NovelToon NovelToon
Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Azalea Masuk Ke Raga Gadis Yang Malang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Teen
Popularitas:844
Nilai: 5
Nama Author: Jaena19

Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

“Nayla.” Panggil seseorang.

Suara itu menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu keluar. Suara yang begitu familiar, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat dadanya terasa sedikit sesak.

Nayla memejamkan mata sejenak sebelum berbalik.

Dan benar saja.

Jevan berdiri tidak jauh dari sana, bersandar santai di dekat pilar besar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Setelan jas hitam yang dikenakannya membuatnya terlihat lebih dewasa, lebih tenang, dan seperti biasa lebih sulit ditebak.

Tatapan mereka bertemu.

Sunyi.

Nayla tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri diam, menatap kakak laki-lakinya itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

“Ngapain lo keluar?” tanya Jevan akhirnya, suaranya datar seperti biasanya.

Nayla mengedikkan bahu.

“Bosen,” jawabnya singkat.

Jevan mengangguk pelan, seolah memahami tanpa perlu penjelasan lebih lanjut.

“Masuk lagi,” katanya kemudian.

Nayla menggeleng.

“Enggak.”

Jawabannya tegas, tanpa ragu.

Jevan menghela napas pelan. Ia mendorong tubuhnya dari pilar dan berjalan mendekat. Langkahnya santai, tapi sorot matanya tajam, memperhatikan setiap detail wajah Nayla.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Mata sembab.

Bibir pucat.

Dan aura lelah yang tidak bisa disembunyikan.

“Lo kenapa?” tanyanya tiba-tiba.

Nayla sedikit terkejut.

Pertanyaan itu sederhana tapi rasanya aneh dan tidak biasa keluar dari mulut seorang Jevan. Karena jarang sekali ada orang di rumah itu yang benar-benar menanyakan keadaannya, terlebih orang itu adalah Jevan.

“Gue?” Nayla tersenyum tipis. “Kenapa emang?”

Jevan tidak langsung menjawab. Ia menatap Nayla lebih dalam, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan.

“Lo keliatan berantakan,” ujarnya jujur.

Kalimat itu seharusnya menyakitkan.

Tapi entah kenapa, dari Jevan tidak terasa seperti hinaan. Lebih seperti observasi.

Nayla tertawa kecil.

“Thanks ya, tapi gue baik-bik aja,” balasnya sinis.

Jevan tidak terpancing. Ia justru mengalihkan pandangannya ke arah taman kecil di depan hotel, tempat lampu-lampu taman menyala redup menciptakan suasana tenang yang kontras dengan hiruk pikuk di dalam.

“Lo kabur dari dalam?” tanyanya lagi.

“Kabur?” Nayla mengulang, lalu menggeleng. “Gue cuma keluar.”

“Bedanya?”

“Kalau kabur, gue nggak bakal balik.”

Jevan menoleh lagi, tatapan mereka kembali bertemu dan kali ini, ada sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang lebih dalam.

“Lo mau balik?” tanya Jevan pelan.

Nayla terdiam.

Pertanyaan sederhana.

Tapi jawabannya tidak sesederhana itu.

Ia menatap ke arah pintu besar hotel, tempat di mana semua orang sedang tertawa, berbicara, berpura-pura. Tempat di mana papanya tersenyum bangga. Tempat di mana mamanya berdiri dengan senyum palsu.

Tempat di mana Deviana dipuja, sementara dirinya?

Hanya pelengkap.

“Enggak,” jawabnya akhirnya, lirih.

Jevan mengangguk pelan.

Tidak ada paksaan.

Tidak ada ceramah.

Hanya diam.

Dan anehnya, diam itu terasa nyaman.

Nayla melangkah menjauh dari pintu, menuju taman kecil di samping hotel. Jevan mengikuti, menjaga jarak beberapa langkah di belakangnya.

Mereka tidak berbicara.

Tidak ada yang perlu dibicarakan.

Atau mungkin terlalu banyak yang ingin dikatakan, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Nayla duduk di bangku taman. Ia menarik napas dalam, menikmati udara malam yang terasa jauh lebih jujur dibanding udara di dalam ruangan tadi.

Jevan berdiri di sampingnya, tidak ikut duduk.

“Lo kenapa nggak di dalam?” tanya Nayla akhirnya.

Jevan mengangkat bahu.

“Bosen.”

Nayla melirik.

“Serius?” Nayla menatap Jevan tidak percaya.

“Iya.”

“Padahal biasanya lo paling betah di acara kayak gini.”

“Itu Devan,” jawab Jevan santai. “Bukan gue.”

Nayla mengangguk pelan.

Masuk akal.

Devan memang tipe yang menikmati perhatian, koneksi, dan semua hal yang berkaitan dengan dunia papanya.

Sedangkan Jevan?

Dia berbeda.

Selalu berbeda.

“Lo tadi liat?” tanya Nayla tiba-tiba.

“Liat apa?”

“Deviana.”

Jevan mendengus pelan.

“Gimana?”

“Seperti biasa,” jawab Nayla datar. “Pusat perhatian.”

Jevan tidak menanggapi.

Nayla tersenyum miris.

“Kadang gue mikir,” lanjutnya pelan, “kenapa ya semua orang gampang banget percaya sama dia?”

“Karena dia pinter,” jawab Jevan singkat.

Nayla mengerutkan kening.

“Pinter?”

“Iya. Dia tau harus jadi apa di depan siapa.”

Nayla terdiam.

Kalimat itu benar.

Sangat benar.

“Dan lo?” tanya Jevan tiba-tiba.

Nayla menoleh.

“Kenapa gue?”

“Lo nggak pernah pura-pura.”

Nayla tertawa kecil.

“Harusnya itu hal baik kan?”

“Di dunia ini?” Jevan menatapnya datar. “Enggak.”

Sunyi.

Lagi.

Angin malam berhembus pelan, memainkan helai rambut Nayla yang tergerai.

Ia menunduk, menatap kedua tangannya yang saling bertaut.

“Gue capek, Van,” ucapnya pelan.

Jevan tidak langsung menjawab.

“Capek pura-pura kuat,” lanjut Nayla. “Capek pura-pura nggak sakit.”

Suaranya mulai bergetar.

“Tapi gue juga nggak punya pilihan lain.”

Jevan menatapnya.

Dalam.

Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang jarang terlihat.

“Lo punya,” katanya pelan.

Nayla mengangkat kepala.

“Apa?”

“Berhenti.”

Satu kata.

Tapi cukup membuat Nayla terdiam.

“Berhenti apa?” tanyanya lirih.

“Berhenti peduli.”

Nayla menggeleng pelan.“Gue nggak bisa.”

“Kenapa?”

“Karena mereka keluarga gue.”

Jevan tersenyum tipis. “Yakin?”

Nayla tertegun. Pertanyaan itu entah kenapa begitu menusuk. Ia menatap Jevan, mencari sesuatu di wajah kakaknya itu.

“Lo tau sesuatu ya?” tanyanya pelan.

Jevan tidak menjawab, ia justru mengalihkan pandangan. Dan itu sudah cukup.

Cukup untuk membuat Nayla semakin yakin.

“Van…” Nayla berdiri, mendekat. “Lo tau kan?”

Jevan tetap diam. “Gue bukan anak papa, ya?”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Tanpa rencana.

Tanpa persiapan.

Dan begitu terucap, dunia terasa berhenti sejenak.

Jevan menutup matanya perlahan seolah lelah.

“Nayla…”

“Jawab gue.”

Suara Nayla bergetar.

“Please.”

Jevan membuka matanya, menatap adiknya itu.

Lama.

Sangat lama.

Lalu akhirnya—

“Iya.”

Satu kata.

Dan semuanya runtuh.

Nayla mundur selangkah.

Dadanya terasa sesak.

Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

“Sejak kapan?” bisiknya.

“Dari dulu.”

“Semua orang tau?”

Jevan terdiam sejenak. “Sebagian.”

“Dan gue?” Nayla tertawa pahit. “Gue baru tau sekarang?”

Jevan tidak membantah karena memang itu kenyataannya.

“Kenapa?” suara Nayla pecah. “Kenapa nggak ada yang bilang ke gue?”

“Karena—”

“Karena gue nggak penting?” potong Nayla.

“Bukan.”

“Terus apa?!”

Sunyi.

Jevan menarik napas panjang.

“Karena kalau lo tau…” suaranya pelan, “…lo bakal pergi.”

Nayla tertawa tangisnya semakin deras. “Dan sekarang?” tanyanya. “Menurut lo gue bakal tetep tinggal?”

Jevan tidak menjawab.

Karena dia tahu jawabannya.

“Gue capek, Van…” Nayla memegang kepalanya. “Gue bener-bener capek…”

Jevan mendekat.

Perlahan.

Hati-hati.

Seolah takut Nayla akan menjauh.

Dan ketika jarak mereka hanya tinggal satu langkah Jevan mengangkat tangannya.

Ragu.

Sangat ragu.

Lalu akhirnya ia menepuk pelan kepala Nayla.

Gerakan sederhana.

Canggung.

Tapi hangat.

Dan itu cukup untuk membuat Nayla menangis lebih keras.

“Gue di sini,” ujar Jevan pelan.

Kalimat itu sederhana.

Tapi untuk Nayla itu berarti segalanya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia tidak merasa sendirian.

1
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!