NovelToon NovelToon
Naren, Sang Pelindung

Naren, Sang Pelindung

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:517
Nilai: 5
Nama Author: ayunda geaa

"Apa lo takut?"

"Bukan. Gue cuma nggak mau dia ikut terluka."

Kalimat itu membuat Agnesa membeku.

Seumur hidupnya, Naren Aksara Gavindra adalah sumber masalah yang selalu ingin ia hindari. Ketua geng sekolah yang dingin, keras kepala, dan selalu berurusan dengan keributan.

Sementara Agnesa Valeria Anabella adalah Ketua OSIS yang hidupnya dipenuhi aturan, jadwal, dan kedisiplinan.

Mereka seharusnya berdiri di dua sisi yang berlawanan.

Namun sejak hari Agnesa berdiri di antara Naren dan musuhnya, sesuatu mulai berubah.

Di tengah ancaman Black Venom yang semakin dekat, rahasia masa lalu yang belum selesai, dan perang yang bisa pecah kapan saja, Naren justru sibuk memikirkan satu hal yang paling tidak masuk akal:

Tatapan Agnesa.

Dan yang lebih berbahaya, Agnesa mulai memikirkan Naren juga.

Tapi ketika perasaan tumbuh di antara mereka, sebuah pertanyaan muncul—

Apa yang akan terjadi jika gadis yang selalu mematuhi aturan jatuh hati pada laki-laki yang hidupnya adalah pelanggaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa yang mengikat

Kantin sekolah siang itu dipenuhi deru suara kipas angin gantung yang berputar lesu, bercampur dengan kebisingan obrolan ratusan siswa. 

Agnesa duduk di meja paling pojok, memisahkan diri dari kerumunan anggota OSIS lainnya. 

Di hadapannya, sebuah buku catatan hitam terbuka lebar. Ia sedang menuliskan daftar inventaris baksos dengan pulpen tinta hitam yang ujungnya sangat lancip.

​Sret... sret... sret...

​"Nes, itu sisa anggaran dekorasi beneran cuma segitu? Nanti kalau kurang gimana?" tanya Nadiva sambil meletakkan sepiring batagor di samping buku Agnesa.

​Agnesa tidak mendongak. Ia justru merapikan letak pulpennya agar sejajar dengan pinggiran buku.

 "Sudah dihitung sama Mahendra. Kalau kurang, pakai dana cadangan."

​"Ya sudah. Oh iya, nanti pulang sekolah ikut rapat evaluasi lagi kan?"

​"Iya."

Udara kantin terasa pengap, membawa aroma minyak goreng panas dan kuah bakso yang menyengat. 

Di sebelah kiri meja Agnesa, beberapa siswa sedang tertawa keras, suaranya melengking menembus kebisingan. 

Agnesa bisa merasakan getaran meja setiap kali seseorang menendangnya tanpa sengaja dari bawah. Ia tetap duduk tegak, bahunya tidak pernah melorot meski punggungnya sudah mulai pegal. 

Cahaya lampu kantin yang redup membuat bayangan di atas kertas buku catatannya terlihat samar, memaksa matanya bekerja lebih keras untuk fokus pada deretan angka.

​"Nes, buku itu... bukan punya kamu kan?" Nadiva menunjuk buku catatan hitam yang dipegang Agnesa.

 "Tumben kamu pake buku yang nggak bergaris gitu."

​Agnesa menutup buku itu dengan satu gerakan cepat. Tep!

​"Iya. Cuma buat corat-coret ide tambahan," jawabnya pendek.

Nadiva memiringkan kepalanya, matanya menyipit memperhatikan Agnesa.

Agnesa meraih gelas jus jeruknya, meminumnya sedikit, lalu meletakkannya kembali tepat di atas buku hitam itu.

Ia tidak membiarkan Nadiva melihat isinya lagi.

Ia memalingkan wajah ke arah pintu kantin, menatap keluar, meskipun tidak ada apa-apa di sana selain deretan pohon palem yang tertiup angin.

Nadiva terdiam, lalu kembali memakan batagornya, mengabaikan ketegangan yang tiba-tiba muncul di antara mereka.

​Pintu kantin terbuka. 

Suara tawa yang tadi memenuhi ruangan sedikit mereda, digantikan oleh bisik-bisik yang tertahan. 

Naren, Abyan, dan Arion berjalan masuk dengan langkah yang terlalu lebar, seolah kantin itu adalah milik mereka. 

Seragam mereka—seperti biasa—tidak terkancing dengan rapi.

​Naren tidak mencari tempat duduk yang kosong. Ia justru berjalan lurus melewati meja-meja sampai akhirnya berhenti tepat di samping meja Agnesa.

​Duk.

​Naren meletakkan satu botol susu stroberi dingin di atas meja, tepat di depan buku catatan hitam milik Agnesa.

​"Jangan kebanyakan nulis. Nanti matanya kayak ubur-ubur," kata Naren.

Meja kantin menjadi sunyi secara instan.

Agnesa menatap botol susu stroberi itu, lalu menatap Naren.

Naren tidak langsung pergi. Ia berdiri di sana, tangannya masuk ke saku celana, menunggu respons.

Agnesa tidak berkata apa-apa. Ia hanya memegang pulpennya sangat erat sampai buku jarinya memutih.

Dua detik, tiga detik, empat detik berlalu dalam diam yang absolut.

Abyan dan Arion di belakang Naren mulai tertawa kecil, suara hehe... hehe... yang terdengar sangat menjengkelkan.

​"Saya nggak butuh ini, Naren," suara Agnesa tenang, tapi tajam seperti pisau yang baru diasah.

​"Gue juga nggak bilang lo butuh. Gue cuma bilang jangan kebanyakan nulis," sahut Naren datar.

​"Bisa kamu pergi dari sini?"

​"Boleh. Asal diminum."

​Naren tidak bergerak. Ia justru menarik kursi kosong di meja sebelah dan duduk dengan santai. 

Dia tidak menghadap ke arah Agnesa, tapi memunggungi meja itu, membelakangi mereka semua seolah-olah dia sedang menjaga keamanan meja tersebut.

Agnesa mengambil susu stroberi itu.

Ia menatap botolnya, lalu dengan gerakan pelan, ia membukanya.

Ia meminumnya di depan banyak orang.

Tindakan yang sama sekali tidak sesuai dengan citra dirinya yang selalu menjaga aturan dan etika.

Ia meminumnya sampai hampir habis, lalu meletakkan botol kosong itu di meja dengan dentuman pelan.

Tak.

"Sudah puas?" tanya Agnesa.

​Naren menoleh sedikit ke belakang, melihat botol kosong itu. 

Seringai tipis muncul di sudut bibirnya—bukan seringai mengejek, tapi sesuatu yang tidak bisa diartikan.

​"Lumayan," jawab Naren singkat.

​Ia berdiri dari kursinya. "Byan, Arion, cabut."

​Mereka pergi meninggalkan kantin. 

Bisik-bisik siswa di sekitar meja Agnesa semakin intens, tapi Agnesa tidak mempedulikannya. Ia membuka buku catatan hitamnya kembali. 

Di halaman kosong, ia menuliskan satu kalimat dengan pensil: Susu ini selalu membuat perut saya sakit.

​"Nes, kamu... beneran nggak apa-apa?" Nadiva berbisik, wajahnya tampak khawatir.

​"Saya baik-baik saja, Nadiva. Lanjutkan catatanmu."

​Agnesa kembali menulis. 

Tangannya bergerak dengan ritme yang sama seperti tadi, namun kali ini ada noda kecil berwarna merah muda dari sisa susu yang menempel di ujung jari telunjuknya.

 Ia tidak membersihkannya. Ia membiarkannya mengering di sana, sebuah noda yang kontras dengan seragam sekolahnya yang putih bersih.

Agnesa melakukan hal yang sama seperti yang sering dilakukan Naren—ia memutar-mutar pulpennya di antara jari, lalu tidak sengaja menjatuhkannya.

 Trak.

Ia mengambil pulpen itu kembali dari lantai bawah meja.

Saat ia bangkit, ia melihat ke arah botol susu stroberi kosong yang tadi diminumnya.

Ia menatapnya cukup lama, napasnya terasa lebih berat dari biasanya.

Ia menekan botol plastik itu sampai penyok, lalu memasukkannya ke dalam tasnya, bukan ke tempat sampah.

​"Ayo balik ke kelas," kata Agnesa tiba-tiba, menutup bukunya dengan kasar.

​"Tapi kan ini masih jam istirahat?" tanya Nadiva bingung.

​"Saya bilang ayo balik."

​Agnesa berdiri, menyampirkan tasnya di bahu, dan berjalan keluar kantin dengan langkah cepat.

 Ia tidak menoleh ke belakang, bahkan saat ia melewati meja tempat Naren dan teman-temannya duduk tadi—yang kini sudah kosong.

Agnesa berjalan di koridor yang mulai sepi karena bel masuk akan segera berbunyi.

Di depannya, ia melihat sosok Naren sedang berdiri bersandar di pilar koridor, sedang merokok dengan santai sambil menatap ke luar jendela.

Agnesa tidak menghindar.

Ia terus berjalan lurus, melewati Naren begitu saja.

Naren tidak menyapa, tapi ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan menjatuhkannya di lantai saat Agnesa lewat—sebuah tutup botol susu stroberi.

​Agnesa berhenti. Ia menoleh ke bawah.

 Tutup botol itu menggelinding berhenti di dekat ujung sepatunya.

​Ia tidak mengambilnya. Ia hanya menatapnya selama beberapa detik, lalu menginjaknya dengan ujung sepatunya sampai benda itu bergeser masuk ke bawah rak sepatu siswa.

​Naren tidak tertawa. Ia hanya menghisap rokoknya lagi dan menghembuskan asapnya ke udara. 

Wush...

​Agnesa mempercepat langkahnya menuju kelas.

 Pikirannya kosong dari tugas-tugas OSIS. Yang ada hanyalah rasa dingin dari botol susu stroberi tadi, dan perasaan aneh yang tumbuh di balik buku catatan hitamnya—sesuatu yang ia tahu seharusnya ia buang, tapi malah ia simpan dengan rapat di dalam tasnya.

BERSAMBUNG…

​Bab Selanjutnya ➜

​"Lepasin tangan lo,"

​"Lo lempar buku itu, tangan lo yang gue patahin,"

​Naren Dan Mahendra Berantem? Simak Kelanjutan Konflik Sengit Mereka di Bab 22: Batas Kesabaran

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!