Ren cuma pegawai kantoran biasa.
Setiap hari, ia mengurus dokumen para Awakened sambil berharap bisa pulang tepat waktu. Tapi setelah sebuah insiden, hidupnya berubah total.
Ia mengalami Awakening … dan mendapatkan kemampuan paling aneh yang pernah ada:
"Tidak Melakukan Apapun."
Kekuatan yang terdengar payah. Tidak berguna. Bahkan memalukan.
Masalahnya, kemampuan itu mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang dibayangkan siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Pintu apartemennya berderit, tertutup rapat oleh mekanisme pintunya yang memiliki fitur tutup otomatis.
Ren melepaskan sepatunya yang basah hingga menimbulkan bunyi kepak basah di lantai beton. "Hah ... Detektif itu cukup merepotkan juga," gumamnya pelan pada keheningan.
Ia berjalan gontai melewati lorong sempit apartemennya. Lampu di atasnya berkedip redup, membiaskan warna kuning sakit ke dinding apartemen yang mulai mengelupas.
Sebenarnya, ia sangat mengenali pria berjas lusuh yang baru saja ditinggalkannya. Chen. Pemilik lencana S-Grade. Sosok yang seharusnya berdiri di puncak rantai makanan para Awakened.
Tapi bagi Ren, reputasi itu terasa hambar. Kosong. Ia tidak menunjukkan secuil pun rasa segan atau peduli terhadap siapa orang itu sebenarnya.
Ada hal lain yang justru mengganjal di kepalanya sepanjang perjalanan pulang. Sesuatu yang terasa janggal dari interaksi mereka di area taman bermain tadi.
"Sangat berbanding terbalik dengan prestasinya sebagai Awakened Kelas S," cetus Ren sambil melempar jaketnya secara sembarangan ke arah meja makan.
Kelemahan detektif elit itu terlalu kentara di matanya. Mudah dialihkan. Sangat mudah ditipu oleh sebuah ketiadaan fisik. Sebuah ironi tragis untuk seseorang yang dibayar mahal oleh negara guna melihat apa yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Namun, Ren tidak ingin memusingkan nasib birokrasi kota. Malam ini sudah kelewat panjang. Otaknya berdenyut, terasa seperti spons yang diperas paksa hingga kering.
Kasur lipat di sudut ruangan adalah satu-satunya altar penyelamat.
Saat tubuhnya menghempas permukaan berpegas mati itu, tulang-tulangnya seolah meleleh menembus seprai. Kasur usang itu menjerit pelan menahan beban.
Debu tipis beterbangan di udara, tertangkap jelas oleh siluet cahaya neon jalanan dari celah jendela. Bagi Ren, ranjang sempit yang apek ini menyelamatkan kewarasannya dari hiruk-pikuk dunia yang hancur. Memulihkan sisa-sisa kewarasan yang terkuras, bukan sekadar memulihkan raga.
Kelelahan fisik sudah mati dalam kamus hidupnya—tepatnya saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai warga biasa.
Semenjak insiden Awakening itu mengubah struktur tubuhnya, otot dan uratnya kebal terhadap rasa pegal. Ia tidak pernah lagi merasakan linu atau kehabisan napas karena berlari.
Satu-satunya yang hancur secara konstan adalah mentalnya.
Itu harga mutlaknya. Pajak dari sebuah kekuatan yang melanggar hukum termodinamika dan logika dasar semesta. Kelemahan terbesar dari keberadaannya sendiri.
Ia tidak butuh rutinitas angkat beban yang memuakkan. Tak perlu mengayunkan pedang ribuan kali hingga telapak tangan kapalan bernanah. Tak ada meditasi dengan menyerap energi inti bumi atau omong kosong mantra yang biasa dilakukan para Awakened kelas bawah.
Eksistensi Ren adalah antitesis dari semua usaha keras itu.
Cukup satu tarikan napas. Cukup sebuah kehendak.
Ia bisa memutarbalikkan gravitasi lokal. Membongkar struktur materi baja menjadi pasir. Atau sekadar membuat lawan lupa cara bernapas. Tanpa perlu mengangkat satu jari pun. Tanpa mantra.
Mata Ren menatap langit-langit kamar yang penuh dengan noda air hujan merembes. Pikirannya melantur perlahan ke arah absurditas kekuatannya.
"Namun, bukannya kehendak itu sendiri juga merupakan sebuah usaha?" bisiknya pada bayangan di atas sana.
Jarinya mengetuk perutnya sendiri berirama. "Lalu konsep tidak melakukan apa-apa ini ... Ah, sudah. Memikirkan hal itu malah bikin tambah repot."
Meski mulutnya mengeluh, otaknya keras kepala. Mesin di dalam kepalanya menolak berhenti bekerja. Ia mulai membedah anatomi kemampuannya sendiri, teringat pada saat ia mempelajari batas-batas kemutlakan tersebut beberapa bulan lalu.
Ada satu anomali spesifik yang sangat mengganggunya. Sesuatu yang seharusnya mustahil terjadi jika ia memang bisa mengendalikan segalanya hanya dengan mau.
Ia ingin menciptakan sesuatu murni dari ruang kosong.
Bukan memanipulasi. Bukan menghancurkan. Tapi mencipta.
Bayangan bosnya di biro administrasi, Han Jue, melintas di kepala. Han Jue adalah seorang Pyrokinesis sejati. Ia bisa memanggil pilar api hanya dengan menjentikkan ibu jari, membakar oksigen di sekitarnya menjadi neraka lokal yang nyata.
Bagaimana jika ia menirunya? Bagaimana jika kehendaknya menekan realitas hingga terpaksa melahirkan percikan api yang sama?
Eksperimen itu selalu memanggilnya. Ren menutup matanya erat-erat. Ia memusatkan titik fokus di telapak tangannya. Menarik seluruh egonya untuk memerintah udara kosong di atas dada.
Bakar.