Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Berhari-hari lamanya, Rangga memantau kegiatan sang mantan istri. laki-laki itu beberapa kali mengepalkan tangannya kuat-kuat saat melihat pemandangan yang tersaji di depan matanya.
Entah Sejak kapan perasaan kesal dan cemburu itu menggerogoti hatinya, yang jelas laki-laki itu sangat amat kesal saat melihat Sekar yang tengah akrab bersama dengan seorang laki-laki.
Bahkan perempuan itu sesekali akan tertawa kecil saat mendengar lawan bicaranya bergurau. Dan itu mendapatkan respon tidak suka dari Rangga.
"ck, kenapa aku nggak menyadari perasaan ini sejak lama? " gumam Rangga bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Seakan-akan, laki-laki itu baru menyadari bahwa perasaannya perlahan tumbuh subur di tengah-tengah hubungannya dengan Sekar yang sudah semakin menjauh karena mereka sudah tidak memiliki ikatan apapun.
Drrrtt..
Tatapan Rangga langsung teralihkan saat mendengar ponsel yang ada di dasbor mobil berdering dengan nyaring. dan saat melihat layar yang ada di sana, laki-laki itu sedikit tertegun karena mendapati panggilan dari sang ibu.
Dengan gerakan malas serangga menekan tombol hijau yang ada di layar dan langsung tersambung pada suara ibunya dari seberang sana.
" Halo Bu, ada apa? " tanya Rangga menampilkan suara sebiasa mungkin agar ibunya tidak terlalu banyak curiga.
" kamu ada di mana Rangga? kata Rinjani kamu buru-buru pergi, Apa kamu ada urusan yang begitu mendadak di luar kota sampai tidak berpamitan pada Ibumu ini? " cerca Bu Risty dari seberang sana dengan ekspresi wajah dan nada suara khawatir.
Hening untuk beberapa saat...
" Aku ada urusan penting di luar kota Bu, tapi aku janji jika pekerjaan di sini sudah selesai Aku akan segera ke sana. " Rangga berkata dengan nada suara pelan.
" urusan apa Rangga sampai kamu meninggalkan istrimu sendirian di sini? " pertanyaan itu kembali menyambut indra pendengaran Rangga.
Membuatnya terdiam untuk beberapa saat, " ada seseorang yang ingin mengajakku bekerja sama untuk membuat menu baru di cafe. "
Dengan terpaksa Rangga berbohong pada ibunya, sesuatu hal pertama yang tidak pernah dilakukan oleh laki-laki itu sebelumnya.
" Oh ya sudah kalau begitu, nanti kalau urusanmu sudah selesai segera pulang istrimu di sini sangat khawatir. " Bu Risty mengubah suaranya menjadi sedikit ceria saat mendengar penuturan putranya.
Rangga tidak menjawab dan kembali terfokus pada pemandangan yang ada di depan sana.
sementara di sisi Sekar, saat ini perempuan itu sibuk memberikan daftar menu baru pada Eksa yang sejak tadi tidak pernah lepas dalam menatapnya.
" Kenapa semakin lama semakin sesak seperti ini, " gumam Eksa dengan ekspresi wajah gusar.
" jadi menurut Bapak ini bagaimana? " tanya Sekar dengan formal karena mereka memang tengah dalam mode kerja sehingga harus menggunakan embel-embel " bapak "
Eksa tersenyum manis menatap sekilas ke arah Sekar sebelum akhirnya menjawab pertanyaan itu.
" ini sangat Cemerlang Ibu Sekar, Anda benar-benar jenius dalam mengusung ide baru untuk kemajuan restoran saya, Saya harap dengan menu-menu ini akan semakin meningkatkan ketertarikan customer pada tempat ini, sehingga kondisi kita akan lebih besar ke depannya. ' lapar Eksa dengan senyuman lebar.
Sekar yang mendengar itu ikut tersenyum lebar hari ini Sari tidak ikut karena ada sesuatu di rumahnya hingga melimpahkan semuanya pada sang sahabat.
" kalau begitu saya pamit undur diri, " kata Sekar sebelum benar-benar pergi dari sana.