NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Siang itu, matahari bersinar terik namun sama sekali tidak mampu menghangatkan hati Darren yang telah membeku.

Dengan tubuh yang masih lemas dan wajah pucat akibat demam yang belum sepenuhnya turun, Darren memaksakan diri kembali ke tepi tebing maut itu.

Ia berdiri di sana, mencengkeram pembatas jalan yang rusak sembari menatap nanar ke dasar jurang yang kini terlihat jelas tanpa kabut.

"Cari lagi! Aku mohon, cari sekali lagi," perintah Darren dengan suara parau kepada komandan Tim SAR yang berdiri di sampingnya.

Tatapan mata sang CEO paruh baya begitu kosong dan penuh keputusasaan.

"Gunakan helikopter, bawa anjing pelacak, sisir setiap jengkal tanah di bawah sana. Istriku tidak boleh hilang begitu saja!"

Andre dan Riko yang berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya saling melempar pandangan jengkel.

Mereka mengira masalah ini sudah selesai semalam, namun keras kepalanya Darren mulai membuat mereka cemas jika Tim SAR justru menemukan kejanggalan di bawah sana.

Dengan cepat, Andre maju dan memegang lengan Darren dengan raut wajah yang dikondisikan se-empati mungkin.

"Papa, tolong. Papa harus istirahat. Kondisi Papa masih sangat lemah setelah pingsan semalam. Jangan siksa diri Papa seperti ini," bujuk Andre dengan nada suara yang dibuat bergetar.

Riko ikut menimpali, mengangguk cepat setuju. "Benar, Pa. Biarkan Tim SAR yang bekerja di bawah sini. Kami berdua berjanji akan tetap tinggal di lokasi untuk memantau perkembangan. Kami yang akan langsung mengabari Ayah begitu ada petunjuk sekecil apa pun tentang Tante Jihan. Tolong, Papa pulanglah ke mansion untuk memulihkan diri."

Darren menggelengkan kepalanya dengan keras, keras kepala menolak meninggalkan tempat di mana ia terakhir kali melihat senyuman Jihan.

Namun, sebelum perdebatan di antara ayah dan anak itu berlanjut, suara deru mobil mewah lain terdengar mendekat dan berhenti tepat di belakang mereka.

Pintu mobil terbuka, dan sesosok gadis muda berlari keluar dengan air mata yang sudah berlinang di pipinya.

Itu adalah Angela, putri bungsu Darren yang baru saja tiba dari kota setelah mendengar kabar duka mengenai ibu tirinya.

"Papa!" jerit Angela, langsung berlari memeluk tubuh kekar Darren yang kini terasa begitu ringkih.

Angela menangis terisak di dada sang ayah. "Papa, ayo pulang. Angela jemput Papa. Angela tidak mau kehilangan Papa juga setelah Mama Jihan. Tolong, Pa, pulang bersama Angela sekarang."

Melihat tangisan putri bungsunya yang begitu histeris menjemputnya, pertahanan Darren akhirnya runtuh.

Ia tidak bisa menolak permintaan Angela yang begitu mencintainya.

Dengan berat hati dan langkah kaki yang terseret, Darren membiarkan Angela menuntunnya masuk ke dalam mobil untuk dibawa pulang ke mansion utama di Jakarta, meninggalkan dua putra tirinya yang diam-diam mengembuskan napas lega karena berhasil menyingkirkan sang ayah dari tempat kejadian perkara.

Begitu mobil yang membawa Darren dan Angela melesat pergi dan menghilang di balik tikungan jalan raya, raut wajah sedih dan cemas yang terpasang di wajah Andre dan Riko seketika menguap tanpa bekas.

Mereka saling melempar seringai kemenangan yang begitu puas.

"Aman. Si tua bangkai itu akhirnya pergi juga," desis Riko sambil meludahi tanah basah di tepi tebing.

"Ayo cepat, kita selesaikan urusan dengan Albert sebelum tim SAR curiga melihat kita keluyuran," sahut Andre sembari menepuk kantong jaketnya yang tebal.

Kedua bersaudara itu segera melangkah menjauh dari kerumunan warga dan petugas SAR yang masih sibuk di area bibir jurang.

Mereka berjalan memutar, masuk ke dalam area perkebunan rakyat yang rimbun dan tertutup belukar lebat—tempat yang sudah mereka janjikan untuk bertemu kembali dengan eksekutor bayaran mereka.

Di balik rimbunnya pohon pisang liar, Albert sudah berdiri menunggu dengan cemas.

Wajahnya tampak tegang, sesekali matanya melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang desa yang membuntutinya.

Begitu melihat sosok Andre dan Riko muncul, Albert langsung maju selangkah dengan mata yang berbinar serakah.

"Bagaimana? Semuanya lancar, kan? Aku lihat mobil si tua itu sudah pergi," bisik Albert setengah menuntut.

Andre tidak langsung menjawab. Ia merogoh kantong jaketnya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang berisi sisa uang bonus tunai yang berhasil ia cairkan secara sembunyi-sembunyi dari simpanan rahasianya pagi-pagi buta tadi.

"Ini sisa uang bonus yang kami janjikan. Total seratus juta rupiah tunai," ucap Andre, melempar amplop tebal itu yang langsung ditangkap oleh Albert dengan kedua tangannya yang gemetar karena gembira.

"Kerjamu sangat rapi, Albert. Tim SAR bahkan sama sekali tidak menemukan jasad si gajah di bawah sana. Dia pasti sudah hancur atau terseret arus sungai purba di dasar tebing."

Albert meraba ketebalan amplop tersebut, lalu menyeringai puas hingga deretan giginya yang kotor terlihat.

"Sudah kubilang, kan? Aku sengaja memotong jalurnya tepat di kelokan paling buta. Jangankan perempuan seberat dia, tank sekalipun akan limbung kalau dipaksa banting setir di sana."

Riko maju selangkah, menatap Albert dengan tatapan mata yang penuh ancaman dan dingin.

"Ingat, Albert. Mulai detik ini, kamu tidak pernah mengenal kami. Dan uang itu, pakai untuk pergi sejauh mungkin dari desa ini. Jika sampai mulutmu ember dan polisi atau anak buah Papa mengendus keberadaanmu, kami tidak akan segan-segan membuatmu menyusul Jihan ke dasar jurang."

Albert menelan salivanya, buru-buru memasukkan amplop itu ke dalam bagian dalam bajunya.

"Tenang saja. Sore ini juga aku akan naik bus menuju luar kota. Rahasia kalian aman bersamaku."

Setelah kesepakatan berdarah itu selesai, Albert berbalik dan menghilang di balik lebatnya pepohonan, sementara Andre dan Riko berjalan kembali ke lokasi kecelakaan dengan langkah ringan.

Di dalam benak kedua anak tiri itu, mereka kini telah resmi menjadi penguasa masa depan dari seluruh kekayaan dinasti Bramantyo, tanpa pernah tahu bahwa di belahan bumi lain, malaikat pelindung Jihan sedang bersiap meruntuhkan dunia mereka.

Ribuan kilometer dari tanah air, di dalam sebuah ruangan VIP rumah sakit privat di kota Toronto yang bernuansa putih bersih dan tenang, Jihan perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya.

Kelopak matanya terasa sangat berat, dan

pandangannya sempat kabur akibat efek sisa obat bius yang masih tertinggal di dalam tubuhnya.

Aroma antiseptik yang khas langsung menyengat indra penciumannya, digantikan oleh suara ritmis dari mesin bedside monitor yang berbunyi teratur.

Jihan melirik ke arah jendela besar di sampingnya, menampilkan deretan gedung pencakar langit kota Toronto di bawah langit siang yang cerah—pemandangan yang sangat asing baginya.

Saat menoleh ke sisi kanan ranjang, ia mendapati sesosok pria bertubuh kekar yang sedang duduk dengan raut wajah cemas.

"Deacon...." panggil Jihan dengan suara yang teramat lirih, hampir berupa bisikan karena tenggorokannya yang terasa sangat kering.

Deacon yang sejak semalam tidak memejamkan mata seketika menegakkan tubuhnya.

Wajah bulenya tampak lega luar biasa melihat wanita itu akhirnya sadar.

Ia segera menggeser kursinya dan mendekat ke arah Jihan.

"Aku di mana? Mana Mas Darren?" tanya Jihan beruntun, matanya bergerak liar mencari sosok suami paruh baya yang teramat dicintainya.

Ia berharap ingatan tentang pertengkaran hebat dan kecelakaan maut di atas tebing semalam hanyalah sebuah mimpi buruk.

"Ssshh... tenanglah, Jihan. Kamu aman sekarang. Kamu berada di salah satu rumah sakit terbaik di Toronto, Kanada," ucap Deacon dengan nada bariton yang sengaja diperhalus agar tidak mengejutkan pasiennya.

Jihan tersentak. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar dari bagian bawah tubuhnya.

Saat ia menurunkan pandangannya ke balik selimut, matanya membelalak ngeri melihat kaki kanannya sudah terbungkus rapi oleh gips putih yang tebal dan kaku.

"Apakah, aku lumpuh, Deacon?" tanya Jihan dengan suara yang mulai bergetar hebat, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Tidak, Jihan. Jangan berpikir yang aneh-aneh. Kamu tidak lumpuh," potong Deacon dengan cepat untuk menenangkan pikiran Jihan.

"Kamu hanya mengalami patah tulang yang cukup serius akibat benturan saat terlempar dari mobil. Dan setelah ini, kamu harus segera menjalani operasi agar posisinya kembali normal."

Jihan mengembuskan napas gemetar, sedikit lega namun hatinya masih dipenuhi kabut hitam.

"Apakah Mas Darren tahu aku di sini? Kenapa dia tidak menemaniku?"

Deacon menghela napas panjang, menatap Jihan dengan sorot mata yang serius.

"Tidak, Jihan. Darren tidak tahu kamu ada di sini. Aku sengaja merahasiakannya dari semua orang di Indonesia. Aku masih belum tahu pasti siapa dalang di balik kecelakaan yang kamu alami semalam. Jika posisimu bocor, nyawamu bisa terancam lagi."

Mendengar kata 'dalang', Jihan seketika meneteskan air matanya.

Butiran bening itu mengalir membasahi pipinya yang pucat, mengingat kembali bagaimana beringasnya laju mobil Darren sore itu.

"Mas Darren cemburu besar dengan mantanku, Albert, Deacon. Ada seseorang yang mengirimkan foto masa laluku bersamanya ke ponsel Mas Darren," isak Jihan, dadanya terasa sesak oleh kesedihan.

"Aku bersumpah aku tidak tahu siapa yang mengirim foto-foto itu. Mas Darren tidak mau mendengarkanku, dia gelap mata karena cemburu buta..."

Deacon mengepalkan tangannya di balik saku celana.

Kecurigaannya kini semakin mengerucut, namun sebelum ia sempat menanyakan lebih detail, pintu ruangan VIP itu terbuka.

Kedatangan seorang dokter ahli bedah ortopedi bersama dua orang perawat membuyarkan percakapan mereka.

Peralatan medis dan berkas persetujuan operasi sudah siap di tangan mereka. Jihan akan segera dibawa ke ruang operasi.

Melihat brankar ranjangnya mulai didorong oleh perawat, kepanikan Jihan kembali memuncak.

Ia mencengkeram erat lengan baju kemeja Deacon dengan jemarinya yang lemas.

"Deacon, aku takut sekali," ratih Jihan dengan tatapan mata yang dipenuhi permohonan.

Deacon menggenggam balik tangan Jihan, mencoba menyalurkan seluruh kekuatan dan rasa aman yang ia miliki.

Ia menatap lurus ke dalam manik mata Jihan dengan pandangan yang meneduhkan.

"Jihan, dengarkan aku baik-baik. Di dalam ruang operasi nanti kamu akan dibius total. Kamu hanya akan tertidur dan tidak akan merasakan sakit sedikit pun. Percayalah pada dokter," ucap Deacon dengan suara tenang namun penuh penekanan.

"Aku akan berdiri tepat di depan pintu, menunggumu sampai operasi ini selesai."

Jihan menatap Deacon lekat-lekat melalui sisa air matanya.

"Janji?"

"Janji," ucap Deacon mantap, memberikan senyuman tipis yang menguatkan hati Jihan sebelum pintu ruang operasi itu tertutup rapat, memisahkan mereka.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala, menandakan bahwa prosedur pembedahan pada kaki Jihan telah dimulai.

Di lorong rumah sakit yang sepi dan steril itu, Deacon berjalan mondar-mandir dengan ketegangan yang tertahan.

Sumpahnya pada Jihan untuk mendampingi wanita itu tidak main-main.

Namun, Deacon bukan sekadar pengusaha biasa yang sukses di Kanada.

Sebelum terjun ke dunia korporasi mendampingi Darren, Deacon adalah seorang mantan perwira polisi dengan spesialisasi intelijen taktis yang memiliki jaringan luas serta kewenangan legal terselubung di bawah otoritas keamanan.

Otaknya yang tajam tidak bisa membiarkan

misteri ini menggantung begitu saja.

Sembari menunggu di luar ruang operasi, Deacon mendudukkan diri di kursi panjang, lalu mengeluarkan sebilah laptop militer berenkripsi khusus dari dalam tas taktisnya.

Jemari kekarnya bergerak dengan kecepatan tinggi di atas papan ketik, menyusun rencana matang untuk menguliti siapa pun yang berani mengusik ketenangan Jihan.

"Kita lihat, siapa yang bermain api di belakang Darren," desis Deacon dingin.

Memanfaatkan keahlian lamanya dan protokol keamanan yang ia miliki, Deacon mulai meluncurkan serangan siber senyap.

Fokus utamanya saat ini adalah melacak nomor misterius yang mengirimkan foto-foto masa lalu Jihan dan Albert. Namun, ia tidak hanya mencari nomor itu secara eksternal.

Deacon mengambil langkah ekstrem dengan mencoba membajak dan meretas masuk ke dalam jaringan ponsel milik tiga orang terdekat: Darren, Andre, dan Riko.

Melalui back door sistem yang pernah ia tanam di server internal Bramantyo Corporation, Deacon berhasil menembus pertahanan privasi ketiga ponsel tersebut.

Layar laptopnya seketika dipenuhi oleh barisan kode biner hijau yang bergerak cepat, menyedot seluruh riwayat obrolan, lalu lintas data, serta panggilan keluar-masuk dalam 24 jam terakhir.

Satu per satu data mulai terunduh di perangkat Deacon.

Ia memeriksa ponsel Darren terlebih dahulu untuk melihat nomor pengirim foto fitnah tersebut.

Setelah nomor itu didapatkan, Deacon langsung menyinkronkannya dengan data kloning dari ponsel Andre dan Riko untuk mencari kecocokan pola komunikasi.

Mantan polisi itu tahu, cemburu buta Darren hanyalah akibat dari sebuah sebab yang direncanakan dengan sangat rapi.

Begitu ia menemukan bukti transfer atau rekaman obrolan yang menghubungkan nomor asing tersebut dengan salah satu dari anak tiri Jihan, Deacon bersumpah akan meruntuhkan seluruh dunia mereka tanpa sisa.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!