NovelToon NovelToon
Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Obsesi Kakak Tiriku Hyper

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21.

Luis terlelap di sofa rumah sakit, kepalanya miring menempel lembut di tepi ranjang Emma.

Posisi duduknya membuat bahunya sedikit membungkuk, napasnya berat namun damai.

Emma duduk di sampingnya serta menatapnya penuh cinta dan juga kasih sayang, dengan tangan lembut mengusap rambut hitam Luis yang berantakan, seolah ingin menghapus kelelahan yang tampak jelas di wajah pria itu.

Sentuhan itu membuat Luis membuka matanya perlahan, bingung sejenak sebelum kesadarannya kembali.

"Astaga, aku ketiduran," gumam Luis sambil mengusap matanya yang masih setengah terpejam.

Ia menarik napas panjang, lalu suara kecilnya hampir tak sengaja keluar, "Laura pasti sendirian di rumah." Ucapan itu tiba-tiba menggantung di udara, membuat Emma menatapnya dengan mata membesar penuh tanda tanya dan sedikit cemas.

Emma merasakan ada sesuatu yang berbeda—namun juga sakit—ketika Luis menyebut nama gadis lain, nama yang selama ini dia tak pernah dengar keluar dari mulut pria yang ia cintai.

Tatapannya melembut, tapi ada bayang-bayang ketidakpastian yang mulai merayapi hatinya.

Luis, yang menyadari pandangan Emma, buru-buru bangkit dari sofa dengan langkah gelisah.

"Aku harus pulang dan kembali ke sekolah sekarang," katanya singkat tanpa menunggu jawaban, lalu berbalik cepat meninggalkan kamar itu.

Emma hanya bisa menatap punggung Luis yang menjauh, hatinya berdebar dan penuh tanya, terjebak antara rasa cemburu dan keingintahuan tentang siapa sebenarnya Laura bagi Luis.

Tiba-tiba ingatannya memutarkan memori saat Luis beberapa kali menatap Laura dengan tatapan aneh, bahkan Luis marah saat ada pria lain yang dekat atau pun menyatakan cinta pada Laura.

Kemarahan itu terlihat seperti kecemburuan.

"Ini nggak mungkin?!" Celetuk Emma seraya mencengkram seprei rumah sakit. "Luis nggak mungkin menyukai anak pelayan itu bukan?" Air matanya sama sekali tak bisa dibendung.

Intuisinya mengatakan jika Luis sudah jatuh cinta pada anak pelayannya, walaupun ia sendiri sulit menerima.

***

Bel istirahat menggema di lorong kelas SMA Bintang, menandai jeda yang dinanti oleh para siswa.

Laura melangkah pelan meninggalkan kelas yang terasa begitu tenang. Hal yang sungguh berbeda dibandingkan hari biasanya.

Di sini, tak ada sorotan mata sinis Luis atau cemoohan teman-teman yang sering membuatnya terpojok.

Hatinya mengembang, akhirnya ia bisa merasakan kenyamanan yang selama ini dirindukan.

Di kantin sekolah elit itu, aroma makanan berbaur dengan suara riuh pelajar.

Tadi pagi, Nigel penuh perhatian, menyelipkan amplop berisi uang satu juta ke tangan Laura dengan senyum hangat.

"Buat kamu, santai aja," katanya ringan, membuat Laura tersipu malu tapi bahagia.

Bukan hanya itu saja, Nigel juga memberikannya kotak makan siang. Ntah sejak kapan kotak makan siang itu ada di mobil Nigel, mengingat sebelumnya Nigel berada diapartemennya dan memasak sarapan untuknya.

"Apakah mungkin tadi pagi-pagi sekali, tuan Dylan yang mengantarnya?" Gumam Laura dalam hatinya.

Tapi ia memutuskan untuk memakan makanan itu nanti, mengingat selama ini ia ingin sekali membeli makanan dikantin.

Dan baru sekarang ini dirinya memegang uang dan kesampaian untuk membelinya.

Ia pun melirik daftar harga di papan, Laura terperanjat.

Semua harga makanan di kantin ini sangatlah mahal.

Namun, setelah dua tahun menahan diri, kali ini ia membiarkan dirinya bebas.

Satu porsi, dua porsi, kue dan minuman manis tanpa henti.

Ia bahkan hampir tak menyadari saat dompetnya sudah berkurang setengah juta rupiah.

Wajahnya berseri-seri, mata berbinar, dan senyum lebar menempel di bibirnya.

"Bukankah kak Nigel mengatakan kalau kedua orang tuaku meninggalkan harta banyak untukku? Apapun yang terjadi, aku harus selalu bahagia," gumam Laura penuh semangat.

Rasa lapar yang dulu sering ia abaikan kini terpuaskan dengan kenikmatan sederhana yang selama ini terasa asing.

Di tengah hiruk-pikuk kantin, Laura menemukan momen kebahagiaan yang murni—sebuah hadiah kecil dari kehidupan yang mulai berpihak padanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!