NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Bintang

Istri Rahasia Sang Bintang

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Cinta Seiring Waktu / Pernikahan rahasia / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

Dunia mengenalnya sebagai bintang paling bersinar. Namun, hanya dia yang tahu betapa redupnya pria itu di balik layar.
Elvano Alvendra punya segalanya: kekuasaan, ketenaran, dan wajah yang dipuja jutaan orang. Tapi bagi Selena Nayumi, Elvano hanyalah pasien keras kepala yang lupa cara mengurus diri sendiri.
Sebuah perjodohan kolot dari sang nenek memaksa mereka terikat dalam janji suci yang tersembunyi. Bagi Elvano, Selena adalah "obat" yang tidak pernah ia duga akan ia butuhkan. Bagi Selena, Elvano adalah teka-teki misterius yang perlahan mulai ia cintai.
Di antara jadwal konser yang padat, kilatan kamera media, dan kontrak kerja jutaan dolar, ada satu rahasia besar yang mereka simpan rapat di balik pintu rumah: Status mereka.
Dapatkah cinta tumbuh di tengah kepura-puraan? Dan sanggupkah Selena bertahan menjadi rahasia terbesar sang bintang saat dunia menuntut Elvano untuk tetap "milik publik"?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jakarta tak pernah tidur, begitu juga dengan Elvano Alvendra. Di lantai 20 gedung Zenithra Entertainment, dentum musik bass memenuhi studio pribadi yang kedap suara. Keringat membanjiri kaos hitam tak berlengan yang melekat di tubuh atletisnya. Pria berusia 34 tahun itu baru saja menyelesaikan repetisi koreografi untuk konser globalnya di Singapura bulan depan.

Napasnya memburu. Namun, saat ia mencoba melakukan spin terakhir, dunia di sekitarnya tiba-tiba berputar.

Deg.

Jantungnya berdetak tak keruan. Pandangannya mengabur, warna-warna di ruangan itu menyatu menjadi abu-abu. Tubuh tegap setinggi 185 cm itu limbung, lututnya menghantam lantai kayu dengan keras.

"Elvano!"

Darian, sang manajer, menghambur masuk. Ia menemukan sang mega bintang terkapar, menatap langit-langit studio dengan tatapan kosong.

"Berhenti, El. Cukup!" bentak Darian panik. "Kamu belum makan dari pagi. Kamu bukan robot!"

Elvano hanya diam. Suaranya serak, sedalam palung laut. "Aku tidak lapar, Dar. Rasanya... mual melihat makanan."

"Ini bukan soal lapar atau tidak. Ini soal kamu yang hampir mati karena burnout!" Darian menarik napas panjang, mencoba meredam emosinya melihat kondisi bos sekaligus sahabatnya yang kini tampak jauh lebih kurus dengan tulang pipi yang menonjol tajam.

"Sore ini, tidak ada bantahan. Aku sudah membuat janji dengan dokter gizi terbaik di Jakarta. Pak Jono sudah menunggu di bawah."

Elvano memejamkan mata. Di puncak popularitasnya, ia merasa kosong. Ia adalah pemilik Zenithra, aktor peraih penghargaan, dan penyanyi yang suaranya bisa membuat jutaan orang menangis. Namun, di saat yang sama, ia bahkan tidak bisa merasakan nikmatnya sepotong roti.

**

Rumah Sakit Internasional Medika Jakarta sore itu cukup tenang. Sebuah Van hitam mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di lobi VIP. Elvano turun dengan setelan serba hitam: hoodie kebesaran, topi baseball rendah, dan masker medis. Ia bergerak seperti bayangan—cepat, mahal, dan tak tersentuh.

Ia benci rumah sakit. Baginya, dokter adalah orang-orang kaku yang akan menceramahinya dengan tumpukan tabel kalori yang membosankan.

"Ruang 402. dr. Selena Nayumi, Sp.GK," gumam Elvano membaca papan nama di depan pintu.

Ia mendorong pintu kayu ek itu dengan malas. Ia sudah menyiapkan mental untuk bertemu dokter tua berkacamata tebal. Namun, aroma yang menyambut indra penciumannya bukan bau obat-obatan yang tajam, melainkan aroma vanilla dan jeruk yang segar.

"Selamat sore! Silakan duduk," sebuah suara bening dan ceria menyapa.

Elvano terpaku di ambang pintu. Di balik meja kerja yang rapi, duduk seorang wanita muda dengan jas putih yang kontras dengan kulitnya yang cerah. Rambutnya diikat kuda, menyisakan anak rambut yang membingkai wajah alaminya tanpa riasan berlebih.

Itu adalah Selena Nayumi. Sang Nutri Queen yang dikenal ribuan pengikutnya di media sosial sebagai pembawa energi matahari.

"Sore," jawab Elvano singkat. Ia duduk, namun tetap tidak melepas topi maupun maskernya. Auranya yang dominan dan dingin seketika memenuhi ruangan yang tadinya hangat.

Selena tersenyum lebar, jenis senyum yang biasanya membuat pasien paling keras kepala sekalipun luluh.

"Bisa kita mulai dengan melepas maskernya, Tuan...? Ah, di sini tertulis Tuan Al."

Elvano ragu sejenak, lalu perlahan menurunkan maskernya.

Selena sempat menahan napas selama satu detik. Wajah itu... garis rahang yang tegas, hidung bangir yang sempurna, dan mata elang yang tampak sangat lelah namun tetap tajam. Ia mengenali pria ini. Siapa yang tidak kenal Elvano Alvendra?

Namun, sebagai dokter profesional, Selena dengan cepat menguasai diri. Ia tidak memekik seperti fans. Ia justru mengerutkan kening kecil sambil mengamati wajah Elvano secara klinis.

"Anda pucat sekali, Tuan Elvano. Dan melihat dari lingkar hitam di mata Anda, saya tebak Anda tidak tidur lebih dari tiga jam semalam?"

Elvano menyandarkan punggungnya, melipat tangan di dada. "Aku ke sini hanya karena dipaksa manajerku. Berikan saja aku vitamin atau suplemen penambah nafsu makan, dan aku akan pergi."

Selena meletakkan bolpoinnya. Ia tidak merasa terintimidasi oleh nada dingin Elvano. Ia justru mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke manik mata sang bintang.

"Tubuh Anda bukan mesin yang bisa diperbaiki hanya dengan satu pil, Tuan. Anda mengalami gangguan metabolisme serius akibat stres kronis. Jika Anda terus begini, konser di Singapura yang Anda persiapkan itu... mungkin akan menjadi panggung terakhir Anda karena Anda akan pingsan di lagu kedua."

Elvano tertegun. Tidak ada orang yang berani bicara sefrontal itu padanya.

"Kau tahu soal konserku?"

"Saya dokter, bukan orang yang tinggal di gua," sahut Selena jenaka, namun tetap tegas. "Pola makan Anda kacau, berat badan turun drastis dalam sebulan. Anda butuh penanganan khusus, bukan sekadar suplemen."

Selena menuliskan sesuatu di atas kartu nama pribadinya. "Saya punya klinik kesehatan pribadi untuk terapi nutrisi dan penghilang stres. Saya ingin Anda datang ke sana setiap akhir pekan untuk sesi khusus. Saya sendiri yang akan mengawasi menu harian Anda."

Elvano menatap kartu nama itu: @DailyDoseBySelena.

"Aku tidak punya waktu untuk itu," tolak Elvano dingin.

"Atau Anda tidak punya waktu untuk hidup?" balas Selena tenang. "Pilihan ada di tangan Anda, CEO Zenithra. Ingin tetap bersinar di atas panggung, atau redup di ruang ICU?"

Mendengar ucapan tegas itu, Elvano diam tidak berkutik. Ada sesuatu dalam suara Selena—campuran antara otoritas dan perhatian tulus—yang membuatnya tidak bisa membantah.

"Selain terapi, apa solusi lainnya? Karena untuk saat ini aku sama sekali tidak bisa keluar secara rutin."

"Semuanya bermula dari apa yang Anda masukkan ke tubuh. Tidak harus selalu obat, jika ada cara alami kenapa tidak? Ini adalah solusi terbaik yang bisa saya berikan," jawab Selena sambil memberikan senyum hangat yang entah kenapa membuat dada Elvano terasa aneh.

Elvano hanya pasrah. Ia merapikan penyamarannya, mengambil kartu nama Selena, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.

**

Setibanya di apartemen penthouse miliknya yang mewah namun terasa sepi, Elvano langsung membanting tubuhnya di sofa kulit mahal. Darian yang sudah menunggu di sana langsung menyodorkan sebotol air mineral.

"Bagaimana? Dokter Selena bilang apa?" tanya Darian antusias.

"Dia menyuruhku datang ke kliniknya setiap pekan. Terapi nutrisi dan stres," jawab Elvano sambil menatap langit-langit apartemen yang kedap suara.

"Ya sudah, lakukan saja," sahut Darian santai.

"Kau tahu sendiri jadwalku gila-gilaan, Dar. Mana mungkin aku bisa rutin ke sana?"

Darian menghela napas, ia duduk di hadapan Elvano dengan raut serius. "Dengar, El. Kita sudah bersama sejak kamu masih bernyanyi di kafe kecil sampai jadi bos Zenithra. Kita ini sahabat, saudara. Aku tidak mau melihatmu meninggal di usia muda padahal masih lajang. Dunia butuh Elvano, dan Elvano butuh dokter itu."

"Sialan kau, Dar," umpat Elvano ketus, namun ia tahu manajernya benar. Darian hanya tertawa menanggapi umpatan Elvano.

***

1
Sri Murtini
elvano kau benar " cinta ya bukan akting
Sri Murtini
Elfano jatuh cinta se jatuh"nya dipelukan kekasih hati. ternyata tidak selamanya perjodohan itu berdampak buruk.... ini memang ketemu pasangan sejatì
Penta Ning Thiyas
luar biasa
Penta Ning Thiyas
karyamu selalu keren.. dan nagih😍👍 semangat kak
Hugo Hamish
kak up dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!