepsionis tadi membawa koper ke arah mana.

"Bukan, tuh di sana." Kak Satya terkekeh kecil. Dia menunjuk deretan penginapan di atas bukit sana. Sepertinya jaraknya mencapai seratus meter dari tempat kami berdiri.

"Kok bisa di sana, Kak?"

"Entahlah, kan ini ibu yang pesan."

Dengan sedikit kesal, aku memutuskan untuk melanjutkan jalan, dengan kaki yang sedikit terseok-seok. Sebenarnya kakiku sakit ketika dijalankan.

Kami berjalan dengan hening. Tangga demi tangga kami naiki perlahan.

"Ayo." Tanpa diduga, Kak Satya membalikkan badannya di depanku, mengisyaratkanku untuk menaiki punggungnya.

"Ayo, Ndra. Nanti kakinya tambah bengkak." Ternyata Kak Satya memperhatikan kakiku juga. Dia tahu kalau kakiku sedikit bengkak.

Ragu.

Canggung.

Aku akan menolak, tapi luka di kakiku sepertinya mengeluarkan darah lagi. Pada akhirnya, aku menaiki punggung Kak Satya.

Bukan yang pertama kalinya, namun kali ini rasanya berbeda. Ada debaran halus di dadaku.

Nyaman, tapi canggung.

Kak Satya mulai melangkahkan kakinya. Dengan berat badanku 47 kg, sepertinya ini terlalu enteng bagi Kak Satya.

"Kurusan ya, Ndra."

"Hanya turun lima kilo, Kak," ucapku sambil mengeratkan pegangan di bahunya.

Senyumku terus mengembang sepanjang jalan. Sepertinya kupu-kupu di perutku terus berterbangan.

Sa, ini kah yang kamu rasakan dulu? Pasti kamu sangat bahagia, Sa, dicintai besar-besaran oleh Kak Satya. Jadi kangen kamu, Sa. Setelah liburan ini, aku janji akan mengunjungimu, Sa.

Kami sudah sampai di tempat penginapan kami. Kamar yang cukup luas dengan pemandangan langsung menghadap perbukitan yang sejuk. Indah, namun sedikit ngeri. Penginapan itu dilapisi oleh kayu, khas penginapan zaman dulu. Dengan penerangan lampu teplok berwarna oranye, ranjang dilapisi oleh kelambu, dipan kasur berbahan kayu jati berwarna cokelat.

"Ndra, ganti perbannya," ucap Kak Satya sigap, membungkukkan badan di hadapanku.

Dengan telaten, ia membersihkan lalu mengganti perban di kakiku.

Ada apa dengan Kak Satya hari ini? Dia begitu perhatian dan manis sekali.

"Makasih, Kak," ucapku, yang kemudian dibalas oleh anggukan oleh Kak Satya.

Apa ini saatnya? Apakah benar malam ini aku akan melepas kesucianku? Kak Satya? Ah, aku tidak berani membayangkannya.

Mataku sibuk memperhatikan sekitar kamar. Hawanya tetap terasa dingin walau sudah di dalam kamar. Cuaca sedikit mendung, bahkan langit sudah menurunkan rintik-rintik tipis.

"Ndra, mau pesan kopi?" ucap Kak Satya, membuyarkan lamunanku.

Hawa dingin memang cocok diminum kopi panas. "Boleh, Kak."

Tidak lama kemudian, dua cangkir kopi panas dengan satu piring banana cheese roll telah sampai. Aku dan Kak Satya kini duduk bersampingan, dengan pandangan tertuju pada luar kabin.

Beberapa saat hening, hanya suara rintik hujan yang menemani.

"Kamu ingat Ndra?". Kak Satya membuka obrolan.

Aku menoleh. "ingat apa kak?".

"Kejadian naik gunung waktu itu". ucap kak Satya dengan senyuman tipis di bibirnya.

Ya ampun dia masih ingat kejadian memalukan itu.

Aku tertawa pelan.

"Kamu yang maksa buat naik gunung, dengan peralatan yang tidak lengkap dan memakai sepatu sneakers".

Kejadian tujuh tahun yang lalu, aku dan kak Satya yang awalnya ikut ayah memancing namun, karena aku mudah bosan kemudian aku mengajak kak Satya untuk jogging, kak Satya menyetujuinya. Namun, ketika melewati perbukitan aku memaksa kak Satya untuk mendaki dengan peralatan yang sederhana. Kak Satya mengizinkan karena aku terus memaksa.

"Kak... sumpah aku malu banget". Senyum ku sudah mengembang mengingat kejadian itu.

"Waktu itu jalan licin ya, dan kamu berkali kali tergelincir sampai celanamu robek". Kak Satya terkekeh.

Aku ikut terkekeh tidak bisa dibayangkan lagi, celana yang robek waktu itu cukup panjang. Untung ada jaket kak Satya jadi aku menutup robekan itu dengan jaket.

"Pulang ke rumah langsung di marahin ibu dan ayah, kak Satya ikut dimarahi. Aku nangis karena badan aku terasa perih ternyata banyak baretan di badanku, ibu marah mendiamkan aku. Malamnya aku demam, sampai kak Satya yang mengantar aku ke dokter". Aku dan kak Satya tertawa berbarengan.

Begitulah kehidupanku, sejak dulu memang suka melibatkan kak Satya di dalamnya.

Tanpa sadar, suasana yang tadi terasa canggung perlahan mencair. Cerita demi cerita mengalir begitu saja—tentang aku yang ceroboh, tentang kebiasaan-kebiasaan kecilku tentang tawa dan kenangan yang dulu pernah ada.

Dan di antara dinginnya malam serta suara hujan yang tak henti, untuk pertama kalinya...

Ada gelak tawa di antara kami.

Kenangan dulu yang pernah kami lalui mengalir begitu saja.

Kak Satya berbeda hari ini, dia mencair sedari tadi pagi.

Beginilah kehidupan rumah tangga ku dengan kak Satya. belum pernah sekalipun kak Satya menyinggung tentang pernikahan kami.

***

Walaupun udara sejuk aku tetap melaksanakan mandi. Aku telah selesai dengan kegiatan membersihkan tubuhku. Begitu akan memakai handuk, aku lupa tidak membawa pakaian ganti.

Cukup lama berfikir di dalam kamar mandi. Aku jadi ingat kata-kata ibu.

Ndra, kalau perlu istri duluan yang mengajak. Itu pahalanya lebih besar.

Apa ini saat nya?. Apakah aku sudah siap?.

Aku sudah keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melilit badanku. Aku mencari keberadaan kak Satya, ternyata dia sedang bersandar di kasur dan memainkan ponselnya.

Aku haru sengaja menggodanya?.

Aku berjalan menuju tempat koper disamping kak Satya. Berjalan mantap ke sebelahnya. Membuka koper dan mencari baju ganti.

"ekhem", aku mendengar kak Satya yang berdehem di belakangku. Aku tidak menggubris, aku akan melanjutkan memakai pakaianku di hadapannya.

"ekhem". Kedua kalinya, apa dia sedikit terganggu dengan kegiatanku.

Aku mulai melancarkan aksiku, bra sudah berada di tanganku.

Aku akan memakainya.

"Ndra kamar mandi kosongkan?" ucapnya kemudian berlalu pergi memasuki kamar mandi.

Dukung terus novel pertamaku ya dengan like, komen, vote dan subscribe. Itu sangat berarti untukku. Terimakasih kepada yang sudah membaca🙏🏻

1
roses
sipp di tunggu ya kak
Aimee Aiko
lanjut seru
Buku Matcha
Bagus
roses
kok jadi ikut deg degan ya ndra
roses
sabar ya sandra
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!